“Baliau” dan Baliau Batu Tanyuah

Baliau dan Baliau Batu Tanyuah
Foto: Penulis, Apria Putra Ongku Mudo, di depan kubah makam Baliau Batu Tanyuah, Kec. Akabiluru, Kab. Lima Puluh Kota.

Satu ketika saya dapat menziarahi makam ulama sufi di Darek. Sosok ulama yang mempunyai nama besar di masa lampau, namun riwayatnya tidak begitu lengkap kita terima akibat lamanya masa dan tradisi mencatat manaqib yang belum familiar. Umumnya ulama-ulama silam di masa lampau hanya terekam dalam memori kolektif saja.

Sosok ulama yang saya kunjungi tersebut dikenal dengan panggilan Baliau Batu Tanyuah. Sosok ulama kita ini tidak lain merupakan diantara guru pertama dari alm. Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus (w. 1957), ulama besar pemangku Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Thariqat Sammaniyyah Khalwatiyyah yang mempunyai pengaruh besar, bukan hanya di Pedalaman Minangkabau, juga sampai ke Tanah Malaya.

Baca Juga: Surau Belubus Pusek Jalo Pumpunan Ikan

Menurut riwayat yang kita terima, adalah Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim, sebelum menuntut dan mendalami ilmu syariat dan ilmu thariqat kepada ulama-ulama besar abad 19 dan awal abad 20 lainnya, beliau terlebih dahulu menerima “mukaddimah” berbagai vak keilmuan dengan Baliau Batu Tanyuah ini. Siapa nama asli Baliau Batu Tanyuah tersebut? Belum dapat kita telusuri lebih jauh.

Yang menjadi titik perhatian kita, selain dari sosok yang dibicarakan, ialah mengenai gelar “Baliau” itu sendiri. Sudah menjadi adat, sesuatu yang lazim, di kalangan kaum muslimin untuk mengedepankan adab di hadapan ulama, apalagi bila ulama itu mempunyai kekhasan.

Salah satu kelaziman di masa lampau ialah panggilan terhadap ulama dengan tidak menyebut nama beliau. Biasanya masyarakat dalam menyebut seorang ulama yang menjadi rujukan dengan memakai kata “baliau” yang kemudian diiringi dengan nama daerah, nama surau, atau laqab keistimewaan yang dilekatkan pada sosok ulama tersebut.

Kata “baliau” dalam Bahasa Indonesia ialah “beliau”, salah satu bentuk kata tunjuk terhadap orang ketiga. Penggunaan kata “beliau” dalam penyebutan sebagai bentuk ta’zhim (penghormatan). Oleh sebab itu banyak sekali sosok-sosok ulama yang masyhur disebut “Baliau”, seperti Baliau Simabua (Maulana Syaikh Isma’il al-Khalidi Simabur), Baliau Batuhampa (Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi Batuhampa), Baliau Surau Baru (Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka), Baliau Kumpulan (Maulana Syekh Ibrahim al-Khalidi Kumpulan), Baliau Batubasurek (Syekh Abdul Ghani Batubasurek), dan Baliau Batu Tanyuah yang kita sebut ini.

Baca Juga: Syekh Ongku Tanjuang dan Syekh Ongku Tobek

Setelah saya perhatikan, ulama-ulama yang dimasyhurkan dengan “Baliau” tersebut umumnya mereka yang mempunyai reputasi keilmuan yang mumpuni, terutama dari segi tasawuf/tarekat. Apabila seorang ulama sudah dikenal masyarakat dengan sebutan “Baliau”, biasanya ulama tersebut sudah dianggap sebagai sesepuh dan rujukan dari ulama-ulama lainnya.[]

Al-Fatihah ila Hadrah Baliau Batu Tanyuah…..

Apria Putra
Apria Putra 85 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*