Baamar Galung Pancar Matahari

Baamar Galung Pancar Matahari
Ilustrasi Dok. https://www.mindtalk.com/channel/budayakita/post/baamar-galung-pancar-matahari-dari-suku-banjar-b-510770054787555627.html

Baamar Galung Pancar Matahari Baamar Galung Pancar Matahari

Oleh: Sari Muliani Helda

Sinar mentari mulai menilik ke dalam sebuah ruang melalui celah dinding. Kondisi rumah sedang kosong. Hanya terdapat seorang anak kecil dan pembantu yang bernama Linda. Beberapa kali, terdengar hardikan dan suara lemparan barang yang keras ke dinding.

            “Mana mainanku? ucap anak kecil dengan nada membentak.

            “A, aya… u…” jawab Linda dengan tergagap-gagap.

            “Tak usah bicara! Sadar diri saja. Kamu itu tak bisa!” ucapnya lagi sambil berteriak.

            “Kalau sampai hilang, aku adukan pada ayah!” lanjut anak itu.

            “Cari!” ucapnya sambil mendorong Linda, lalu pergi begitu saja.

            Setiap hari, Linda bertarung meredam gejolak batinnya. Seorang kakak yang tak pernah menganggap Linda sebagai adiknya. Mempekerjakannya sebagai tenaga kerja gratis. Hingga, tak pernah mengenalkan Linda pada anaknya sendiri.

            Kini, mentari mulai mencapai titik kulminasinya. Ini pertanda, sebentar lagi, kakaknya pulang ke rumah. Anak kecil itu masih tersengut-sengut sebab kehilangan mainan. Linda juga masih sibuk membereskan rumah sambil mencari barang yang hilang.

            Tak lama, terdengar bunyi derap langkah menggunakan sepatu pantofel. Lalu, ada yang mengetuk pintu rumah. Linda dengan sigap membukanya dan menyilakan masuk. Ternyata, kakaknya sudah datang. Namun, anak mereka masih menangis.

            “Kamu niat atau tidak bekerja di sini, masa menjaga anak kecil saja tidak becus!” teriak istri dari kakaknya yang baru pulang bekerja. Lalu, mereka langsung masuk ke kamar menenangkan anaknya.

            Linda memberikan tatapan kosong kepada kakaknya. Betapa lelahnya mengurus ketiga keluarga kakaknya. Anak mereka hanya mengetahui bahwa Linda adalah seorang pembantu, tak lebih dari itu. Oleh karena itu, mereka berani tidak sopan kepadanya.

            “Apa lihat-lihat!? Melawan, ya! Pergi sana, siapkan makanan untuk kami! Sahut kakak sulungnya.

            “Aku bukan berarti tidak memberi upah dari hasil kerjamu. Bukannya selalu istriku bungkuskan makanan untuk ibu dan bapak, termasuk kamu! Jangan-jangan, kamu leyeh-leyeh lagi di rumah? Jaga anak kami saja tidak bisa!” pungkas kakaknya sambil mengomel.

Baca Juga: Sangkar Buatan Ayah

            Rumah seakan menjadi belenggu bagi gadis yang tak banyak mengenal huruf dan angka itu. Baru saja menjamah di bangku sekolah dasar, sudah diberhentikan oleh orang tuanya. Hal itu, didasari pola pikir masyarakat yang selalu mengahantui ibunya. Percuma sekolah tinggi-tinggi. Bisu, tetap saja bisu, tak mungkin ada yang berubah.

            Masa depan yang suram. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Pengakuan sebagai keluarga sendiri saja tidak dimilikinya. Mencari pekerjaan di luar juga pasti lebih sulit.

            Setelah selesai bekerja di rumah kakak sulungnya, Linda langsung pergi ke rumah kakak keduanya.

            “Lin, besok pagi aku dengan istriku mau pergi ke rumah sakit untuk persiapan lahirnya anak kami. Tolong siapkan barang-barang kami! Jangan sampai ada yang tertinggal!”

            “Oh, ya, jangan membuat aku malu dengan mertuaku. Kamu harus bersikap seperti pembantu dan jangan memanggilku dengan sebutan kakak. Camkan hal itu!”

            Linda hanya bisa membalas dengan anggukan. Setelah pulang, Linda membawa kantong plastik yang berisi makanan. Ya, nasi bungkus yang dijadikan upah pekerjaannya. Lalu, nasi tersebut dimakan bersama orang tuanya di rumah.

            Setelah itu, Linda pergi lagi ke rumah kakaknya yang lain. Linda mengantarkan pakaian yang sudah dicuci dari rumahnya. Hal itu dilakukannya setiap hari. Dia bekerja dari rumah saudara sulung terlebih dahulu, lalu dilanjutkan ke rumah saudara yang lain.

            Setelah Linda berusia 20 tahun, tak disangka, ada lelaki tampan yang ingin melamarnya. Dia bekerja sebagai pegawai sipil. Tentu dia memerlukan seorang pendamping yang selalu ada dan membantu mengurus keperluannya. Siapa yang tidak tertarik dengan Linda, gadis berparas cantik dan berkulit putih itu?

            Tiba saatnya, acara lamaran berlangsung. Setelah keluarga Riza sampai di rumah Linda, mereka disambut baik oleh Linda dan kedua orang tuanya. Namun, raut muka sinis terpancar dari wajah ketiga kakak laki-lakinya.

            “Perihal kami datang ke sini adalah ingin melamar Linda, anak ibu, untuk dinikahkan dengan anak saya.” ucap orang tua Riza agar memecah suasana tegang yang terasa di dalam rumah Linda.

            “Kalau saya, mengizinkan saja, Bu. Semua, terserah Linda. Mau menerima atau tidak.” jawab orang tua Linda.

            “Alhamdulillah. Kalau begitu, bagaimana, Linda? Lamaran ini, mau diterima atau tidak?”

            Saat Linda ingin mengangguk. Kakak pertama Linda langsung menaruh tangan di pundak Linda dan berbisik.

            “Nanti, kalau kamu menikah, siapa yang akan membereskan rumah kami bertiga? Itu tanggung jawabmu, ‘kan? Cepat, tolak lamarannya!” bisik kakak sulung Linda.

            “Iya, tolak saja. Aku sangat menentang lamaran ini!” sahut kakaknya yang lain.

            Namun, Linda langsung mengangguk kepada Riza. Lalu, matanya menggambarkan permintaan tolong dan kesedihan yang sangat dalam. Mereka sudah lama berteman, sejak sekolah dasar. Namun, Linda terlampau jauh tertinggal oleh pendidikan Riza

            “Selamat Riza. Linda menerima lamaranmu.” ucap orang tuanya. Setelah itu, Riza menyematkan cincin emas pada jari manis Linda.

            “Terima kasih, Linda. Setelah ini, aku akan membahagiakanmu!” ucap Riza.

            Setelah mama Riza berbincang sedikit dengan orang tua Linda, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Beberapa saat setelah acara lamaran….

            “Hei, Riza! Kami bertiga tidak setuju kalau Linda dinikahi olehmu. Nanti, dia tidak akan bekerja lagi di rumah kami” ucap kakak sulung Linda mencegat keluarga Riza dalam perjalanan pulang.

            “Kami tau, kamu bekerja sebagai pegawai sipil. Tentu, kamu tidak akan menetap di desa ini saja. Kalau mau menikahi adikku, dia tetap harus jadi tenaga kerja gratis untuk kami!” sahut kakaknya yang lain.

            “Maaf, aku sudah berniat membawanya untuk tinggal di rumah baruku. Jadi, aku tidak bisa meninggalkannya di sini sendirian.” jawab Riza dengan nada sopan, tetapi dalam hatinya sangat sesak dan sakit mendengar perkataan kakak Linda.

            Kakaknya pasti merasa kehilangan karena sudah terbiasa rumahnya diurus dengan gratis oleh adiknya. Riza juga tidak mau, Linda berlarut-larut dalam kesedihannya karena dibentak kakak kandungnya sendiri. Bagaimana bisa, sepasang kakak adik berubah status menjadi majikan dan pembantu. Mungkin, ini sudah takdir yang diberikan Tuhan pada Linda.

            Setelah itu, mereka melangsungkan resepsi dengan meriah. Mereka mengenakan pakaian adat baamar galung pancar matahari. Linda terlihat anggun dengan untaian bunga melati di kepalanya. Semua mata tertuju pada mereka.

            Setelah Linda mengandung 6 bulan, Riza terpaksa harus pergi meninggalkannya untuk bekerja. Riza bingung harus minta tolong kepada siapa. Ibunya juga sedang sakit, pasti tidak bisa pergi ke rumahnya. Lalu, kakak Linda dengan senang hati menawarkan diri untuk menjaganya.

            Setelah Riza bekerja selama seminggu di luar kota, dalam perjalanan pulang, dia mampir membelikan bubur untuk istrinya. Ketika sampai di rumah, istrinya langsung memeluk Riza. Air mata bercucuran membasahi bajuku. Lalu, dia menjelaskan dengan bahasa isyaratnya, bahwa di kakinya banyak sekali darah.

            Riza langsung terkejut dan memboyong istrinya pergi ke rumah sakit terdekat. Tak disangka, Buah hati yang selalu mereka idamkan selama ini telah tiada. Lalu, dokter menyarankan untuk melakukan operasi agar mengeluarkan janin yang ada di dalam kandungan Linda.

            “Kasihan sekali kamu, nak. Belum juga melihat dunia. Mungkin Tuhan lebih sayang kepadamu” ucap Riza sambil mengelus perut istrinya.

            Linda hanya bisa menangis dan merintih kesakitan. Tak lama, ranjang dorong yang Linda gunakan dijemput suster menuju ruang operasi. Suasana bahagia seketika lenyap menjadi ketakutan dan cemas.

Baca Juga: Cahaya Bukan Kompas

            “Ya tuhan, semoga Linda diberi kekuatan dalam menghadapi segala cobaan ini. Aku percaya Linda adalah orang yang kuat.” doa Riza kepada tuhannya.

            Riza kembali mengingat masa lalunya bersama Linda. Canda tawa selalu mereka lewati bersama-sama. Saat Riza terpuruk, Linda tidak pernah ada niat untuk meninggalkannya, malah Linda yang menjadi orang terdepan yang selalu menyemangati Riza. Linda tetap seperti Linda yang dahulu ia temui saat masih sekolah.

            “Pasien Linda Puspita, 22 tahun, mengalami pendarahan hebat. Saat masuk ke dalam ruang operasi, Linda Puspita sudah tidak sadarkan diri. Kami, tim dokter di rumah sakit ini telah melakukan usaha semaksimal mungkin, tetapi Linda Puspita meninggal dunia.”

Sari Muliani Helda
Sari Muliani Helda 1 Article
Sari Muliani Helda. Lahir pada tanggal 25 Maret 2000, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sekarang sedang berkuliah di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat. Hobi mendengarkan musik. Moto Hidupnya adalah “Hari ini harus lebih baik dari hari sebelumnya dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.” Instagram @sari_muliani_helda

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*