1080 Tahun Al-Azhar dan Hubungan Ilmiahnya dengan Nusantara

1080 Tahun Al-Azhar dan Hubungan Ilmiah al-Azhar di Nusantara
Universitas (Al-Azhar asy-Syarif, sejak 361H) dan foto Penulis 1434H/ Dokumen Penulis

Catatan Redaksi: Seri tulisan seputar Universitas al-Azhar dan para Azahariy-nya dimaksudkan untuk memeriahkan acara Halaqah Online Anak Siak #3. Halaqah ini bertema “Menggelisahkan Peran Anak Siak Al-Azhar Mesir di Masyarakat” pada Sabtu, 29 Agustus 2020, jam 21:00 WIB di kanal youtube Kaji Surau TV.

Teringat saya akan perdebatan singkat yang saya hindari beberapa bulan lalu, dengan salah seorang senior hebat, di grup alumni al-Azhar, mengenai kitab fikih apa yang sebaiknya dipakai dalam pendidikan pesantren.

Sebabnya, saat itu ada salah satu alumni yang membina sebuah pondok, dan kitab fikih yang beliau pakai adalah kitab yang judulnya kontroversial, penulisnya kontroversial, akar keilmuannya dengan al-Azhar pun dipertanyakan.

Saya langsung menanggapi dengan saran, agar kitab tersebut diganti dengan kitab Kanzur Raghibin, karya Imam Jalaluddin al-Mahhalli (w.864H). Di Indonesia, kitab ini lebih masyhur dengan nama penulisnya, al-Mahalli. Kitab ini merupakan syarah Minhajut Thalibin karya Imam Nawawi (w.676H), pegangan fatwa bagi ulama Syafi’iyah dunia.

Dan saya tutup pernyataan saya itu dengan, “Apalagi kitab tersebut merupakan karya ulama al Azhar, bahkan dijadikan kurikulum di perkuliahan. Tentu sudah menjadi amanah pula bagi kita sebagai alumninya, mengajarkan apa yang kita pelajari”.

Inilah yang memantik kemarahan salah satu senior saya yang lain. Beliau menuduh saya sok-sok paling paham al-Azhar dan sok-sok menggurui senior. Bahkan beliau menyebut-nyebut nama guru beliau seolah menyatakan, “Saya pun azhari!”

Sedih dan kaget, namun di kepala saya sudah terbayang banyak argumen untuk membantah sang senior. Mulai dari status keilmuan Imam Mahalli, akarnya dengan Imam Nawawi, perhatian al-Azhar terhadap kitab tersebut, dan keterujiannya dari masa ke masa. Levelnya jauh di atas kitab yang satu lagi.

Baca Juga: Dari Ranah Minang ke Negeri Piramid: Pergi sebagai “Orangsiak”, Kembali sebagai “Orang Salafi (?)”: Dialektika Keagamaan Minangkabau Kontemporer

Jika debat diteruskan, tentu hujah saya lebih terang, argumen saya lebih kokoh. Namun saya urungkan. Menang pun saya tak untung, rusak pula nanti hubungan baik saya dengan senior tersebut dan senior-senior lain. Saya mundur.

Tapi hal ini memberikan kepada saya gambaran, bahwa banyak alumni yang memandang al-Azhar secara parsial, dan pandangan itulah yang diklaim sebagai manhaj al-Azhar.

Andai mereka lihat kiprah al-Azhar yang sudah lebih 1000 tahun secara komprehensif. Andai mereka pelajari satu-satu ulama yang mengharumkan Islam dari rahim al-Azhar. Andai mereka tahu bahwa al Azhar itu sejatinya bukan universitasnya (saja).

Tentu tak ada alumni al-Azhar yang anti mazhab. Tentu tak ada alumni al-Azhar yang anti tasawuf. Tentu tak ada alumni al-Azhar yang anti mantik. Tentu tak ada alumni alAzhar yang memilah-milah tauhid menjadi tiga.

Tapi apa daya. Kebanyakan orang tidak memahami bahwa al-Azhar tidak bertanggung jawab terhadap pemahaman dan metode keislaman alumninya. Ada alumninya yang liberal, ada alumninya yang mujassimah, ada yang syiah, ruwaibidhah, bahkan yang murtad pun ada. Tapi apakah itu metode al-Azhar? Tentu tidak! (كل نفس بما كسبت رهينة)

Al-Azhar punya metode kokoh, Ahlussunnah wal-Jamaah dalam akidah, mazhab yang empat dalam ibadah, dan tasawuf dalam tawajuh tazkiah. Begitulah al-Azhar sejak dibuka kembali pasca ditutup oleh Salahuddin al-Ayyubi asy-Syafi’i demi mengikis pengaruh syiah di sana hingga sekarang.

Fasyhad? Tentu saya tulis ini bukan untuk mencari pertikaian, malah saya ingin mengurai yang kusut dan menjernihkan yang keruh. Maka sengaja saya tidak menyebut nama tokoh-tokoh dalam cerita ini. Namun saya harus ambil risiko, karena ini adalah ilmu, dan harus disampaikan. Saya mohon maaf sebelum dan sesudahnya.

Dalam tulisan ini saya juga ingin lampirkan beberapa kitab karya ulama al Azhar yang dijadikan kurikulum oleh sekolah-sekolah Islam di Indonesia, sebagai bukti begitu besarnya peran al-Azhar dalam menjaga agama ini di dunia, dan eratnya hubungan ilmiah al-Azhar dan Nusantara, yaitu:
– Tafsir al-Jalalain, kitab tafsir karya Imam al-Mahalli dan Imam as-Suyuthi (asy-Syafi’iyyani)
– Bulughul Maram, kitab hadis karya Imam Ibnu Hajar al-Asqallani asy-Syafi’i
– Kanzur Raghibin syarh Minhajut Thalibin, kitab fikih karya Imam al-Mahalli asy-Syafi’i
– Jauharatut Tauhid, kitab akidah/tauhid karya Syekh Ibrahim al-Laqqani al-Maliki
– al-Hikam, kitab tasawuf karya Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari al-Maliki
– Idhahul Mubham syarh Matan Sullam, kitab mantik karya Imam ad-Damanhuri al-Mazahibi
– al-Asybah wan Nazhair, kitab qawaid fikih karya Imam as-Suyuthiy asy-Syafi’i
– Mausuatul Fiqhil Islamiy (Fiqhul Islam wa Adillatuhu 2.0), karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili asy-Syafi’i
– silakan jika para sahabat ingin menambah daftar kitab lainnya.

Terakhir, saya juga ingin agar kawan-kawan baca tulisan Kiai Syihab Syaibani (Beben), junior saya dari segi umur, senior saya dari segi ilmu, tentang sejarah al-Azhar. Ada juga tulisan Prof. Dr. Ahmad Miftahur Rizki kawan seperjuangan sekaligus inspirator saya, tentang beberapa prinsip Al-Azhar.

Semoga Allah jaga al-Azhar dan para ulamanya, sebagai benteng utama pemeliharaan agama-Nya.

رحم الله علمائنا وجزاهم عنا خير الجزاء. يحيى الأزهر.

Semoga Allah selalu menuntun kita untuk jadi lebih baik.

1 Mei 2020

Fakhry Emil Habib
Fakhry Emil Habib 5 Articles
Researcher Usul Fikih, Dirasat Ulya, Universitas al-Azhar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*