Bagaimana Menyikapi Dakwah yang Berisik?

Dakwah yang Berisik
Ilustrasi Dok. Istimewa

Dakwah yang Berisik Dakwah yang Berisik Dakwah yang Berisik

Ajakannya “Ayo kita bersatu”, lalu pada praktiknya “pembahasan Nabi Khaidir tidak ada gunanya disampaikan”, “bermazhab itu tidak ilmiah”, “ulama fulan penjilat”, “sahabat fasiq”, “tasawuf khurafat”, “mantiq haram”, dst, semua hal sensitif ditulis di forum umum seperti media sosial dan disiarkan di televi. Padahal kalau memang meyakini bahwa itu benar, narasinya bisa diubah seperti “Nabi Khaidir menurut kami”, “mazhab menurut kami”, dll. Jadilah ia narasi ilmiahnya tidak terkesan menjatuhkan orang lain, lalu terserah orang, mau percaya yang mana. Bukankah narasi framing seperti itu sudah seperti politisi saja dalam beragama?

Adapun reaksi orang terhadap narasi menyerang, kadang merendahkan, maka hanya orang bodoh yang tidak membalas kritikan seperti itu. Apalagi saat melihat keluarga dan orang-orang terdekatnya mulai termakan narasi itu. Ya, mereka tidak mungkin diam lagi. Makanya banyak ulama yang dulunya mendiamkan demi persatuan, lalu karena keadaan malah kacau, maka mereka mulai menyuarakan dan membalas kritik. Karena kita diam demi persatuan tapi tetangga malah terus memecah belah. Dan anehnya ketika dibalas narasi baru kembali dilakukan “kita jangan ribut-ribut, lawan kita adalah Israel”.

Baca Juga: Meneguhkan Ahlussunnah wal Jamaah (Asy’ari_Maturidi)

Makanya kalau ada pemikiran “bunglon” seperti itu, tidak perlu didiamkann. Balas saja. Tegaskan saja. Katakan saja; kami berbeda dengan kalian, dan kalian salah menurut ajaran kami, terserah kalian terima atau tidak. Jika kami bilang kalian salah dan di luar ajaran kami lalu kalian masih mau bersatu ya, ahlan wa sahlan, kami sambut. Dan jika kalian tidak mau bersatu ya tidak apa-apa juga. Kami akan menjalankan misi kami walau tanpa kalian. Tapi kapanpun kalian mau ikut, kami akan menyambut, karena kalian masih kami anggap saudara walau kalian membidahkan, men-taghut-kan atau bahkan mengkafirkan kami

Tapi yang pasti kami tidak akan pernah diam lagi dengan apa yang kami anggap benar jika kalian masih berisik. Karena yang kami hadapi adalah orang yang selalu berisik. Makanya kami juga harus bicara, agar suara tidak satu arah. Agar kalian seolah-olah mewakili mayoritas. Ini tadlis ilmiah. Jika kami diam maka kami sama seperti menipu awam. Beda jika yang kami hadapi adalah tetangga tidak berisik, maka semua bisa dijalankan dengan diam, dan baru berbicara hanya di forum ilmiah. Di forum ilmiyah kita harus saling kritik, karena ada kebenaran yang harus dicapai, bahkan sekeras-kerasnya, lalu keluar dari forum maka kita ngopi bareng.

Jadi kami banyak bicara ya karena kalian berisik. Bukan karena ingin perpecahan. Jika kalian menganggap kami berbicara nyaring seperti itu membuat perpecahan, yaitu terserah kalian.

Kami sudah belajar dari pengalaman, tapi tenang saja, mauqif kami masih sama, seperti yang pernah dikatakan Mufti Badruddin Hassoun ketika anaknya dibunuh oleh kelompok yang mengkafirkan beliau “kalian memaki kami? Kami tidak akan memaki kalian! Kalian mengkafirkan kami? Kami tidak akan mengkafirkan kalian? Kalian membunuh kami, kami tidak akan membunuh kalian!”

Baca Juga: Pilih Hadis Nabi, Apa Pendapat Ulama?

Jadi kenapa narasi ulama al-azhar, NU, dll dalam bermuamalah berubah? Ya, karena sikap tetangga berubah. Bukan karena ulama kita tidak istiqamah, tapi keadaan yang berubah. Jadi cara menghadapinya berubah. Bukan karena manhaj ulama sekarang berbeda dengan dulu. Fikihnya masih sama, tapi tahqiq manath dan khitabnya beda. Tetangga sudah berubah, dan mulai sangat resek, di batas tidak mungkin didiamkan lagi. Jadi itulah fikihnya hari ini. Jika kemudian mereka “anteng” lagi maka fikih baru bermuamalah akan beda lagi. Makanya ada ulama yang dulu tinggal barsama, tetangga banyak yang “ninggalin”, karena memang tetangga sudah berubah dari sikap awal yang dikenal. Jadi beginilah cara tepat menghadapi tetangga berisik, beda dengan menghadapi anak tetangga yang buat kamu jatuh cinta, kamu bisa sering mengirim masakan ke rumahnya, siapa tahu orang tuanya senang kan haha.

Fauzan Inzaghi
Mahasiswa Indonesia di Suriah