Bukittinggi: Kota Literasi di Masa Lampau

Bukittinggi: Kota Literasi di Masa Lampau
Photo dari Depan Toko Buku Irama di Aur Kuning, Bukittinggi. Ilustrasi/Dok. Inyiak RM.

Fort de Kock, begitu nama yang lebih populer bagi Kota Bukittinggi, di masa kolonial. Nama ini mengingatkan kita kepada sebuah benteng Belanda dengan nama yang sama. Bukan hanya sebagai salah satu pusat pemerintahan/ administrasi di masa Kolonial, kota ini pernah menjadi basis percetakan-percetakan ternama di awal abad 20, tepatnya percetakan huruf Arab yang dikenal dengan istilah Mathba’ah, atau yang dalam bahasa Belanda: Drukkerij. Mengapa huruf Arab? Karena sistem tulisan yang dikenal masyarakat, sejak abad-abad sebelumnya, ialah huruf Arab. Bagi kaum santri yang dikenal dengan nama anak siak (santri) ialah huruf Arab bahasa Arab, bagi masyarakat umum ialah huruf Arab bahasa Melayu atau Minangkabau yang lebih populer dengan nama Arab Melayu (kita harus bedakan pula dengan Pegon, yaitu huruf Arab bahasa Jawa).

Awal abad 20 adalah periode penting dalam perkembangan literasi di Minangkabau. Ulama-ulama giat menulis risalah/ kitab pada masa ini. Ada dengan maksud menerjemah, menulis karangan mandiri, atau untuk berpolemik. Bidang-bidang yang ditulis cukup beragam, mulai dari tafsir, hadis, mustalah, fiqih, tauhid, tasawuf, ilmu alat, ushul fiqih, tarikh, qira’at sab’ah, tajwid, dan lain-lain. Kitab-kitab itu adakalanya ditulis dengan Arab-Melayu, atau bahasa Arab sendiri. Bisa dengan prosa, atau puisi (nazham). Semuanya lengkap.

Meningkatnya produktivitas ulama dalam menulis kitab, berbanding lurus dengan minat baca yang tinggi, dan banyaknya percetakan (mathba’ah) di Minangkabau, yang kebanyakannya terpusat di Fort de Kock, Bukittinggi. Percetakan-percetakan huruf Arab yang terkenal saat itu, misalnya Tsamaratul Ikhwan, Maktabah Islamiyah- HMS.Sulaiman, Mathba’ah Merapi, Mathba’ah Nusantara, Maktabah Haji Ahmad Chalidi, Drukkerij Baroe, dan lain-lain. Masing-masing mathba’ah ini telah mencetak ratusan karya tulis ulama Minangkabau. Dalam koleksi saya ada sekitar 250-an karya-karya ulama Minangkabau ini (saat ini saya sedang membuat daftar kitab-kitab yang saya punyai ini). Salah seorang mahasiswa saya di kelas filologi tengah mengadakan penelitian untuk salah satu percetakan di kota ini, yaitu Mathba’ah al-Islamiyah atau HMS. Sulaiman Fort de Kock.

Baca Juga: Drukkerij al-Islamiyah Fort de Kock Penerbit Turats Ulama Minangkabau di Masa Pemerintahan Belanda

********

Senin lalu, libur semester mulai dinikmati. Paginya saya datang ke kampus mengantar hal-hal terkait administrasi perkuliahan selama satu semester, siang saya mulai mengisi liburan dengan membawa si-kecil ke toko buku. Nama tokonya ialah TB. Irama, berada di lokasi strategis, salah satu kawasan perdagangan penting di Bukittinggi, yaitu Aua. Saya mengenal TB ini sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas kelas I. Satu waktu, ketika libur sekolah saya mengajak teman datang ke toko buku ini. Dengan naik mini bus kami berangkat dari Payakumbuh. Dua judul kitab saya gondol waktu itu: (1) Sairussalikin, terdiri dari dua jilid 4 juzu’, karya sufi Palembang Syaikh Abdussamad al-Falimbani, dan (2) Sirajutthalibin karya Syaikh Dahlan Jempis Kediri, juga 2 jilid.

Kemarin, seperti sudah menjadi kegiatan semesteran, saya berkunjung ke toko ini. Hampir semua judul kitab kuning yang disediakan toko ini sudah saya miliki. Kali ini saya hanya mengambil beberapa kitab tipis yang belum dimiliki, sekaligus membelikan al-Qur’an untuk si-kecil karena ia hampir menyelesaikan Iqra’ VI, dan akan berpindah kepada al-Qur’an.

Sedikit cerita tentang TB. Irama yang merupakan satu di antara sedikit toko kitab (kuning) di Sumatera Barat ini. Pemilik toko ini punya hubungan dengan HMS. Sulaiman (direktur Mathba’ah al-Islamiyah) yang merupakan salah satu percetakan Arab terkemuka di Minangkabau. HMS. Sulaiman sendiri, selain direktur percetakan ini juga merupakan seorang anak siak (santri) yang menimba ilmu dengan beberapa ulama terkemuka. Namun jiwa dagangnya sangat menonjol, beliaupun memesan mesin cetak huruf Arab ke Eropa dan kemudian mendirikan Mathba’ah al-Islamiyah yang kita ceritakan ini. Salah satu keunikan percetakan ini, ialah khusus mencetak karya-karya Ulama Tua Minangkabau, yaitu dari kalangan Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Ini disebabkan, kita berasumsi, karena kedekatan/ erat hubungan beliau dengan Maulana Syaikh Sulaiman Arrasuli, dan beliau sendiri (HMS. Sulaiman) termasuk pengurus dalam Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI). Kedua tokoh ini ibarat dwi-sulaiman: yang satu sebagai ulama pendidik-penulis, sedangkan sulaiman yang lain ialah bergerak dalam dunia percetakan/ penerbitan.

Buku dab Kitab dalam TB. Irama
Dok. Inyiak RM.

Sekian tentang TB. Irama dan Mathba’ah al-Islamiyah.

Kembali kita pada al-Qur’an yang kita beli untuk si-Kecil. Ketika bertanya pada pegawai TB. Irama tentang macam-macam jenis cetakan al-Qur’an yang tersedia. Ia menunjukkan beragam bentuk al-Qur’an, ada yang pink, kuning, warna pelangi, dan bermacam-macam khat. Akhirnya jatuh pilihan pada jenis cetakan klasik (seperti pada foto), ukuran besar. Saya memang tidak begitu tertarik dengan mushaf cetakan warna-warni, juga karena si-Kecil baru akan membaca al-Qur’an, maka dipilihlah cetakan ini. Melihat cetakan standar ini saya teringat masa kecil ketika mengaji di surau. Cetakan mushaf ketika mengaji dulu seperti ini, tanda baca lengkap dan huruf-huruf jelas, sesuai dengan mushaf standar negara kita. Cuma satu saja yang berbeda, bagian surat al-Kahfi: Walyatalatthaf-nya tidak dengan warna merah lagi. Tulisan kata ini sama dengan kalimat-kalimat lainnya, berwarna hitam. Dulu, sewaktu mengaji, saya sering memperhatikan kalimat ini, karena ditulis merah, mencolok, dan dilengkapi iluminasi bagian pinggir. Ini menyenangkan mata dan membuat penasaran. Sekarang kalimat ini tidak dibedakan, kalimat Walyatallattaf yang berarti “berlemah-lembutlah” itu.[]

Share :
Apria Putra
Apria Putra 44 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*