Cara Saya Belajar Menjadi Anak Siak (Santri)

Cara Saya Belajar Menjadi Anak Siak
Foto Apria Putra/Dok. Penulis

Menjadi Anak Siak Menjadi Anak Siak Menjadi Anak Siak

Untuk memperingati Hari Santri 2020, diantara hal kecil yang saya lakukan ialah mengenang “untung badan”, mengingati sedikit perjalanan dalam mendatangi guru. Meskipun tidak banyak yang saya teguk dari lautan ilmu itu, saya merasakan betul betapa besar nikmat pemberian Allah kepada badan diri, hingga hari ini.

Untuk mengenang untung badan, sekilas perjalanan hidup itu, saya bacakan kembali nazham (sya’ir bahasa Melayu) yang pernah saya tulis dua tahun yang lalu. Nazham itu berjudul “Nazham Tarikh Guru Penyambung Tali”, yang saya tulis pada 12 Rabi’ul Awwal 1440, bertepatan dengan bulan Maulid Nabi Junjungan Alam.

Sebelumnya saya sedikit bercerita kepada karib sahabat, handai tolan, tentang masa kecil. Saya dilahirkan dalam keluarga “transisi”, transisi antara masa lampau dan masa modern. Ayah saya, meskipun ia pemegang Thariqat Ashaliyah yang kokoh, satu bentuk ajaran tasawuf yang sudah sangat lama sehingga disebut “Kaji Tuo”, di satu sisi, beliau juga seorang yang modern dalam berfikir.

Beliau tidak begitu tertarik dengan dunia pesantren, surau, atau sekolah agama, walaupun ia sangat tradisional/ klasik dalam paham tasawuf. Oleh sebab itu, ketika saya tamat SD, jalur sekolah yang beliau harapkan ialah sekolah umum, dengan harapan menjadi pegawai. Saya maklumi, karena beliau merasakan pahit getir di zaman bergolak dulu. Apalagi tren waktu itu ialah tren menjadi pegawai dengan gaji tetap; duniawi. Kakak dan adik saya disekolahkan di sekolah umum favorit waktu itu, sedangkan saya masuk madrasah negeri, itu pun sebagai bentuk negosiasi atas “kerasnya hati” saya.

Baca Juga: Peringatan Hari Santri di Tobekgodang dan Ziarah ke Makam Syekh Abdul Wahid al-Shalihi

Selepas madrasah tsanawiyah negeri, saya dengan memelas meminta pada beliau untuk masuk pesantren, itu pun tidak terkabul. Sebagai pengobat hati saya, ayah saya itu membawa saya hanya untuk melewati gerbang Pesantren Canduang (MTI Canduang). Sekadar itu saja. Setelah membawa saya melewati gebang Pesantren Canduang, di rumah, ia bercerita hal-hal yang tidak ia suka dari santri-santri yang bersekolah di situ. Dengan maksud, tentu hati saya dapat dijinakkan. Akhirnya, saya dimasukkan ke madrasah aliyah negeri yang saat itu sedang besar-besarnya namanya di Kota Payakumbuh. Itu sebenarnya tidak dapat mengobati.

“Hati keras” memang susah dicairkan. Meskipun bersekolah negeri, saya berguru di luar itu, tanpa dukungan beliau. Setiap minggu malam saya membaca Ajurumiyah, Matan Bina, Jawahir Kalamiyah, dll, dengan Pak Ongah saya. Dan itu sambung bersambung, dengan guru-guru lainnya. Di situ baru terobati, baru terasa yang dicari. Maka, bila pelajaran-pelajaran formal tidak lagi diingati, pelajaran-pelajaran di luar sekolah itulah yang melekat kuat dalam ingatan sampai hari ini. Bahkan, bila bertemu buya-buya sepuh, kerap beliau-beliau bertanya, “Anak tamatan MTI mano?” bahkan tidak jarang, sementara alumni MTI (yang belajar formal), memandang miring kepada saya, sebab saya duduk di tengah ketika mereka berdiskusi; karena bukan tamatan MTI. Mereka tidak tau, bahwa apa yang terucap dan apa yang disurahkan ialah buah dari “keras-nya hati” ingin menjadi Anaksiak di masa kecil dulu.

Kembali kepada ayah saya. Musim berganti, waktu berputar. Bila di tahun-tahun 90-an, orang-orang di kampung saya berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah umum, sekarang tidak lagi, orang-orang sudah mulai menyadari pentingnya agama, bahwa ilmu agama memang satu-satunya jalan untuk hidup bahagia, tidak ada yang lain. Ayahnya mungkin sudah berubah dari keyakinannya itu. Apatah lagi bila saya pulang kampung, tinggal beberapa hari di rumah, saya acap berdiskusi tentang pentingnya pesantren dan ilmu agama untuk hidup di dunia ini; “bahwa dunia tidak hanya ditempuh dengan menjadi pegawai belaka.” Ketika banyak buya-buya, ustadz-ustadz, dan akademisi dari kampus agama datang menyilau saya di kampung, di sana beliau merenungi, bahwa anak keras hati itu bukan lagi orang seperti dulu, dan bahwa memang ilmu agama dan sekolah agama ialah jalan satu-satunya menuju “sa’adah abadiyah”.

Ketika saya mengajar di beberapa pesantren, yaitu Taram, Simalonggang, Padangjopang, dan Tobekgodang, saya katakan pada santri-santri tersebut: “Bersyukur semuanya ini disekolahkan di pesantren oleh orang-orang tua masing-masing, saya tidak pernah memperoleh itu. Bila sekarang semuanya ini belum memahami hakikat mengaji ilmu agama, niscaya kalau usia sudah meninggi, sudah berumur 40 tahun atau 50 tahun, di situ barulah terasa, barulah bersyukur sejadi-jadinya pernah disekolahkan di pesantren. Di saat itu orang-orang sedang meraba-raba jalan agama, jalan untuk pulang. Kalian semua sudah mengetahui jalan itu, tinggal hanya akan menempuhnya saja.”

Baca Juga: Hari Santri, Negara dan Hegemoni Identitas Islam-Tradisional

***

Selamat menikmati pembacaan Nazham, bagi kawan-kawan yang mempunyai minat. Ini adalah konten You Tube saya yang baru setelah berbulan-bulan terbengkalai. Saya menyadari kemudian, bahwa saya memang tidak berbakat menjadi Youtuber. Jangankan untuk bergaya di depan kamera membuat konten kreatif dan menarik, bahkan untuk meminta kawan atau mahasiswa saya memberikan subscribe, saya tidak pandai. Oleh sebab itu subscribernya tidak naik-naik. Tidak masalah. Niat kita kan hanya ingin berbagi.[]
SELAMAT HARI ANAKSIAK (SANTRI) 2020

Mungka, Negeri-nya para auliya’
Kamis/ 22 Oktober 2020

Apria Putra
Apria Putra 93 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*