Akurasi Informasi dan Ilmu Hadis

Akurasi Informasi dan Ilmu Hadis
Ilustrasi/Dok.Istimewa

Akurasi Informasi

Akurasi, mungkin, merupakan kata kunci dalam menghadapi situasi dan kondisi kita yang terlihat keruh hari ini. Terutama bagi jagad informasi, dimana kita begitu terpapar dengan amat beragamnya sumber dan media yang bermunculan. Sebagai dunia, tentu informasi yang amat beragam sumber dan media itu memiliki keterbatasan kapasitas masing-masing. Baik terbatas motivasi sumbernya maupun juga fungsi medianya.

Padahal, kita hidup di era teknologi informasi yang seharusnya dapat menjadikan kita lebih sakti baik sebagai pribadi maupun sebagai warga negara bangsa ini. Namun, alih-alih melatih kita sakti, teknologi informasi justru memaparkan kita untuk tidak cakap literasi. Bahkan, teknologi informasi justru berpotensi makin mengancam NKRI secara literatif.

Baca Juga: Hukum Beramal dengan Menggunakan Hadis Daif Bagian II

Keterpaparan informasi telah mendorong sebagian kita terbakar emosi dan terkapar persaudaraannya. Target serbuan informasi hoaks itu melemahkan persatuan. Sasaran hoaks, Indonesia bubar! Hebatnya, alat penyebaran hoaks itu adalah agama. Mestinya, agama alat paling efektif menguatkan sila yang paling dasar dalam Pancasila; ketuhanan Yang Maha Esa. Lalu, bagaimanakah langkah kita dalam mencegah pemudaran nilai ketuhanan Yang Maha Esa lewat agama itu?

Hal yang, mungkin, efektif adalah juga menyikapinya secara agama. Melakukan kontra gerakan juga dengan agama. Menggali ilmu pengetahuan agama yang relevan untuk mengatasi persoalan dasar berupa serbuan informasi itu. Ilmu apakah yang relevan untuk membuat kita cakap literasi, yang membuat kita cakap memperoleh informasi yang akurat, tidak terkapar oleh hoaks? Ilmu Hadis.

Informasi memang dapat relevan dengan “Hadis”. Setidaknya secara tekstual hadis berarti perkataan. Merujuk kepada perkataan Sang Junjungan Alam, Muhammad SAW yang dijadikan pegangan umat setelah al-Qur’an. Historisnya, perkataan Nabi Muhammad tak serta merta dijadikan dasar hukum. Sebab, sangat rentan disalahgunakan atau diselewengkan. Ilmu Hadis tumbuh melakukan kualifikasi Hadis menjadi tiga. Shahih (Benar), Hasan (Baik) dan Dhaif (Lemah).

Kualifikasi Hadis inilah dapat pula kita gunakan untuk akurasi informasi. Informasi yang benar yaitu yang bersambung ke sumber utama, tidak diragukan atau dirusak. Penyampainnya orang yang adil dan baik kapasitas memorinya. Berintegritas dalam hafalan dan penyampaian informasi. Sederhananya, informasi yang benar itu bukan yang hoaks. Tetapi yang benar materinya, sumbernya dan medianya.

Baca Juga: Kitab Himpunan Hadis Karya Syekh Muhammad Yunus Tuanku Sasak Pasaman

Dalam khazanah surau atau pesantren, banyak sekali literatur ilmu hadis tersebut. Baik yang berupa kitab induk maupun ringkasan. Literasi ilmu hadis tersebut juga ada yang berbentuk syair yang berisi kumpulan jenis-jenis hadis. Seperti kitab nazham Al Baiquni. Yang dapat mempermudah kita, para pemula, dalam mempelajarinya. Dengan berbagai langgam sesuai lokalitas kita masing-masing.[]

Wallaahu a’lam.

Share :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*