Aba Asnawi Ramli Lamno; Ulama dan Pimpinan Dayah Budi Mesja Lamno

Aba Asnawi Ramli Lamno; Ulama dan Pimpinan Dayah Budi Mesja Lamno
Foto Aba Asnawi Ramli Lamno/ Dok. Penulis

Aba Asnawi Ramli Lamno adalah ulama yang berasal dari Mukhan Lamno, murid dari Abu Ibrahim Ishaq Lamno dan pelanjut estafet kepemimpinan Dayah Budi Lamno. Bagi masyarakat Aceh Barat dan Aceh Jaya khususnya, tentu Aba Asnawi Ramli Lamno merupakan ulama dan panutan mereka yang tidak asing lagi. Aba Asnawi Ramli Lamno lahir dari keluarga yang menjaga agama dan tradisi adat istiadat. Karena ayahnya Teungku Ramli selain sebagai teungku, juga seorang pemuka adat yang meneruskan tradisi endatu mereka yang masih keturunan Potemeureuhom Raja Kerajaan Daya.

Mengawali masa belajarnya, Aba Asnawi pernah mengecap pendidikan di SR Sekolah Rakyat hingga tamat. Selain belajar di sekolah, beliau malamnya diajarkan ilmu-ilmu dasar keislaman seperti Ilmu Tajwid, Tauhid, Fikih, Akhlak dengan menggunakan kitab kitab jawoe, belajar langsung dari ayahnya yang juga seorang teungku di gampongnya. Setelah memiliki bekal ilmu yang memadai, pada tahun 1962 dalam usia 14 tahun, mulailah Aba Asnawi belajar kepada beberapa ulama yang ada di wilayahnya. Dayah yang pertama beliau tuju dan memperdalam kajian keilmuannya ialah Dayah Bustanul Aidarusiyah yang didirikan oleh Teungku Syekh Haji Aidarus bin Teungku Haji Sulaiman atau yang dikenal dengan Abu Sabang Lamno.

Abu Sabang Lamno merupakan ulama lulusan Makkah dan pernah belajar Kitab-kitab besar kepada seorang ulama pejuang dari Aceh Besar yaitu Teungku Chik Ahmad Buengcala rekan seperjuangan Teungku Chik Di Tiro. Abu Sabang Lamno wafat pada tahun 1953, dan secara pasti Aba Asnawi tidak berjumpa dengan Abu Sabang Lamno, namun beliau pernah belajar selama dua tahun kepada murid-murid senior Abu Sabang Lamno yang juga para ulama yang dikenal di Lamno seperti Abu Haji Salim Mahmudi yang lahir tahun 1922 dan Abu Muhammad Darimi atau Abu Nyakmi yang lahir tahun 1936. Karena setelah wafatnya Abu Sabang Lamno, estafet Pimpinan Dayah Bustanul Aidarusiyah dilanjutkan oleh murid dan sekaligus keponakan beliau yaitu Abu Muhammad Darimi.

Baca Juga: Teungku Haji Mahjiddin Yusuf: Ulama dan Ahli Tafsir Aceh Kontemporer

Setelah dua tahun belajar di Bustanul Aidarusiyah, pada tahun 1964 Aba Asnawi merantau dan belajar di Dayah Mudi Mesra Samalanga yang ketika itu dipimpin oleh Abu Abdul Aziz Samalanga atau yang dikenal dengan Abon Samalanga. Selain belajar kepada murid-murid senior Abon seperti Abu Lhoknibong, Abu Kuta Krueng, Abon Mukhtar A. Wahab. Aba Asnawi juga sempat belajar langsung kepada Abon Samalanga sang ulama yang ketika itu memilih mengajar lokal santri tsanawiyah, selain lokal khusus yang diajarkan Abon yaitu lokal dewan guru Mudi Mesra. Aba Asnawi belajar di Mudi Mesra selama lebih kurang empat tahun, dengan segenap kesungguhan telah mengantarkan beliau menjadi seorang teungku muda yang telah memiliki bekal ilmu yang cukup untuk mengajar.

Pada tahun 1968 beliau pulang ke kampung halamannya Lamno, dan meneruskan belajar kepada guru besarnya Abu Ibrahim Ishaq Lamno yang baru mendirikan Dayah Budi Lamno sepulangnya dari menuntut ilmu di Padang kepada Syekh Zakaria Labaisati Malalo. Sebelumnya Abu Ibrahim Ishaq juga belajar pada Syekh Abdul Aziz atau Abon Samalanga. Namun secara pasti Aba Asnawi tidak berjumpa Abu Ibrahim Ishaq Lamno di Samalanga, karena saat Aba Asnawi tiba di Mudi Samalanga, Abu Ibrahim Ishaq sudah berangkat ke Malalo Padang. Tapi nama besar Abu Ibrahim Ishaq sebagai orang yang matang dalam dayah tentu sering beliau dengarkan. Barulah pada tahun 1968 beliau langsung berguru kepada Abu Ibrahim Ishaq tersebut.

Selain belajar Kitab-kitab besar kepada Abu Ibrahim Ishaq Lamno, Aba Asnawi juga sudah mulai diberikan kepercayaan untuk mengajar beberapa kelas seperti kelas dua dan kelas empat. Padahal waktu itu sudah banyak santri-santri senior lain yang belajar kepada Abu Ibrahim Ishaq. Bahkan Abu Mukhtar A Wahab atau dikenal Abon Darussalamah juga belajar lama kepada Abu Ibrahim Ishaq Lamno. Di antara murid Aba Asnawi pada awal-awal beliau mengajar di Lamno adalah ulama Aceh Besar Abu Athaillah Ishaq Ulee Titi.

Karena kesungguhan dan komitmen yang tinggi yang dimiliki Aba Asnawi, beliau mendapat kepercayaan yang penuh dari Abu Ibrahim Ishaq Lamno. Aba Asnawi pernah didaulat sebagai Ketua Umum Santri dan pemegang perekonomian dayah dengan tugas menjaga dan mengelola aset koperasi dayah yang jumlahnya banyak. Dalam diri Aba Asnawi mengalir darah dagang dan berdikari, sehingga dari sisi prinsip, beliau sama dengan gurunya Abu Ibrahim Ishaq Lamno.

Baca Juga: Abu Abdul Hamid Lamteh: Ulama dan Guru Masyarakat Lamteh dan Ulee Kareng

Dayah Budi dari mulai berdirinya hingga sekarang dikenal dengan dayah yang memiliki banyak aset dan usaha, sehingga mereka mampu memberikan insentif kepada para guru yang mengajar, tidak besar memang, namun itulah bentuk usaha maksimal yang telah mereka lakukan. Dan Aba Asnawi sendiri melakukan berbagai gebrakan perbaikan ekonomi untuk dayah tersebut.

Selain lihai dalam dagang, Aba Asnawi juga ulama yang mumpuni dalam ilmu pengetahuan. Beliau secara rutin setiap Rabu pagi mengajarkan kitab-kitab besar untuk para teungku dan ulama dalam kawasan Lamno. Bahkan yang hadir bukan hanya dari kalangan teungku muda, gurunya sendiri Abu Salim Mahmudi dan Abu Muhammad Darimi juga secara rutin mengikuti pengajian beliau. Hal ini tentu mengajarkan banyak hal kealiman Aba Asnawi dan tawadhu’ yang melekat dari dua gurunya yang kharismatik Abu Salem dan Abu Nyakmi tersebut. Dan kedua gurunya itu sekarang sudah wafat.

Selain sebagai ulama dan panutan masyarakat, Aba Asnawi juga aktif terlibat dalam berbagai organisasi keumatan dan keulamaan. Beliau adalah salah satu anggota MPU Provinsi, sesepuh ulama Aceh Barat. Aba Asnawi juga ulama yang dikenal rendah hati, mendalam ilmunya dan sarat dengan pengabdian yang tulus. Kepemimpinan beliau di Dayah besar Budi Lamno merupakan tanggung jawab dan amanah yang beliau emban melanjutkan estafet Abu Ibrahim Budi. Beliau telah sungguh-sungguh merawat dan mengembangkan dayah tersebut.

Kini Aba Asnawi sudah mulai sepuh. Namun semangat beliau untuk terus mencerdaskan umat terus beliau upayakan. Beliau secara konsisten dan istiqamah mengajar para murid-muridnya dan bahkan secara rutin mengajarkan para alumni Dayah Budi Lamno. Banyak para teungku dan murid-muridnya yang sudah tampil dan menjadi tokoh-tokoh publik. Beliau tetaplah menjadi ulama, guru dan pengawal agama. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi usia beliau.[] Hafidhahullah.

Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary
Ketua STAI al Washliyah Banda Aceh; Pengampu Pengajian Rutin TAFITAS Aceh; dan Penulis Buku Membumikan Fatwa Ulama