Antara Mentarjih atau Mentaufiq saat Para Imam Berbeda Pendapat

Antara Mentarjih atau Mentaufiq saat Para Imam Berbeda Pendapat
Foto Syekh Burhauddin Saqraq/Dokumen Penulis

Mentarjih atau Mentaufiq Mentarjih atau Mentaufiq Mentarjih atau Mentaufiq

Saya termasuk diantara thalib yang ketika ada khilaf kuat antara ulama pada suatu masalah lebih memilih untuk tidak mentarjih, tapi mencoba taufiq, walau mungkin pada akhirnya ada condong kesalah satu pendapat tapi tetap melihat pendapat lain kuat dari i’tibar yang lain. Pendapat satu cocok digunakan untuk orang pada keadaan tertentu dan pendapat satunya cocok untuk orang lain pada keadaan lain. Tentu saja khilaf disini untuk wilayah khilaf yang kuat dalam mazhab ahlussunnah wal jamaah, di mana bukan wilayah ijma para imam muhaqiqin yang mutakhasis dibidang itu.

Mungkin untuk masalah fikih yang seperti ini lebih mudah diterima, karena sifat dhanninya jelas. Jadi lebih gampang bagi kita berbeda di dalamnya. Mungkin kitab Mizan Kubra jadi contoh bagaimana taufiq pendapat yang berbeda dalam fikih.

Akan tetapi di wilayah tasawuf dan akidah perbedaan seolah-olah sangat susah diterima. Karena di wilayah tasawuf mungkin kebanyakan kita berpikir bahwa bagaimana mungkin seorang wali yang kasyaf bisa khilaf dan salah, akhirnya dia bermuamalah seolah-olah pendapat para wali yang diidolakan itu pasti benar. Di wilayah akidah kebanyakan berfikir ini wilayah akidah ranahnya di qat’i. Jadi salah satu harus benar.

Baca Juga: Saran-saran Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama

Padahal faktanya para wali bisa beda pendapat karena waridat yang datang berbeda, masalah yang dihadapi berbeda, dan apalagi para wali juga tidak maksum. Adapun diwilayah akidah, ada beberapa.masalah juga wilayahnya dhanny, dimana tuhan sengaja tidak menjelaskan secara qat’i, untuk mura’ah tingkatan berpikir manusia yang berbeda-beda. Maka dari itu yang seperti itu wilayah furu akidah. Khitab untuk awam beda untuk khawas. Khitab khawas beda dengan khitab untuk ulama. Khitab ulama beda dengan khitab untuk ulama khas. Maka wajar jika yang ditangkap dari nash zhanny itu berbeda.

Maka dari itu ketika ada perbedaan para ulama di wilayah furu’ seperti pembahasan mengenai sifat mutasyabihat takwil atau tafwidh, tahsin taqbih aqly atau syar’i, alwujud nafsu zat atau ghairu zat, masalah wahdah Ibnu Araby, dll saya cenderung kepada tawfiq atau tawaquf daripada tarjih. Dan alhamdulllah selalu menemukan taufiqnya baik cepat atau lambat. Tapi tentu saja ketika memilih taufiq bukan karena saya ingin mendamaikan dua kelompok agar tidak “ribut-ribut”. Itu terlalu politis. Pilihan saya taufiq itu ya pilihan ilmiah dan ada makhrajnya, dan itu memang maslak ulama mutaakhirin. Jadi bukan pilihan politis, yang akhirnya taufik masalah karena basa-basi ilmiah, bukan karena pilihan ilmiah. Beragama tidak sepolitis itu

Selain karena saya memang belum sampai di level tarjih juga sih, apalagi di level pertempuran ilmiah para imam yang dua-duanya sama-sama kuat dan jumlahnya sama-sama banyak, siapa saya mau mentarjih, kan? Walau saya tidak menafikan maslak tarjih bagi yang mampu, tapi saya cukup tau diri bahwa saya belum di level para imam untuk mentarjih. Makanya jika ada Ibnu Hajar di satu sisi, di sisi lain ada al-Iji, di satu sisi Imam Nawawi dan di sisi lain ada Imam Suyuthi, di satu sisi Imam Amir dan di sisi lain Imam Dawani, ya saya gak akan berani mentarjih.

Baca Juga: Ada Banyak Khilaf Ulama dalam Buku-buku Perbandingan Mazhab, Apakah Semua Boleh Difatwakan

Satu-satunya yang mungkin saya lakukan adalah mencoba memahami masing-masing pendapat dengan hujjahnya masing-masing. Dan memilih kedua pendapat yang sama kuat itu untuk disampaikan sesuai dengan orang yang dihadapi. Ini mengingatkan saya pada nasihat guruku Syekh Burhauddin Saqraq, guru saya dalam ilmu kalam dan hikmah, tugas kita ini adalah memahami kalam para imam dan hujjah mereka. Jika mereka berbeda pendapat dengan khilaf qawy dan hujjah yang sama kuat kemungkinan besar adalah perbedaan i’tibary. Kita hanya perlu memahami hujjah mereka tidak harus mentarjihnya. Haza ma adinullah bihi.[]

Fauzan Inzaghi
Fauzan Inzaghi 17 Articles
Mahasiswa Indonesia di Suriah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*