Benarkah Islam Muncul dalam Keadaan Asing dan Kembali dalam Keadaan Asing?

Benarkah Islam Muncul dalam Keadaan Asing dan Kembali dalam Keadaan Asing
ILustrasi Dok. Kishan Upadhyay https://unsplash.com/@kishan__upadhyay

Islam Muncul Keadaan Asing

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Apa yang dimaksud dengan Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaaan asing? Hadis keterasingan Islam tertuang dalam Shahih Muslim dari Abi Hurairah yang berbunyi:

الإسلام بدأ غريبا وسيعود غريبا كما بدأ، فطوبى للغرباء

“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing”.

Merujuk pada sejarah Islam awal, keadaan asing yang dimaksud cukup beralasan. Nabi diutus dengan ajaran tauhid di tengah masyarakat yang mayoritas menyembah banyak berhala. Islam datang dengan ajaran yang sebagian besarnya asing di telinga masyarakat. Keadaan asing yang dimiliki oleh Islam awal ini cocok digambarkan dengan hadis di atas.

Baca Juga: Apakah Islam Mengajarkan Kepatuhan Secara Mutlak?

Lantas bagaimana dengan keadaan Islam di masa depan? Apakah akan betul-betul asing seperti awal kehadirannya? Pertama, perlu kita kompromikan hadis tersebut dengan ayat 33 dari at-Taubah:

هو الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai”.

Ayat di atas berbicara mengenai janji Allah yang akan memenangkan Islam atas kelompok lain. “Menang” di sini tentu masih butuh banyak penafsiran. Namun tetap saja, menang dan asing adalah dua hal yang bertolak belakang.

Pemenang biasanya akan dikenal, atau yang dikenal biasanya adalah yang menang. Bagaimana mungkin Islam dalam keadaan asing, tapi menjadi pemenang? Atau bagaimana mungkin Islam menang tapi tetap terasing?

Ada banyak tawaran untuk memaknai arti “asing” pada hadis tersebut. Salah satunya dengan mencerna riwayat Sahl bin Sa’d al Sa’idi. Berdasar riwayat tersebut, ada penambahan kalimat tanya yang berbunyi, “siapakah mereka yang asing itu?” Rasul menjawab: “orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.

Dengan mengambil tawaran makna ini, bisa kita ajukan pertanyaan. Apakah sekian banyak manusia di Indonesia, misalnya, sedang berbuat kerusakan, sehingga perlu “diperbaiki” dengan ajakan hijrah? Atau bukankah justru pelaku tabdi (membid’ahkan amaliah bukan golonganya) itu sedang melakukan kerusakan? Pertanyaan yang mestinya tidak terlalu sulit dijawab.

Alternatif pemaknaan yang kedua adalah dari riwayat Amr bin ‘Ash: “Ketika Rasulullah ditanya perihal orang asing yang beruntung tersebut, Rasulullah menjawab: “Mereka (orang asing) adalah orang-orang salih di tengah-tengah mayoritas masyarakat yang buruk. Yang membangkang orang-orang shalih, lebih banyak dari yang menaatinya”.

Dalam kerangka ini, maka perlu dibuat kategori asing:

  1. Asing dalam kebenaran di tengah masyarakat yang batil.
  2. Asing dalam kebatilan di tengah masyarakat yang benar.

Jadi, tidak serta merta keterasingan dimaknai sebagai sesuatu yang islami. Salah besar jika ada anggapan “semakin asing seseorang, semakin ia dekat dengan Islam”. Bukan begitu!

Yang juga menarik adalah jika memaknai “orang asing” sebagaimana riwayat Imam Baihaqi yang mengisahkan dialog antara Umar bin Khattab dan Mu’adz bin Jabal:

Mu’adz menceritakan pada Umar satu hadis dari Rasulullah yang berbunyi:

“Allah mencintai orang-orang yang tersembunyi, takwa, dan suci. Ketika mereka tidak ada, masyarakat tidak merasa kehilangan ketika mereka ada, masyarakat tidak menyadari. (Namun demikian) hati mereka (seperti) lampu-lampu hidayah, mereka keluar (menjauh) dari fitnah”.

Gambaran di atas sangat identik dengan laku para sufi. Low profile, tidak menonjolkan diri, hidup damai, dan tentram. Jauh dari hingar-bingar kehidupan duniawi.

Apa pun yang digunakan untuk memaknai “orang asing”, tidak ada satupun yang bisa menjadi pembenar untuk pelaku tabdi dan takfir apalagi aksi terorisme. Hadis tersebut juga sama sekali tidak berisi perintah untuk mengasingkan diri. Untuk jauh dari kerumunan.

Di banyak kesempatan justru sebaliknya, kita diminta untuk ambil peran dalam kehidupan masyarakat. Umat Islam diminta menjadi ummatan-wasathan.  Secara literal berarti umat yang berada di tengah. Namun, secara kontekstual adalah umat yang senantiasa mengambil peran.

Dalam sebuah hadis dari sahabat Anas bin Malik ra , Rasulullah bersabda:

“إِن أمتي لن تجتمع على ضلالة، فإذا رأيتم الاختِلاف فعليكم بالسواد الأعظم”

“Sesungguhnya umatku tidak akan berkumpul pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kamu melihat terjadinya perselisihan, maka ikutilah golongan mayoritas.” (Hr Ibnu Majah)

Berdasarkan pesan hadis, bahwa apabila umat Islam melakukan kesepakatan, maka kesepakatan tersebut dijamin dan dipastikan benar. Sehingga kesepakatan tersebut sifatnya mengikat dan wajib diikuti oleh seluruh umat Islam.

Akan tetapi, apabila banyak terjadi perbedaan pendapat, maka umat Islam wajib mengikuti golongan mayoritas. Ketika para ulama berbeda pendapat, maka mengikuti mayoritas ulama. Dan ketika umat Islam berbeda pendapat, maka mengikuti mayoritas umat Islam.

Hadis tersebut juga mengisyaratkan, bahwa ketika terjadi perbedaan pendapat dalam masalah fiqhiyah atau furu’iyah, maka dianjurkan mengikuti mazhab jumhur atau mayoritas ulama. Tetapi ketika terjadi perbedaan dalam persoalan akidah atau ushuliyah, seperti perbedaan antara Ahlussunnah wal-Jamaah, Khawarij, Wahbiyah (Rustumiyah), Mu’tazilah, Bahaiyah, Syiah, Qadariyah, Ahmadiyah, Jabarriyah, Wahabiyah maka umat Islam wajib mengikuti golongan mayoritas, yaitu Ahlussunnah wal Jamaah.

إن أهل الكتابين افترقوا فى دينهم على ثنتين وسبعين ملة وإن هذه الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين ملة وكلها فى النار إلا واحدة وهى الجماعة

“Dua golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) telah terpecah dalam agama mereka menjadi 72 (aliran), dan sungguh umat ini akan terpecah menjadi 73 aliran, semuanya masuk neraka kecuali satu, yaitu (yang berpegangteguh pada) jama’ah.” (Hr Ahmad, Thobroni, al-Hakim).

Baca Juga: Ingin Mengamalkan Semua Hadis?

Maksud dari 72 golongan atau sekte yang disebutkan dalam hadis ini adalah sekte atau aliran yang muncul karena faktor perbedaan pokok-pokok aqidah dan keimanan yang menyelisihi Ahli Sunnah wal Jama’ah, seperti yang disebutkan diatas.

*Bahan Bacaan: (Fathul Bari)

والله اعلم
Semoga bermanfaat.[]

Sayid Machmoed BSA
Tinggal di Jakarta Selatan, DKI Jakarta