Cinta Abadi
Ilustrasi @pawel_czerwinski /dok.https://unsplash.com/photos/dy78D4t4cCo

Cinta Abadi

Karya Siti Fatimah

            Lelaki dengan seikat bunga lily itu berdiri di depan sebuah pusaran, gadis di dalam foto pada nisan seakan sedang tersenyum manis padanya. Tangan yang memegang lily terkepal erat, ketika mengenang masa lalu yang kini hanya bisa diukir pada hati terdalam.

            “Andai aku tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir kita bersama, aku akan membuatmu bahagia. Aku akan menuruti semua permintaanmu Demelza. Walau hanya duduk di tepi danau dengan sepotong roti isi. Terdengar konyol memang, tapi pasti akan aku turuti. Walau harus membuang waktu membacaku yang terlalu sering aku banggakan.”

            Kemudian lelaki itu menghela napas, mencoba mengusir rasa sesak yang masih bersarang di dadanya hingga saat ini, entah kapan rasa ini akan hilang. Ia tidak bisa menjawabnya, ia hanya merasa bahwa cahaya yang selama ini menerangi dunianya telah hilang, hanya gelap yang menanti di depan sana.

***

            Perempuan bersurai kuning keemasan dengan bola mata seterang lautan itu makan dengan tenang, di sampingnya berdiri seorang lelaki muda dalam balutan rapi hitam putih khas pelayan. Setelah memakan setengah sarapan di piring, perempuan itu menyapu mulutnya dengan sapu tangan bersulam bunga krisan kemudian ia menatap pelayan yang berada di sampingnya, “Gustav, tolong beri tahu Tuan Wilmer, hari ini aku ingin pergi ke pasar raya.”

            Pelayan itu membungkuk sedikit lalu menjawab, “Baik, Nona Demelza.” Lalu ia melangkah pergi menuju ruang kerja tuannya.

            Demelza juga ikut beranjak pergi dari ruang makan dan melangkah ke taman besar, ia duduk dipinggir danau, sambil menaburkan pakan ikan, “Semoga ini tidak akan lama lagi,” ucapnya sambil menaburkan pakan ikan ke danau. Demelza sangat berharap bahwa dengan pengorbanannya, Eckhart akan mendapatkan jabatan tinggi di kota besar karena untuk menjadi pejabat perlu surat rekomedasi dan untuk itulah ia bertukar permintaan dengan Wilmer yang merupakan seorang pejabat tinggi di kota besar. Mereka bertemu pada perang antar desa di tempat tinggalnya dulu. Saat itu entah dari mana, lelaki itu datang padanya yang tengah bersembunyi menghindari kekacauan perang. Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai pejabat tingkat tinggi di kota besar dan ia menawarkan sebuah kesepakatan, ia akan mengabulkan semua permintaan Demelza, asalkan Demelza berada di sisinya. Lalu Demelza terpikir Eckhart, ia langsung menyetujuinya. Kemudian ikut pergi bersama Wilmer dan tanpa Demelza sadari, ia telah diperdaya Wilmer. Dalang dari perang adalah Wilmer, ia ingin merebut Demelza dengan cara halus, dengan cara memalsukan kematian perempuan itu.

***

            “Nona Demelza, tuan tidak mengizinkan. Namun, jika nona sangat ingin pergi saya bisa membawa nona dengan sembunyi-sembunyi, kepergian kita tidak boleh diketahui oleh siapapun, apalagi Tuan Wilmer.”

            Suara Gustav menyadarkan Demelza dari lamunan tentang masa lalu, “Ya, aku juga sudah menduganya. Tapi, jika aku setuju dengan saranmu, apakah kau akan baik-baik saja?”

            “Saya baik-baik saja nona. Kita akan keluar pukul 11.00 ketika Tuan Wilmer sudah pergi ke dari rumah. Kita beruntung karena hari ini tuan memiliki jadwal pertemuan dengan pejabat tingkat tinggi III di daerah barat, kemungkinan paling cepat tuan akan kembali adalah besok pagi.”

            Mendengar itu Demelza mengangguk dengan antusias, senyum cerah terukir di wajahnya. “Terima kasih Gustav, kau benar-benar orang yang sangat baik.”

            “Sama-sama nona.”

            Pukul 11.00 siang lewat beberapa menit, Gustav mengetuk pintu kamar Demelza, “Nona Demelza, saya Gustav.”

            Terdengar langkah kaki cepat dari dalam kamar dan putaran kunci, lalu pintu terbuka perlahan. “Silakan masuk dulu, aku belum selesai bersiap.”

            Gustav terdiam, ia menatap Demelza lama, “Saya menunggu di luar saja nona, silakan lanjut berkemas.”

            Demelza mengangguk, ia berbalik dan kembali menutup pintu. Gustav menatap pintu kamar intens, seakan matanya bisa menembus pintu kayu tebal itu. Tangannya mulai terkepal erat, senyum miring terbit di sudut bibirnya. Sosok Gustav yang sopan dan ramah tampak berubah seketika, ia seakan berubah menjadi orang lain.

            “Hahaha… sepertinya aku hari ini akan mendapat surat lagi,” tawa Gustav membuat yang mendengarnya pasti akan merinding, senyumnya saja sudah membuat takut apalagi tawanya.

            Kemudian secara tiba-tiba aura Gustav berubah lagi, sekarang tubuhnya seperti memancarkan perasaan lembut. Senyum tulus terukir pada wajahnya, semua pikirannya penuh dengan Demelza serta surat-surat beraroma lily yang memenuhi sebuah kotak kayu khusus di kamarnya. Kotak itu seperti harta karun dan energi bagi Gustav karena tiap hari di waktu luangnya, ia akan membaca surat-surat itu sambil menghirup wangi bunga lily yang menguar samar-samar pada kertas. Kalau teringat bahwa surat itu bukan ditujukan padanya, kadang Gustav merasa sangat marah dan gelisah sehingga ia akan meyakinkan dirinya sendiri lagi bahwa ia bisa menjadi Eckhart untuk Demelza, ia peniru ulung. Gustav bisa meniru segalanya, termasuk masalah sederhana meniru tulisan tangan Eckhart. Dengan itu ia tenang dan kembali menjadi Gustav sang pelayan pribadi.

Baca Juga: Cerita di Bawah Kolong Meja

            Setelah beberapa menit Demelza keluar, ia mengenakan jubah abu bertudung. Lalu berhenti melangkah setelah tiba di depan Gustav, “Apakah aku membuatmu menunggu lama?”

            “Tidak masalah Nona, ayo kita bergegas.” Kemudian mereka segera berangkat menuju pasar raya.

            Ketika sampai di pasar, Demelza tampak asyik menatap susasana pasar yang hiruk-pikuk. Namun, ia tidak lupa tujuannya pergi ke pasar, yaitu untuk membeli kertas dan tinta untuk menulis surat karena persediaaan miliknya sudah hampir habis.

            “Nona, pertama-tama kita akan pergi ke mana?” Mereka berdua menepi sebentar, berdiri di samping kios buah yang tidak terlalu ramai.

            “Langsung ke toko Paman Mark, untuk saat ini aku belum membutuhkan apapun selain kertas dan tinta..”

            “Baik, Nona.”

            Saat tiba di toko, Demelza melepas tudung jubah, ia kepanasan karena hari ini cuacanya sangat cerah. Lagipula pemilik toko sudah akrab dengan mereka, sehingga ia tidak perlu takut ketahuan Tuan Wilmer, kemudian ia langsung saja menuju rak penjualan kertas dan tidak lupa Gustav juga mengikuti di belakangnya. “Wah, ada kertas jenis baru! Kertas beraroma! Hm, apakah ada kertas beraroma lily?” Kemudian ia langsung sibuk mencari jenis kertas beraroma lily yang diinginkannya. Ia tidak menyadari bahwa ada sepasang mata di sudut toko yang menatapnya tanpa berkedip.

            Di sudut toko itu berdiri seorang lelaki bermata abu, ia adalah Eckhart. Eckhart tertegun, ia menatap Demelza intens. Seakan tidak percaya bahwa kekasih tercintanya itu masih hidup. Lama ia tertegun sampai tidak sadar bahwa Demelza sudah selesai berbelanja dan keluar dari toko.

            “Demelza, tunggu!” Eckhart langsung berlari, berusah mengejar Demelza yang sudah masuk kerumunan di pasar. Ia berlari sambil menoleh ke segala arah, memanggil nama Demelza berkali-kali. Namun, tidak ada yang menanggapi dirinya. Kemudian Eckhart mencoba bertanya ke salah satu orang yang berbelanja, “Apakah di kota ini ada orang bernama Demelza? Kalau ada di mana ia tinggal?”

            “Iya, semua orang kenal Nona Demelza. Ia tinggal di rumah terbesar di kota ini, itu adalah-”

            Namun, Eckhart tidak mendengarkan sisa ucapan orang itu. Ia begitu bahagia, ia langsung berlari menuju rumah terbesar itu karena ia sebelumnya sudah melihatnya. Rumah terbesar di kota yang tidak jauh dari pasar raya ini.

            Orang itu menatap kepergian Eckhart cemas, “Itu juga rumah Tuan Wilmer, penguasa kota ini. Semoga kau baik-baik saja ‘nak.”        

***

            Eckhart berhenti di depan pagar rumah besar yang menjulang tinggi, ia menekan bel berkali-kali hingga seorang pelayan bergegas mendekat.

            “Ada apa tuan?”

            “Apakah benar Demelza tinggal di sini?” Eckhart memandang pelayan itu penuh harap.

            “Iya, Nona Demelza memang benar tinggal di sini. Tapi, ini juga rumah Tuan Wilmer karena mereka berdua sudah menikah tiga bulan yang lalu.”

            Mendengar itu tubuh Eckhart menegang dan tanpa pelayan itu sadari, ia berlari masuk ke dalam rumah besar. Mencari Demelza. Eckhart hendak membuktikan kebenaran itu. ketika masuk ia langsung melihat siluet sosok yang sangat  dikenalinya itu. Demelza sedang berada di taman belakang di depan sebuah danau. Lekas saja ia berlari menuju taman belakang. Eckhart sampai di belakang Demelza tanpa suara, ia berdiri sejenak di sana.

            Demelza merasakan kehadiran orang di belakangnya itu, ia mengira itu adalah Wilmer yang pulang lebih awal, “Ada apa Tuan Wilmer?”

            Mendengar itu hati Eckhart berdenyut nyeri, “Demelza…”

            Suara yang begitu akrab itu membuat Demelza menegang, ia berbalik dengan perasaan cemas, “Eckhart?”

            “Kau sudah menikah?”

            “Iya, tapi-”

            Perkataan itu belum selesai tapi kerah baju Demelza sudah ditarik Eckhart dengan keras dan membuatnya langsung berdiri. Eckhart meraih jemari Demelza yang bersemat sebuah cincin perak bertahta berlian ungu yang cantik, ia tertawa dengan ironi, “Kau berbohong padaku Demelza!”

            “Eckhart! Tolong dengar dulu-”

            Namun, Eckhart seakan tuli. Ia tidak mendengar lagi nada memohon yang menyayat hati dari Demelza. Ia sudah dibutakan emosi. Eckhart mencengkram kerah baju Demelza, mengangkatnya tinggi dan menenggelamkannya secara paksa. Demelza diperlakukannya bagai baju kotor yang harus dibersihkan, diangkat dan ditenggelamkan, “Kau kotor Demelza! Kau harus kubersihkan, kau bekas lelaki bajingan penghancur desa kita!”

            Dengan susah payah Demelza berusah mengeluarkan suaranya, untuk menjelaskan kepada Eckhart bahwa ia masih suci, ia tidak pernah berhubungan dengan Wilmer bahkan menyentuh tangannya pun tidak. Mereka hanya tinggal serumah tapi kamar mereka terpisah.

            Namun, keadaan Eckhart tidak bisa melihat betapa menyedihkannya Demelza. Ia masih saja menyiksa Demelza dengan perbuatannya hingga membuat Demelza lemas, tapi perbuatannya itu tidak lama karena suara sebuah desing peluru terdengar dengan keras dan peluru itu mengenai dada Eckhart membuatnya limbung dan terjatuh ke danau. Ia tidak jatuh sendiri, Eckhart jatuh sambil memeluk Demelza dengan erat, mereka berdua tenggelam ke danau yang cukup dalam itu.

            Sementara itu, pelaku penembakan Eckhart berdiri dengan wajah keras, menatap danau. Kemudian seorang pelayan mendekat dengan tubuh gemetar, “Tuan Wilmer… haruskah kita menyelamatkan Nona Demelza?”

Baca Juga: Cinta Hanya Setipis Kulit

            “Biarkan saja, siapapun yang berani terjun ke danau akan dihukum gantung!”

Selesai

Siti Fatimah
Lahir: Banjarmasin, 28 Februari 2000 dari Kalimantan Selatan. Perempuan yang hobi membaca dan mendengarkan musik. Saat ini sebagai mahasiswa di Universitas Lambung Mangkurat dan pada program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sebelumnya bersekolah di SDN Tanjung Pagar 4 Banjarmasin, SMPN 8 Banjarmasin, SMAN 9 Banjarmasin. Motto hidup: Membaca dan pelajari ilmu pengetahuan yang ada sebanyak mungkin dan tak lupa minta temani dengan ahlinya.