Buya Marzuki Tuanku nan Basa Berpulang

Buya Marzuki Tuanku nan Basa Berpulang
Foto Dok. Penulis

Telah berpulang Pimpinan Pondok Pesantren Madrasatul Ulum Kampuang Guci Lubuak Pandan Padang Pariaman pukul 18. 00 WIB. Demikian berita duka itu disampaikan beberapa sahabat di media sosial tentang kepulangan Buya H. Marzuki Tuanku Nan Basa di pesantren yang beliau pimpin.

Saya adalah salah seorang murid yang bersaksi akan kebaikan dan istiqamahnya beliau dalam tafaqquh fi al-din. Meskipun belajar pada beliau hanya beberapa kali pertemuan, tapi bagi saya sangat berkesan melihat kedalaman ilmu beliau. Membaca Tafsir al-Shawi, Mukhtasar Jiddan dan beberapa kitab Tasawuf. Kunci ilmu agama ada di kitab kuning dan dasarnya adalah ilmu nahwu dan sharaf, pungkas beliau.

Pertemuan saya dengan Buya dimulai pada tanggal 5 September 2018 di Pondok Pesantren Madrasatul Ulum Lubuak Pandan. Meneliti sekaligus belajar. Madrasatul Ulum adalah salah satu lokasi penelitian disertasi saya. Setelah wawancara, Buya langsung membacakan bait-bait kitab yang menarik untuk dibahas dan saya menyimak dengan seksama. Begitulah terbukanya Buya akan ilmu.

Bertemu dengan Buya, bagi saya adalah suatu kehormatan. Beliau sering bercerita tentang Prof. Dr. Duski Samad, M.. Ag, waktu kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang yang juga promotor disertasi saya,. Juga, beliau adalah guru dan mamak dari guru saya di MTI Canduang, Ustaz Drs. Anwar Jailani. Beliaupun menerima saya layaknya murid yang sudah lama bersua.

Baca Juga: In Memoriam Mamak Kami, Buya H. Awiskarni Husein (1945-2020): Rumah Gadang Bahalaman Lapang

Buya H. Marzuki dan Madrasatul Ulum

Pondok Pesantren Madrasatul Ulum berdiri pada tahun 1947 dan didirikan oleh Syekh H. Aminuddin Tuanku Saliah. Pada awalnya pengajian dilaksanakan di Surau Kapalo Sawah (SKS) Pakandangan, tetapi pada tahun 1965 berganti nama menjadi Madrasatul Ulum setelah mendapatkan tanah wakaf dari keluarga istrinya dan dibangun berbagai sarana pendidikan yang memadai.

Semangat keilmuan Syekh H. Aminuddin Tuanku Saliah dalam mengajarkan pendidikan keagamaan sudah dimulai semenjak beliau sendiri mengaji dari beberapa orang ulama yang terkenal pada masa itu di Minangkabau. Guru-gurunya antara lain Syekh Tuanku Bintungan Tinggi Pauh Kamba, Syekh Muhammad Yatim Ampalu Tinggi, Syekh Muhammad Jamil Jaho dan Syekh Surau Sicincin Payakumbuh serta beberapa guru lain di sekitaran Padang Pariaman.

Pada awal berdirinya, Madrasatul Ulum memiliki murid sebanyak 20 orang dan terjadi peningkatan yang cukup signifikan setiap tahunnya, bahkan setelah pindah di lokasi sekarang, pada awal berdiri sampai tahun 1996, jumlah murid selalu di atas seratus bahkan sampai 225 orang. Murid yang datang belajar ke sana berasal dari berbagai macam daerah seperti Tanah Datar, Agam, Solok, Padang Panjang, Aceh, Bengkulu dan bahkan Malaysia.

Setelah Syekh H. Aminuddin wafat, maka kepemimpinan dilanjutkan oleh Buya Iskandar Tuanku Mudo yang sebelumnya juga alumni dari Madrasatul Ulum, tetapi hanya bertahan 2 tahun yaitu tahun 1992-1994 karena kesibukannya di luar surau. Maka pada tahun 1994 dilakukan pemilihan pimpinan oleh tokoh masyarakat dan alumni yang akhirya terpilih Buya Marzuki Tuanku Nan Basa yang sebelumnya mengajar di luar dan menjadi pimpinan sampai sekarang.

Dalam melaksanakan pendidikan, Buya H. Marzuki Tuanku Nan Basa dibantu oleh guru tuo sebanyak 10 orang yaitu M. Jalal Thalibi, M. Kamal Ma’ruf Dt. Sanpado, M. Sari Amin, Ramdani Tuanku Muncak, Ridwan Tuanku Sutan, Yogi Sahendra, Puji Aandiko, Rido Saputra, Ero Marta, dan Almi. Sedangkan jumlah semua santri sebanyak 60 orang dengan rincian kelas 1 berjumlah 14 orang, kelas 2 sebanyak 18 orang dan kelas 3 sebanyak 14 orang dan kelas 5, dan 6 berjumlah 22 orang.

Baca Juga: 2017-2018, Tahun Duka bagi Minangkabau

Buya Marzuki dan Keteladanan dalam Tafaqquh fi al-Din

Banyak pelajaran penting yang saya peroleh dari pertemuan dan belajar yang sangat singkat dengan Buya Marzuki. Pada suatu kali saya bertanya tentang penyelenggaraan program pendidikan nasional di pesantren, seperti salafiyah atau madrasah supaya pesantren itu bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan sekolah lain serta bisa pula membantu kesejahteraan guru-guru dari biaya yang diberikan oleh pemerintah.

Dahulu pernah dilaksanakan program paket, jawab Buya. Banyak tidak lurusnya, kerja yang tidak dikerjakan tapi harus tetap dilaporkan. Dipaksa-paksa kita menandatangani laporan supaya dapat uang. Tidak cocok kerja seperti itu bagi kita orang surau. Tegas Buya member jawaban. Soal biaya hidup, semenjak dahulu sampai sekarang tidak ada dibantu oleh pemerintah, masih hidup dan bisa pula menghidupi keluarga sampai sekarang. Sambung Buya dengan beberapa argumentasi tasawuf yang beliau jelaskan lebih panjang.

Awal September 2019 terakhir kali saya bersua dengan Buya di Madrasatul Ulum ketika meminta beliau sebagai salah satu narasumber untuk seminar hasil penelitian saya. Pada hari itu beliau bercerita akan pulang ke kampung pergi berdoa melepas alumni Madrasatul Ulum sekaligus keluarga beliau yang lulus beasiswa ke Yaman. Riang sekali Buya menceritakannya.

Hari ini Buya berpulang dengan segala amal saleh yang sudah dikerjakan, terutama ilmu yang sudah diajarkan pada murid-muridnya yang akan selalu mengalir pada beliau serta hendaknya Madrasatul Ulum akan selalu maju dan berkembang di masa-masa yang akan datang.

Heri Surikno
Pimpinan MTI Al-Jamiliyah Kota Pariaman, Alumni Tarbiyah Islamiyah Canduang,Pengajar pada STIT Syekh Burhanuddin Pariaman,dan Doktor dengan nama dan gelar;Dr.Heri Surikno,MA.