Anaksiak Tarbiyah Islamiyah: Esensi, Lokus, dan Karakteristik

Anaksiak Tarbiyah Islamiyah: Esensi, Lokus, dan Karakteristik
Ilustrasi/Dok. Wiza Novita Rahmi

Anaksiak atau urangsiak ini muncul-menurut penjelasan beberapa narasumber- dari aktivitas dagang (pelajar yang datang dari rantau yang jauh) yang eksis di Pedalaman Minangkabau pada masa lampau. Orang dagang tersebut ada yang datang dari daerah Siak, Pantai Timur Sumatera.

Mukaddimah

Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI/TARBIYAH) telah memberikan sumbangsih besar terhadap perkembangan keilmuan Islam di Indonesia, khususnya Sumatera Barat. Sejak masa kolonial, organisasi ini telah menjadi wadah bagi ulama-ulama Minangkabau untuk aktif dalam dakwah, sosial-keagamaan, dan, yang terpenting, transmisi keilmuan Islam (pendidikan). Lewat madrasah-madrasah yang jumlahnya ratusan, yang tersebar luas bukan hanya di Sumatera Barat sendiri, namun juga di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, bahkan Palembang, tokoh-tokoh Persatuan Tarbiyah Islamiyah mengaktualisasikan misi tafaqquh fiddin dalam rangka mengkader ulama. Ini merupakan peran penting Persatuan Tarbiyah Islamiyah, yang sampai saat ini masih menjadi fokus masing-masing madrasah/pondok pesantren yang sehaluan dan sejalan dengannya.

Perjalanan Persatuan Tarbiyah Islamiyah sebagai basis dakwah, sosial, dan pendidikan di kalangan ulama-ulama Minangkabau telah berjalan sekitar sembilan dasawarsa. Organisasi dengan madrasah-madrasahnya telah melewati banyak zaman, dengan berbagai model dan corak. Meksipun sudah teruji melewati masa-masa yang tidak mudah, terutama perjuangan kemerdekaan, namun Persatuan Tarbiyah Islamiyah dengan lembaga-lembaga pendidikannya mesti selalu siap menghadapi gelombang zaman, yang saat ini berupa modernitas, taghrib, dan sikap matrialistik.

Modernitas, gelombang taghrib, serta sikap yang mengarah kepada kehidupan material, yang santer menjadi diskusi dewasa ini, mempunyai pengaruh terhadap aktivitas keagamaan khususnya kehidupan dan tradisi kehidupan agama di berbagai daerah. Tidak jarang pengaruh tersebut mengikis dan/atau mengoyangkan pondasi keagamaan anak-anaksiak (santi) yang menjadi mata rantai keilmuan ulama-ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Jati diri, sikap, dan amal, kadang kala tergadai, bila dihadang oleh gelombang hidup saat ini. I’tiqat dan i’timad sering kali digoyangkan oleh berbagai paham yang tersebar seiring modernitas yang semakin masif dirasakan. Oleh sebab itu diperlukan sikap kembali ke akar tradisi dan ilmu sebagaimana yang telah diwariskan dan diperjuangkan oleh ulama-ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah di masa lampau. Ibarat kata pepatah, “baliakkan pinang ka tampuaknyo, baliakkan siriah ka ganggangnyo, masa usaha untuk memperkenalkan, mendalami, sampai pada sikap menyadari jati diri sebagai anaksiak sangat lah penting, dalam rangka membentengi diri dari anasir-anasir negatif akibat perubahan zaman di atas.

Hakikat/Esensi Anaksiak

Istilah anaksiak (santi), saat ini, tidak begitu familiar. Meskipun beberapa daerah masih menggunakan istilah ini, dan menjadi kosa kata penting ketika membicarakan aktivitas belajar-mengajar, namun dalam komunitas yang lebih luas, istilah ini hampir tenggelam, dan digantikan oleh istilah yang dipadankan dengannya. Padahal istilah, untuk sebuah kearifan yang melekat dalam sebuah tradisi, sangatlah urgen. Meskipun diganti dengan istilah yang lain, yang secara semantik bermakna sama, namun perubahan ini sangat berpeluang mengubah aktivitas-aktivitas dalam tradisi yang telah ada. Dengan pendek kata, sebuah istilah mengandung unsur-unsur suatu tradisi yang dibawa oleh istilah itu; istilah merupakan jati diri sebuah kearifan (local genius).

Anaksiak ialah istilah dipakai untuk penyebutan thalib, penuntut ilmu agama di Minangkabau; mereka yang mempunyai kesungguhan dan ketekunan bermulazamah dengan seorang buya/ syaikh/tuangku dengan mengedepankan turats sebagai buku daras. Pada beberapa daerah, penyebutan anaksiak kadangkala disebut urangsiak.

Dari mana istilah anaksiak/urangsiak ini muncul? Menurut penjelasan beberapa narasumber, istilah ini muncul dari aktivitas dagang (pelajar yang datang dari rantau yang jauh) yang eksis di Pedalaman Minangkabau pada masa lampau. Orang dagang tersebut ada yang datang dari daerah Siak, Pantai Timur Sumatera. Menyusuri aliran sungai-sungai yang bermuara di Pantai Timur, mereka datang ke Darek untuk menuntut ilmu agama. Pelajar-pelajar ini disebut Anaksiak (orang yang datang dari Siak). Kesungguhan mereka berjalan jauh untuk belajar agama menjadi makna terdiri dari masyarakat, sehingga istilah ini menjadi populer sebagai penamaan bagi penuntut agama.

Pendapat lain menyatakan bahwa anaksiak, yang dipahami sebagai orang yang berasal dari Siak, berhubungan dengan sejarah masuknya Islam ke Darek, yaitu dari Pantai Timur Sumatera, yang merupakan daerah Siak.

Tarbiyah Islamiyah: Apa dan Bagaimana?

Persatuan Tarbiyah Islamiyah merupakan wadah ulama-ulama Minangkabau yang berjuang dalam bidang pendidikan dan dakwah. Asas Persatuan Tarbiyah Islamiyah dimulai dari pertemuan ulama-ulama dari berbagai daerah di Canduang pada 1928. Pertemuan ini, salah satunya menghasilkan kesepakatan untuk menyamakan “kurikulum” dan kitab yang dipelajari di lembaga pendidikan masing-masing, begitu pula memberikan nama yang sama yaitu Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Kesepakatan ini kemudian dikokohkan dalam pertemuan lanjutan di tahun 1930. Setelah pertemuan di Canduang, dan kesepakatan untuk mengorganisir Ittihat Tarbiyah Islamiyah. Di tahun itu juga diadakan pertemuan di Surau Gadiang, Mungka (Lima Puluh Kota) untuk menguatkan organisasi, dan mempopulerkan akronim PERTI sebagai singkatan Persatuan Tarbiyah Islamiyah.

Di antara ulama yang tercatat menjadi mu’assis Persatuan Tarbiyah Islamiyah ialah Syaikh Sulaiman Arrasuli Canduang (Agam), Syaikh Abdul Wahid Asshalihi Tobekgodang (Lima Puluh Kota), Syaikh Muhammad Jamil Jaho (Tanah Datar), Syaikh Abbas Qadhi Ladang Laweh (Agam), Syaikh Arifin Batuhampar (Lima Puluh Kota), Ongku Alwi Ibrahim Koto nan Ampek (Payakumbuh), Syaikh Jalaluddin “Ongku Karuang” Sicincin (Payakumbuh), Syaikh Muhammad Zain Simabur (Tanah Datar), dan lain-lainnya. Perlu diketahui hampir semua ulama-ulama pendiri ini merupakan murid dari Syaikh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka Payakumbuh (w. 1920), selain Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (w. 1915), sehingga Syaikh Sa’ad Mungka disebut sebagai syaikhul masyaikh atau soko guru dari ulama-ulama PERTI.

Baca Juga: Tarbiyah PERTI on the Track Refleksi Musda Persatuan Tarbiyah Islamiyah Tarbiyah PERTI Sumatera Barat 2019

Surau dan Madrasah: Lokus Anaksiak

Madrasah Tarbiyah Islamiyah dapat disebut sebagai kelanjutan sistem surau; atau dalam artian sebagai bentuk sistematis dari pendidikan tradisional di surau. Antara Madrasah Tarbiyah Islamiyah dan surau tidak dapat dipisahkan, karena keduanya mempunyai akar sejarah yang satu, tradisi keilmuan yang sama, dan paham/mazhab yang serupa. Oleh sebab itu, istilah anaksiak mempunyai hubungan yang erat dengan lembaga surau dan, dalam konteks ini, Madrasah Tarbiyah Islamiyah.

Karakteristik Anaksiak Tarbiyah Islamiyah

A. Pondasi Asasi

Karakter dasar, yang paling asasi dari anaksiak Tarbiyah Islamiyah, ialah mencakup tiga pilar ulama, yaitu tauhid, fikih, dan tasawuf. Tiga hal ini seperti tali berpilin tiga yang utuh dan saling mengikat. Tiga pilar ini merupakan pengejawantahan dari Iman, Islam, dan Ihsan, yang terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan kemudian termaktub dalam Arba’in Nawawiyah (kitab hadits penting di Madrasah Tarbiyah Islamiyah)

Secara spesifik tiga pilar ini diuraikan sebagai berikut:

(1) Tauhid, yaitu dengan beri’tikad dengan Ahlussunnah wal Jama’ah yang dipopulerkan/ dirumuskan oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidiyah, sebab dengan jasa dua tokoh ini, konsep Ahlussunnah wal Jama’ah tersebut dirumuskan dari al-Qur’an dan al-Sunnah, dan kemudian dibukukan, serta dijaga keotentikannya. Sebab itu, kadangkala Ahlussunnah wal Jama’ah disebut juga al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah, yang dinisbahkan kepada dua tokoh imam ini.

(2) Fikih, yaitu dengan mengikut salah satu Mazhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali), secara spesifik yaitu Mazhab Syafi’i. Mengapa Mazhab Syafi’i? karena mazhab inilah yang pertama masuk ke Indonesia, yang disebarkan oleh pembawa agama Islam. Selain itu, mazhab Syafi’i mempunyai kearifan menyatukan khilaf mazhab-mazhab yang lain.

(3) Tasawuf, yaitu tasawuf sunni, mengikut kepada ajaran-ajaran Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali. Dalam mengimplementasikan tasawuf, ulama-ulama Tarbiyah Islamiyah mengamalkan thariqat-thariqat mu’tabarah, apakah Naqsyabandiyah, Sammaniyyah, Syathariyyah, dan Syadziliyyah. Namun yang paling banyak diamalkan dan diwasiatkan oleh ulama-ulama Tarbiyah Islamiyah ialah Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Bahkan, dulu, anaksiak Madrasah Tarbiyah Islamiyah, apabila akan menyelesaikan pelajar formal (mengambil ijazah madrasah) diharuskan untuk suluk terlebih dahulu. Begitu penuturan alm. Buya H. Mardijan dt. Tinggi (murid Syaikh Abdul Wahid Tobekgodang, dan menjadi salah satu guru besar di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Lamposi Payakumbuh).

Suasana Latiahan Kepemiminan Tarbiayh Islamiyah Di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang 27/12/2019/Dok. Apria Putra

B. Karakter keilmuan

Anaksiak Tarbiyah Islamiyah mempunyai beberapa karakteristik dari segi keilmuan, antara lain:

(1) Mutafannin

Anaksiak Tarbiyah Islamiyah, sebagaimana tercermin dari ulama-ulama Tarbiyah Islamiyah sendiri, mempunyai pengetahuan multidisipliner (berbagai bidang keilmuan Islam), seperti ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah, ushul fiqih, mantiq), tafsir dan ulumut tafsir, hadits dan mushtalah hadits, tauhid, fiqih, tasawuf, tarekh, dan lain-lain. Ilmu-ilmu ini merupakan pengetahuan dasar pelajar untuk menjadi seorang ulama. Pengetahuan multidisipliner ini dimungkinkan karena ketekunan, ketelatenan, dan kemampuan talaqqi (face to face) dengan ulama-ulama yang mumpuni di bidangnya.

Baca Juga: Membumikan Nalar Ijtihad di Tubuh Perti

(2) Kemahiran Kitab Kuning

Kitab Kuning ialah karya turast (klasik) yang dicetak dengan format khusus; memakai kertas kuning yang ringan, jenis aksara yang lebih harus, tidak mengenal tanda baca (titik, koma), tidak memakai paragraf, dan biasanya dicetak memakai sistem kuras tanpa dijahit. Menelaah Kitab Kuning membutuhkan kemahiran ekstra, selain menguasai kaedah ilmu bahasa Arab (nahwu, sharaf, balaghah) yang mumpuni, seorang anaksiak dituntut terlatih, terutama menentukan awal kalimat, akhir kalimat, marja’ dhamir, dan kehasilan (kesimpulan dari teks yang dibahas). Meskipun terlihat agak sulit, namun format Kitab kuning melatih anaksiak untuk tekun, fokus, dan sungguh dalam menganalisa teks. Kertas berwarna kuning, dengan tulisan hitam, juga bermanfaat untuk kesehatan mata pembaca. Mata orang yang membaca Kitab kuning tidak cepat lelah, karena komposisi kuning dan hitam tersebut. Kitab kuning yang dicetak dengan format aksara kecil dan mempunyai “ruang-ruang” memungkinkan satu halaman kitab memiliki lebih dari satu teks yang saling berkaitan; yaitu matan, syarah, dan hasyiyah. Ini bernilai ekonomis.

Kearifan anaksiak lainnya, dalam menelaah kitab kuning ialah metode terjemahan baramulo-ba’a lah baramulo, yang membantu pemula untuk memahami jabatan-jabatan kata dalam satu kalimat, sehingga akan memudahkan ketika memberi harkat atau memaknainya.

(3) Kemampuan Mudzakarah

Anaksiak dibekali kemampuan mudzakarah (diskusi) karena secara prinsip Kitab Kuning mengajarkan diskusi dalam ranah ilmiah; anaksiak diberikan pengetahuan mengenai ikhtilaf ulama-ulama lintas mazhab dan diajarkan untuk menyikapi hal tersebut secara bijaksana, serta dilatih untuk berhujjah sesuai dengan mazhab yang diamalkan.

Oleh sebab itu, dalam sejarah, masing-masing Madrasah Tarbiyah Islamiyah mempunyai forum diskusi sendiri, contohnya Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho dengan forum diskusi Nadil Mubahatsah, Madrasah Tarbiyah Islamiyah Tobekgodang dengan Mubahatsah, dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Koto Panjang dengan Istidlal. Sakin intens berdiskusi, satu masalah diperdebatkan sampai memakan waktu berminggu-minggu.

(4) Daya Literasi

Anaksiak mempunyai daya literasi yang tinggi. Oleh sebab itu mereka mampu menyelesaikan puluhan kitab-kitab, mulai dari matan (tipis) sampai hasyiyah (berjilid-jilid) dalam masa tujuh tahun, atau lebih bila ditambah takhassus. Begitu juga ulama-ulama Tarbiyah Islamiyah mempunyai daya literasi yang cukup luar biasa. Ini terbukti dari koleksi kitab ulama-ulama Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang terdiri dari kitab-kitab besar seperti Fathul Bari, Ithaf Saadat al-Muttaqin, Hasyiyah Yasin, al-Iqna’, Irsyad al-Sari, Syarah Shahih Muslim, dan kitab-kitab lainnya, yang menunjukkan kemampuan membaca yang tinggi. Selain itu, mereka juga produktif menulis kitab-kitab keagamaan.

(5) Kehati-hatian dalam berfatwa

Anaksiak dibekali ilmu Ushul Fiqih lewat kitab Waraqat, Syarah Jam’ul Jawami’, dan lain-lain. Ini membuat mereka akan selalu berhati-hati dalam berfatwa dalam bidang agama.

C. Adab/Akhlak Anaksiak

Bagian penting yang menjadi karakter anaksiak ialah adab/ akhlak terpuji. Alm. Maulana Syaikh Jamil Jaho (w. 1945), sebagai salah satu sesepuh Persatuan Tarbiyah Islamiyah, menulis diakhir kitab Tadzkiratul Qulub (1940), mengenai adab pelajar, dalam hal ini anaksiak:

(1) Niat, keikhlasan, dan benar (benar dalam berbicara, benar dalam keinginan, benar dalam cita-cita, dan benar dalam amalan). (2) Mengamalkan ilmu, (3) Tekun dan sungguh-sungguh , (4) Menghormati kitab/ buku, (5) Memuliakan dan menghormati guru.

Pada poin yang kelima, Inyiak Jaho, menekankan bahwa guru/ syaikh adalah seperti ayah bagi seorang anaksiak. (Lihat Tadzkiratul Qulub, hal. 61-65).

D. Sanad dan Ijazah

Anaksiak adalah mereka yang bertalaqqi dalam menuntut ilmu, sebab talaqqi adalah salah satu rukun dari ilmu. Talaqqi menjadikan ilmu tersebut menjadi bersanad, sedangkan sanad dalam agama adalah suatu yang sangat penting. Talaqqi juga melahirkan tradisi ijazah, yaitu pengakuan guru terhadap kemampuan/ ilmu dari anaksiak sendiri. Ijazah ada kalanya dengan ucapan lisan, mushafahah, dan biasanya dikuatkan dengan tulisan (teks ijazah). Sanad dan Ijazah menjadikan sebuah ilmu masuk kategori mu’an’anah (bersambung) kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa-sallam, mata air segala ilmu.

E. Thariqat/Tarekat

Thariqat adalah bagian yang penting bagi anaksiak sebelum terjun berdakwah dan mengajar di tengah masyarakat. Ulama-ulama Madrasah Tarbiyah Islamiyah biasanya menempatkan thariqat sebagai penyempurna ilmu-ilmu yang dipelajari. Thariqat identik dengan pengamalan zikir dan aurad (wirid) dengan pengawasan seorang Syaikh Mursyid yang ilmunya mu’tabar. Oleh sebab itu, seorang anaksiak yang mengamalkan thariqat secara continue mengamalkan zikir dan aurad yang telah diijazahnya seorang mursyid. Dengan arti kata, thariqat dalam kehidupan anaksiak tidak terpisahkan.

Terdapat sejumlah thariqat mu’tabarah yang diamalkan anak-anaksiak, dan diajarkan oleh ulama-ulama Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Di antaranya: Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sammaniyah, Syadziliyyah, dan Syattariyah.

Khatimah

Sebagai penutup, sikap anaksiak yang mesti selalu dipupuk ialah istiqamah, dalam ilmu dan amalan. Hal ini selalu menjadi “wasiat” dari ulama-ulama Madrasah Tarbiyah Islamiyah, seperti Syaikh Sulaiman Arrasuli, Syaikh Abdul Wahid Tobekgodang, Syaikh Jamil Jaho, Syaikh Abbas Qadhi, Syaikh Zakaria Labai Sati, Syaikh Mukhtar Angku Lakuang, Syaikh Arifin Jamil Tuanku Solok, Syaikh Kanis Angku Tuah, dan ulama-ulama besar lainnya, yang mereka tuangkan dalam surat ijazah Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Buya Baharuddin Arrasuli menuliskan pepatah yang dinisbahkan kepada ayahnya, Syaikh Sulaiman Arrasuli, bunyinya: Jalan jan diasak urang lalu, cupak jan dipapek rang manggaleh, kaji jan diubah pakiah singgah (buku Ayah Kita, hal. 29). Semoga ilmu-ilmu yang diwariskan dan diijazahkan ulama-ulama Madrasah Tarbiyah Islamiyah bukan hanya sebagai khazanah keilmuan belaka, namun lebih dari itu, menjadi pakaian dan ruh bagi anakanaksiak.  

Nazham Khabar Anaksiak

  Kalam dimulai dengan Bismillah
Shalawat-salam pengiring kitabah
Mensurahkan anaksiak sidang jama’ah
Tarbiyah Islamiyah payung jam’iyyah
 
Anaksiak ianya istilah si-thalib
Penuntut ilmu amatlah ghalib
Mengail paham ilmu yang labib
Mencari ma’rifat, lubuknya gharib

Pondasinya tiga, ingatlah taulan!
Pertama tauhid, Asy’ariyah pegangan
Kedua fiqih, Syafi’iyyah ikutan
Ketiga tasawuf, ‘amal berkilauan

I’tikadnya Ahlussunnah dengan jama’ah
Imamnya al-Asy’ari, nashirus sunnah
Begitupun al-Maturidi, keduanya ‘umdah
Masyhur terbilang, sawadul a’zhamah

Furu’ syari’atnya ialah Syafi’iyyah
Imam rupawan, ‘alim ‘allamah
Mazhabnya nafis, sangatlah tercerlah
Nawawi sang-murajjih dalam mazhabah

Dalam tasawuf, kita-pun beramal
Ibarat intan, ilmunya terkenal
Cemerlang terang hati yang kumal
Mengenal diri, ta’aruf yang kamal  

Ulama kita bertasawuf berthariqat
Naqsyabandiyah sudah jadi amanat
Khalidiyah nisbahnya telah ma’lumat
Suluk-tawajuh hakikat wiridat
 

Anaksiak ma’lum selalu bersurah
Membaca kitab begitu ‘asyiqah
Kitab kuning namanya risalah
Di sana ilmu, semuanya musytamalah

Anaksiak sifatnya rajin muthala’ah
Segala ilmu beragam lu’lu’ah
Mereka-pun mahir ber-mudzakarah
Mengasah istidlal, melatih ‘aqliyah

Anaksiak mestilah ilmunya kamil
Dari nahwu, sharaf, hingga ‘awamil
Tauhid, tasawuf, pekah, jalil
Hakikat-syari’at semuanya ‘amil

Anaksiak kaji-nya pun bersanad
Dari guru, silsilahnya mu’tamad
Mu’an’anah kepada Nabi Muhammad
Talinya kuat, tempat kita i’timad

Demikian “anaksiak” kita khabarkan
Semoga selalu menjadi ingatan
Mengenang diri, ilmu yang mutqan
Lahir-batin sandaran badan  

Saya berkhabar faqir dha’ifi
Ongku Mudo gelar dilaqabi
Istiqamah dipinta kepada Rabbi
“La-ilaha-illallahu” akhir lisani. []  

*Tulisan ini didedikasikan untuk acara “Pelatihan Kader Tarbiyah Islamiyah”, di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang, Jum’at/ 27 Desember 2019.

**Mungka (Lima Puluh Kota), 30 Rabi’ul Akhir 1441/ 26 Desember 2019, jam 23.07 WIB

Apria Putra
Apria Putra 93 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*