Angku Syekh Jamaluddin dan Surau Parak Pisang

Surau Latiah, Kel. Kampai Tabu Karambia, Lubuk Sikarah, Kota Solok
Surau Latiah, Kel. Kampai Tabu Karambia, Lubuk Sikarah, Kota Solok/ Ilustrasi/Dok. kebudayaan.kemdikbud.go.id

Berbicara mengenai Nagari Sumani, kita akan menemui kekhasan sendiri, tepatnya bila kita melirik aktivitas keagamaan dan transmisi keilmuan Islam di daerah ini. Dalam catatan ringkas ini penulis mencoba merangkum keterangan orang-orang tua perihal ketokohan seorang ulama yang masyhur di daerah ini, dia merupakan intan berlian yang jarang dibicarakan saat ini. Seorang tokoh yang mengajar orang-orang siak lewat institusi surau hingga paruh abad ke XX, yang “dalam” pahamnya dalam syari’at, mempunyai nama besar dalam soal-soal tasawuf dan “kaji tuo”, beliaulah Angku Syekh Jamaluddin, dimasyhurkan dengan Buya Jama Sumani.

Tersebutlah nagari Sumani, tepatnya di distrik Parak Pisak, kabupaten Solok, pernah ada satu lembaga pendidikan tradisional Islam yang terkemuka. Suraunya tampak besar. Dikelilingi oleh surau-surau kecil tempat bermukimnya orang-orang mengaji yang berasal dari berbagai wilayah di Sumatera Tengah, apakah dari Jambi, Alahan Panjang, Sungai Pagu, Malalo dan lainnya. Ketenaran Surau Parak Pisang itu tak lain disebabkan oleh kemasyhuran ulamanya, yaitu angku Syekh Jamaluddin tersebut. Dalam penuturan orang tua yang sempat bertemu muka dengan beliau, diceritakan bahwa beliau merupakan salah seorang murid kesayangan dan teralim dari Syekh Abbas Abdullah Padang Japang (wafat 1957). Perihal Syekh Abbas sendiri merupakan seorang alim ternama di dataran tinggi Minangkabau, tepatnya di Padang Japang –Payakumbuh (sekarang termasuk kabupaten Limapuluh Kota). Lembaga pendidikan Syekh Abbas ini telah lama masyhurnya, sejak dari ayahnya Syekh Abdullah “Beliau Surau Gadang” yang membuat halakah besar di abad XIX.

Baca Juga: Syekh Tuanku Limopuluah Malalo Ulama Besar Pendekar Syathariyah di Pedalaman Minangkabau

Kembali kepada Angku Jamaluddin, telah bertahun-tahun beliau mengaji di Padang Japang, berkhitmat dalam halakah Syekh Abbas, karena kecerdasan dan kealiman beliau, beliaupun mampu menjadi guru tuo (yang lebih dikenal dengan istilah Guru Suduik) di surau gurunya. Sangat besar sayang Syekh Abbas kepada beliau, apatah lagi hal ini didukung oleh kecerdasan Angku Jama yang mampu mengusai kitab dengan jitu, tidak seperti teman-teman seangkatan beliau yang lainnya. Ketika semua kaji yang tersurat telah dikuasai, Syekh Abbas kemudian menyuruh Angku Jama pulang ke kampungnya dan mengajar, sebab ilmu yang ada pada beliau telah mumpuni, dan pelajaran dari Syekh Abbas-pun telah dikuasainya dengan baik. Dengan ijazah sharih yang diungkapkan gurunya itu, Angku Jama kemudian pulang ke kampung halamannya Sumani. Kemudian mulailah beliau mengajar dengan cara lama. Bukan main-main pelajaran yang beliau sampaikan, kitab-kitab gundul yang tebal-tebal, berikut dengan syarah dan hasyiyah tingkat berat, bahkan Tuhfah dan Nihayah, sebuah kecerdasan dan kedalaman ilmu yang jarang kita temui saat ini. Sebuah prestasi yang hakiki, tidak prestisius seperti profesor-profesor saat ini. Sehingga dalam waktu yang lumayan singkat, surau Parak Pisang yang lumayan besar itu menjadi ikon intelektual terkemuka di daerah Solok kala itu. Sehingga berbondong-bondonglah orang-orang siak dari berbagai daerah di Minangkabau datang bermukim, menyauk ilmu dari lautnya ilmu Angku Syekh Jamaluddin ini.

Memang berbagai ketegangan sosial masa penjajahan ini banyak menghambat kemajuan Islam, begitu pulalah yang dialami oleh Surau Parak Pisang. Setelah sekian lama mengisi lembaran Islam dengan torehan tinta emas, pendidikan di Surau ini terhenti ketika Jepang masuk ke Minangkabau di era 40-an itu. Banyak orang-orang siak dan lari akibat tekanan Dai Nippon, membuat transmisi keilmuan di surau ini nyaris tanpa bekas.

Namun keadaan itu kemudian dapat teratasi setelah masa kemerdekaan diraih. Angku Syekh Jama kemudian dikenal sebagai seorang ulama yang karam dalam hakikat. Riwayat yang didengar, terbujuknya hati beliau kepada alam hakikat setelah mewarisi sebuah kitab lama dari ayahnya yang dikenal sebagai ahli tarekat di abad silam. Selama masa sendirian beliau ketika ditinggal orang-orang siak, beliau berkesempatan mengaji kitab lama itu sedalam-dalamnya, bahkan beliau memperbanding-bandingkan kitab itu dengan kitab-kitab besar lainnya, seumpama Tuhfah tersebut. Bahkan menurut penuturan istri beliau, ketika masa tersebut penuhlah lantai surau beliau itu dengan kitab-kitab dalam keadaan terbuka. Sesekali sambil memperhatikan kitab lama ayahnya, beliau melirik satu persatu kitab-kitab yang telah dikembangkan sepenuh surau itu. Ketika siang hari (beliau membuka kitab malam hari), beliau melakukan hal-hal yang tak lazim untuk untuk ukuran ulama, beliau bermain layang-layang dan sesekali menunggangi kuda, sampai-sampai ada mulut yang berujar bahwa Angku Jama ini telah gila. Peristiwa seperti ini sering kita jumpai dalam biografi-biografi tokoh sufi, lazim dikenal dengan istilah Jazabat. Sampai pada suatu hari, semua kitab yang terbuka di halaman surau itu beliau tutup dan beliau simpan dalam lemari. Maka usailah masa bersunyi-sunyi.

Baca Juga: Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho di Luhak Nan Tuo

Setelah itu beliau kembali mengajar, tepatnya mengajar hakikat dengan pelajaran “Kaji Tuo”. Sehingga ramailah kembali surau beliau itu, para orang siak (yang saat itu ialah terdiri dari orang-orang tua dan ulama-ulama pula) mulai berdatangan menyauk kaji tuo, mengaji jalan ka Tuhan, hidup nan dipakai, mati nan ditompang, kehadapan angku Jama ini.

Setelah Angku Syekh Jamaluddin wafat, tak banyak lagi kisah kejayaan yang dapat kita sebut. Hal ini mungkin karena tak ada lagi sosok sealim beliau dalam syari’at, apalagi Hakikat dan tarekat. Hal ini juga ditambah dengan munculnya golongan muda di daerah ini, yang tak menyukai kaji-kaji lama yang “tak tertandingi itu”. Pada tahun 2003, ketika kelompok kajian Puitika UNAND menyelusuri Surau Parak Pisang, maka didapatilah sisa-sisa kejayaan pengajian tasawuf di Surau ini. Ada berupa kitab-kitab lama, ada pula catatan yang tersembunyi yang disimpan dalam bambu. Itu semua perihal “Kaji Tuo” itu, pegangan ulama-ulama silam. Riwayat ini penulis peroleh dari guru penulis yang lautan ilmu. Adalah guru penulis pernah bertemu muka dengan beliau di tahun 1952 di masa kanak-kanaknya, saat itu beliau mengikuti ayah dan mamaknya menuntut kaji kepada engku Jama ini. []

Share :
Apria Putra
Apria Putra 44 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*