Amaliyah Penangkis Wabah Tha’un di Sebagian Daerah Batubara Masa Silam

Amaliyah Penangkis Wabah Tha’un di sebagian Daerah Batubara di Masa Silam
Ilustrasi/Dok. Islamic-mystic-Ibn-Battuta-visiting-Mongols.-Illustration-by-Burt-Silverman-National-Geographic

Amaliyah Penangkis Wabah Tha’un di sebagian Daerah Batubara Masa Silam

Penyakit yang sering menakutkan masyarakat secara kelompok adalah apa yang disebut dalam Islam dengan tha’un. Ketakutan tersebut karena sifatnya yang menular secara cepat dan dalam beberapa hal tidak ditemukan obatnya. Oleh sebab itu, Nabi pernah berpesan terkait mewabahnya penyakit tha’un ini dengan sabdanya: “tha’un adalah kotoran yang diutus kepada Bani Israel atau kaum sebelum kamu, apabila kalian mendengar ia di suatu tempat, maka janganlah kalian masuk, namun jika berada pada tempat itu, hendaklah tidak keluar” (HR. Bukhari)

Adalah beberapa desa di kecamatan Medang Deras Batubara seperti Pagurawan, sebagian desa Medang dan Pakam pernah terjadi wabah penyakit tha’un secara meluas. Kejadian itu pada zaman Syekh Muhammad Zain Batubara. Namun wabah ini belum memasuki wilayah desa Lalang tempat berdiamnya ulama Batubara tersebut. Agar wabah tersebut tidak menyebar secara luas, masyarakat kampung Alai yang sekarang berada di sekitar Pabrik Inalum, sebagian Medang, desa Tasak, dan desa Lalang menemui dan meminta solusi kepada Syekh Muhammad Zain terkait cara pencegahannya. Ia memberikan jawaban bahwa orang yang daerahnya terserang wabah tersebut tidak dibolehkan keluar areanya dan sebaliknya juga bagi mereka yang berada di luar area agar tidak memasuki daerah tersebut. Hal ini berdasarkan pemahaman dari hadis nabi Muhammad saw. di atas.

Baca Juga: Wabah Thaun Tahun 749 H Versi Imam ibnu Kasir al-Dimasyqi 701-774H

Oleh sebab itu, supaya penyebaran penyakit tersebut tidak meluas, Syekh Muhammad Zain melakukan amalan wirid dan doa seorang ulama besar sufi yang bernama Syekh Abdul Wahab Al-Sya’rani. Wirid tersebut adalah kalimat

{لاإله إلاالله أمان من الطعن محمد رسول الله طعن في الطاعون}.

Kalimat tersebut diwiridkan dalam dua tahap:
1. Dilakukan di masjid secara berjamaah dengan bersuara setiap setelah salat fardhu selama tiga hari
2. Dilakukan dengan berjamaah dengan berkeliling pada setiap kampung. Kampung yang dikelilinginya bersama jamaah adalah desa Lalang, sebagian desa Medang, desa Tasak, dan Kampung Alai.

Cara melakukan wirid dengan doa tersebut adalah dengan terlebih dahulu membaca surat al-Fatihah dan menghadiahkan pahalanya kepada tiga ulama: Syekh Abdul Wahab Al-Sya’rani, Syekh Syamsuddin al-Hanafi dan Syekh Sirajuddin Al-Bulqaini. Menjelang seminggu setelah melakukan wirid doa tersebut, atas izin Allah swt. desa-desa yang dikelilingi olehnya tidak dimasuki wabah tha’un.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama filenya adalah IMG-20200408-WA0082-576x1024.jpg
Buku Penulis berjudul “Syekh Muhammad Zain dan Kontribusi Pendidikan Islam di Batubara: Usuluddin-Fiqih-Tasawuf 2015”

Tulisan ini saya nukil dari buku karya tulis saya yang berjudul “Syekh Muhammad Zain dan Kontribusi Pendidikan Islam di Batubara: Usuluddin-Fiqih-Tasawuf yang terbit pada tahun 2015.[]

Semoga bermanfaat.


Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Amaliyah Penangkis Wabah Tha’un di sebagian Daerah Batubara Masa Silam

Ahmad Fauzi Ilyas
Ahmad Fauzi Ilyas 16 Articles
Peneliti dan Dosen pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudlatul Hasanah, Medan.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*