Balimau dan Kasai

Baliamu dan bakasai
Ilustrasi/Dok. Penulis

Pagi tadi sempatlah saya membeli kasai, racikan bunga aneka ragam dilengkapi dengan jeruk nipis yang menghasilkan bau harum yang khas. Kasai, di kampung saya, sangat identik dengan Balimau, tradisi dalam rangka menyambut Ramadhan. Perlu kita perjelas dulu, istilah Balimau yang kita sebut ini bukan acara jalan-jalan/ mandi-mandi dalam definisi sekarang, yang bisa saja menjatuhkan diri ke arah sia-sia bahkan rupa maksiat, tapi Balimau dalam konteks sebenarnya, dipahami sebagai tradisi keislaman yang melekat pada masyarakat kampung saya. Ya, Balimau, upaya membersihkan diri zahir dan berharum-haruman sebelum malam Ramadhan yang penuh kebahagiaan dan keceriaan itu datang.

Balimau, memakai limau. Mengapa limau? Karena limau, dalam artian jeruk nipis, mempunyai beberapa makna kalau kita tarik dari segi filosofinya. Pertama, Limau dalam arti kebersihan. Kita kenal dewasa ini beberapa produk pembersih memang memanfaatkan perasan limau (jeruk nipis) sebagai bahan dasarnya. Air limau mempunyai daya bersih yang diakui, sejak dulu sampai sekarang.

Di Minang, limau juga menjadi salah satu pembersih yang alami, mulai dari mencuci tangan, hingga membersihkan piring yang berminyak.

Kedua, limau juga merupakan ramuan obat. Berbagai macam penyakit, mulai dari batuk hingga mengobati kesurupan, menggunakan limau sebagai bahannya. Saya juga pernah menerima beberapa tonggak do’a berbahasa Minang dari ayah saya, do’a itu disebut sebagai Kaji Limau Kapeh, sebagai ruqyah berbagai penyakit, juga menggunakan nama limau dan menggunakan limau sebagai syarat penting pengobatan tersebut.

Dua filosofi ini setidaknya sudah menggambarkan betapa limau punya makna penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Oleh sebab itu, istilah Balimau yang dijadikan momentum membersihkan diri, bisa juga mengobat jiwa, terasa tepat ketika Ramadhan menghampiri. Bukankah syarak menuntun kita untuk bergembira menyambut Bulan Mulia, serta selaku dalam keadaan bersih dan menjaga kesehatan badan?

Baca Juga: Hhukum Mengucapkan Selamat (Tahniah) atas Datangnya Bulan Ramadhan

Kembali cerita kita ke Kasai tadi. Dalam tradisi Balimau, Kasai merupakan ramuan penting. Di situ nampak betul bagaimana rupa limau itu. Limau yang akan digunakan membersihkan bagian badan, pun secara abstrak citra dari membersihkan tubuh batin. Racikan beberapa bunga dan dedaunan, menyatu memberikan aroma khas. Tradisi ini membuat orang berusaha betul-betul menyambut Ramadhan bukan sebagai tamu biasa, namun pengunjung istimewa.

Lihatlah, betapa orang-orang dulu, yang tentu tidak semodern sekarang dalam berfikir dan bertindak, telah mengejawantahkan petuah-petuah agama dalam kebiasaan dan tradisi mereka. Mereka telah berusaha mengefektifkan anjuran agama dalam lingkungan mereka, sehingga agama itu betul-betul meresap dalam kebiasaan sehari-hari. Alangkah indah, dan luar biasanya.

*******

Meskipun tradisi Balimau dengan Bakasai tidak begitu populer lagi, dihimpit oleh kegiatan jalan-jalan/ mandi-mandi laki-perempuan itu, namun di sudut-sudut kampung, di beberapa daerah, kebiasaan ini masih hidup. Amakamak yang hidup berjualan dan bertani, ketika Ramadhan akan datang, sibuk mencari bunga dan rempah, sebagai penyambut Ramadhan. Bagi mereka tradisi yang baik, yaitu bergembira dengan isyarat kasai dan berharum-haruman, tetap mesti tegak, dari pada menggantinya dengan hal-hal yang mungkin sia-sia atau menjurus pada maksiat.

Pagi ini saya beli kasai itu, dan saya letakkan dalam mangkok, untuk dipakai besok hari, sebab besok Balimau. Saya coba maknai setiap irisan daun dan bunga, limau, berpadu harmonis menghasilkan aroma yang membawa ingatan pada orang-orang dulu, di masa kearifan surau masih tegak dengan kokohnya.

******

Kasai-pun mengingatkan saya pada nenek saya, ibu dari ayah. Sampai usia tuanya, hampir seabad umurnya, bila memasuki Ramadhan beliau berulang-ulang menyapu rambut beliau dengan air kasai untuk kemudian ditutup kerudung. Saya ingat, beberapa kali dalam hari balimau itu beliau melakukan hal yang sama, sambil duduk di tangga rumah panggung yang terbuat dari kayu. Mesti mata sudah rabun akibat usia. Menyongsong Ramadhan dengan bersih badan dan harum diri, dalam keadaan apapun, harus juga dilaksanakan.[]

Padang Mangateh, 22 April 2020


Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima sumbangan tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com


Apria Putra
Apria Putra 85 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*