Antara Kesungguhan dengan Bakat

Antara Kesungguhan dengan Bakat
Ilustrasi Dok. Istimewa

Kesungguhan dengan Bakat

Siapa yang tidak tahu dengan peribahasa Arab yang sangat populer :

من جد وجد

“Siapa yang bersungguh-sungguh ia akan mendapat.”

Saking populernya, sehingga ada yang menganggap ungkapan ini adalah hadits Nabi.

Peribahasa ini biasa digunakan untuk memotivasi siswa dan santri. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa kalau kita mau sungguh-sungguh niscaya kita akan meraih apa yang kita cita-citakan. Apakah ada yang salah dalam ungkapan ini? Sekilas tidak. Tapi bagi sebagian pemikir, ada kesalahan yang cukup fatal dalam peribahasa ini.

Adalah Dr. Ali al-Wardi, seorang cendekiawan muslim dari Irak yang secara terang-terangan menolak peribahasa ini dalam bukunya “Tentang Karakter Manusia” فى الطبيعة البشرية .

Menurutnya, peribahasa ini menggantungkan keberhasilan seseorang hanya pada kesungguhannya, dan mengabaikan sisi yang jauh lebih penting yaitu bakat atau potensinya. Ungkapan ini seolah-olah menyatakan bahwa kesungguhanlah yang mengantarkan seseorang pada cita-citanya, meskipun bakat dan potensinya bukan di sana. Padahal, menurut Ali al-Wardi, bakat (mauhibah) memainkan peran yang sangat besar dalam pencapaian cita-cita seseorang. Tidak banyak berguna, bahkan dalam sebagian kondisi malah bersifat kontraproduktif, sebuah kesungguhan jika tidak pada bakat atau potensi yang dimilikinya.

Misalnya, seorang anak bakatnya adalah seni. Tapi oleh orangtuanya ia dimasukkan ke sekolah science. Lalu ia diminta dan dimotivasi untuk bersungguh-sungguh mempelajari fisika, kimia dan sebagainya. Apakah ini akan berhasil? Sangat sulit. Bahkan boleh jadi orang tua telah ‘mengorbankan’ potensi anak dan memintanya berada di bidang yang tidak diminatinya.

Oleh karena itu, menurut al-Wardi, tugas utama dan terberat seorang pendidik (baik guru maupun orang tua) adalah menemukan bakat dan potensi pada anak, lalu mengarahkannya sesuai dengan bakat yang dimilikinya itu. Ketika ia terkadang agak lesu dan malas, barulah tepat diberikan motivasi “man jadda wajada” (siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapat).

Rasulullah Saw adalah sosok pendidik yang sangat piawai menemukan bakat dan potensi yang ada pada setiap sahabatnya. Sahabat beliau Khalid bin Walid, potensinya adalah di bidang militer, maka diarahkan oleh Rasulullah Saw ke sana. Untuk memotivasi dan menghargai bakatnya di bidang itu Rasulullah Saw menjulukinya dengan “Pedang Allah yang terhunus”.

Kenapa kita sedikit sekali menemukan hadits yang diriwayatkan oleh Khalid bin Walid? Karena meriwayatkan hadits bukan bakatnya. Lalu siapa yang berbakat di bidang periwayatan hadits? Itulah dia Abu Hurairah. Untuk tafsir al-Quran? Itulah dia Ibnu Abbas. Untuk bidang faraidh atau warisan Islam? Itulah dia Zaid bin Tsabit. Untuk masalah adil-mengadili? Itulah dia Ali bin Abi Thalib. Orang yang berbakat menjaga rahasia? Itulah dia Hudzaifah bin Yaman. Orang yang paling bisa dipercaya? Itulah dia Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Orang yang paling berbakat dalam tahsin bacaan al-Quran? Itulah dia Abdullah bin Mas’ud.

Jadi, tanpa mengabaikan arti sebuah motivasi, tapi berikanlah motivasi pada orang yang sedang berjuang meraih cita-cita dalam bakat yang yang dimilikinya. Kalau tidak, motivasi akan tinggal motivasi. Kita hanya akan menunggu sesuatu yang sulit terwujud. Ibarat kata orang Minang: Bak mamintak sisiak ka limbek.

Yendri Junaidi
Alumni Perguruan Thawalib Padangpanjang dan Al Azhar University, Cairo - Egypt