Dedy Mardiansyah; Membersamain Pancasila dengan Indentitas Organisasi yang Kompleks

Dedy Mardiansyah; Membersamain Pancasila dengan Indentitas Organisasi yang Kompleks
Ilustrasi Dok. https://www.minews.id/

Pancasila Pancasila Pancasila Pancasila Pancasila Pancasila Pancasila Pancasila

Adalah prinsip menghayati (menyadari hayat atau hidup). Sebagai jatah yang dengan segala keterbatasan diri atau lingkungan membuat kita perlu berhubungan secara baik dengan diri dan lingkungan yang lain (semesta). Keselarasan hidup dan kehidupan, seperti petuah Mbah KH. Dewantara, adalah penanda akan hidupnya kesadaran itu. Karena keterbatasan diri dan lingkungan kita itulah kita sadar akan pentingnya keberadaan orang dan lingkungan lain. Sebagai dunia atau semesta (realitas) yang lebih luas dari yang kita hadapi. Sebab, lewat kuasa Allah semata, hidup atau eksisnya dunia lain menjadi pembentuk paling penting bagi dunia yang kita hidupi. Begitu pun sebaliknya.

Seperti saya. Terlahir dari keluarga besar Ayahanda yang menjadi bagian perjuangan Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Rejang Lebong. Mendiang Ayah, selain pernah bertugas menghidupkan tape di Masjid Jamik Curup, juga cukup lama mengabdi sebagai Sekretaris Cabang Tarbiyah Rejang Lebong. Sejak Datuk M. Adil, Buya Arsyad, Pak Darussamin, Datuk Haris Fadhilah, hingga kemudian Ayah sendiri yang didaulat sebagai Ketua. Datuk Haris, Ayah, Buya Arsyad dan Pak Darussamin adalah memang tokoh yang paling berperan dalam mendirikan Yayasan Tarbiyah Rejang Lebong pada tahun 1989. Mengiringi pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) yang tak bertahan lama.

Sementara yang membina Ayah dan kawan-kawan seperjuangannya itu adalah Abuya H. Ramli Burhany, kakek saya, bersama sesepuh Tarbiyah Rejang Lebong lainnya, kala itu. Dari ayahlah, saya terdorong belajar lebih mandiri di salah satu organisasi kemasyarakatan keagamaan Islam tradisional dari Sumatera ini. Organisasi asal Minangkabau yang, pada masanya, amat masyhur berperan di Provinsi Bengkulu lewat geliat sejarah Masjid Jamik Curup. Ki Zaidin Burhany, kakaknya kakek saya, adalah yang menjadi salah satu orang pertama di Kota Curup yang belajar dengan Syekh Sulaiman Arrasuli Inyiak Canduang. Beliau lalu mendirikan Tarbiyah-Perti di Provinsi Bengkulu bersama Abuya KH. Awwaluddin dan Abuya KH. Adnan Ilyas dibantu Abuya KH. Abdul Muthallib Nuh dan para tokoh yang lain.

Baca Juga: MTI dan Masjid Jamik Curup

Saya juga terlahir dari rahim Ibunda yang keluarga besarnya bagian perjuangan Persyarikatan Muhammadiyah di Provinsi Bengkulu. Bahkan, kakak sepupu ibu saya, Hj. Suwarni, pernah mengemban tugas sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Provinsi Bengkulu. Sementara suaminya, Drs. H. Ahmad Zakaria Umar, tokoh yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Bengkulu. Kedua sosok ini muncul lewat H. Muhammad Sulaiman, tokoh Muhammadiyah Bengkulu yang kemudian mengembangkan Muhammadiyah di Kotabumi, Lampung. Angku Sulaiman, kami menyebutnya, adalah adik Angku Muhammad Husin, ayah ibu saya.

Lalu, karena memilih lanjut studi ke Pondok Pesantren Arrahmah, Saya mulai belajar kesadaran model Nahdlatul Ulama. Pembelajaran guru-guru utama dari Darunnajah Jakarta, yang saya dan kawan-kawan dapatkan, mengikuti kurikulum Gontor yang lengkap dengan buku percetakan Trimurti-nya. Namun amaliyah Kami tak berubah dari apa yang telah saya pelajari dari rumah, utamanya dari Masjid Jamik Curup. Hanya saat itu saya mulai mengenal perbedaan Tarbiyah (Perti), NU dan Muhammadiyah. Pertemuan dengan senior guru utama kami di Arrahmah, Tuanku Sidi Maliki, menjadi satu momentum hijrah yang saya alami. Betapa tidak, sosok ini sebelumnya saya kenal sebagai “Lelek” tukang bakso yang mangkal di dekat lokasi SD Negeri 05 Curup. Tempat dimana sebelumnya saya belajar pagi hari. Sementara sekolah sore saya di MI Tarbiyah Islamiyah Pasar Baru Curup. Tak jarang pula Sang Lelek mangkal di depan KUA Curup, salah satu tempat yang ayah sering mengajak saya. Terkadang sang Lelek saya temui lagi mendorong gerobaknya di salah satu titik jalan di Kota Curup. Lha, Lelek ini, lalu saya temui di Arrahmah tengah berdiri di atas kebun yang kalau tak salah waktu itu ditanami kacang tanah. Lengkap dengan seragam dinas kebunnya, tangki semprot dan Capil pak tani. Bahkan sempat terjadi dialog di antara kami. “Kerja di sini juga, Lek?”, tanyaku. “Ya”, jawabnya tanpa merasa beban.

Nah, dengan wajah tanpa merasa berdosa pula, Lelek ini masuk begitu saja ke kelas mami yang waktu itu pertemuan pertama pelajaran Aqoid. Lagi, dengan gerakan yang jelas, Sang Lelek memegang kitab pelajaran yang isinya tulisan Arab melulu itu sembari berjalan ke depan kami. Dengan lugas pula Lelek ini membuka kitab sekaligus membuka kelas dengan bahasa Arab. Saya yang awalnya menduga pasti si Lelek hanya mau menyampaikan informasi kalau guru pelajaran itu berhalangan dan ia ditugaskan untuk menyampaikan izinnya, sontak menjadi terperangah. Menganga! Ya, betapa kesadaran saya yang dari keluarga besar pegawai negeri ini begitu tergugah. Tertampar!! Ya, melalui sosok Kiai Malikilah, saya dapat belajar dan lebih mengenal tradisi luhur jamiyah Nahdlatul Ulama di Provinsi Sumatera Selatan. Tentunya lewat Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja. Pesantren yang didirikan oleh kakak kelas Kiai Maliki di Pondok Pesantren Subulussalam Sriwangi, KH. Affandi, BA, yang kini Rais Syuriah PWNU Sumsel. Lewat NH inilah saya belajar untuk tidak ekstrim. Belajar untuk terbuka dan bersikap santai dalam hidup. Termasuk santai dan berdamai dengan sejarah.

Momentum pembelajaran di NH ini juga momentum emas bagi saya. Sebab, selain belajar di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK), saya dan kawan-kawan sekelas bertemu langsung dengan kiai-kiai utama NH yang juga tokoh-tokoh elite NU Sumsel. Pelajaran MAK yang khusus dan para guru yang kiai-kiai elite NU itu mengarahkan bagaimana kemampuan pengendalian personal dan sosial dapat berkembang. Ditambah lagi reformasi yang bergulir di negeri tercinta ini. Yang tentu saja menguji langsung kemampuan yang telah kami pelajari. Mulai dari identitas kader Ulil Albab, kesadaran juang khalifah, nilai-nilai demokrasi, dan, yang paling utama, orientasi “khidmatul ummah”. Masa transisi demokrasi negeri ini juga diiringi oleh ledakan mobilitas santri. Terutama fenomena lulusan pesantren atau santri NU yang kuliah di perguruan tinggi. Sebuah momentum yang memungkinkan saya menjadi terakses dengan pemikiran dan gerakan KH. Abdurrahman Wahid. Tentu saja melalui PMII, organisasi mahasiswa yang konsisten dengan metodologi Aswaja atau Sunni Syafi’i. Yang memungkinkan saya nyaman berproses mengembangkan diri tanpa harus mengorbankan kekayaan tradisi yang saya sadari. Meskipun harus dengan melewati proses menjungkir balikkan diri sendiri.

Proses menggerakkan tradisi Sunni Syafi’i melalui PMII lewat pembelajaran tentang Gus Dur yang saya hayati itu memunculkan sebuah kesadaran belajar menjadi Gus Dur itu sendiri. Yang secara praktis memunculkan kebanggaan tersendiri sebagai ABG (Anak Buah Gus Dur).

Jangankan dengan keluarga saya yang Tarbiyah atau Muhammadiyah yang terpapar seragam birokrasi pegawai negeri. Dengan dulur-dulur dari NH yang saya ajak ke Curup dan kemudian mengabdi di Masjid Jamik Curup saja, terkait identitas ABG tadi, kami masih berdebat. Bahkan sering sekali. Ya, meskipun kami dari pesantren dan guru-guru yang sama, tidak serta merta membuat respons kami sama pula sebagai ABG kala itu. Tapi, meskipun berbeda, Kami tetap bisa makan dalam piring yang sama. Sebagaimana tradisi yang telah Kami rasakan sejak di NH. Ya, memang benar, perbedaan itu justru kekayaan yang semestinya membuat kita semakin rukun, dewasa dan sentosa.

Saya sendiri, terus terang lagi, juga sempat heran dengan kepribadian kita. Bangsa berkecakapan keragaman yang kaya. Yang dapat terakses dengan dua atau lebih dimensi dunia pada saat yang sama. Contoh saja dalam dunia bahasa. Kita cakap dengan bahasa daerah ibu kita dengan tidak menutup kemungkinan kita untuk cakap juga berbahasa asal daerah ayah kita yang beda. Sementara kita lahir dan besar dengan bahasa daerah domisili ibu dan ayah kita yang bukan tempat asal mereka. Lalu kita belajar di sekolah yang selain mempertahankan bahasa daerah masyarakatnya, juga mempergunakan bahasa Indonesia. Ini saja, setidaknya, telah memaparkan kecakapan keragaman yang kita punya.

Pun seperti yang saya alami. Satu sisi, karena jodoh, saya wajib mengabdi di NH dan berdomisili di OKU Timur. Lalu, karena lahir di Rejang Lebong, penting bagi saya juga untuk tidak menolak menerima tugas mengurus Tarbiyah. Tak jarang pula, saya juga perlu bekerjasama dengan keluarga di Bengkulu yang terkait langkah perjuangan Persyarikatan Muhammadiyah. Dan, menjaga kesadaran berlingkungan dalam salah satunya tanpa harus mencela yang lainnya, justru semakin menguatkan satu sama lainnya. Hal itu justru membuat kita semakin matang dan dewasa sebagai manusia. Tentu, kunci selarasnya, adalah memahami pakem masing-masing sisi. Sebab, seberapapun terpapar perbedaan di antara kita, sejatinya kita berasal dari banyak persamaan. Minimal, sama-sama ciptaan Tuhan.

Baca Juga: Tarbiyah-Perti Rejang Lebong Seminarkan Moderasi Adat dan Syarak

Saudara, saya ungkapkan perasaan ini hanya untuk memamerkan nilai luhur yang kita punya. Bukan untuk pamer diri, sama sekali. Sebab, saya sendiri hanyalah sahaya yang koplak semata. Yang tentu teramat banyak kurangnya plus koplaknya. Kalaulah saya dapat waras, itu lewat kuasa Allah semata, yang karena izin-Nya, muncul di antaranya dengan dorongan keberadaan orang atau lingkungan lain. Semata di sini adalah paparan keramatnya Pancasila. Keluhuran kita semua warga Negara Indonesia. Begitulah kesadaran Pancasilais, menurut saya, mungkin semestinya. Sebab, kita bukanlah sesiapa. Hanyalah penerus cerita dan pengamin doa-doa para pejuang pengemban Nusantara. Yang keramat terbesarnya adalah Pancasila. Ya Allah, hanya bagi-Mulah puja dan puji dari kami semua. Hanya kepada-Mu jualah Kami menyembah dan mengajukan proposal bagi segala bantuan. Kepada semua pendahulu kita semua, doa terbaik dan al-Fatihah….

#salampancasila

D.M.S. Harby
About D.M.S. Harby 17 Articles
Tulisan diolah dari berbagai sumber. Penulis adalah alumni Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyah Islamiyah (MITI) Pasar Baru Curup, MTs. Pondok Pesantren Arrahmah Air Meles Atas Curup, MAK Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja OKU Timur dan Kepala Sekolah Dasar Tarbiyah Islamiyah (SDTI) Curup 2015-2017. Kini Ketua Ikatan Alumni PPNH Sukaraja, Ketua PC Tarbiyah-Perti RL dan Ketua Pembina Yayasan Tarbiyah Rejang Lebong (YTRL).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*