Beberapa Amalan dan Etika Harian Kalangan Ahlussunnah wal Jamaah ala Nusantara yang diamalkan Ratusan Tahun

Beberapa Amalan dan Etika Harian Kalangan Ahlussunnah wal Jamaah ala Nusantara yang diamalkan Ratusan Tahun
Ilustrasi Dok. https://www.britannica.com/

Amalan Ahlussunnah wal Jamaah Amalan Ahlussunnah wal Jamaah Amalan Ahlussunnah wal Jamaah

Inilah beberapa saduran tentang amalan dan etika harian kalangan ASWAJA (Ahlussunnah wal Jamaah) ala Indonesia yang sudah diamalkan ratusan tahun  di bumi Nusantara:

Pertama, minimal salat sunnah 13 rakaat  selain salat fardhu. Misal salat rawatib qabliyah subuh dua rakaat; empat rakaat qabliyah zuhur dan empat rakaat bakdiyah zuhur (salam setiap dua rakaat); empat atau dua rakaat qabliyah ashar (yang ditekankan para ulama adalah empat rakaat sebelum salat ashar); dua rakaat bakdiyah magrib (qabliyah magrib dikatakan tidak ada karena riwayat hadisnya dhaif oleh sebagian ulama); qabliyah dan bakdiyah isya. Bisa juga digabungkan dengan empat rakaat dhuha, dua rakaat istikharah (sebagian ulama mengerjakan salat istikharah setiap hari); atau bisa salat awwabin (enam rakaat setelah salat magrib).

Poinnya mengerjakan salat nawafil (salat tambahan) minimal 13 rakaat di luar solat fardhu. Mampu mengerjakan salat nawafil adalam alamat (tanda) dari meningkatnya perhatian Allah SWT kepada seorang hamba. Dari sudut pandang sang hamba, potensi ruhaninya (isti’dadnya) semakin melebar sehingga lebih peka menangkap kedekatan (qurbah) Allah SWT dengannya.

Kedua, sekurang-kurangnya membaca 200 ayat dari al-Qur’an dalam sehari-semalam. Jika tidak biasa melakukan khataman al-Qur’an mingguan atau bulanan, bisa membaca surat Ar-Rahman, Surat al-Waqiah, dan al Mulk (sudah terpenuhi 200 ayat). Jika hanya hafal al-Fatihah dan al-Ikhlash saja,maka cukup membaca al-Fatihah 30 Kali. Ambilah hal yang mudah dalam urusan atau perkara ini. Karena yang terpenting dalam perkara ini adalah bagaimana ayat-ayat al-Qur’an itu menubuh dalam diri orang yang membacanya karena seringnya ia membacanya secara berulang-ulang. Bagi yang sudah menikah dianjurkan membaca al-Baqarah, al-Kahfi dan Surat Ibrahim karena membantu pertumbuhan ruhani putra dan putri mereka.

Ketiga, jika dianugerahi bisa/mampu bangun malam salat tahajjud, maka salat tahajjud lah 10 rakaat dengan cara setiap dua rakaat salam. Ditambah tiga rakaat witir. Genap semuanya menjadi 13 rakaat. Tahajjud adalah salah satu maqam (maqam adalah posisi/jabatan ruhani yang diberikan langsung Allah SWT kepada seorang hamba yang dikehendakiNya) kewalian, bukan sekadar soal soal nafilah (salat tambahan). Hanya mereka yang diberikan anugerah maqam tahajjud yang kuat menjalankannya secara dawam (terus menerus setiap malam). Tahajjud adalah salah satu anugerah kewalian. Bagi yang belum mendapatkan derajat kewalian harus menjalankan tahajjud dengan perjuangan.

Keempat, biasakan puasa sunnah secara rutin. Boleh memilih puasa sunnah tertentu, misal Senin dan Kamis, puasa Daud atau puasa Bidh (puasa pada tanggal 13-14-15 dari bulan kalender Hijriyah) atau puasa Dawam (puasa sepanjang tahun selain pada jatuhnya dua hari raya). Pilihlah yang paling mudah diistikomahi.

Kelima, usahakan sedekah walau sedikit secara rutin yang diberikan kepada orang sekitar yang tidak mampu. Karena sedekah, maka sebaiknya sembunyi sembunyi (alaniyatan), tidak diketahui orang lain.

Baca Juga: Amalan yang Pahalanya Setara Salat Malam

Dalam rumusan agama: ibadah fardhu seperti zakat maka dianjurkan untuk dilaksanakan secara terang-terangan agar memberi pelajaran kepada diri dan orang lain. Tapi sedekah sebaiknya sembunyi-sembunyi (dan tidak boleh dianggap sebagai jasa, apalagi disebut-sebut di kemudian hari). Begitupun hanya sembahyang/salat: salat fardhu lima waktu sebaiknya dilaksankan jamaah di masjid atau dimanapun, tetapi salat sunnah-nawafil sebaiknya dilaksankan di pojok tersembunyi di dalam rumah yang tidak ketahui orang lain. Maka kampanye salat tahajjud berjamaah yang dianjurk ustadz medsos melanggar kaidah ini.

Ada keedah kalangan sufi soal “suhbatul fuqara”: berteman/bersahabat/bergaul dengan orang fakir, baik dalam artian majazi (metaforik) maupuh zahir. Faqir majazi adalah para Wali (kekasih Allah), para ulama. Faqir zahir adalah orang yang miskin secara ekonomi. Kita dianjurkan untuk bersabar dengan tindak-tanduk orang miskin secara ekonomi. Menyayangi mereka dan memberikan perhatian maksimal.

Sikap baik dan lembut kepada orang miskin majazi dan zahir adalah perintah utama agama. Kanjeng Nabi SAW adalah teladan dalam hal ini. Kemiskinan atau miskin secara majazi dan zahir adalah pilihan hidup beliau. Hanya mereka yang kuat/sabar miskin yang paling dekat secara ruhani dengan Rasulullah SAW. Intinya, jangan macam-macam dan berlebihan dengan kalangan miskin di antara umat Islam.

Keenam, bacalah selawat kepada Kanjeng Nabi SAW. Usahakan berbagai macam redaksi (syigah) salawat dan lebih afdhal menghafalnya. Seperti selawat-selawat yang tenar di tengah masyarakat Muslim di kampung kampung, antara lain: selawat munjiyat, selawat nariyah (tafrijiyah), selawat fatih, selawat tibbil qulub, dan lainnya. Jika berat, amalkanlah selawat Nabi Khidir berikut: ShallAllahu ‘ala Sayyidinaa Muhammadin.

Tidak akan ada tambahan iman dan terutama taufiq dari Allah SWT selain melalui perantara Kanjeng Nabi SAW. Seperti diwejangkan Sayyidina Uwais al-Qarni, hanya sedikit dari para sahabat Kanjeng Nabi SAW yang memahami aspek batin Kanjeng Nabi SAW. Sebagian ulama melarang umat Islam terlalu menekankan aspek basyariah (mengganggap Rasulullah SAW sama dengan manusia biasa) seperti yang dikampanyekan kalangan muslim modernis dan kelompok Wahabi dll. Hindarilah orang atau kelompok yang merendahkan pribadi Kanjeng Nabi SAW secara terang-terangan maupun samar.

Ketujuh, hafalkan rangkain zikir bakda salat fardhu. Jangan sampai tidak zikir setelah salat fardhu. Jika terlalu sulit, bacalah al-Fatehah sebanyak mungkin disambung al-Ikhlash beberapa kali. Kemudian lanjutkan dengan berdoa kepada Allah dengan bahasa sendiri. Usahakanlah mendoakan umat Islam seluruhnya. Doa adalah salah satu puncak ibadah, jangan fokus pada “isi dan jawaban atas doa yang dipanjatkan” tapi perlu diketahui bahwa inti do’a adalah “rasa butuh” kepada Allah SWT, ketergantungan kepada Allah SWT, rintihan kepada Allah SWT, mengiba-iba bantuan dalam mengatasi niscaya kelemahan manusia tanpa Allah SWT.

Bisa juga dengan langsung membaca “SubhanAllah” 33 x, “Alhmadulillah 33 X” , “Allahu Akbar 33x” dan diakhiri dengan “Laa ilaha illallah “ 33 X.

Kedelapan, jagalah husnud zhan kepada Allah dalam segala situasi. Kesempurnaan adab seorang beriman adalah menerima ketentuan Allah, baik dan buruknya. Menjalankan ketaatan dengan perasaan bahwa semua ketaatan akan membebaskannya dari cobaan hidup (kekurangan ekonomi, sakit, dll) adalah bentuk syirik, hal ini sama dengan orang yang membayangkan atau mengkhayalkan bahwa dalam kehidupannya akan selalu enak dan bebas dari cobaan.

Pengertian cobaan/balak (kurang ekonomi,sakit,bencana dll) yang hakiki bahwa Allah SWT sangat perhatian kepada hambanya itu sepanjang sang hamba menerimanya dengan sabar dan lapang dada. Ketika sang hamba mampu sabar atas semua cobaan maka alamat sang hamba telah mampu menyadari perhatian Allah SWT kepadanya. Soal apakah sebagian bala/cobaan disebabkan oleh murka Allah SWT ada pembahasan tersendiri.

Termasuk juga menjaga husnud dzhan kepada semua manusia (bukan hanya orang Islam dan beriman) dengan cara jangan mencari kesempurnaan dalam hubungan dengan sesama manusia. Hubungan/relasi apapun dalam dunia penuh dengan kekurangan dan mengandung kekecewaan.

Hubungan sosial yang termasuk utama dalam agama adalah hubungan seorang murid dengan guru ruhaninya (harus diingat salah satu kewajiban agama adalah memiliki guru ruhani dan ini harus dicari). Bakti seorang murid dengan guru ruhaninya lebih penting atau di atas baktinya kepada orang tua sekalipun. Usahakan mendapatkan guru yang telah mendapatkan kewalian berdasarkan riwayat ulama lainnya.

Hanya mereka yang telah mahfudz (dijaga/dipelihara) dalam tindakan dan etika yang memancarkan kemulian manusia, tapi kelompok ini sangatlah sedikit di antara umat manusia.

Kesembilan: Usahakan memperhatikan kehalalan makanan dan minuman. Kehalalan makanan dan minuman adalah persoalan yang tidak mudah karena hampir sama dengan mencapai kesempurnaan dari keikhlasan dalam beramal. Menurut Syaikhul Akbar Ibn Arabi, kriteria kehalalan rizki: kita tidak boros dan berlebihan membelanjakan/memanfaatkannya karena rizki yang halal pasti tidak mengandung keborosan dan kemubaziran.

Kesepuluh, usahakan melaksanakan salat dengan berjamaah. Minimal pernah mengalami shalat jamaah lima waktu tanpa jeda selama  40 hari.

Kesebalas, “Dawamul wudhu”, menjaga wudhu terus menerus. Jika batal wudhu, berwudhu kembali. Lebih utama setelah wudhu salat sunnah-wudhu dua rakaat.

 Syaikh Abdul Qodir Jaelani RA pernah dicoba oleh Allah SWT dengan bermimpi basah 40 kali dalam semalam. Beliau mandi besar (termasuk wudhu di dalamnya) sebanyak 40 Kali. Amalan menjaga wudhu sangat umum diamalkan kiai-kiai pesantren. Ini amalan sepintas sangat enteng tapi sangat tidak mudah.

Syekh Mansur al-Hallaj yang dipancung/disalib penguasa dinasti Abbasiyah karena dianggap sesat dan membahayakan umat, seorang sufi mulia yang memiliki tingkat ruhani (yang menurut Syekhul Akbar Ibn Arabi) lebih tinggi dengan Sayyidina Uwais al-Qarni sekalipun (dalam urusan sedekah), melakukan mandi sunnah (mandi besar bukan lantaran/disebabkan mimpi basah dan hubungan badan ataupun mabuk alkohol) setiap hendak melaksankan salat fardhu.

Kedua belas, “katmul Mashooib”, berusaha menyembunyikan kesusahan hidup, terutama masalah ekonomi kepada orang lain. Atau kesulitan dalam bentuk lainnya. Lebih banyak mengadu kepada Allah SWT.

Ketiga belas, tidak merepotkan orang lain, tidak main suruh, tidak mau dilayani orang lain. Misalnya, mau ambil gelas untuk minum air putih, menyuruh anak (kecuali niat mendidik) padahal masih mampu mengambil sendiri. Rasulullah SAW memiliki seorang sahabat bernama Usman bin Mazghun yang sangat beliau cintai karena Ibn Mazghun tidak pernah merepotkan orang sekitar. Ketika cemeti kudanya jatuh, ada orang mau memungutkannya, ia menolak bantuannya dengan memungutnya sendiri.

Keempat belas, tidak merasa lebih baik dengan orang lain, baik Muslim dan non-Muslim. Tidak merasa lebih suci dengan orang lain sekalipun orang lain terlihat bergelimang dosa. Ketidakbolehan merasa lebih suci/lebih baik dengan orang lain intinya agar lebih fokus pada diri sendiri. Hanya perlu menjauhi kalangan “mutajahir bil istmi wal maksiati”: golongan yang membanggakan maskiat,apalagi melakukannya dengan terang-terangan.

Baca Juga: Negeri Seribu Selawat dan Dala’il Khairat di Minangkabau

Kelima belas, jangan sampai melakukan kezaliman: merendahkan orang lain karena masalah lemah ekonomi, cacat fisiknya, status sosial dan kekurangan lainnya. Jangan sampai lupa setiap orang adalah manusia yang sederajat dengan dirinya, hanya dibedakan oleh anugrah taqwa dari Allah SWT.

Pengertian kezaliman (zdulm) adalah kegelapan: lupa akan kebesaran Allah dan lupa akan kemulian sesama manusia. Dalam hubungan dengan sesama adalah menyakiti hati dan fisik sesama manusia dengan sengaja. Bisa juga kezaliman adalah gagal “menganggap orang lain sebagai manusia seperti dirinya” (nge-wong ke, kata orang Jawa). Kezaliman adalah dosa besar yang mendatangkan azab di dunia dan di akhirat. Zalim bisa dipahami sebagai menindas sesama dengan memakai alat kekerasan, memperbudaknya dan sebagianya.

Keenam belas, hindarilah perdebatan dan gosip. Kalau tidak salah ini disebut dengan “Tarkul isgho’”.

…….(masih banyak amalan lainnya. diamalkan semampunya, tidak harus semua)…….

About Hasan Basri 4 Articles
Lurah Pesantren Kaliopak, Yogyakarta dan Pengurus LESBUMI PBNU, Jakarta

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*