Azimat Rayap: 200 Tahun Lebih, Naskah Tidak Dimakan Rayap

Azimat Rayap

Gambar di bawah ialah Naskah Mukhtashar Muharrar, fiqih Syafi’iyyah populer, yang dikarang oleh Imam Rafi’i, salah satu tokoh penting dalam Mazhab Syafi’i. Naskah tersebut memakai alas naskah berupa kertas Eropa dengan cap air Propatria. Dalam dunia Filologi, cap air dan pembandingnya dapat menjadi acuan bagi penentuan usia sebuah naskah. Propatria, dalam sebuah rujukan, merupakan kertas yang diproduksi pada tahun 1772. Biasanya jarak antara tahun produksi dengan penulisan teks ialah 3 tahun. Artinya, teks Mukhtashar Muharrar ini diperkirakan ditulis pada 1775. Ini adalah acuan terakhir, apabila tidak ada informasi penulisan pada teks, baik berupa catatan pinggir (hamisy) atau pada khatimah yang lebih dikenal dengan istilah kolofon.

Kertas merupakan salah satu benda yang sangat rentan rusak. Kerusakan itu bisa jadi karena proses kimiawi, cuaca, atau dimakan rayap. Sebab terakhir, dimakan rayap, lebih banyak ditemukan, karena kertas berasal dari kayu, dan kayu tentu mengundang rayap. Namun naskah-naskah tersebut akan jauh dari kerusakan, terutama rayap, jika pemilik naskah mempunyai kearifan dalam menjaga naskah. Sebenarnya hanya sekedar memperlambat kehancuran sebuah naskah. Ada pemilik memberi kapur barus; pengasapan; pemberian cengkeh, dan lain-lain, usaha untuk menghidari kerusakan.

Menariknya, ada kearifan non ilmiah, yang dikerjakan oleh penulis atau anaksiak/santri dulu, untuk menghindari kerusakan naskah yang mereka pelajari/ miliki. Salah satunya, yang cukup unik, ialah dengan menulis “azimat anti rayap” pada naskah tersebut.

Berziarah ke Makam Ulama Besar Pasia: Syekh Muhammad Husain (Tuangku Kubu Sanang, Inyiak Gobah atau Angku Marapi)

Azimat di sini ialah penulisan kalimat-kalimat tertentu, dengan makna tertentu, untuk keperluan yang khusus. Penulisan azimat dilakukan dengan pengetahuan bahwa kalimat tersebut mempunyai keistimewaan. Namun, “proses bagaimana istimewanya” kalimat tersebut tidak bisa diilmiahkan. Tidak seperti Paracetamol, obat penghilang nyeri, yang dapat dijelaskan dengan penalaran akademik. Azimat tidak seperti itu. Ia kadang kala dimunculkan via ilhami, bukan dengan jalan nazhari. Kemudian diajarkan setelah mujarrab. Sehingga kita kenal kitab-kitab seperti Syamsul Ma’arif Kubro, Manba’ an Ushulil Hikmah, Syumusul Anwar wa-Kunuzul Asrar, Mujarrabat Dairobi, Mujarrobat Melayu, dan lain-lain (Namun kitab-kitab ini lazimnya dipelajari dengan guru, bukan sendiri-sendiri. Terutama soal khadam, yang mana ulama sendiri berbeda pendapat tentang boleh tidaknya ber-“khadam”). Bagi anaksiak/santri, azimat-azimat ini hanya sekedar wasilah, tidak mempunyai atsar. Sama seperti minum bodrek untuk menghilangkan sakit kepala. Bodrek hanya wasilah saja; yang Hakiki, Allah yang menyembuhkan (Kalau Wahhabi, jelas-jelas menolak penggunaan “azimat” ini. Katanya talbisul iblis, tanpa ada tafshil).

Baca Juga: Surau Batu Bulan, Syekh Isma’il al-Khalidi dan Naskah Kuno

Pada naskah Mukhtashar Muharrar yang saya baca, saya temukan azimat anti rayap berupa penulisan:

يكبكح يكبكح يكبكح

Kalimat ini ditulis berulang-ulang kali. Dan menariknya, pada naskah ini mujarrab. Meski berusia 2 abad, naskah ini masih utuh, baik. Ada kerusakan memang, yaitu beberapa bagian kecil terkenal rembesan air dan sobek (disengaja). Namun, kertasnya tidak ada yang bolong karena rayap, padahal sudah berusia lama, dan tidak dibuka cukup lama.

Beginilah kearifan berperan. Anaksiak/ santri zaman dulu, di Minangkabau, bukan hanya terfokus pada ilmu yang tertulis pada kitab/ yang didengarkan dari lisan Tuangku Syaikh, namun mereka juga menjalankan kearifan, bahkan dengan sesuatu yang bukan ilmiah sekalipun. Sebab ilmiah tak ilmiah, belakunya, tetap atas izin Allah semata. Pulang hak kepada yang punya hak.

Ditulis di Mungka, dini hari, Selasa/ 26 Januari 2021
Saya, Apria Putra “Tuangku Mudo Khalis”

Apria Putra
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota