Bidâyah al-Mubtadî wa ‘Umdah al-Awlâdi: Kajian Teologi-Yurisprudensi-Tasawuf Islam dalam Kitab Karangan Syekh Saleh Rawa (1254 H/ 1838 M)

Bidâyah al-Mubtadî wa ‘Umdah al-Awlâdi” Kajian Teologi-Yurisprudensi-Tasawuf Islam dalam Kitab Karangan Syekh Saleh Rawa (1254 H 1838 M)
Ilustrasi/Dok. Ahmad Imran Abdul Karim

Ini adalah halaman sampul dan halaman terakhir dari kitab “Bidâyah al-Mubtadî wa ‘Umdah al-Awlâdi” karangan seorang ulama Nusantara asal Rawa (Rao, Minangkabau) yang hidup dan berkarir di Mekah pada akhir abad ke-18 M dan awal abad ke-19 M, yaitu Syekh Muhammad Shâlih Râwah (dikenal dengan Syekh Saleh Rawa atau Syekh Saleh Rao, w. 1272 H/ 1856 M).

Dok. Penulis

Kitab “Bidâyah al-Mubtadî wa ‘Umdah al-Awlâdi” berisi ringkasan kajian akan tiga ilmu paling prinsip dan pokok dalam ajaran agama Islam, yaitu ilmu tauhid (teologi), ilmu fikih (yurisprudensi), dan ilmu tasawuf (esoterisme Islam). Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi).

Pada halaman depan kitab ini, nama pengarang tidak dicantumkan. Di sana hanya tertulis judul kitab dan sub-judulnya saja, sekaligus keterangan jika nama pengarang tidak mau disebutkan karena “tidak ingin riya dan menjaga diri”.

Keterangan jika kitab “Bidâyah al-Mubtadî wa ‘Umdah al-Awlâdi” adalah karya Syekh Saleh Rawa didapati pada halaman terakhir kitab ini, tepatnya pada kolom editor (pentashih) pada versi cetakan Maktabah Musthafâ al-Bâbî al-Halabî, Kairo, pada tahun 1374 Hijri/ 1955 Masehi (setebal 38 halaman). Tertulis di sana;

فقد تم بحمد الله تعالى طبع كتاب بداية المبتدى وعمدة الأولاد للعلامة الفاضل الشيخ صالح الجاوي في العقائد وما يلزم الإنسان من أعمال الشريعة التي تنصلح بها القلوب ويزول عنها الفساد مترجما باللغة الجاوية نشرا للشريعة الغراء في تلك الأرجاء

(Telah selesai seraya memuji Allah Ta’ala, proses pencetakan kitab “Bidâyah al-Mubtadî wa ‘Umdah al-Awlâdi” karangan al-‘Allâmah al-Fâdhil Syekh Shâlih al-Jâwî, dalam menerangkan masalah-masalah tauhid dan hal-hal yang diharuskan bagi manusia mengetahuinya daripada perkara syari’at yang dapat memperbaiki hati dan menghilangkan kerusakan. Karya ini ditulis dalam bahasa Jawi [Melayu] dalam rangka menyebarkan ajaran agama Islam di seluruh wilayah negeri Jawi itu).

Dalam kata pengantarnya, Syekh Saleh Rawa mengatakan jika kitab ini merupakan sebuah risalah kecil yang ringkas, yang menghimpun kajian atas perkara-perkara yang harus diketahui oleh setiap Muslim yang mukallaf, dari ilmu tauhid dan fikih. Beliau menulis;

أما بعد. فهذا تعليق لطيف فيما لابد للمكلف معرفته ومعرفة مثله من عقائد الإيمان وأحكام عبادة الرحمن. وسميته بداية المبتدى وعمدة الأولاد

(Ammâ ba’du. Maka ini adalah sebuah catatan yang lembut, yang menerangkan hal-hal yang harus diketahui oleh setiap Muslim yang mukallaf, daripada masalah-masalah akidah keimanan dan masalah-masalah hukum ibadah. Aku namakan karya ini dengan “Bidâyah al-Mubtadî wa ’Umdah al-Awlâdi”).

Syekh Syekh Saleh Rawa. Foto/dok. Ahmad Imran Abdul Karim


Dalam kolofon, dikatakan bahwa kitab ini diselesaikan oleh pengarangnya pada waktu pagi hari Ahmad, di awal bulan Jumadil Akhir tahun 1254 Hijriah (bersamaan dengan bulan Agustus 1938 Masehi). Tertulis di sana;

وكان الفراغ من تسويد هذا البياض يوم الأحد المبارك وقت الصبح في غرة شهر جمادى الآخرة سنة أربع وخمسين ومائتين بعد الألف من الهجرة النبوية

(Dan telah selesai penulisan karya ini pada hari Ahad yang diberkati, di waktu pagi, pada awal bulan Jumadil Akhir tahun 1254 Hijriah).

Pengarang kitab ini, yaitu Syekh Saleh Rawa, tidak banyak diketehaui oleh para pengkaji sejarah keislaman di Nusantara dan literaturnya. Padahal, beliau adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah dan jaringan intelektual ulama Nusantara—Timur Tengah di awal abad ke-19 M, meneruskan tongkat estafet generasi sebelumnya, yaitu generasi Syekh Abdul Shamad Palembang, Syekh Arsyad Banjar, Syekh Dauwd Pattani, dan Syekh Abdul Rahman Betawi.

Syekh Saleh Rawa satu generasi dengan Syekh Muhammad Azhari ibn Abdullah Palembang, Syekh Muhammad Ali ibn Abdul Rasyid Sumbawa, Syekh Isma’il al-Khalidi Minang, Syaikh Abdul Ghani Bima, Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Idris Buton, Syekh Abdul Manan Dipamanggala (Tremas), Syaekh Hasan Besari (Ponorogo), Syekh Abdul Hamid (Pangeran Diponegoro), dan lain-lain.

Biografi Syekh Saleh Rawa terlacak dalam beberapa kitab hagiograpi (“tarâjim” dan “thabaqât”) ulama Mekah yang hidup di abad ke-13 Hijri (19 Masehi), seperti kitab “al-Mukhtashar min Nasyr al-Nûr wa al-Zuhr” karya Syekh Abdullâh Mirdâd (hal. 214), “A’lâm al-Makkiyyîn” karya al-Mu’allimî (j. I/ hal. 450), “Fadh al-Malik al-Wahhâb al-Muta’âlî” karya ‘Abd al-Sattâr al-Dihlawî (hal. 706), dan “al-Mukhtashar al-Hâwî fî Tarâjim ‘Ulamâ Bilâd Jâwî” karya alfaqir (hal. 47).

Nama lengkap Syekh Saleh Rawa adalah Muhammad Shâlih Râwah ibn Muhammad Murîd al-Khalwatî al-Sammânî al-Râwî al-Jâwî. Beliau dilahirkan di Kampung Roa (Rawa, Sumatera Barat/ Minangkabau), namun tidak terlacak tarikh kelahirannya.
Beliau lalu pergi ke Mekah dan mermujawarah di sana. Di Kota Suci itu, beliau belajar kepada Syekh Daud Pattani, Syekh Abdul Shamad Palembang, dan Syekh Arsyad Banjar. Beliau juga belajar kepada Syekh Ahmad al-Marzûqî al-Dharir al-Makkî dan Syekh ‘Utsmân al-Dimyâthî al-Makkî. Setelah menempa masa pembelajaran yang cukup lama, beliau kemudian mendapatkan ijazah (lisensi) untuk mengajar di Masjidil Haram.

Foto Makam Syekh Saleh Rawa diambil dari halaman Facebook Ahmad Imran Abdul Karim

Syekh Saleh Rawa menulis beberapa karya, di antaranya; (1) “Bidâyah al-Mubtadî” yang kita bicarakan ini, dan (2) “Fath al-Mubîn” yang diselesaikan pada Zulhijjah tahun 1272 Hijriah (Agustus 1856 Masehi). Beliau wafat di Mekah pada tahun 1272 H (1856 M) dan dikuburkan di Pemakaman Ma’la, Mekah.[]

Bandung, April 2017

Share :
Ahmad Ginanjar Sya'ban
Ahmad Ginanjar Sya'ban 16 Articles
Dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*