Buya Datuak Sati dan Syekh Mukhtar Engku Lakuang

Buya Datuak Sati dan Syekh Mukhtar Engku Lakuang
Foto Syekh Mukhtar Engku Lakuang/Dok. Penulis

Syekh Mukhtar Engku Lakuang

Adalah Buya Datuak Sati (Syekh Hasan Basri Djalil Dt. Sati, w. 2002) seorang tokoh ulama yang masyhur terbilang di Lima Puluh Kota. Selain ‘alim dalam berbagai vak keilmuan, seperti fikih, tauhid, mantiq, ushul, dan sebagainya, juga mahir membaca kitab kuning. Maklum, lepasan pesantren Jaho (Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho), murid dari pada Syekh Muhammad Jamil Jaho (w. 1945). Dulu, lepasan Jaho “ditakuti”, karena sudah dipastikan “alim” dan hebat bermudzakarah. Lebih dari itu Buya Datuak Sati juga orator ternama. Ke mana beliau berceramah, jamaah tentu terkagum dengan penjelasan yang runtun, jelas, serta diperkokoh oleh dalil-dalil. Kompletnya, Buya Datuak Sati ialah pengarang ulung. Sudah beberapa judul buku beliau tulis. Buku-buku itu pun sudah diterbitkan dan beredar. Salah satu karangannya yang populer yaitu Dialektika Ilmu Tauhid. Konon, Presiden RI pernah mengutip buku beliau ini ketika menyampaikan pidato di salah satu daerah di Sumatera.

Apa dikata. Sudah masyhur terbilang, sudah ternama. Lengkap sudah, sebagai fakih, mantiqi, ushuli; orator dan pengarang.

BacaJuga: Syekh Mukhtar Engku Lakuang (1913-1978)

Suatu ketika Buya Datuak Sati berangkat ke Pasar Payakumbuh, naik bendi dari Koto nan Ampek. Tidak disangka di bendi yang sama, naik pula ulama besar Payakumbuh yaitu Syekh Mukhtar Engku Lakuang (Pendiri dan pimpinan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Koto Panjang Lampasi, Ketua Mahkamah Syar’iyah, Dosen Fakultas Adab Payakumbuh, wafat 1978). Tentunya kedua ulama ini sudah saling kenal.

Sebagai yang lebih sepuh, Syekh Mukhtar mempunyai pandangan sendiri terhadap Buya Datuak Sati. Siapa yang tidak tahu bahwa Syekh Mukhtar Engku Lakuang sebagai ulama tua yang pandangan “mata”nya hampir sama dengan gurunya Maulana Syekh Abdul Wahid Asshalihi Tobekgodang (w. 1950) yang sufi itu. Syekh Mukhtar berbicara kepada Buya Datuak Sati: “Kok mangaji yo indak ado nan sa sontiang Datuak Sati, yo bona malin. Sayangnyo ciek, nan kaji indak tapakai dek Datuak Sati!” (kalau mengaji, tidak ada yang sehebat Datuak Sati. Benar-benar ‘alim. Sayang, ilmu itu tidak teramalkan oleh Datuak Sati!). Ungkapan Syekh Mukhtar sangat menohok, dan berbekas dalam di lubuk hati Buya Datuak Sati. Tersirap darahnya. Bergegas beliau, setelah menyelesaikan keperluan di Payakumbuh, langsung menemui Syekh Muhammad Kanis Tuanku Tuah di Batu Tanyuah (wafat 1989). Beliau meminta Syekh Kanis mentalqinkannya zikir, dan bersedia membimbingnya dalam suluk menurut garisan Naqsyabandiyah. Sampai akhirnya Buya Datuak Sati menyelesaikan tarbiyah rohaninya, dan memperoleh ijazah dari Syekh Kanis.

Kenapa talqin zikir dan suluk? Karena Buya Datuak Sati sudah paham apa yang dimaksud oleh Syekh Mukhtar Engku Lakuang. Ucapan Syekh Mukhtar adalah berupa sindiran, sekaligus suruhan. Mereka berdua ialah ulama, ungkapan di antara mereka pun hanya berupa kata-kata kiasan; “lun takilek lah takalam”, begitu cara mereka membaca satu sama lain.

Kenapa Naqsyabandiyah? Karena Naqsyabandiyah adalah pakaian besar ulama-ulama di pedalaman Minangkabau; pusaka yang diwariskan. Sebut saja ulama-ulama kenamaan di Darek, Syekh Isma’il al-Khalidi Simabur, Syekh Abdul Halim Labuh, Syekh Faqih Shaghir Tuangku Samiak, Syekh Abdurrahman Batuhampar, Syekh Mustafa al-Khalidi, Syekh Muhammad Saleh Silungkang, Syekh Thahir Barulak, Syekh Jamil Tungkar, Syekh Thaha Limbukan, dan lain-lain. Hingga generasi terakhir, Syekh Sulaiman Arrasuli, Syekh Jamil Jaho, Syekh Abbas Qadhi, Syekh Abdul Wahid Asshalihi, Syekh Abdul Majid Koto nan Gadang, dan banyak lainnya, mereka semua adalah “al-Khalidi”, yaitu Naqsyabandiyah Khalidiyah.

Buya Datuak Sati telah menemukan apa yang dicari; dahaga sudah dipenuhi, tinggallah beliau menumpahkan ilmunya di sebuah surau di Piladang. Surau itu ramai dikunjungi orang; ada yang menuntut ilmu agama, membaca kitab kuning, bertanya ini itu, ada pula yang hanya melihat-lihat dan ikut pula “melonjak-lonjak” ketika tahlil diperdengarkan.

Baca Juga: Syekh Muhammad Jamil Jaho: Ulama, Tokoh PERTI dan Guru Syekh Muda Waly Al-Khalidy

Adapun tali halus yang diambil dari kisah ini. Menurut saya, Ilmu itu akan tetap ia dalam kitab, bila tidak diamalkan. Amal itu takkan lengket dan bersenyawa, tanpa bimbingan dan tarbiyah ruhani dari seorang guru yang mumpuni, guru yang mu’an’anah.

*Cerita ini disampaikan oleh anak Buya Datuak Sati kepada saya, beberapa minggu yang lalu, di Piladang.

12 September 2017

Apria Putra
Apria Putra 93 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*