Buya Hamka dan Kifayatul Atqiya’

Buya Hamka dan Kifayatul Atqiya'
Ilustasi/Buya Hamka. (Betaria Sarulina/Historia). https://historia.id/agama/articles/ramadan-hamka-di-penjara-DB8E5

Salah satu pesan penting Sayyid Bakar Syatha dalam Kifayatul Atqiya’ bagi para penuntut ilmu adalah jangan menghabiskan umur hanya untuk menekuni satu ilmu karena ilmu Allah banyak. Sedangkan umur manusia sangat pendek.

Beliau kemudian mengutip syair:

إجهد على كل علم تستريح به # و لا تعيشن بعلم واحد كسلا
النحل لما جنى من كل فاكهة # حوى لنا جوهرين الشمع و العسلا
فالشمع نور عظيم يستضاء به # و الشهد يبري لنا الأسقام و العللا

Berhati-hatilah dalam (memilih) ilmu yang disenangi. Janganlah sekali-kali kamu hidup dengan satu ilmu karena malas.
Setiap kali lebah mendatangi tetumbuhan, ia akan memberi oleh-oleh dua hal: lilin dan madu.
Lilin dapat menjadi cahaya yang menerangi. Sedangkan madu akan menjadi obat bagi penyakit kita.

لن يبلغ العلم جميعا أحد # لا و لو حاوله ألف سنة
إنما العلم عميق بحره # فخذوا من كل شيء أحسنه

Seseorang tidak akan sampai pada puncak ilmu, meski menekuninya seribu tahun.
Sungguh, lautan ilmu amat dalam, maka ambillah yang terbaik darinya.

Baca Juga: Buya Hamka Ulama Sufi dan Pujangga

Senada dengan pesan di atas adalah pengakuan Buya Hamka (1908-1981) pada pendahuluan Tafsir al-Azharnya. Dengan penuh tawadlu’, beliau menulis: adapun penafsir ini sendiri, tidaklah seorang yang menempuh spesialisasi di dalam salah satu cabang ilmu Islam, cuma mengetahui secara merata dan meluas pada tiap-tiap cabang ilmu itu. Biasanya ilmu yang meluas-rata itu tidaklah mendalam. Laksana seorang dokter membuka praktik untuk umum, tahulah dia serba sedikit dalam tiap cabang ilmu kedokteran, tetapi tidak ada yang mendalam dalam salah satunya. Kalau sudah mendalam dalam satu ilmu, bernama dia spesialis; misalnya spesialis telinga, kerongkongan dan hidung, spesialis mata, spesialis kanker dan sebagainya.

Seolah, Buya Hamka hendak berpesan pada generasi penerusnya agar melahap setiap buku serta mempelajari segala ilmu karena dengan itu wawasan akan luas, pikiran tidak sempit sehingga tidak mudah kagetan, sebagaimana nasehat Sayyid Bakar Syatha dalam kitabnya.

Perkataan Buya Hamka nampak pada karya-karya yang dihasilkan oleh beliau, sangat banyak serta variatif, ada sejarah, novel, biografi, otobiografi, Filsafat, Tasawuf, Tafsir, dan lainnya.

Ketika menulis Dari Perbendaharaan Lama, misalnya, beliau menyatakan bahwa referensi yang beliau baca adalah buku-buku lama pusaka nenek moyang serta buku-buku catatan sarjana sejarah Belanda. Ini menunjukkan hausnya beliau dalam membaca, apapun itu.

Tafsir al-Azhar juga berawal dari bacaan beliau yang kuat. Di halaman terakhir tafsirnya, Buya Hamka menyebut pelbagai kitab tafsir, kitab hadits, Fiqih, sejarah serta Tasawuf yang dirujuk sebanyak empat puluh lima. Setelah itu, beliau menulis: Dan berpuluh-puluh lagi kitab-kitab karangan sarjana-sarjana modern dan karangan-karangan Orientalis Barat.

Baca Juga: Syekh Haji Karim Amrullah Ulama Ayah Buya Hamka dan Pendiri Sumatera Thawalib

Alhasil, generasi melenial jangan hanya belajar Nahwu, Sharaf, Balaghah, Tauhid, Fiqih, Ulumul Qur’an, Ulumul Hadits, Tasawuf dan Tarekat, tetapi juga Sosiologi, Antropologi, Biologi, Fisika, Matematika, Kimia, Astronomi, Kedokteran, Filsafat dan lainnya.

Para pendiri dan tokoh bangsa ini seperti Bung Karno, Bung Hatta, Gus Dur, Buya Syafi’i Maarif,  telah memberi teladan dalam hal ini. Tinggal kesiapan kita, generasi muda, untuk mengikutinya. Bangsa yang jaya adalah mereka yang suka membaca, melek literasi, menyerap ilmu pengetahuan, dari mana pun sumbernya.[]

Kambingan Barat
Jum’at, 03 Dzulhijjah 1441 H. / 24 Juli 2020 M.

Share :
Hafifuddin
Hafifuddin 2 Articles
Pelayan di Yayasan Ziyadatul Ulum dan Tinggal di Kambingan Barat Lenteng Sumenep

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*