Buya Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno (lahir 1926), Penyambung Estafet Ulama-ulama Besar Batuhampar, Payakumbuh

Buya Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno
Foto: Buya Sya'rani Khalil Dt. Majo Reno (kiri) membaca kitab "Mafahim Yajib an Tushahhaha" karangan Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki (Oktober, 2013)

Buya Sya’rani Khalil

Satu ketika saya tertegun, salah seorang teman berujar, “Mengapa tuan hanya menulis tentang ulama-ulama silam, bukankah baik menulis ulama-ulama kita sekarang, supaya kami dapat berkunjung dan menyauk ilmu dari beliau-beliau itu. Dekat akan disilau, jauh akan dijalang.” Saya berpikir, baik juga hal itu. Namun, perjalanan saya belumlah jauh, jalan yang telah ditempuh tak seberapa, akankah saya adil menulis hanya sebagian orang yang saya ketahui di depan mata saya keharibaan tuan-tuan. Bukankah ulama-ulama kita di Ranah Minang saat kini banyak yang mastur (tersembunyi), beberapa di antara mereka tak dikenal layaknya muballigh yang prestisius, di antaranya ada yang menjauh dari publisitas seperti kebanyakan orang sekarang. Tapi, saya timbang-timbang adalah positif bila memperkatakan ulama-ulama yang ada saat ini, meskipun pengetahuan saya tentang beliau-beliau itu tidak seberapa. Kita ketengahkan saja kaedah yang masyhur di kalangan Ushuliyyin, “Sesuatu yang tidak dapat dikerjakan semua, sebahagiannya jangan ditinggalkan.” Semoga ikhtiar saya bermanfaat kiranya bagi sidang pembaca, pun pribadi saya sendiri; sehingga dapat menghela do’a orang-orang shaleh, para ulama yang mempunyai dua sayap; lahir dan batin, di Ranah Minang bertuah ini. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Batuhampar Payakumbuh, Negeri Hijau, Negeri Seribu Urangsiak

Sesawahan terhampar luas ibarat permadani kaki langit. Sejauh mata memandang, sejauh itu pula hijau cerah dari dedaunan apakah padi-padi, kebun dan ladang-ladang petani terlihat. Demikianlah keadaan alam Batuhampar sebagai anugerah ilahi. Di balik semuanya, terdapat hal yang lebih dikenal dari sekedar pesona alam itu, itulah “Kampung Dagang”, komplek urangsiak (baca: santri) yang telah ada sejak dua abad yang lalu. Komplek inilah yang lebih dari seabad itu menjadi bebauan harum semerbak yang masyhur ke mana-mana negeri di dataran Melayu, sebagai tempat belajar agama, pusat ilmu al-Qur’an, dan sentra Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah terkemuka dan tertua di Minangkabau ini.

Komplek Dagang (dagang=perantau) yang dulunya terdiri dari puluhan surau itu dirintis oleh Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi Naqsyabandi bin Abdullah Batuhampari (1777-1899), ulama besar Minangkabau awal abad 19. Dari generasi ke generasi Kampung Dagang tersebut dipimpin oleh keturunannnya yang juga masyhur selaku ulama besar di zamannya. Selain sebagai ulama pemimpin Kampung Dagang, keturunan-keturunannya ini dikenal dengan Datuak Oyah. Gelar tersebut merupakan jabatan adat yang bertanggung jawab dalam urusan keagamaan. Sejatinya gelar Datuak Oyah dinobatkan kepada ulama Batuhampar berdasarkan kebulatan mufakat kalangan adat, agama, dan tokoh masyarakat di Batuhampar. Dengan takdir Allah, sejak posisi ini diadakan, baru keturunan Syekh Abdurrahman inilah yang disepakati untuk gelar Datuak Oyah, karena memang mereka yang ‘alim ‘allamah, lautan ilmu, yang melangkapi ilmu zahir dan ilmu batin, sehingga merekalah yang disepakati untuk memimpin urusan keagamaan di Batuhampar. Bukankah keramat Syekh Batuhampar itu: “Syekh-nya turun temurun; ilmu-nya turun temurun”?

Sudah enam generasi berlalu sejak Kampung Dagang dipancang untuk pertama kali. Enam generasi itu pula lah yang memimpin urusan keagamaan di Nagari Batuhampar. Secara berurutan mereka ialah, (1) Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi Naqsyabandi Batuhampari, (2) anaknya, Syekh Muhammad Arsyad, (3) cucunya, Syekh Muhammad Arifin, (4) Syekh Ahmad (anak Syekh Abdurrahman), (5) Syekh Darwisy Arsyadi (cucu Syekh Abdurrahman), dan (6) Syekh Dhamrah Arsyadi (cucu Syekh Abdurrahman), yang wafat pada 1992. Mereka-lah suluh benderang Negeri Batuhampar, yang membuat negeri tersebut terkenal ke berbagai penjuru Sumatera sebagai pusat agama; mereka pula yang teguh mewariskan keilmuan Islam atas dasar Ahlussunnah wal Jama’ah, dalam furu’ syari’at atas Mazhab Imam Syafi’i, dan tasawuf dengan mengamalkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Meski masa berlalu, dengan beberapa peristiwa dan kejadian masa, perubahan, weternisasi, hingga era modern saat ini, mereka lah yang teguh mewariskan intelektualisme Islam kepada generasi-generasi selanjutnya.

Setelah generasi ke enam wafat, maka posisi keagamaan yang dipegang oleh keturunan Syekh Abdurrahman lainnya, yaitu Buya Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno. Selain memimpin sekolah agama, Madrasah al-Manar, yang merupakan metamorfosis dari Kampung Dagang, beliau juga merupakan Datuak Oyah Batuhmpar. Selain itu, beliau merupakan pewaris intelektual dan spritual Syekh Batuhampar tersebut. Bagaimana perjalanan intelektual beliau? Berikut akan kita simak.

Baca Juga: Syekh Batuhampar yang Ahli Al-Qur’an, Kakek Proklamator RI, Moh. Hatta

Buya Sya’rani Khalil: Pewaris Intelektual dan Spritual Ulama Batuhampar

Matahari baru sepenggalahan. Sinar matahari pagi yang sejuk sesejuk Luak Lima Puluh Kota menembus embun-embun di langit Madrasah al-Manar, komplek Kampung Dagang di masa silam itu. Ketika itu seorang tua yang sepuh, berwajah jernih yang menyiratkan keshalehan, tertatih-tatih keluar dari gedung asrama, dengan senyuman yang khas ia menyambut girang. Meski berusia sepuh, rautan wajahnya masih menunjukkan masa muda yang gemilang. Mungkin cahaya iman yang memancar di wajahnya, saya pun tidak tahu pasti, namun raut wajah jernih seperti itu umum di kalangan ulama-ulama surau di Minangkabau ini, apatah lagi mereka yang menjadi Syekh Tarekat Sufi.

Ketika itu Sya’ban 1434 H (2013 M) belum sempurna, namun urang-urang suluk (baca: salik) telah memenuhi asrama madrasah itu. Bagi mereka yang hendak menjalani i’tikaf khas Naqsyabandiyah, yang dalam istilah tasawuf disebut suluk, selama empat puluh hari, mereka mesti memulainya 10 hari sebelum Ramadhan, sehingga ketika ‘Ied datang, mereka telah keluar dan kembali pulang ke kampung halaman masing-masing dengan riang gembira. Saat itu urang suluk berjumlah sekitar 80 orang, sebuah jumlah yang cukup fantastis untuk zaman di mana tarekat telah dianggap bid’ah oleh malin-malin baru. Sedangkan dahulu, di masa hidup keagamaan masih kuat berakar, peserta suluk mencapai ratusan orang. Konon pernah mencapai 400 orang.

Orang-orang boleh saja mengira kalau Madrasah al-Manar itu sebagai pesantren berbau modern. Namun bagi siapa yang menyelami agak mendalam tentu akan menyadari kalau Madrasah ini merupakan kelanjutan Kampung Dagang atau Surau Batuhampar semasa silam. Kitab-kitab kuning masih dipertahankan, meskipun tidak seeksis dulu. Memang beberapa kitab tidak diajarkan, entah dengan sebab apa. Namun dapat di duga, kekurangan tenaga pengajar yang mumpuni dalam mempahamkan kitab dan memperoleh ijazah dalam kitab itu menjadi alasan utama. Itu juga yang menjadi kendala umum di kalangan madrasah-madrasah tradisional di Minangkabau saat ini.

Orang tua yang bermuka jernih itu bersalaman erat, sambil senyum berujar dengan logat Payakumbuh yang kental: “Bilo pulang?”. Saya menjawab takzim, “Olun bora lamo lai Buya!”. Beliau lalu mempersilahkan tamu masuk ke kediamannya di samping Madrasah itu. Perbicaraan berlanjut, diselingi dengan humor khas. Begitulah Buya Sya’rani Khalil menyambut tetamu di komplek Madrasah al-Manar itu. Saat itu beliau bercerita tentang perjalan hidupnya di masa saisuak.

Usia beliau saat ini telah menghampiri se-abad lamanya, yaitu 88 tahun. Buya Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno lahir pada tahun 1926 di Batuhampar. Ayahnya, Khalilurrahman bin Syekh Muhammad Arsyad bin Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi Batuhampar. Latar belakang keluarganya dari golongan kaum agama yang masyhur bukan hanya di Minangkabau, namun hingga tanah Malaya. Lingkungan keluarga inilah yang membentuk karakter Sya’rani kecil sehingga ia tumbuh sebagai seseorang yang cinta ilmu agama, sebagaimana ayah dan datuk-datuknya.

Di masa belia, Buya Sya’rani belajar membaca al-Qur’an dan dasar-dasar agama kepada beberapa ulama lokal di Batuhampar, antara lain Haji Ainul ‘Abidin dan Angku Sanusi. Angku Sanusi ialah murid dari Angku Kapalo Koto yang mengajar di Surau Bawah (saat ini bernama Mushalla Taqwa). Setelah belajar beberapa lama kepada dua ulama tersebut, Buya Sya’rani kemudian melanjutkan pelajaran tilawah al-Qur’an kepada Syekh Abdul Malik di Surau Darek. Syekh Abdul Malik ialah ulama ahli Qira’at Sab’ah di Batuhampar, murid dari datuknya sendiri, yaitu Syekh Muhammad Arsyad Batuhampar. Ketika itu Batuhampar sangat harum namanya sebagai pusat ilmu Qira’at Sab’ah. Selain belajar di Kampung Dagang, urangsiak yang datang dari berbagai penjuru Sumatera tersebut juga belajar Qira’at Sab’ah kepada Syekh Abdul Malik ini. Namun Buya Sya’rani tidak sampai khatam belajar Qira’at Sab’ah tersebut dari Syekh Abdul Malik. Beliau hanya mengkhatam Qira’at Imam ‘Ashim. Menurut penuturan Buya Sya’rani sendiri, generasi terakhir yang ‘alim dari Qira’at Sab’ah ialah almarhum Syekh Dhamrah Arsyadi.

Ketika itu pemimpin keagamaan di Batuhampar ialah Syekh Arifin Arsyadi. Selain melanjutkan kepemimpinan di Kampung Dagang, beliau juga mendirikan sekolah agama semacam pesantren di Jawa, yang dikenal dengan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Batuhampar. MTI ini ialah salah satu madrasah Persatuan Tarbiyah Islamiyah tertua setelah MTI Candung, MTI Tobek Godang, dan MTI Koto nan Ampek Payakumbuh. Pada madrasah itu telah diterapkan sistem pendidikan klasikal dengan memakai kurikulum Mesjidil Haram, Makkah, baik dari segi metode pengajaran dan kitab-kitab keagamaan yang dipakai. Dengan sistem ini, seorang lulusan MTI ketika itu dapat disetarakan dengan lulusan Makkah dari segi keilmuan.

Setelah mengkhatam al-Qur’an Qira’at Imam ‘Ashim dari Syekh Abdul Malik, Buya Sya’rani menaruh hati kepada MTI yang didirikan Syekh Batuhampar Ketiga itu. Ia lalu minta izin untuk belajar di MTI Batuhampar untuk mendalami ilmu agama sedalam-dalamnya. Di madrasah ini Sya’rani belajar kepada beberapa ulama Batuhampar, antara lain Angku Ahmad Hasan yang tak lain adik dari Syekh Abdul Malik. Tak lama belajar di MTI Batuhampar, dengan nasihat Syekh Abdul Malik ia kemudian merantau untuk belajar agama ke Tobek Godang. Syekh Abdul Malik menasehati Sya’rani: “Bilo ang masih di siko (Batuhampar), ndak ado ilemu nan ka dapek dek ang.” Nasehat Syekh Abdul Malik ini sebenarnya ialah motivasi untuk belajar agama di daerah lain, bukan berarti bahwa ilmu agama memang tidak ada di Batuhampar. Ketika itu telah menjadi adat bahasanya seorang siak mesti merantau ke tempat jauh-jauh untuk belajar agama. Selain belajar, tentunya dengan tujuan memperkaya pengalaman dan melatih hidup mandiri dengan kesederhanaan.

Menuruti nasihat itu, Buya Sya’rani kemudian berangkat ke Tobek Godang. Di sana telah didirikan MTI Tobek Godang yang kala itu masyhur sebagai pusat ilmu agama, khususnya ilmu alat (mencakup Qawa’id Arabiyah, Ushul Fiqih, dan Ilmu Mantiq) dan tasawuf. Di Tobek Godang, Buya Sya’rani belajar di kelas tiga, salah seorang gurunya di sana ialah Buya Anwar Dt. Siguno. Selain belajar, Buya Sya’rani dapat pula bergaul dengan Maulana Syekh Abdul Wahid Assalihi yang masyhur dengan gelar “Baliau Tobek Godang” itu, meski tidak sempat menuntut ilmu agama darinya karena beliau mengajar kelas-kelas tinggi.

Seperti halnya di MTI Batuhampar, Buya Sya’rani juga tidak berapa tahun di Tobek Godang. Beliau kemudian berangkat ke Candung, tepatnya MTI Candung, untuk melanjutkan pelajarannya. Di Candung beliau belajar intensif kepada beberapa ulama besar, antara lain Maulana Syekh Sulaiman Arrasuli dan Buya Muhammad Zen. Bidang keilmuan yang digandrunginya ialah Fiqih dan Ushul Fiqih, karena memang MTI Candung dikenal dengan spesialisasi dalam dua vak keilmuan itu. Kitab-kitab yang dipelajarinya di Candung ialah kitab-kitab “berat” dalam dua keilmuan ini, antara Hasyiyah Qaliyubi wa ‘Amirah, Syarah Mahalli, Hasyiyah Jam’ul Jawami’, dan Asybah wan Nazhair fil Furu’. Dua tahun lamanya Buya Sya’rani di Candung. Pada tahun 1947 beliau telah melesaikan kelas tujuh, dan diberi ijazah sebagai petanda keilmuannya telah mumpuni. Namun kehausannya akan ilmu ternyata belum terpuaskan. Beberapa saat kemudian Buya Sya’rani melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Guru dan Hakim (SGH) di Bukittinggi. Sekolah ini merupakan sekolah agama setingkat universitas yang diisi oleh dosen-dosen yang merupakan ulama lulusan Mesir. Di SGH, Buya Sya’rani kembali mendalami Hukum Islam, yaitu Fiqih dan Ushul Fiqih, yang sejatinya telah dituntaskannya ketika di Candung dulu. Di sana beliau sempat belajar kepada Buya H. Abdurrahman (murid Syekh Ibrahim Musa Parabek) dan Prof. Bustami Abdul Ghani (ahli Bahasa Arab yang kemudian menjadi guru besar Bahasa Arab di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Setelah menyelesaikan studi di SGH, Buya Sya’rani Khalil kembali ke Batuhampar untuk mengembangkan ilmu yang telah dituntutnya sekian lama. Namun lagi-lagi beliau merasa kepuasannya belum sempurna. Beliau kemudian mengambil pusaka Syekh-syekh Batuhampar yang telah menjadi mutiara ilmu semenjak abad 19, yaitu Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Pada mulanya beliau bersuluk kepada Syekh Dhamrah Arsyadi di Batuhampar, dengan khalifah pembantu saat itu yaitu Angku Gobah. Setelah itu beliau melanjutkan suluk kepada beberapa syekh lain, di antaranya Syekh Muhammad Surin Dt. Radjo Bosa di Koto Tinggi, Suliki, tepatnya di Surau Lakuang. Dari Syekh inilah Buya Sya’rani memperoleh Ijazah Irsyad Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah.

Mengajar adalah pilihan hidup Buya Sya’rani Khalil. Setelah pulang dari Candung beliau telah mengajar di Kampung Dagang Batuhampar. Karena sulitnya perekonomian beliau juga bekerja membuat alat-alat pertanian, pun pekerjaan tani menjadi rutinitasnya di waktu-waktu lapang setelah mengajar. Dengan itulah beliau menutupi kebutuhan hidupnya. Beliau acap berujar, “Iduik di wakatu itu yo bona paik.”

Setelah Syekh Darwisy Arsyadi wafat pada tahun 1964, dengan kesepakatan pemuka adat dan agama di Batuhampar, dinobatkanlah adik beliau yaitu Syekh Dhamrah Arsyadi sebagai “Datuak Oyah” sekaligus yang memimpin Kampung Dagang. Syekh Dhamrah kemudian mendirikan Madrasah al-Manar di komplek Kampung Dagang. Konon waktu itu Kampung Dagang tidak seeksis sebelumnya. Madrasah al-Manar mampu menggantikan eksistensi Kampung Dagang, meskipun tidak dapat mewarisi kemasyhurannya. Di Madrasah ini Buya Sya’rani kemudian bersitekun untuk mengajar hingga saat ini. Ketika Syekh Dhamrah wafat pada tahun 1992, dengan kesepakatan pemuka adat dan agama, beliau kemudian dinobatkan sebagai Datuak Oyah Batuhampar ke-7, hingga saat ini.

Ketika ditanya tentang kebesaran Kampung Dagang (Surau Batuhampar) di masa silam, muru’ah dan keilmuan para Syekh Batuhampar di waktu saisuak, Buya Sya’rani Khalil selalu menutup pembicaraan dengan ungkapan sedih meski diucapkan dengan senyuman: “Batuhampa kini alah ibaraik ula nan tingga karobangnya” (Batuhampar saat ini seolah-olah seperti ular yang tinggal kulitnya saja). Entah ucapan ini terlahir dari sikapnya yang tawaduk, atau kebenaran, namun pastinya “air-air” Syekh Batuhampar itu tetap mengalir. Bukankah keramat Syekh Batuhampar itu ialah sundut bersundut?!

Baca Juga: Kenangan Indah Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli #2

Pelanjut Syekh Batuhampar

Semasa Kolonial, tepatnya abad 19, Batuhampar dikenal sebagai salah satu pusat Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah tertua di Minangkabau. Laporan Belanda menyebutkan bahwasanya Syekh Batuhampar ialah salah seorang Syekh Tarekat yang dihormati dan berpengaruh luas. Laporan Belanda itu dibenarkan oleh catatan-catatan pribumi, apakah dari murid-murid Syekh Batuhampar sendiri atau pandangan mata peneliti-peneliti individual yang menaruh perhatian terhadap perkembangan Islam di Minangkabau. Dari generasi pertama yaitu Syekh Abdurrahman al-Khalidi hingga generasi ke-7 yaitu Buya Sya’rani Khalil, mereka merupakan Syekh Tarekat Naqsyabandiyah ternama dan masyhur di kalangan ulama lainnya. Meskipun eksistensi Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah mengalami pasang surut sesuai kehendak zaman, terutama ketika masuknya faham Wahabi (yang kemudian populer dengan salafi wahabi) ke Luak Lima Puluh Kota, namun Batuhampar sampai saat ini tetap menjadi salah satu lokus Suluk Tarekat ini. Di sanalah salah satu benteng pertahanan, walau di kanan kiri mengatakan cela. Benteng itu ialah lelaki tua yang berwajah jernih itu, siapa lagi kalau bukan Buya Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno, cucu Syekh Batuhampar nan Keramat itu. Setelah itu siapa, Allah punya rencana.

Ahli Fiqih dan Ushul Fiqih


Kitab-kitab Fiqih dan Ushul Fiqih menjadi makanan hariannya. Dengan itu Buya Sya’rani Khalil menghabiskan hari-hari. Boleh dikata, tiada hari tanpa kitab di sisi. Dalam kutubkhanah kepustakaannya tersimpan kitab-kitab kelas berat dalam dua bidang itu, dan itu semua telah dimutala’ahnya jauh-jauh hari. Kitab-kitab itu antaranya lain Al-Umm karya Imam Syafi’i, Mahalli, Jam’ul Jawami’, Asybah wan Nazhair, dan beberapa kitab tasawuf seperti Iqazul Himam Syarah Hikam. Selain itu, tak lupa beliua membaca kitab-kitab hadis seperti Jami’us Shaghir Imam Suyuthi. Dan beliau juga menyempatkan diri membaca literatur kaum modernis, yaitu Tafsir al-Manar yang populer itu.

Dalam ilmu Fiqih Syafi’iyah beliau telah menyusun kitab, yaitu Mukhtasar Kifayatul Akhyar. Kitab mukhtashar ini masih dalam bentuk stensilan. Sepertinya digunakan untuk mengajar santri di al-Manar.

Penutup: Ditutup keruh zaman


Lelaki tua berwajah jernih itu tetap bersemangat di hari sepuhnya. Bila diundang dalam pertemuan ulama, apakah muzakarah atau wirid pengajian, beliau selalu mengusahakan hadir. Meskipun hidup tak menaruh rusuh, selalu menunjukkan wajah tenang dan tenuh, saat-saat tertentu beliau tetap juga termenung. Apa yang dipikirkannya, tak lain penyambung estafet kemudian hari. Ketika kaji, keilmuan Syekh Batuhampar, telah dihalau kaji-kaji baru, siapa yang akan mempertahankan. Itulah yang selalu dalam “kira-kira”nya, terkenang-kenang jua ketika duduk seusai mutala’ah kitab. Sedangkan kepada saya, ketika saya menziarahinya, beliau sering berujar: “Hanyo ang kawan den di siko.” Allah punya rencana. Semoga Allah memanjangkan usianya.

Sebagai penutup riwayat ringkas ini, eloklah saya ungkap keharibaan tuan tentang ulama-ulama Minangkabau saat ini. Di awal tulisan ini saya terangkan bahasanya ulama Minang saat ini banyak yang mastur (tersembunyi dari orang banyak). Mubaligh banyak, penceramah banyak, yang tamat luar negeri banyak, namun yang sebenar-benar ulama tidak seberapa tampak di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu banyak sekali orang-orang luar memandang Minang sebagai gudang ulama yang telah kosong melompong; artinya tidak ber-ulama. Ucapan itu tentu keliru. Mereka, ulama yang sebenar ulama itu, bersembunyi. Bila tuan bertemu dengan salah seorang mereka, tuan tentu akan memandang mereka seperti orang awam saja, sebab mereka bila ditemui hanya sebagai orang biasa saja, berbaju bisa, bertutur kata biasa, bekerja petani, meladang di rimba, dan tidak menunjuk-nunjukkan diri, namun mereka ulama zahir batin, melengkapi dua sayap ilmu. Kalaulah kita ibaratkan, saat ini Minangkabau itu seperti telaga yang keruh. Dari atas terlihat telaga itu seperti dangkal. Namun, bila diselami akan jelas betapa “dalam” telaga itu. Maka selamilah!!!

dalam khalwat yang hening
Batang Batang, Mungka, Ramadhan 1435 H
al-faqir Apria Putra

Apria Putra
About Apria Putra 144 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan