Saat ini situs judi slot online deposit dana adalah salah satu permainan yang sangat di minati di Indonesia.

Pertama sekali bila anda ingin merasakan mudahkan memperoleh uang dari nwmedicaltraininggroup tentus aja anda sangat di sarankan untuk bermain pada permainan kakek ya gengs.

67 Tahun “Robohnya Surau Kami”

Opini Kompas 67 Tahun “Robohnya Surau Kami
Foto Surau Pondom Syekh Dt. Tan Nan Godang Dok. Habibur Rahman

Oleh: Raudal Tanjung Banua,
sastrawan dan anggota grup Kuncen Pantai Barat

Cerpen masterpiece A.A. Navis, “Robohnya Surau Kami” (RSK), muncul pertama kali dalam majalah Kisah pada tahun 1955 dan terpilih sebagai cerpen terbaik majalah asuhan H.B. Jassin tersebut. Sejak kemunculannya, cerpen ini langsung merebut perhatian publik dan mencatatkan Navis sebagai sastrawan kenamaan kita. Abdurahman Wahid atau Gus Dur mengaku sangat terkesan dengan cerpen itu sebab dianggap ikut mempengaruhi sikap beragama pembacanya. Budayawan Mohamad Sobary merupakan salah seorang pembaca yang mengakui bahwa RSK telah mengubah sikap beragamanya (Adilla, 2003: 24).

Menariknya, tanggapan berlanjut melewati masa-masa krusial—seperti masa menguatnya purifikasi agama—hingga era milenial yang penuh ironi sosial ini. Dan tahun 2022 ini, RSK genap berusia 67 tahun atau lebih setengah abad. Masih saja ia aktual dan relevan membingkai perbincangan kita perihal hablum minallah (hubungan manusia-Pencipta), hablum minannas (hubungan sesama manusia) dan hablum minalalam (hubungan manusia dengan alam). Kisahnya tetap dapat dijadikan analog aneka peristiwa di luar teks. Protetipe watak tokohnya masih kita jumpai dalam kehidupan kekinian.

Buya Syafii Maarif misalnya, menyebut bahwa Robohnya Surau Kami membuka sebuah titik kelabu terhadap cara beragama yang selama ini banyak ditutupi. Sebuah cara pandang baru yang keluar dari kotak (out of the box). Ia membidik secara satir dan tajam kaitan agama dengan tanggung jawab sosial seseorang. Beragama tanpa hirau kepentingan masyarakat luas, bukanlah ajaran Islam sesungguhnya. Kesalehan pribadi tak boleh melupakan kesalehan sosial (Maarif, Ranah Gurindam dalam Sorotan, 2022: 9).

Selain itu, tentu tetap menarik melihat capaian estetik RSK. Ia seolah tak pernah selesai dibaca, apalagi “habis sekali duduk” sebagaimana premis stereotipe cerpen selama ini. RSK tiap kali dibaca akan memberi pengalaman dan persfektif baru. Contohnya Prof. Faruk, saat membaca ulang, tiba-tiba tertarik pada teknik naratif atau naratologisnya.

Cerpen itu, tulis Faruk di akun facebook-nya (27 April 2020), menggunakan teknik sudut pandang orang pertama, “aku” (fokalisasi internal) karena naratornya terlibat dalam atau menjadi bagian dari cerita. Berbeda dengan sudut pandang orang ketiga (fokalisasi eksternal) karena tokoh tidak terlibat dalam atau menjadi bagian dari cerita. Yang menarik, naratornya seakan berada di luar cerita, menjadi semacam saksi bagi cerita utamanya, yaitu tentang Kakek Garin dan Ajo Sidi. Ajo Sidi sendiri tidak pernah hadir dalam cerita meskipun merupakan tokoh yang sangat menentukan jalan cerita.

Dengan kata lain, lanjut Faruk, Ajo Sidi adalah tokoh yang terlibat (sangat dalam) dalam cerita, sekaligus seakan berada di luar cerita. Ada kesejajaran antara posisi narator dengan posisi Ajo Sidi. Ia adalah fiksi, tetapi nyata; ia bohong, tetapi benar. Pembaca terseret ke dalam identifikasi antara “narator” dengan Ajo Sidi walaupun dari segi cerita, narator kadang berbeda pandangan dengannya. Kesimpulan Faruk, RSK berbicara lebih dari yang diceritakannya atau berbicara dengan apa yang tidak dikatakannya dalam cerita.

Dari dua pandangan itu tampaklah betapa cerita “keruntuhan” sebuah surau, justru “menegakkan” menara pandang dalam kehidupan sosio-religi kita. Bukan menara gading penjaga moral, alih-alih warning sosial-kemasyarakatan. Sekaligus dengan itu ia memberi sumbangan penting pada capaian estetik dan tematik sastra modern Indonesia.

67 Tahun “Robohnya Surau Kami”

Baca Juga: Beberapa Percakapan Dasar tentang Sastra Pesantren

Kenapa Surau Sampai Roboh

Cerpen Robohnya Surau Kami diawali sapaan tokoh “aku” kepada pembaca (yang disebutnya Tuan) dan memperkenalkan kampungnya melalui sebuah surau yang telah lama roboh. Tersirat tempat itu merujuk Padangpanjang, kota kelahiran pengarang. Kota ini tempat beraktivitas para ulama penting Minangkabau. Mulai Syekh Haji Adam Balai-Balai, Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), Buya Hamka, Rahma El-Yunusiah, Zainuddin Labay, dan lain-lain.

Di sini terdapat Surau Jembatan Besi yang bermetamorfosis menjadi Sumatera Thawalib. Ada juga Diniyah Putri, Madrasah Irsyadunnas dan Perguruan Muhamadiyah. Semuanya berperan membentuk pola pikir (mindset) orang Minang. Termasuk mempengaruhi Navis yang pro pembaruan.

Atau bisa juga lokasinya bukan Padangpanjang, tapi kota lain yang sama-sama pernah memuliakan surau. Hal ini ditunjukkan gambaran surau,“di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.” Ini khas surau-surau di darek, pedalaman Minangkabau, yang kental tradisi suraunya. Dan pada akhirnya, tak penting lagi lokasi itu di mana sebab ia merepresentasikan banyak tempat di mana-mana.

Kenapa surau itu kok sampai roboh, dijelaskan melalui plot yang berlapis; “aku” bercerita tentang Kakek, dan Kakek bercerita tentang bualan Ajo Sidi. Kakek itu sendiri selain jadi garin (penunggu surau), juga pandai mengasah pisau. Dan Kakek selamanya asyik beribadah sehingga sulit dibedakan apakah ia asyik dengan dirinya sendiri atau memang memenuhi panggilan Tuhan. Sehari-hari ia hidup dari belas kasih orang lain, dalam arti ia tidak bekerja. Ia bahkan memilih tidak menikah demi ketenangan beribadah.

Sikap hidup demikian diejek Ajo Sidi, lelaki kampung yang giat bekerja. Suatu hari ia datangi Kakek di surau dan menceritakan tentang tokoh rekaannya bernama Haji Saleh. Di yaumul hisab, kata Ajo Sidi, saat manusia ditimbang dosa dan pahalanya, Haji Saleh yang ahli ibadah di dunia, merasa jalannya akan lempang saja ke sorga.

Tapi apa daya. Dalam dialog dengan Rabbnya, terungkap bahwa semasa hidupnya Haji Saleh terlalu asyik beribadah. Ia tak hirau kehidupan sosialnya. Ia terus memuja Keagungan Illahi, dan ternyata terbukti Tuhan “tak butuh puja-puji manusia”. Akhirnya ia dihalau malaikat ke neraka. Haji Saleh protes. Bersama orang-orang senasib, ia berdemonstrasi menghadap Tuhan. Namun vonis tak berubah karenanya.

Cerita Ajo Sidi mengguncang jiwa Kakek. Ia jadi murung karena pengharapannya hancur berkeping. Depresi, Kakek bunuh diri menggunakan pisau asahannya. “Aku” mencari Ajo Sidi karena menganggap peristiwa tragis itu ulah ceritanya. Tapi Ajo Sidi tak ada di rumah. Menurut istrinya, meski sudah mendengar kabar Kakek meninggal, Ajo Sidi tetap berangkat kerja. Ia hanya berpesan,”Belikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.”

Sejak itulah surau di kampung “aku”—secara kolegial menjadi “kami”—akhirnya roboh, seperti rumah gadang ditinggalkan perantau. Jadi kenapa surau sampai roboh, pertama bukan karena bangunannya kurang kokoh. Bukan karena tua atau dilanda bencana alam. Melainkan kurang kokohnya batin penghuni surau. Ini tercermin dari cara hidup Kakek dan keguncangan jiwanya yang berlarat—ibadah tak sanggup melerai risaunya.

Mungkin lain hal jika ia hidup bermasyarakat. Bisa saja ia bergabung di lapau—ruang pergaulan orang kampung—dan duduk bersama minum kopi. Berbagi kisah tentang sawah kurang air, pendidikan anak-anak, dan isu-isu sosial lainnya. Atau mengimbangi waktu “suwung” beribadahnya dengan bekerja di pasar kota atau bertanam di sawah.

Sebagai bandingan, dapat dilihat tokoh cerita Navis dalam karyanya yang lain, Kemarau (1992). Dalam novel Kemarau, sang tokoh, Sutan Duano, berjuang mengatasi kesulitan hidupnya dan masyarakat sekitar. Ia berjuang membuat saluran air untuk persawahan. Sadar sebagai orang berdosa di masa lalu, Duano menebusnya dengan bekerja dan membahagiakan orang lain, bukan menyendiri untuk semata beribadah.

Di sisi lain, fisik surau yang merana menyiratkan pesan sebaliknya. Bahwa seberapa pun megahnya rumah ibadah, jika pengelolanya tak memiliki jiwa sosial,  hakikatnya ia juga sudah roboh sebelum ditinggalkan. Atau tetap ramai, tapi tak lagi fungsional sebab hanya digunakan demi satu-satunya tujuan: ritual. Sedangkan fungsi sosialnya seperti tempat mengaji, musyawarah dan silaturahim sebagaimana dicontohkan Nabi, telah roboh, terabaikan. Fungsi-fungsi sosialnya berlepasan satu demi satu, ibarat dinding surau tua itu yang dicopoti perempuan yang kehabisan kayu bakar di malam hari.

Tak heran, kerap kita dapati pintu masjid atau surau rapat terkunci. Ia hanya buka pada saat shalat lima waktu saja, sehingga bahkan para musafir tak punya akses pada ruang yang menjadi haknya. Musafir berhadapan dengan maklumat,”Dilarang tidur dalam masjid”. Sebaliknya, tak jarang hasil infak-sedekah digunakan untuk memoles fisik belaka, lupa urgensi lain seperti santunan kepada kaum dhuafa.

Refleksi Surau

Surau merupakan institusi tradisional Minangkabau yang berperan bukan hanya dalam soal ukhrawi (berorientasi akhirat), juga ukuwah (persaudaraan sosial). Bahkan menurut Burhanuddin Daya, surau merupakan pusat pemancaran segala pengaruh agama bagi seluruh masyarakat. Tradisi adat pun dikembangkan dari dan oleh surau, karena kaum adat tak kunjung menghasilkan lembaga pendidikan untuk diri mereka (1990: 37).

Karena itu, selain tempat ritual seperti shalat berjemaah, pengajian dan peringatan hari besar, surau juga tempat anak-anak muda belajar mengaji dan menempa diri. Misalnya melalui latihan silek (silat), belajar pidato adat, atau bakaba (bercerita). Selain punya imam tetap (untuk surau besar ada khotibnya karena dipakai sholat Jumat), surau ditunggui garin dan diurus pengurus lain yang terdiri dari ulama dan cerdik pandai.

Jadi, jika dalam Robohnya Surau Kami Kakek seperti hidup sendiri tanpa ada anak-anak muda yang mengaji, tentu timbul pertanyaan: ke mana anasir tersebut? Tidakkah ini tanda surau bergeser fungsi? Dan warga tak peduli. Lihatlah, mereka biarkan Kakek penunggu surau bersuluk sepanjang hayat! Bahkan cukup mencengangkan bahwa “Sebagai garin, ia tak begitu dikenal. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau”—padahal Kakek mengabdi sejak usia muda. Bukankah ini cermin kurangnya apresiasi masyarakat pada garin? Isyarat masyarakat tak lagi akrab dengan institusi surau dengan segala perangkatnya!

Ini upaya menafsir teks lebih lanjut demi melihat sebab-akibat. Ajo Sidi saking “gila kerja” mengabaikan pula urusan sosialnya untuk melayat orang mati. Betapa pun itu fardu kifayah (kewajiban yang bisa diwakilkan), namun tampak kurang empatiknya dia kepada orang yang ia kenal. Terlebih Kakek meninggal dengan cara tak biasa. Kerja, kerja, dan kerja telah membutakan sisi manusiawi Ajo Sidi. Ia terkesan menjadi sosok yang dingin. Ada tersirat sikap dendam, tak memaafkan seseorang bahkan sampai mati.

Sikap semacam ini lama-lama tentu juga dapat menyebabkan robohnya surau pada akhirnya. Ukuwah kendor, dan surau akan sepi dari jemaah. Atas nama kerja, orang asyik di sawah, pasar atau lapau kopi, lalai akan ibadah. Ini menyebabkan kekosongan rohani di tengah padatnya kegiatan jasmani. Meski Islam memandang kerja mengandung nilai ibadah, dan ibadah menyiratkan ikhtiar manusia, tapi mesti jelas implementasinya.

Eloknya karya sastra yang kuat, semakin dikritisi dan direfleksi, ia semakin kuat. Begitu halnya Robohnya Surau Kami. Sadarkah kita bahwa apa yang terjadi, pinjam judul novel Motinggo Busje, adalah “dosa kita semua”? Surau terkesan sudah ditinggalkan jauh sebelum Kakek meninggal. Bukankah sebagai garin, Kakek sangat kesepian? Dan ketika “penghuni terakhir” itu meninggal tragis, masyarakat membiarkan suraunya roboh. Dramatis!

Bahkan nasib Haji Saleh di akhirat yang diceritakan Ajo Sidi (dan dipersepsi sebagai dirinya oleh Kakek) boleh jadi bukan hanya tanggungan orang-perorang, tapi potret nasib masyarakat sekampung—termasuk Ajo Sidi, si gila kerja dan tukang bual itu. Jika “kampung” diperluas ke ranah kebangsaan, maka akan terlihat betapa banyak pihak ikut terlibat, setidaknya telah terjadi pembiaran atas praktek keagamaan yang salah kaprah.

Kita pun bisa merujuk proses kreatif lahirnya cerpen ini sebagaimana diceritakan Navis dalam Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (Editor: Pamusuk Eneste, 1982). Menurut Navis, ilham Robohnya Surau Kami berasal dari gurunya, Engku Mohammad Syafei, pendiri INS Kayu Tanam, pencipta lagu “Indonesia Subur” dan Menteri Pengajaran era Soekarno. Navis menguping pembicaraan sang guru dengan sejawatnya tentang orang Indonesia yang masuk neraka karena malasnya—di tengah alam yang kaya. Jelas, Kakek Garin maupun Haji Saleh potret kolektif  “manusia Indonesia” (istilah Mochtar Lubis).

Lihatlah, Tuhan menyoal seluruh “negeri”, bukan “kampung”. Bukan pula hanya Ranah Minang—yang belakangan disorot dalam isu puritan dan ke-Pancasila-an.“Kalian tinggal di mana di dunia?tanya Tuhan.“Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.“Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?”

Maka Robohnya Surau Kami bukan semata problema surau, tetapi juga perihal “negeri yang kacau” dan warganya “selalu berkelahi”. Sementara kekayaan alamnya habis terkuras kekuatan lain, dalam konteks kini boleh jadi pihak asing dan para puak oligarki. Ribut-ribut kita bukan soal substansial, tapi  sebatas ungkapan “jin buang anak” dan sejenisnya. Padahal, seturut Buya Syafii lagi, RSK menyasar keadaan alam Indonesia yang kaya raya, tetapi kantong-kantong kemiskinan bertebaran di mana-mana. Tanggung jawab sosial manusia Indonesia, termasuk pemerintah, dinilai sangat lemah. Si Kakek adalah bentuk ekstrem. Agama hanya dipahami untuk kepentingan akhirat, sementara di dunia jadi paria, penerima sedekah (2022: 11).

Dalam hal ini, potret “surau baru” dalam novel Wildan Yatim, Pergolakan (1974), niscaya dapat dijadikan refleksi lanjutan dalam konteks sesama teks sastra yang kuat. Novel ini juga bercerita tentang robohnya sebuah surau—dibakar dalam pergolakan. Ada pertentangan tiga kubu di kampung Gunung Beringin. Kaum agama yang kolot diwakili sosok Haji Saleh (kebetulan namanya sama dengan tokoh RSK) menghadapi pandangan berkemajuan Guru Salam. Di sisi lain ada Nurdin dan pengikutnya dari golongan kiri yang membuat kian panas situasi.

Syukurlah, pergolakan itu teratasi berkat Guru Salam dan jemaahnya berhasil membangun surau baru di Kampung Tinjau Laut. Surau yang lebih maju, demokratis dan dilengkapi sarana pendidikan. Ada perjuangan jemaah sebagai hamba Tuhan dan makhluk sosial untuk lolos dari lobang jarum kekolotan. Sekaligus meretas jalan ke luar dari realitas dan efek “dosa kita semua” seperti konflik, jatuhnya korban, kemiskinan dan ketertinggalan.

Baca Juga: Kedudukan Surau bagi Masyarakat Minangkabau

Surau Virtual

Di sisi lain, meski institusi tradisional surau telah runtuh, banyak pihak kini merasa survive menegakkan “surau baru” di kapling jagad maya. Pengajian diakses dan diikuti dalam beragam pilihan. Ustaz-ustaz yang garang melawan kezaliman, tak jarang membuat seseorang tercerahkan dalam semalam. Mereka lantas menjadi “ahli ibadah” selayaknya Kakek garin dalam RSK. Mereka bahkan berhasrat mendakwahkan isi channel-channel virtual itu kepada pihak lain yang mereka anggap “awam” atau “salah jalan” . Tapi kedangkalan proses dan pemahaman bukannya memunculkan kejernihan ilmu dan akhlak, alih-alih menimbulkan hoaks, ujaran kebencian, dan menuding salah cara beribadah orang lain.

Bukan berarti “surau virtual” tak bermanfaat, sebab banyak channel bagus nan mencerahkan. Tapi kran demokratisasi menemui ironi; keterbukaan akses membuat orang bebas memilih. Sementara kita tahu, kebebasan, apa pun bentuknya, tak lepas dari hegemoni segala waham. Akibatnya, tak sedikit orang keluaran “surau virtual” menjadi sosok fanatik atas paham favorit yang setia ia klik!

Jangan dikira ini hanya terjadi di ranah agama. Di ranah sosial politik juga tak kurang-kurang contohnya, tak kepalang tanggung eforianya. Terjadilah gesekan, gosokkan, konflik dan saling ejek antar sesama. Benar kata Tuhan dalam RSK, “Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya-raya, tapi kau malas.”

Saat semua itu terjadi, atau tetap dibiarkan terjadi, dengan mengutip Buya Syafii sekali lagi, selamanya cerpen Robohnya Surau Kami dapat dibaca sebagai peta sosial keagamaan kita yang getir dan pahit.  Namun lewat aktualisasi dan refleksi, semoga kegetiran itu dapat diatasi. Tentu tak lupa berharap kiranya sastra Indonesia dapat terus melahirkan karya yang kuat secara sastrawi dan maknawi. Wallahualam bissawab. **

Raudal Tanjung Banua
Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Haluan, Padang, kemudian merantau ke Denpasar, dan kini menetap di Yogyakarta. Buku puisinya Gugusan Mata Ibu dan Api Bawah Tanah. Sejumlah puisi di atas dipilih dari manuskrip buku puisinya yang sedang dalam persiapan terbit.