Dari Ulama-ulama Supayang hingga Syekh Mudo Waly Al-Khalidi

Dari Ulama-ulama Supayang hingga Syekh Mudo Waly Al-Khalidi
Foto Dok. Istimewa

Syekh Mudo Waly Al-Khalidi

Sore ini saya dikunjungi oleh sosok istimewa; mempunyai muru’ah yang nyata, paham yang dalam. Beliau ialah Buya Nuzul Iskandar, MA., dosen IAIN Kerinci, berasal dari Supayang, Tanah Datar. Kebesaran jiwanya amat terasa. Ketika saja beliau menjejakkan kaki di kediaman, jiwanya betul-betul “memakan” jiwa saya. Inilah dzauq, petanda bahwa beliau mempunyai haibah, yang tidak dapat dibuat-buat, bahkan oleh sementara tidak dapat “dipandang” secara lahir.

Kami sudah kenal nama sejak lama. Adalah saya dan beliau satu tingkat ketika kuliah IAIN Padang. Ketika itu hanya berpandang-pandang jauh. Hari ini nyata, bahwa pandang-pandang jauh telah bernatijah menjadi perhubungan ruhani yang kuat. Apa yang membuat kuat? Jawabnya, (1) karena satu “raso”, sama-sama berpaham sebagai akidah dan amal urang surau, (2) jalinan tarekat, satu jalur, kepada al-‘Arif billah Maulana Syaikh Mudo Abdul Qadim Belubus, dan (3) sama-sama mempunyai kegemaran dengan Silek Kumango, namun tentu beliau lebih senior dalam soal ini. Tiga hal ini sungguh mengikat, lebih dari sekadar satu almamater, dan pertalian duniawi lainnya.

Banyak hal yang kami, maksudnya beliau curahkan pada saya. Pertama, mengenai kisah-kisah dan jalinan ilmu ulama-ulama Supayang, dan Tabek Patah secara umum. Kedua, tentang PERTI dan kondisi kekinian, dan tiga, soal petuah-petuah.

Ada satu yang sangat menarik dari apa yang beliau sampaikan, yaitu warih yang dijawek dari yang tua-tua soal kisah Syekh Mudo Wali al-Khalidi di Supayang. Berikut kita ringkaskan:

Kisah Syekh Mudo Waly Al-Khalidi Aceh/ Tuangku Aceh

Alm. Maulana Syaikh Mudo Waly al-Khalidi, ulama besar legendaris di Serambi Makkah, Aceh, ialah putra keturunan dari ulama Minangkabau, yaitu Syekh Muhammad Salim yang berasal dari Batusangkar. Masa muda Syekh Mudo Waly diisi dengan belajar agama secara sungguh-sungguh kepada ulama-ulama di Aceh, hingga mempunyai pengetahuan yang mendalam dan paham yang kokoh. Beliau sempat datang ke Padang untuk menambah ilmu pengetahuan. Di Padang beliau dapat berkenalan dengan Syekh Khatib Ali Padang, dan kemudian diambil menantu oleh syekh tersebut (dari istri beliau ini, lahirlah anak yang kemudian masyhur terkemuka, yaitu Abuya Prof. Dr. Tgk. Muhibuddin Waly) Beliau, Syekh Mudo Waly, juga berkenalan dan mengambil faedah ilmu dari Syekh Jamil Jaho dan Syekh Sulaiman Arrasuli Candung. Oleh Syekh Jaho, Syekh Mudo Waly dinikahkan dengan anaknya, seorang perempuan yang ‘alimah, Syaikhah Ummi Rabi’ah Djamili (dari pasangan ini lahir Abuya H. Mawardi Waly, MA). Di Supayang Syekh Mudo Waly juga dinikahkan dengan seorang perempuan, namun tidak memiliki keturunan. (Sebelumnya kawan-kawan jangan bersangka buruk. Menikah lebih dari satu pada ulama-ulama dulu merupakan suatu kelaziman. Umumnya karena permintaan dari masyarakat, bukan atas kehendak ulama tersebut)

Diceritakan bahwa Syekh Mudo Waly sering memberi pengajian di Supayang, di kampung istri beliau. Kata orang tua-tua, bahwa hal yang sangat berkesan dari sosok Syekh Mudo Waly, selain ilmu, ialah sifat lurus yang dimiliki beliau. Kejadian, ketika selesai pengajian, Syekh Mudo Waly disodorkan uang oleh jama’ah. Kata jama’ah: “Iko pitih untuak boli rokok Buya” (Ini uang untuk beli rokok). Jawab Syaikh Mudo Waly: “Ambo Indak marokok”. Uang tersebut beliau tolak, karena memang beliau tidak merokok. Pada kesempatan pengajian lainnya, seusai pengajian, Syekh Mudo Waly juga disodorkan sejumlah uang oleh jama’ah, namun dengan kalimat berbeda: “Iko pitih untuak ongkos Buya” (Ini uang untuk ongkos, Buya). Syekh Mudo Waly menerima uang tersebut. Anehnya, ketika menompang bendi/ kenderaan dan sampai ditempat kediaman, Syekh Mudo Waly memberikan uang tadi semuanya kepada kusir/ pengendara. Kusir/ pengendara tadi terkejut karena uang itu cukup banyak, dan bayaran kenderaan tidak sebanyak itu. Kusir/ pengendera bertanya kepada Syekh Mudo Waly kenapa uang ongkos yang diberikan banyak melebihi ongkos. Syekh Mudo Waly menjelaskan bahwa tadi jama’ah menitipkan uang itu semua untuk ongkos, jadi uang itu diberikan semua untuk kusir/ sopir. Luar biasa.

Setelah mendengar kisahnya, saya berujar, sangat layak Syekh Mudo Waly menjadi syaikhul masyaikh ulama di Aceh; sikap dan keteguhan prinsip yang kokoh. Rahimahullah…. wa-nafa’ana bi-ulumihi wa-madadihi.

********

Cukup lama kami bercerita sore ini. Sebelum beliau balik pulang ke Supayang, kami saling bermaafan. Mungkin saja di masa lalu ada kesalahan/ atau hal-hal yang tidak terletak pada tempatnya, ketika sedang masa-masa kuliah dulu. “ketika darah muda”, begitu Buya Nuzul mengistilahkan. Tanganpun berjabat… Allah

20 Agustus 2020

Apria Putra
Apria Putra 87 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*