Dalilnya Mana?

Dalilnya Mana

Dalilnya Mana?

Oleh: Fakhry Emil Habib

Banyak orang awam, saat membaca kitab-kitab fikih, bergumam, “Kitab apa ini? Pedoman kita adalah al-Qur’an dan sunah, bukan buku ini.”

Tidak paham dia, bahwa kita fikih adalah rangkuman dari intisari al-Qur’an dan sunah, yang disusun sedemikian rupa agar praktis dan ringkas, tinggal dijalankan.

Baca Juga: Hadis Tanpa Fikih, Apa Jadinya?

Tidak paham dia, bahwa kita fikih adalah rangkuman dari intisari al-Qur’an dan sunah, yang disusun sedemikian rupa agar praktis dan ringkas, tinggal dijalankan.

Misalnya dalam masalah ibadah, tata caranya sudah dijelaskan secara sistematis, runut mulai dari syarat, rukun, hal-hal yang membatalkan, sunah-sunah, makhruhat dan sebagainya, yang dalil keseluruhan dalam satu ibadah saja (jika dituliskan) bisa mencapai puluhan, bahkan ratusan.

Tak hanya awam, banyak penuntut ilmu syariat, bahkan mahasiswa Universitas Islam terkemuka pun berpandangan demikian. Terlalu malas mungkin, sehingga ia tidak membaca al-Habir karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqallani, setidaknya Bulughul Maram, apatah lagi Ma’rifatus Sunan Imam Baihaqi.

Awam yang malas membaca sehingga menuduh yang tidak-tidak terhadap kitab fikih ini yang barangkali membuat Dr. Mustafa Dib Al-Bugha membuat syarah yang merangkum dalil bagi kitab Matan Taqrib Wal Ghayah, Karya Qadhi Abu Syuja’. Bukunya ringkas, kecil, mencakup dalil-dalil utama, agar tak ada lagi yang klaim bahwa kitab kuning merupakan tandingan al-Qur’an.

Saya tegaskan: KITAB-KITAB KUNING YANG MERANGKUM ILMU-ILMU SYARIAT ITU DITULIS BERTUJUAN AGAR PEMAKNAAN AL-QUR’AN DAN HADIS TIDAK DISELEWENGKAN. Bukan untuk menjauhkan generasi Islam dari pusaka utama umat. Tanpa pagar dari kitab-kitab ini, umat akan menjalankan dalil hanya berlandaskan pemahaman sempitnya, yang boleh jadi berujung ifrath dan tafrith, terlalu sempit dan terlalu lapang, literal dan liberal.

Maka wajar kalau di pondok pesantren, ustaz itu diukur berdasarkan kemampuannya membaca kitab kuning. Tapi, ya, kalau jadi ustad seleb, kemampuan ini tidak penting. Wajar jika ujung-ujungnya banyak statement aneh berseliweran.

Baca Juga: Dalilnya Apa, Nalar atau Hadis?

Ala kulli hal, ini kitab saya hadiahkan kepada peserta berprestasi pada ujian fikih beberapa hari lalu. Yang tidak punya, saya rekomendasikan untuk membelinya, agar tidak lagi terperangkap ragu dalam beribadah.

Fakhry Emil Habib
Fakhry Emil Habib 6 Articles
Researcher Usul Fikih, Dirasat Ulya, Universitas al-Azhar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*