Cara Berniat Puasa Ramadan

Cara Berniat Puasa Ramadan
Ilustrasi/Dok. www.brilio.net

Cara Berniat Puasa Ramadan

Puasa Ramadan merupakan salah satu dari rukun Islam, yang wajib dikerjakan oleh setiap Muslim yang telah baligh, berakal, serta mampu untuk mengerjakannya.

Sebagai salah satu ibadah yang wajib, tentu puasa juga mempunyai rukun dan syarat yang juga menentukan ke-sah-an puasa tersebut. Dalam hal ini, puasa memiliki dua rukun, yaitu niat dan menahan dari segala hal yang dapat membatalkan puasa, seperti makan, minum, jimak, dan muntah dengan sengaja.

Niat termasuk ke dalam kategori rukun puasa. Artinya, puasa tidak akan sah jika tidak ada niat atau niat yang dilakukan salah.

Lantas, bagaimana cara berniat puasa Ramadan? Imam al-Bajury dalam kitab Hasyiah beliau, menjelaskan bahwa niat puasa Ramadan mesti dilakukan setiap hari selama bulan Ramadan. Artinya, niat dilakukan per hari puasa, karena puasa pada masing-masing hari dalam bulan Ramadan adalah ibadah yang berdiri sendiri dan dilakukan berulang setiap harinya.

Berlainan dengan pendapat Imam al-Bajury, bagi Imam Malik, niat puasa Ramadan cukup itu satu kali. Yaitu, niat puasa yang dilakukan di awal Ramadan untuk seluruh puasa di bulan Ramadan.

Baca Juga: Kapan Seharusnya Berniat untuk Puasa

Dimana Tempat Niat?

Niat adalah amalan hati. Artinya, tempat niat yang dipandang oleh syariat adalah hati. Oleh karena itu, niat hukumnya tidak sah jika hanya dilafalkan tanpa dihadirkan di dalam hati.

Niat dengan hati maksudnya adalah seseorang benar-benar menghadirkan hakikat puasa di dalam hatinya. Yaitu, hakikat menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, kemudian bermaksud untuk mewujudkan hal-hal yang dihadirkannya tersebut.

Kendatipun niat perbutan adalah perbuatan hati namun sunah hukumnya dilafalkan niat. Tujuannya adalah agar lafal niat tersebut dapat membantu hati.

Kapan Waktu Berniat Puasa Ramadan?

Niat puasa Ramadan dilaksanakan di malam hari, dalam fikih diistilahkan dengan tabyit. Hal ini berdasarkan kepada hadis Rasulullah SAW:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak mentabyitkan niat (berniat pada malam hari) sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya”.

Dalam hal tabyit ini, tidak disaratkan harus berniat di tengah malam. Akan tetapi, berniat cukup di salah satu waktu di antara terbenam matahari sampai terbit fajar. Berdasarkan hal ini, maka tidak sah hukumnya menyersertakan niat puasa dengan terbit fajar, karena hal itu tidak dinamakan tabyit.

Dalam niat puasa Ramadan yang merupakan puasa fardu, maka wajib untuk men-ta’yin (memperjelas) bahwa yang dikerjakan itu adalah puasa fardu Ramadan.

Baca Juga: Masih Bolehkah Makan Sahur saat Sirene Bunyi?

Niat yang sempurna untuk puasa Ramadan adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لله تَعَالَى

“Aku berniat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardu di bulan Ramadan tahun ini, karena Allah Ta’ala.”

Sedangkan sekurang-kurangnya adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ رَمَضَانَ  atau نَوَيْتُ الصَّوْمَ عَنْ رَمَضَانَ

“Aku berniat puasa Ramadan” atau “Aku berniat puasa di bulan Ramadan”

Lalu bagaimana halnya ketika seseorang lupa berniat di malam hari? Seperti halnya orang yang biasa melakukan niat pada waktu sahur, namun suatu ketika dia ketiduran dan baru bangun pada waktu subuh telah masuk atau malah kesiangan, sehingga dia tidak melakukan niat sebelum subuh. Apakah dia boleh berniat di siang hari dan melanjutkan puasanya? Dan apakah dia tidak dikenakan kewajiban melakukan qadha jika dia tetap melanjutkan puasanya?

Kasus seperti di atas wajar saja terjadi di kalangan kita. Sifat lupa sudah menjadi tabiat bagi kita umat manusia. Dan perlu diingat juga bahwa ibadah puasa Ramadan ini terkesan berbeda dengan aturan ibadah lain yang mensyaratkan niat dilakukan terlebih dahulu dan tidak adanya iqtiran (penyertaan) antara niat dengan awal kita mulai menahan, sehingga hal ini mungkin saja pernah atau akan kita alami nantinya.

Problematik semacam ini justru telah dijawab oleh para Ulama. Diantaranya Imam Nawawi di dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab. Beliau menjelaskan bahwa orang yang lupa berniat puasa di malam hari, maka niat yang dilakukan di siang hari tidaklah sah. Dan pada hari itu, dia tidak terhitung menunaikan ibadah puasa. Dalam artian, dia wajib mengqadha puasa itu setelah Ramadan berakhir. Namun dia tetap wajib menahan sampai tenggelamnya matahari di hari itu, untuk menghormati waktu. Tidak hanya itu, orang yang lupa tersebut juga dianjurkan untuk tetap berniat puasa di siang itu, karena hal ini dinilai sah puasanya menurut Imam Abu Hanifah.[]

Wallahu a‘lam.


Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima sumbangan tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Agam Pratama
Agam Pratama 1 Article
Pendidik di Tarbiyah Islamiyah Canduang

2 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*