Baliau Tobiang Pulai (Wafat Sekitar 1899 M)

Baliau Tobiang Pulai (Wafat Sekitar 1899 M)

Baliau Tobiang Pulai

Salah satu ulama besar dan berpengaruh di Pedalaman Minangkabau, pada abad ke-19, dan hampir tidak pernah dibicarakan kalangan anaksiak (santri) ialah Maulana Syekh Abu Bakar Tobiang Pulai, al-Khalidi al-Naqsyabandi. Beliau ialah salah satu khalifah dari Maulana Syekh Muhammad Jamil Tungkar, atau Baliau Tungka, yang sanadnya bersambung kepada Maulana Syekh Isma’il al-Khalidi al-Minangkabawi al-Makki dan Maulana Khalid Naqsyabandi Jabal Abi Qubaisy Mekkah. Dan murid beliau, tokoh sentra awal abad 20, yaitu Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka atau “Baliau Surau Baru” (w. 1920).

Baliau Tobiang Pulai, panggilan ta’zhim yang disematkan masyarakat kepadanya. Beliau telah menjadikan Limapuluh Kota menjadi salah satu sentral keilmuan Islam terpenting di Minangkabau dengan lembaga pendidikan yang diasuhnya, Surau Tobiang Pulai. Anak-anaksiak berdatangan dari berbagai daerah untuk mengaji ilmu agama kehadapannya. Kepada siapa yang sudah diangggap mampu, maka ditalqinkan serta diijazahkan pula Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah; sebab tarekaat ini adalah pakaian dan pegangan ulama di Pedalaman Minangkabau.

Baca Juga: Berziarah ke Makam Syekh Muhammad Thahir Barulak dan Syekh Muhammad Jamil Tungkar

Di Surau Tobiang Pulai tersebut, selama lebih dari seabad lamanya, menjadi pusat keilmuan, yang namanya disandingkan dengan surau-surau penting lainnya di abad 19, seperti Surau Munggu Padang Kandih, Surau Baliau Sungai Ameh Taram, Surau Gadang Batuhampar, Surau Gadang Padang Jopang, Surau Tuangku Biaro, Surau Syekh Sungai Dareh Situjuah, dan Surau Baliau Tungka. Waktu itu belum ada istilah Kaum Tua dan Kaum Muda, karena amalan satu, beramal dengan Mazhab Syafi’i; i’tikadnya sama yaitu berittiqad Ahlussunnah wal Jama’ah/ Asy’ariyah dan Maturidiyah, dan memegang tarekat Sufiyyah, entah Naqsyabandiyah Khalidiyah , Syadziliyyah, atau Syattariyah.

Kenapa bernama Surau Tobiang Pulai? Karena (1) surau terletak di bawah tebing, jauh dari keramaian. Di lurah, di bawah tebing, hening mudah dirasakan. (2) Sebab ada batang Pulai di atas tebing tadi. Pulai besar, yang akarnya menjuntai-juntai ke tanah. Tentunya ketika itu Batang Pulai tidak identik sebagai tempat sakti, tempat berayun cindai dan orang bunian; tapi pohon pelindung, akar bertempat bersila, batang tempat bersandar, daun tempat bernaung.

Surau Tobiang Pulai punya sejarah gemilang di masanya. Ia akan berhubungan dengan pasang surut Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) setelah masa Tuan Syekh “berlindung”. Tuan Syekh Tobiang Pulai wafat, dan dimakamkan di mihrab surau Tobiang Pulai. Tidak banyak orang berziarah ke sana sebab sejarah sudah tidak dibaca, meski kajinya tetap tertancap, dan namanya tetap disebut dalam Nazham Tawassul.

Sebagian surau-surau penting yang berpegang kepada Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Limapuluh Kota adalah bersilsilah kepada Baliau Tobiang Pulai. Salah satunya ialah “Halaqah Suluk Syekh Mahmud Abdullah Tarantang”, yang mana saya, oleh yang tua-tua, ditulis sebagai salah satu pengurusnya.

***

Hampir setahun lamanya saya mengisi wirid pengajian mingguan, setiap malam Jum’at minggu keempat, di Surau Tobiang Pulai. Hawa yang lama masih kuat terasa; kesan “jiwa” baliau-baliau di Tobiang Pulai masih berbekas; meski zaman beralih, musim berganti. Sebab rasa tak pernah pudar; dan kaji tidak sirna; sebaris tidak ia lupa, setitik tidak pula hilang.

Baca Juga: Syekh Muhammad Shaleh Padang Kandih: Syaikhul Masyaikh Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Pedalaman Minangkabau

*Foto diatas: Saya, ketika dihadiah kitab Ithaf Saadatil Muttaqin Syarah Ihya’ Ulumiddin (jilid I), peninggalan baliau-baliau Tobiang Pulai, oleh alm. Abuya Syekh Imam Amiruddin Datuak Gabiak (w. 2013) pada 3 Desember 2009.

Rahimahullah…

Apria Putra
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota