Canda yang Bijak Baginda Nabi

Canda yang Bijak Baginda Nabi
Ilustrasi Dok. Istimewa

Canda Bijak Baginda Nabi

Membaca sirah dan hadis-hadis Nabi terkadang memunculkan kesan bahwa kehidupan beliau dan para sahabatnya penuh dengan hal-hal yang serius. Bisa dikata hampir tak ada ruang untuk bercanda. Padahal sesungguhnya tidak sedikit episode-episode yang dapat mengundang tawa dalam keseharian tokoh-tokoh besar itu. Ini membuktikan bahwa mereka juga manusia biasa yang bisa untuk ditiru.

Namun demikian, canda dalam kehidupan mereka bukan sesuatu yang sengaja dibuat. Semua alami dan spontanitas. Karena itu, ia tetap bermakna, berhikmah dan berkelas.

☆☆☆

Seorang sahabat Nabi bernama Khawwat bin Jubair bercerita:

Dalam sebuah perjalanan bersama Rasulullah, kami berhenti sejenak di sebuah daerah bernama Marr Zhahran.

Aku keluar dari kemah. Tiba-tiba aku melihat beberapa wanita sedang asyik berbincang-bincang. Aku pun tertarik untuk ‘nimbrung’. Lalu aku kenakan jubah, kemudian duduk di dekat mereka.

Tiba-tiba Rasulullah keluar dari kemahnya. Beliau melihatku dan berkata, “Hai Abu Abdillah, apa yang membuatmu duduk di dekat para wanita itu?” Aku merasa malu dan segan. Untuk menutupi malu, aku pun berkata, “Ada ontaku yang lepas, ya Rasul… Aku sedang mencari tali untuk mengikatnya.”

Baca Juga: Syekh Nizar Abazah dan Usaha untuk Mendekatkan Sirah Nabawiyah dalam Kehidupan

Rasulullah hanya tersenyum. Beliau pun berlalu. Aku segera mengikutinya.

Suatu saat beliau menitipkan sorbannya padaku karena beliau akan buang hajat dan berwudhuk. Selesai berwudhuk, sambil mengenakan sorbannya, beliau bertanya padaku, “Wahai Abu Abdillah, bagaimana kabarnya ontamu yang lepas itu?”

Aku hanya terdiam malu.

Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Setiap kali beriringan, Rasul selalu berkata padaku, “Assalamualaikum Abu Abdillah, bagaimana kabarnya ontamu yang lepas itu?”

Aku berusaha mempercepat kudaku agar sampai lebih awal di Madinah. Beberapa hari aku sengaja tidak datang ke masjid. Aku juga berusaha untuk menghindari pertemuan dengan Rasul. Tapi karena sudah cukup lama, akhirnya aku pergi juga ke masjid. Namun aku sengaja datang saat masjid sudah kosong. Lalu aku salat.

Tiba-tiba Rasulullah keluar dari kamarnya. Beliau salat dua rakaat. Setelah itu beliau duduk. Aku sengaja melama-lamakan salat dengan harapan beliau pergi dan meninggalkanku. Tiba-tiba beliau bersabda, “Panjangkan saja semaumu wahai Abu Abdillah, aku tidak akan beranjak sampai engkau selesai.”

Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, aku akan minta maaf pada Rasul dan berterus-terang atas apa yang sebenarnya terjadi.” Aku pun mengakhiri salatku.

Baru saja aku selesai salam, Rasul berkata, “Assalamualaikum Abu Abdillah, bagaimana kabarnya ontamu yang lepas itu?”

Akhirnya aku berkata dengan jujur, “Demi Zat yang telah mengutusmu wahai Rasulullah, sebenarnya tidak ada ontaku yang lepas…”.

Baca Juga: Syekh Ali Jumah, Entah Bagaimana Mungkin Aku Tidak Mengaguminya

Mendengar pengakuan jujurku itu beliau tersenyum dan berkata, “Semoga Allah menyayangimu… semoga Allah menyayangimu… semoga Allah menyayangimu…”

Sejak saat itu beliau tidak lagi bertanya padaku tentang onta yang lepas.

صلى الله عليك يا سيدي يا رسول الله يا معلم الناس الخير ورضي الله عن صحابتك الأخيار

☆☆☆

Kisah ini dinukilkan oleh Imam Ibnu al-Jauzi dalam bukunya yang berjudul Akhbar azh-Zhiraf; sebuah kitab yang berisi riwayat dan kisah-kisah jenaka penuh hikmah; buku yang sangat baik dibaca sebagai refreshing setelah membaca kitab-kitab yang ‘berat’.

[YJ]

Canda Bijak Baginda Nabi

About Yendri Junaidi 78 Articles
Alumni Perguruan Thawalib Padangpanjang dan Al Azhar University, Cairo - Egypt

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*