Dalil-dalil Lemah Salafi-Wahabi: Ceramah K.H. Muhammad Idrus Ramli di Taeh Baruah, Payakumbuh, Sumbar

Istiqomah dan Berpegang Teguh dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dari K.H. Muhammad Idrus Ramli
Foto Dok. Panitia

Muhammad Idrus Ramli

Oleh: Ilham Arrasulian

Tulisan ini akan menceritakan tabligh akbar dari K.H. Muhammad Idrus Ramli (MIR) dan kawan-kawan. Bagi beliau ini adalah ceramah perdana di tanah Minangkabau. Sang Kiai datang ke Minangkabau ketika siang hari pukul 14.15 tanggal 16 November. Kedatangan beliau ini bertolak dari Tanggerang setelah mengisi kajian subuh pada salah satu masjid di sana.

Kedatangan beliau kami sambut di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Sesampai di BIM dan makan siang bersama kami langsung ke Kab. 50 kota. Memang jadwal pertama K.H. Muhammad Idrus Ramli dkk. pada kali ini akan mengisi kajian di Masjid Arrahim Jorong. Kubu Gadang, Nagari Taeh Baruah, Kec. Payakumbuah, Kab. 50 Kota. Sesuai dengan sebaran spanduk dan pamflet, beliau akan mengisi suatu kajian “Seni Cerdas Mengenali dan Menangkal Ajaran Sesat.” Berikut saripati kajian beliau:

Kiai menyebutkan bahwa umat Islam itu di manapun mereka dalam hidup komunal (bersama-sama) pasti selalu mengajak pada hal kebaikan. Bagaimanapun umat Islam selalu memiliki pribadi amar ma’ruf nahi munkar. Maka ajaran Islam seperti ini dijaga oleh Allah beserta umat-umatnya yang mengamalkan. Apa bentuk dari agama dijaga oleh Allah? Mereka yang mengamalkan itu akan selalu dikuatkan oleh Allah keistikomahannya.

Seperti apakah umat Islam yang selalu dijaga oleh Allah itu? Menurut K.H. Muhammad Idrus Ramli diambil dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Dari Annas Bin Malik RA. Rasullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku atas kesesatan”.

Baca Juga: Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam Keislaman di Minangkabau (Wawancara dengan K.H. Ahmad Ginanjar Sya’ban)

Penjelasan hadis tersebut menurut beliau, apabila umat Islam melakukan sebuah kesepakatan dan mufakat. Maka kesepakatan ini tidak mungkin tersesat karena dipastikan benar dan mengikat kepada seluruh umat Islam. Penjelasan ini menurut K.H. Muhammad Idrus Ramli adalah sebuah konsep dari suatu ijma’ ulama. Maka wajib untuk diikuti. Pada satu contoh selama ini ajaran selain Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) menyebar luas di Nusantara maupun dunia.

Kekhawatiran K.H. Muhammad Idrus Ramli begitu jelas setelah menyampaikan argumennya. Yaitu, bisa menjerumuskan umat keluar dari Aswaja bahkan keluar dari Islam. Banyak aliran selain Aswaja yang berkembang di Indonesia seperti Wahabi dan Salafi. Menurut beliau kedua aliran ini sangatlah berbahaya. Mengapa berbahaya? Karena pada satu sisi mereka melanggar dari ijma’ ulama. Juga pada sisi lain mengaku-ngaku sebagai Aswaja di tengah-tengah umat. Padahal yang mereka akui-akui itu adalah hal yang palsu.  

Apabila umat Islam tidak ber-ijma’, terjadi perbedaan pendapat. Maka apa yang menjadi tolak ukur dari kebenaran? Beliau menjawab dari kutipan sebuah hadis “jikalau engkau melihat terjadinya perbedaan pendapat (ikhtilaf). Maka berpeganglah kepada pendapat golongan mayoritas (masyhur).

Mengapa harus demikian? Menurut K.H. Muhammad Idrus Ramli pada masalah ini adalah masalah aliran beragama Islam. Jika kita mengikut kepada mayoritas berarti bisa dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang istiqamah. Karena, untuk membangun kepercayaan yang luas butuh kesabaran dan istiqamah pada pilihan. Selama ini sesuai dengan Aswaja yang terus berkembang dan bertahan serta umatnya yang beristiqamah. Alhasil, banyak melahirkan sosok ulama di kalangannya. Hingga pada saat ini terbukti mayoritas ulama di dunia adalah sosok-sosok yang memegang teguh Aswaja.

K.H. Muhammad Idrus Ramli adalah sosok yang selalu waspada terhadap gerak-gerik aliran selain Aswaja. Dinilai dari sosoknya beliau disebut sebagai “Singa Aswaja” di Nusantara. Gerakan orang Wahabi contohnya, menurut beliau adalah orang-orang yang selalu mempertanyakan amalan-amalan amaliah orang-orang Aswaja. Hingga selalu dalam setiap kesempatan mengharamkan apa yang orang Aswaja amalkan. Seperti, zikir/sedekah untuk orang meninggal (amalan), akidah Aswaja, dan secara umum selalu mempermasalahkan keilmuan orang-orang Aswaja dalam kajian tauhid dan fikih. 

Baca Jua: Zikir dengan Menggerakkan Kepala

Terakhir, beliau menyampaikan bahwa ajaran Aswaja yang kita terima dari para ulama berasal dari dalil-dalil yang sahih dan kuat. K.H. Muhammad Idrus Ramli bahkan mempertegas jika tidak menemukan dalil apapun di aliran Aswaja berarti seseorang hanya kurang tekun dalam menuntut ilmunya. Mestilah lebih rajin belajar lagi dan selalu kuat untuk istiqamah kepada Ahlus Sunnah wal Jamaah. []

Ilham Arrasulian
Ilham Arrasulian 16 Articles
Mhd Ilham Armi adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tua. Berkuliah di UIN Imam Bonjol Padang, tamatan Ponpes MTI Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Belajar membaca dan menulis untuk menjadi sebaik-baik anak yang baik bagi orang tua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*