Bagaimana Orientalis Mengenali Timur? (Ulasan Bab 1 Buku Orientalisme Karya Edward Said)

Bagaimana Orientalis Mengenali Timur (Ulasan Bab 1 Buku Orientalisme Karya Edward Said)

Oleh: Saidian

Kata kunci dalam bab ini adalah pengetahuan dan kekuatan. Di sini Edward Said ingin menekankan hubungan antara pengetahuan dan kekuatan yang pada praktiknya melahirkan pendudukan atau kolonisasi. Yang menarik adalah Said membahas tentang 3 tokoh penting yaitu Arthur James Balfour, Evelyn Baring alias Lord Cromer, dan Henry Alfred Kissinger. Ketiga orang ini adalah administratur; Balfour dan Cromer adalah administratur Inggris sedangkan Kissinger adalah administratur Amerika Serikat (AS).

Pengetahuan tentang Timur mereka dipengaruhi oleh suatu bidang kajian yang disebut orientalisme. Kajian orientalisme, menurut Said, adalah pandangan politis atau realita yang menunjang perbedaan antara Eropa (Barat) dengan yang asing (Timur). Pengetahuan tentang Timur baik tentang rasnya, wataknya, kebudayaannya, tradisinya, sejarahnya, dan masyarakatnya sangat penting bagi orientalis. Dengan memahami mereka maka bangsa-bangsa Timur bisa dikaji, dipahami atau diekspos oleh seorang Orientalis. Pengetahuan tentang Timur itu sendiri, menurut Said, adalah generalitas-generalitas yang berfungsi membedakan antara kelompok manusia yang satu dengan kelompok manusia lainnya. Antara Barat dan Timur.

            Masalahnya adalah bahwa pembagian yang bersifat khayali ini memiliki dampak serius. Ada garis demarkasi mutlak antara Timur dan Barat dengan berbagai konsekeunsinya. Barat dan Timur digambarkan memiliki sifat dan watak yang berbeda. Dikatakan bahwa: orang Eropa adalah penalar yang cermat; semua pernyataannya mengenai fakta, bebas dari semua bentuk kekaburan, menekankan bukti. Sebaliknya pikiran Timur, seperti jalan-jalannya yang berliku-liku, tidak simetris, suka “menjilat”, berpura-pura, licik, tidak penyayang kepada binatang. Jika orang Timur dikatakan irasional, bejad moral, kekanak-kanakan, “berbeda”, maka orang Eropa adalah kebalikannya; rasional, berbudi luhur, dewasa, “normal”.

Baca Juga: Said, Massad, Dabashi dan Islam

Karena Barat memiliki kebudayaan lebih kuat, rasional dan lebih baik daripada Timur, pada gilirannya dia dapat menembus, menggumuli, dan memberi bentuk serta arti kepada misteri Timur. Barat merasa sah menjadi wali dari Timur. Segala hal yang menyangkut Timur maka ia memerlukan tangan orientalis Barat. Puncaknya, perasaan akan kekuatan Barat atas Timur dianggap begitu saja sebagai memiliki status kebenaran ilmiah. Sah!!! Sekalipun bangsa Timur memiliki masa kejayaan dan tidak disanggah kebenarannya oleh Barat sendiri akan tetapi itu terjadi di masa lalu. Mereka eksis di zaman modern hanya karena negara-negara modern (Eropa) yang perkasa telah mengangkat mereka dari kubangan keruntuhan mereka. Mereka ada karena Eropa yang telah merehabilitasinya.

            Baik Balfour, Cromer atau Kissinger memakai logika yang kurang lebih sama dalam menganggap Timur. Cara pandang mereka atasnya hampir bisa dipastikan selalu menginferior. Mereka tidak pernah memberikan kesempatan kepada orang Timur untuk berbicara atas nama dirinya sendiri. Mereka tidak mendengarkan apa kebutuhan rakyat dan bangsa-bangsa Timur yaitu kemerdekaan. Sebaliknya, mereka terus menerus mengatakan bahwa bangsa Timur memerlukan uluran tangan bangsa Barat untuk memperbaiki nasib mereka. Inggris mengenal Mesir. Inggris tahu bahwa Mesir tidak mampu menyelenggarakan pemerintahan sendiri. Lalu Inggris menguatkan hal itu dengan menduduki Mesir. Penduduk asing menjadi “soko-guru” bagi peradaban Mesir. Dengan sok tahu, Cromer mengatakan “Masa depan Mesir yang sesungguhnya…… tidak terletak pada arah nasionalisme sempit, yang hanya akan meliputi orang-orang Mesir pribumi saja… melainkan pada arah kosmopolitan yang luas”.

            Jelas bahwa pengetahuan memiliki kekuatan. Memiliki pengetahuan atas sesuatu seperti itu berarti menguasainya, memiliki kewenangan atasnya. Dengan kata lain, pengetahuan Barat atas Timur memberi kekuasaan pada Barat untuk menguasai Timur. Hubungan pengetahuan dan kekuasaan diistilahkan oleh Said sebagai dialektika informasi dan kontrol. Dalam pandangan orientalis Inggris itu, Mesir adalah contoh akademis dari keterbelakangan Timur; Mesir menjadi perlambang kemenangan ilmu pengetahuan dan kekuatan Inggris. Timur ditundukkan oleh suatu pengetahuan yang disebut orientalisme.

            Jika digambarkan secara sederhana; Ada orang-orang Barat dan ada orang-orang Timur. Yang pertama menguasai, yang kedua harus dikuasai, yang biasanya berarti negerinya diduduki, urusan-urusan internalnya dikontrol secara ketat, darah dan hartanya harus dikuasakan kepada salah-satu dari kekuatan-kekuatan Barat (Inggris). Tujuan inilah yang ada di balik pengetahuan tentang Timur itu. Maka wajar jika para orientalis hanya peduli dengan ide, gagasan mereka dan mengabaikan kebutuhan orang-orang atau bangsa-bangsa Timur.

Bagi Said pengetahuan bernama orientalisme ini sudah langgeng, terwarisi secara turun temurun bahkan sudah ada sejak ratusan tahun sebelum Balfour, Cromer dan Kissinger bertugas yaitu sejak Napoleon Bonaparte datang ke Timur. Perlu dicatat bahwa jarak antara Kissinger dengan Balfour dan Cromer sendiri lebih dari enam puluh tahun. Yang menarik bagi Said, melalui contoh tiga administratur tersebut, bahwa pengungkapan, bahasa, dan ekspresi mereka akan Timur adalah sama saja. Mereka menilai bahwa bangsa Timur berbeda dari Barat yang pada gilirannya membuat Timur harus berterimakasih dengan kehadiran mereka karena Barat mau mengurus bangsanya.

Pengetahuan orientalisme terus menerus tumbuh di Eropa mengenai dunia Timur, pengetahuan yang dikukuhkan oleh pertemuan-pertemuan kolonial maupun oleh minat yang meluas terhadap hal-hal yang asing dan tidak biasa, yang dieksploitir oleh sain-sain ethnologi, anatomi perbandingan, filologi, dan sejarah, yang tengah berkembang; lebih lanjut, pengetahuan sistematis ini ditambah lagi dengan sejumlah besar literatur yang dihasilkan oleh para novelis, penyair, penerjemah, dan pelancong-pelancong berbakat.

Baca Juga: Menghapus Trauma Sejarah antara Timur dan Barat

Karena itu, di Eropa (dan kini AS), terdapat “lautan” literatur mengenai dunia Timur yang diwarisi dari Eropa di masa lalu, pada akhirnya orientalisme menjadi sebuah perpustakaan atau arsip informasi yang dikuasai bersama oleh bangsa-bangsa Eropa. Mereka memiliki kode-kode ortodoksi orientalis yang selalu dirujuk oleh para orientalis dari satu generasi ke generasi lainnya. Dari era Napoleon, Renan, Balfour, Cromer hingga Kissinger. Sampai saat ini, Timur sebagai satu sosok pengetahuan di Barat dimodernisasikan, diperbarui, dikembangkan terus menerus.[]

Tarbiyah Islamiyah
tarbiyahislamiyah.id | Ranah Pertalian Adat dan Syarak