Berhari Raya Sebelum Ramadan

berhari raya sebelum ramadan
Ilustrasi/Dok. Nuzul Iskandar

Idul Fitri baru lewat sehari, tapi hari raya, bagi masyarakat muslim di sejumlah daerah, sudah dilalui sebulan yang lalu. Mereka telah berhari raya menjelang Ramadan datang. Sekarang, sepeninggal Ramadan, tersisa Idul Fitrinya.

Saya menemukan tradisi berhari raya jelang Ramadan di dua tempat. Pertama, di Pangkalan Koto Baru, Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Kedua, di Pangkalan Jambu, Merangin, Jambi. Kedua daerah ini sama-sama menggunakan kata “Pangkalan”, meski terpaut jarak amat jauh, hampir 500 km dan terletak di provinsi berbeda. Saya belum menemukan kaitan antar keduanya dari segi silsilah, sejarah, dan sebagainya, kecuali kemiripan dalam memaknai hari raya.

Di Nagari Pangkalan, Kec. Pangkalan Koto Baru, terdapat tradisi yang disebut “potang balimau”, yaitu kegiatan membersihkan diri, lahir dan batin, yang diekspresikan dengan mandi di sungai, lalu dilanjutkan dengan mengunjungi sanak saudara guna bermaaf-maafan. Waktunya, di hari terakhir bulan Syakban atau sehari jelang Ramadan.

Balimau dalam terminologi Minangkabau adalah kegiatan membersihkan diri, mulai dari aspek lahiriah sampai batiniah. Kata “limau” (yang berarti jeruk) digunakan dalam tradisi ini, karena ia biasa dipakai oleh orang Minang untuk kegiatan bersih-bersih, baik badan maupun perabotan dan benda-benda lain, bahkan lebih jauh untuk non-benda.

Limau sudah akrab dengan keseharian orang Minang berabad-abad lamanya, hingga kemudian sabun menjajah dan menggantikan tugas limau dalam urusan bersih-bersih. Peradaban limau lantas berganti peradaban sabun. Syukurnya, tak semua fungsi limau dapat digantikan sabun, begitupun sebaliknya. Buktinya, “balimau” jauh berbeda maknanya dengan “basabun”; dan “malimau” juga tak sama dengan “manyabun”.

Baca Juga: Kenangan Semasa Kecil Puasa dan Lebaran di Kampung

Kalau ada orang mengalami gangguan kesehatan tapi bersifat nonmedis atau nonfisik, kearifan lokal Minangkabau mengajarkan agar ia “dilimaui” terlebih dahulu. Artinya, dibersihkan dari unsur-unsur non lahiriah yang bersifat mengganggu. Tradisi “dilimaui” ini masih bertahan di banyak tempat di Minangkabau, dan syukurnya–sekali lagi–tak berganti menjadi “disabuni”.

Kembali ke tradisi “potang balimau”. Penambahan kata “potang” yang secara leksikal berarti “petang”, menunjukkan waktu pelaksanaan kegiatan. Acara potang balimau mulai digelar selepas Zuhur, lalu berakhir petang hari. Huruf “o” pada kata “potang” adalah ciri khas dialek masyarakat Pangkalan atau Payakumbuh-Limapuluh Kota pada umumnya. “Patang” dalam dialek umum Minangkabau dibaca “potang” oleh orang Payakumbuh. Contoh lain, “gadang” (besar) dalam dialek umum Minangkabau dibaca “godang” oleh orang Payakumbuh. Itulah sebabnya, tradisi ini disebut “potang balimau”.

Tradisi “potang balimau”Pangkalan, di Sungai Batang Maek /Dok. Nuzul Iskandar

Bagi orang Pangkalan, terutama yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Batang Maek (yang melewati Pangkalan), potang balimau adalah hari besar keagamaan sekaligus adat yang kudu wajib diikuti. Kalau kesempatan pulang kampung hanya sekali dalam setahun, para perantau Pangkalan lebih memilih pulang di hari potang balimau. Asalkan bisa pulang di Potang balimau, biarlah tak pulang di Idul Fitri. Begitu betul sakralnya potang balimau di hati mereka.

Agak mirip dengan masyarakat Kec. Pangkalan Jambu, Merangin, Jambi. Dua atau tiga hari jelang Ramadhan, mereka mengadakan acara “mantai” yang biasanya dipusatkan di Desa Perentak. Itulah kesempatan bagi warga berduyun-duyun ke lapangan dengan pakaian serba baru, guna menyaksikan prosesi mantai. Setelah itu, dirangkai dengan kunjungan ke rumah karib kerabat guna bermaaf-maafan.

Bagi orang Perentak dan sekitarnya, berbaju baru lebih penting di momen mantai ketimbang hari Idul Fitri. Berkunjung ke tempat sanak famili lebih afdol di momen mantai. Yang merantau, lebih banyak pulang kampung di momen mantai ketimbang di Idul Fitri.

Babantai di Muaro Panco tahun 2017/Dok. Nuzul Iskandar

Mantai adalah kegiatan penyembelihan kerbau dalam jumlah sampai puluhan, mengalahkan jumlah sapi kurban di Idul Adha, lalu dagingnya dibagi berdasarkan jumlah iuran warga. Sebagian daging lagi dilelang, hasilnya disumbangkan untuk kegiatan sosial atau pembangunan masjid. Iuran digalakkan dari jauh-jauh hari secara rutin dan berkala, secara mingguan atau bulanan. Biasnya, tak lama setelah Idul Fitri, warga Pangkalan Jambu sudah mulai menggalang iuran lagi untuk mantai jelang ramadhan tahun depan.

“Mantai” adalah dialek lokal Pangkalan Jambu untuk menyebut kata “bantai” yang berarti sembelih. Maksudnya, menyembelih kerbau. Sekitar 15 km dari Pangkalan Jambu, persisnya di Desa Muaro Panco, ada tradisi serupa, tapi masyarakatnya menyebut dengan dialek “babantai”. Selain beda dialek, merayakan babantai di Muaro Panco tidak diikuti dengan tradisi berpakaian serba baru seperti mantai di Pangkalan Jambu. Namun, muatan silaturrahmi dan bermaaf-maafan di dalamnya hampir sama.

Baca Juga: Balimau dan Kasai

Selain sebagai ritual menyambut bulan suci Ramadan, mantai adalah strategi ekonomi orang Pangkalan Jambu menghadapi lonjakan harga daging yang rutin terjadi menjelang dan sepanjang Ramadan. Dengan mantai, mereka hampir tidak merasakan kenaikan harga daging, karena di samping lebih murah, uang untuk pembeli sudah ditabung secara berangsur dari jauh-jauh hari.

Di atas itu, ada kegiatan sosial-filantropis. Setelah daging dibagi berdasarkan jumlah iuran warga, ternyata masih banyak lagi sisanya, baik daging biasa, jeroan, tulang sop, kepala, buntut, tunjang, dan sebagainya. Maka semuanya dilelang, hasilnya disumbangkan untuk keperluan sosial atau pembangunan masjid.

Kedua ritual di tempat berbeda itu, potang balimau dan mantai, memiliki pesan yang hampir seirama dalam hal menyambut Ramadan. Keduanya adalah tradisi luhur guna merawat kebiasaan silaturrahmi dan bermaaf-maafan, sehingga perjalanan ibadah Ramadan bisa mulus tanpa terganjal lagi oleh kerikil-kerikil atau bahkan batu besar kesilafan.

Kalau bermaaf-maafan baru dilakukan di Idul Fitri, artinya selama Ramadan kita masih memikul beban kesalahan, bukan? Itulah kira-kira pertanyaan tak langsung yang hendak disampaikan oleh potang balimau di Pangkalan Koto Baru dan mantai di Pangkalan Jambu. Karena itu, alangkah baiknya berhari raya sebelum Ramadan datang.

Bahwa kemudian banyak catatan koreksi atas praktik terkini dua tradisi ini, tentunya layak jadi perbincangan tersendiri. Kegiatan berkerumun antara laki-laki dan perempuan bukan mahram yang dinilai melampaui batas-batas norma agama, telah terjadi di banyak tempat dan dalam berbagai momen. Bisa di mall, di transportasi umum, dalam pembagian zakat, bahkan di rumah ibadah sendiri. Ini layak dibahas secara proporsional, tanpa menafikan nilai-nilai luhur yang dirawat dalam setiap tradisi.

Sampai pada titik ini, perlu dijelaskan bahwa istilah “hari raya” yang pakai untuk menyebut kedua tradisi tersebut hanyalah buah pikiran reflektif penulis setelah menyaksikan kedua tradisi tersebut, karena “raya” bermakna besar dan ramai; merayakan berarti memperingati dan memuliakan. Masyarakat Pangkalan Koto Baru atau Pangkalan Jambu sendiri tidak menyebut tradisi mereka dengan “hari raya”, tapi mereka memang beramai-beramai memperingati dan memuliakan kegiatan tersebut, sebagai layaknya sebuah hari raya.[]


Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima sumbangan tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Nuzul Iskandar
Nuzul Iskandar 8 Articles
Alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung. Pernah aktif sebagai peneliti di Smeru Research Institute. Sekarang Dosen Hukum Islam di IAIN Kerinci Jambi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*