Berdamai dengan Sejarah: Sumbang Catatan Menjelang Diskusi

Berdamai dengan Sejarah Sumbang Catatan menjelang Diskusi
Ilustrasi/Dok. Dhody S

Berdamai dengan Sejarah: Sumbang Catatan menjelang Diskusi

Dua hari lalu saya dihubungi oleh salah seorang anak muda Persatuan Tarbiyah Islamiyah via WA dan diminta sebagai pembicara dalam sebuah diskusi Kaji Surau. Karena keadaan saya yang tidak memungkinkan saya nyatakan bahwa saya senang ada diskusi tentang sejarah Persatuan Tarbiyah Islam, hanya saja saya belum bisa menemani kawan-kawan dalam diskusi. Setelah itu tak dapat kabar lagi.

Pagi ini (9/5) saya dikabari oleh Angku Mudo Apria Putra bahwa nanti malam ada diskusi dengan tema Mendaras Sejarah Persatuan Tarbiyah Islamiyah, pukul 21.00. Beliau Angku Muda Apria adalah pensyarah utama. Hati saya semakin senang ketika dalam status WA beberapa orang teman saya temukan juga latar belakang dan rumusan masalah yang akan dibincang dalam diskusi.

Sebelumnya saya tidak tahu latar belakang masalah diskusi ini dan apa yang akan dikaji. Bukan ini yang membuat saya tidak bersedia sebagai pembicara. Semata-mata keadaan yang tidak memungkin. Tetapi saya kira pilihan Angku Mudo Apria Putra sebagai pembicara ada pilihan tepat. Beliau ada orang yang telah lama berkecimpung dalam sejarah ini, bahkan sejak saya mengenal beliau 12 tahun lalu. Beliau juga orang yang punya kompetensi dan otoritas bicara sejarah Persatuan Tarbiyah ini baik secara ideologis, kultural maupun intelektual.

Ada beberapa faktor yang membuat saya senang ada diskusi ini, pertama, sejak dua kelompok dalam tubuh Persatuan Tarbiyah Islamiyah dinyatakan Islah atau berdamai, saya gencar menyuarakan agar generasi muda Persatuan Tarbiyah membangun basis cara berpikir baru tentang organisasi ini, bukan mewarisi cara berpikir lama dari orang-orang tertentu.

Cara berpikir baru yang saya maksud adalah berpikir yang terbuka terhadap sejarah Persatuan Tarbiyah Islamiyah dan menerima fakta sejarah itu tanpa beban sejarah, dan menghindari sejarah warisan serta membuka diri untuk mengoreksi kepercayaan terhadap sejarah masing-masing.

Mendaras Ulang Sejarah Kelahiran Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Tujuannya adalah supaya generasi baru Persatuan Tarbiyah Islamiyah mampu menerima kenyataan pahit sejarah itu dan menelannya, lalu bangun dan bersiap menghadapi masa yang akan datang secara bersama dengan penuh percaya diri. Dalam rangka menjalankan upaya ini, maka pada tahun 2017 akhir, saya buka diskusi sejarah Persatuan Tarbiyah di Ciputat dengan membanding beberapa sumber yang saya miliki dan diikuti oleh beberapa orang.

Meski kemudian peserta diskusi hilang dan diskusi berhenti, tapi saya sendiri tidak berhenti menyuarakan ini. Dan terus melakukan kajian sejarah hingga hari ini tanpa pernah lelah dan terpikir untuk berhenti. Saya membuka membuka kelas baru.

Menurut saya, membangun cara berpikir baru ini adalah kerja mendesak, penting dan utama yang semestinya dilakukan oleh insan Persatuan untuk menghindari munculnya kembali konflik dalam tubuh organisasi Persatuan Tarbiyah sendiri. Sebagaimana kita tahu, konflik dalam tubuh Persatuan Tarbiyah Islamiyah itu sangat rumit dan kusut masai. Di sini saya berbeda pendapat dengan Profesor Duski Samad, yang dalam medium.com pernah mengatakan bahwa masa lalu tak perlu lagi diungkit-ungkit.

Sebagaimana kita tahu, konflik itu bermula dari kepentingan politik dan berujung pada klaim paling absah dan murni antara Tarbiyah atau PERTI, lalu berkembang menjadi saling klaim yang paling murni dan asli, terus berlanjut pada penulisan sejarah yang timpang sebelah. Lalu berlanjut menjadi perang dingin antara alumni MTI dan non MTI sehingga orang yang non MTI dipertanyakan ke-persatuantarbiyahannya. Belum lagi renggangnya hubungan antar Madrasah Tarbiyah karena dibangun berdasar kelas sehingga ada madrasah kelas utama dan kelas ekonomi, ada kelompok alumni yang merasa superior atas alumni dan atau madrasah lain dan seterusnya.

Tanpa menyelesaikan masalah ini, betapapun Islah dilakukan dan organisasi dijalan dengan kecanggihan strategi politik dan kucing-kucingan, Persatuan Tarbiyah Islamiyah ini tidak akan tumbuh dan berkembang. Alih-alih maju, organisasi ini justru berjalan stagnan, dan bahkan mundur. Sebab setiap kelompok yang ada dalam tubuh organisasi Persatuan ini akan terus bergerak dan berjalan berlandaskan cara berpikir, keyakinan dan warisannya sejarahnya masing-masing.

Malah nantinya bisa muncul kembali perpecahan ketika ada momentum berebut pengaruh dan kekuasaan. Masing-masing kelompok akan merapatkan barisan kembali dan pecah lagi, minimal menjadi dua kubu. Begitu terus yang bakal terjadi hingga sehari menjelang kiamat tiba.    

Atas dasar ini pula saya mengkritik adanya kata Tarbiyah dan Perti dalam logo Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang baru. Sebab dua kata itu menurut saya adalah upaya pemuka organisasi mewarisi sejarah dan dendam politik pada generasi muda Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Secara tidak langsung dua kata itu berkata, bahwa dalam satu tubuh organisasi ini ada kalangan Tarbiyah dan PERTI.

Demikian pula dengan kritik dan penolakan saya untuk terlibat dalam gerakan yang berbasis pada cara berpikir politik atau kelompok. Menurut saya basis berpikir politik atau kelompok ini akan berdampak pada perpecahan kembali dalam tubuh organisasi.

Pilihan saya untuk menjalankan gerakan kultural ini pernah dilecehkan, bahwa keharusan gerakan kultural yang saya suarakan semata-mata hanya karena saya berlatar belakang pendidikan Ilmu Budaya dan Adab. Padahal yang menginginkan dibentuknya organisasi-organisasi ini bukanlah berlatar belakang politik dan ilmu sosial, tetapi peminat kuasa dalam tubuh organisasi.

Faktor kedua yang membuat saya senang dengan adanya diskusi ini adalah adanya pengakuan akan otoritas satu sama lain dalam generasi muda Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Sejak saya mengenal organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah secara sadar belasan tahun lalu, pengakuan warga Persatuan cenderung dibentuk berdasarkan anggapan keaslian, kelas utama dan senioritas. Bukan kapasitas.

Dalam perjalanannya dapat dilihat, bahwa orang-orang yang punya kapasitas tetapi dianggap tidak asli atau tidak berasal dari madrasah kelas utama atau kepersatuantarbiyahannya diragukan, mereka tidak pernah dianggap dan diberdayakan. Terkadang karena dianggap berasal dari warga Persatuan kelas dua, langkahnya dalam berkarier dihambat dan lebih esktrem lagi, ada pula yang disingkirkan. Betapa sadisnya.

Baca Juga: Tarbiyah Perti on the Track Refleksi Musda Persatuan Tarbiyah Islamiyah Tarbiyah Perti Sumatera Bara 2019

Sebaliknya bila seseorang berasal dari kelas utama atau dari mereka yang merasa asli, meski tak punya kapasitas dan kemampuan memadai, ia akan dianggap, diberdayakan, dibawaserta, dan kalau perlu dipuji-puji setinggi langit tanpa boleh dibantah dan dikritik.

Tetapi dunia berubah dalam riak-riak media sosial dan informasi yang melimpah ruah. Maka kita sedang disuguhkan oleh sebuah fakta, bahwa yang batu pelan-pelan telah karam ke dasar laut dan sabut terapung-apung  tak tentu arah.

Terakhir, sebagai penutup catatan ini, diskusi ini mungkin saja menimbulkan kekagetan dan riak kecil diantara warga Persatuan. Diskusi ini harus diikuti dengan pikiran terbuka, semangat mencari kebenaran dan keinginan berdamai dengan sejarah. Kajian-kajian seperti ini mestilah dipertahankan dan harus terus dilakukan agar generasi baru Persatuan Tarbiyah Islam hidup dengan kesadaran sejarah bukan doktrin.

Bahkan bila perlu di masa yang akan datang diadakan Simposium Sejarah Persatuan Tarbiyah Islamiyah dengan menghadirkan para penulis dan peneliti sejarah baik dari kalangan warga Persatuan Tarbiyah maupun ahli sejarah lain. Simposium ini dilakukan untuk menguji validitas sejarah yang bersumber pada dokumen dan fakta sejarah. Untuk selanjutnya dapat dijadikan pegangan oleh generasi baru, apa organisasi ini akan disebut apakah PERTI atau Tarbiyah.

Saya sendiri setelah membaca dan melakukan kajian sejarah Persatuan Tarbiyah, enam tahun lalu, menghindari penggunaan kedua istilah itu dalam setiap kesempatan. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada ulama dan tokoh masa lalu dan kini yang membesarkan organisasi ini, saya tidak ingin mewarisi Persatuan Tarbiyah Islamiyah berdasar doktrin, sengketa dan sejarah warisan dari salah satu dari keduanya.

Saya ingin mencintai keduanya. Sebagai bentuk pengorbanan cinta itu, saya menjaga jarak dari kepentingan politik kedua kelompok itu tanpa memutus silaturahmi dan pergaulan. Organisasi adalah satu hal, dan silaturrahmi adalah hal lain. Komitmen itu dapat dilihat dalam sebutan yang saya gunakan dalam banyak tulisan di media sosial sejak 2016.  Kadang saya menyebut dengan embel-embel “Persatuan” saja, kadang saya tulis agak panjang, Persatuan Tarbiyah, kadang lebih lengkap, Persatuan Tarbiyah Islamiyah.

Saya telah berdamai dengan sejarah dan mengakui setiap orang yang terlibat mendirikan organisasi ini. Tanpa membesarkan dan mengecilkan, tanpa melebih-lebihkan atau mengesampingkan peran mereka.[]

*Penulis adalah Anak Muda Persatuan Tarbiyah Islamiyah


Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima sumbangan tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Berdamai dengan Sejarah: Sumbang Catatan menjelang Diskusi

Share :
Muhammad Yusuf el-Badri
Muhammad Yusuf el-Badri 3 Articles
Alumni MTI Pasia, IV Angkek, Kab Agam dan Alumni Bahasa dan Sastra Arab IAIN Imam Bonjol Padang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*