Cut Nyak Din, Seorang Perempuan yang Mengajaibkan di Hindia Belanda

Cut Nyak Din, Seorang Perempuan yang Mengajaibkan di Hindia Belanda
Cut Nyak Din setelah ditangkap, diambil dalam posenya yang sedang berdoa (Koleksi Tropenmuseum, 1905)

Oleh: Christopher Reinhart

Perang Aceh (1873–1904) menduduki posisi yang istimewa di dalam sejarah negara kolonial Hindia Belanda dan juga kini di Indonesia.

Konflik dengan Aceh merupakan salah satu dari sedikit konflik berskala besar yang harus dihadapi oleh pemerintah kolonial menjelang masa tenteram pada permulaan abad ke-20. Sebuah faktor penting yang mendorong terciptanya konflik militer yang panjang dan melelahkan bagi Belanda adalah kehadiran pemimpin perang yang keras hati di Aceh. 

Tanpa mengkerdilkan peran dari pahlawan lain yang berjuang di Aceh, Cut Nyak Din (sekitar 1850–1908) tentu merupakan pemimpin perang yang sangat prominen. Din merupakan seorang tokoh yang dikenal luas dan dikagumi oleh masyarakat Indonesia.

Namun demikian, rasa kagum yang dirasakan masyarakat pascakolonial tersebut sesungguhnya juga telah dirasakan dengan kuat oleh musuh-musuh Din. 

Salah satu kenyataan yang membuat para perwira Belanda menaruh hormat pada sosok Din adalah kemampuannya untuk mengalahkan banyak pimpinan perang Belanda dalam kondisinya yang sakit dan serba terbatas.

Keberhasilannya ini kemudian membuat jurnalis Hindia Belanda, C. van der Pol, menjuluki Din sebagai “[…] merkwaardigste vrouwen in Nederland-Indie” yang artinya “perempuan yang mengajaibkan di Hindia Belanda”. 

Ia juga sempat menulis pada tahun 1918 bahwa setelah kematian Teuku Umar (1899), Din ‘bertakhta’ di hutan sebagai “[…] ratu hutan, dan menjalankan kekuasaan dari sana—[sesuatu] yang [bahkan] tiada seorang sultan pun yang dapat melakukan selama dua ratus tahun ini […]”.

Baca Juga: Para Sejarawan di Era Pascakebenaran

Teuku Umar Syahid, Din Muncul sebagai Pimpinan Utama

Berbeda dari kesan sederhana yang kita dapat dari masa akhir hidupnya, Din sesungguhnya merupakan putri dari seorang bangsawan Aceh, administrator kesultanan untuk daerah VI Mukim, Teuku Nanta Cek Setia Raja (meninggal sekitar akhir abad ke-19).

Sumber lokal Aceh menyebutkan bahwa Din telah menunjukkan sifat yang cerdik dan tangkas sejak masa mudanya. Semasa mudanya, Aceh sedang menghadapi ancaman masuknya pengaruh Belanda yang mulai agresif pada dekade 1870. 

Oleh sebab itu, pengetahuannya tentang Belanda terbentuk dan mengkristal sebagai kebencian terhadap masuknya agresor asing yang membahayakan struktur masyarakat Aceh. Hal ini kemudian membuatnya sama sekali tidak simpati terhadap upaya-upaya Belanda.

Namun demikian, kebencian Din terhadap Belanda bukan didasarkan pada keasingan yang melekat pada mereka. 

Kebencian itu lebih didasarkan pada kenyataan bahwa Belanda berusaha meringsek masuk dan membahayakan kemapanan Aceh. Pola hubungan yang berbeda ditunjukkan Din kepada orang-orang Portugis yang sempat bertransaksi dengannya pada masa akhir perang.

Pada hubungan yang terakhir tersebut, Din sama sekali tidak mempermasalahkan aspek ‘orang asing’ yang melekat pada mereka.

Kondisi yang saya sebutkan di atas adalah dasar yang dapat memungkinkan perjuangan Din. Namun, peristiwa penting yang memicu turut campurnya secara langsung putri bangsawan ini dalam perang adalah terbunuhnya suami pertamanya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, pada tanggal 27 Juni 1878. 

Dua tahun setelah peristiwa tersebut, Din mendapat lamaran dari Teuku Umar (1854–99) yang pada saat itu telah menjadi panglima perang yang terkenal.

Pertautan antara alasan awal dan pemicu tadi kemudian membuat Din mengajukan sebuah syarat kepada Umar sebelum dapat menikahinya. Din menyatakan bahwa Umar harus memperbolehkannya untuk turut campur dalam upaya melawan Belanda. Hal ini kemudian disanggupi oleh Teuku Umar. 

Bila kita melakukan pembacaan yang seksama pada dokumen-dokumen Belanda tentang Perang Aceh sepanjang dekade 1880, kita akan melihat bahwa Belanda mengalami banyak kekalahan oleh pasukan Umar. Hal ini sangat menarik bila kita kemudian mengingat kembali bahwa itu adalah dekade yang mengikuti pernikahan Umar dan Din.

Rangkaian dua peristiwa yang tidak berkaitan tersebut baru dapat dipahami hubungannya ketika kita sampai pada masa kritis perang. Setelah mengalami kekalahan yang berulang, Belanda menyadari bahwa dalam setiap aksi yang dilancarkan Umar setelah pernikahannya, Cut Nyak Din selalu menjadi auctor intellectualis atau pemikir strateginya. 

Namun demikian, Belanda pada awalnya berpikir bahwa kunci dari semua penyerangan itu adalah kekuatan militer nyata yang berada di bawah Umar. Oleh sebab itu, Belanda berfokus pada Umar. Kegeraman Belanda bertambah hebat ketika Umar rupanya berkhianat setelah sempat berpura-pura menyerah (1893–96) agar dapat tergabung dalam pasukan Jenderal Karel van der Heijden (1826–1900). 

Pada tanggal 11 Februari 1899, penyerangan pasukan Umar ke Pantai Meulaboh dapat diketahui oleh Belanda dan Umar dapat dibunuh. Jenazah Umar kemudian dapat dibawa kembali ke hadapan Din.

Dalam penceritaan Zainuddin (1966) Din kemudian menyatakan bahwa suaminya telah syahid di jalan Allah. Dengan membunuh Umar, Belanda sesungguhnya telah menciptakan seorang pemimpin perang lain yang akan lebih susah ditaklukkan dan memakan biaya perang yang jauh lebih besar.

Kekuatan Pasukan Cut Nyak Din

Setelah memberikan penghormatan pada jenazah Umar, Din kemudian mengambil alih sisa pasukan dan memimpinnya sendiri untuk angkat senjata melawan Belanda. Tahap perang Aceh setelah 1899 saat Din turut serta secara langsung tersebut adalah tahap yang menghabiskan porsi terbesar kas Hindia Belanda. Biaya yang mahal ini disebabkan oleh banyaknya biaya yang termakan oleh tipu daya pasukan Aceh yang pada titik itu telah masuk ke hutan-hutan. 

Di antara pasukan Aceh yang berperang secara terpencar-pencar, pasukan Din memiliki kekhususan. Din menciptakan siasat agar pasukan dapat bergerak secara mobil. Dengan kata lain, pasukan dapat bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu cepat.

Hal ini dapat disertai dengan jejak atau tanpa jejak dengan tujuan mengecoh pasukan Belanda. Kekhasan pasukan Din tersebut membuat serdadu yang paling berpengalaman sekalipun tidak dapat menangkap mereka. 

Dalam laporan-laporan sersan Belanda, dituliskan bahwa gerak pasukan ini seperti kijang yang sangat cepat. Dalam satu waktu, pasukan dengan sangat piawai membersihkan sisa-sisa permukiman sementara mereka agar tidak dapat diikuti Belanda.

Pasukan Din juga mengirim orang untuk melakukan pengintaian dari tempat tinggi sehingga dapat memberikan sinyal bahaya. Perlawanan Din tersebut pada akhirnya sangat menyusahkan Belanda. 

Pasukan Belanda tidak dapat bermukin dengan tenang di kampung-kampung karena takut akan diserang secara tiba-tiba oleh pasukan Din. Sejak zaman hidupnya Teuku Umar, ketakutan Belanda sesungguhnya sudah ditujukan kepada Din. Di Negeri Belanda, beredar lagu yang berbunyi “[…] aan een touw Teuku Umar en zijn vrouw […]” yang artinya “[…] gantung Teuku Umar dan istrinya […]”. 

Kesuksesan pasukan Din sesungguhnya disebabkan sebagiannya oleh kekuatan surat menyurat di antara para pejuang dan petinggi Aceh. Hal ini menjamin suplai makanan dan kebutuhan lainnya.

Cut Nyak Din: Panglima yang Ditakuti Belanda

Dengan kesuksesan Din untuk menciptakan pasukan yang demikian efektif, munculnya ketakutan para serdadu Belanda adalah hal yang masuk akal. Sekalipun berjumlah sedikit, pasukan Din memiliki moral yang kuat. Menurut H. M. Said (1991), mereka juga merupakan orang-orang yang sangat pandai menggunakan klewang atau pedang. Para pengikut setia Din akan mempertahankan keselamatan pemimpinnya dengan taruhan nyawa. 

Ketika moral pasukan melemah, Din akan membangkitkan moral pendukungnya dengan menceritakan kisah-kisah Perang Sabil (Hikayat Prang Sabi’). Dorongan religius ini membuat moral perlawanan susah padam. Selain itu, dukungan dari penduduk kampung-kampung Aceh sebenarnya lebih menyulitkan Belanda. Pada tahun 1901, Belanda sedang gencar melakukan operasi militer di Aceh bagian barat. Hal ini membuat Din harus berpindah ke Aceh bagian tengah. 

Uniknya, Din diterima dengan baik di lingkungan yang tidak familiar ini. Penduduk yang kebanyakan merupakan orang Gayo sangat bersimpati dan memenuhi segala kebutuhan Din. Kepercayaan rakyat pada Din sesungguhnya adalah faktor paling utama yang ditakuti oleh Belanda. Pada masa modern, tampaknya tidak ada perempuan lain yang dapat mengalahkan lebih banyak tokoh militer daripada Din. 

Dalam pertempuran, Din berhasil memukul mundur J. B. van Heutz (1851–1924; Gubernur Jenderal Hindia Belanda, 1904–09), Gotfried Coenraad Ernst van Daalen (1863–1930), K. van der Maaten, Th. J. Veltman, Hendrikus Colijn (1869–1944), Hans Christoffel (1865–1962), dan banyak lainnya. Selain itu, ia juga telah menghadapi J. L. M. van den Brandhof, Mathes, dan M. J. J. B. H. Campioni tanpa kalah. 

Cut Nyak Din sesungguhnya merupakan salah satu sosok prominen yang menambah panjang masa perang. Din tidak terpengaruh oleh menyerahnya sultan pada Belanda (1903). Setelahnya, Din tetap melancarkan serangan sekalipun tanpa adanya dukungan dan hubungan komunikasi dengan kesultanan. Dengan demikian, menyerahnya Sultan Aceh sesungguhnya tidak banyak mengubah jalan cerita perjuangan Din dan lama Perang Aceh. 

Baca jUga: Abu Tu Muhammad Amin Blang Blahdeh; Ulama Karismatik dan Pemuka Ulama Aceh

Rasa Kagum Musuh-musuh Cut Nyak Din

Ketika Umar masih hidup, Cut Nyak Din sesungguhnya telah menjadi sosok yang menakutkan bagi pemerintah kolonial. Namun, kesan Belanda terhadap Din tampaknya sangat berbeda dari kesan Belanda terhadap Umar. Umar selalu dianggap sebagai pengacau sehingga disebut schurk. Di sisi lain, catatan Belanda justru menyatakan ketakjuban mereka pada sosok Din. 

Kekaguman para perwira pada sosok perempuan pemimpin perang ini mungkin disebabkan oleh tidak adanya tokoh pahlawan perempuan pemimpin perang yang dimiliki Belanda. Belanda tidak seperti Prancis yang memiliki Joan d’Arc (sekitar 1412–31). 

Dengan demikian, kehadiran Din adalah suatu hal yang istimewa dalam sejarah perang Belanda. Rasa kagum ini dibuktikan salah satunya dengan catatan Residen Aceh J. Jongejans yang diterbitkan pada tahun 1939 dengan judul Land en Volk van Atjeh (Negeri dan Orang-orang Aceh). 

Di sini ia menyebutkan bahwa “[…] hanya ia [Din], satu-satunya di antara jajaran para perempuan [yang mampu menakjubkan Belanda] […]”. Jika kita membicarakan perjuangan Din, sesungguhnya bukan permasalahan jenis kelamin yang utama. Banyak perempuan Aceh telah mengangkat senjata melawan Belanda, tetapi Din menjadi istimewa di antara mereka karena sukses mencatatkan kekalahan beruntun dalam sejarah perang Belanda. Hal ini membuatnya dikagumi sekaligus ditakuti oleh banyak perwira Belanda.

Para perwira Belanda yang pernah berperang dengan Din mencatat ketakjuban mereka dalam laporan-laporannya. Di antara mereka, ada seorang perwira bernama Brandhof yang menyatakan bahwa Din bukanlah orang sembarangan. Suatu ketika, pasukan Din pernah bertemu dengan pasukan pimpinan Mathes yang berjumlah kira-kira 451 orang. Berbalik dari dugaan awalnya bahwa pasukan Din akan kalah, mereka rupanya menyerang dengan serangan klewang yang luar biasa. Dalam pertempuran ini, Letnan H. P. de Bruijn meninggal tercincang klewang Aceh. 

Hal ini pada akhirnya meninggalkan kesan mendalam pada Brandhof. Rasa kagum para perwira Belanda sesungguhnya juga muncul dari kenyataan bahwa Din berjuang dengan kondisi yang tidak sehat. Penyakit rabun, encok, dan kondisi hutan yang susah bukanlah pengalaman indah bagi seorang putri bangsawan seperti Din. 

Hal ini pada akhirnya membuat para pengikut Din juga bersimpati. Kondisi Din yang memburuk kemudian memaksa salah satu pengikut terdekatnya, Panglima Laot, meminta bantuan Belanda agar Din dapat disembuhkan. Pada masa itu, ruang gerak pasukan sudah semakin sempit. 

Belanda juga memberikan surat ampunan bagi pejuang yang menyerakan diri. Hal ini membuat beberapa pejuang Aceh dan pengikut Din menyerahkan diri dan kembali ke tempat asal mereka. Dalam kondisi yang demikian, Din sesungguhnya tidak menyerah. Ketika Panglima Laot sempat melontarkan saran untuk menyerah, 

Din menjadi marah dan menyatakan bahwa ia lebih baik meninggal di hutan. Perjuangannya kemudian berakhir ketika Panglima Laot menyerahkannya kepada Belanda dengan tujuan untuk mendapatkan pengobatan pada bulan puasa tahun 1905. Pada perjanjiannya dengan Pang Laot, Belanda harus memenuhi dua syarat agar dapat menangkap Din. 

Pertama, Din harus disembuhkan dan diperlakukan dengan baik sesuai kedudukannya sebagai bangsawan. Kedua, Din tidak boleh dijauhkan dari tanah Aceh. Pada mulanya, Belanda menyanggupi kedua syarat ini. Namun demikian, ketika Din dibawa ke Kutaraja, moral perlawanan masyarakat menjadi meningkat dengan drastis. Hal ini kemudian membuat Din diasingkan ke Sumedang dengan dititipkan kepada Bupati Sumedang hingga kematiannya pada tanggal 6 November 1908.

*Ditulis 6 November 2016 untuk mengingat 108 tahun wafatnya Cut Nyak Din (6 November 1908)

Daftar Sumber dan Bacaan Lanjutan

Alfian, Ibrahim. 1987. Perang di Jalan Allah. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Ibrahim, Muchtaruddin. 1996. Cut Nyak Din. Jakarta: Department of Education and Culture Republic of Indonesia.

Jongejans, J. 1939. Land en Volk van Atjeh. Boorn: Hollandia.

Lulofs, Szekely. 1951. Cut Nyak Din: Kisah Ratu Perang Aceh. Jakarta: Komunitas Bambu.

Pol, C. van der. 1918. “Tjoet Nja Din”. De Gids 82, hlm.  334–353.

Said, H. Mohammad. 1991. Aceh Sepanjang Abad. Medan: Harian Waspada.

Veer, Paul van T’. 1985. Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgonje. Jakarta: Temprint.

Zainuddin, H. M. 1966. Srikandi Atjeh. Medan: Pustaka Iskandar Muda.

Penulis

Christopher Reinhart adalah peneliti bidang sejarah kuno dan sejarah kolonial wilayah Asia Tenggara dan Indonesia. Sejak tahun 2019, menjadi asisten peneliti Prof. Gregor Benton pada School of History, Archaeology, and Religion, Cardiff University. Sejak tahun 2020, menjadi asisten peneliti Prof. Peter Carey.

Christopher Reinhart
Christopher Reinhart 2 Articles
Christopher Reinhart adalah peneliti bidang sejarah kuno dan sejarah kolonial wilayah Asia Tenggara dan Indonesia. Sejak tahun 2019 menjadi asisten peneliti Prof. Gregor Benton pada School of History, Archaeology, and Religion, Cardiff University.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*