Dua Sajak Riki Dhamparan Putra

Asyura dan 1 Muharram Dua Sajak Riki Dhamparan Putra
Lukisan “The Evening of Ashura” oleh Mahmoud Farshchian (1976)

Dua Sajak Riki Dhamparan Putra

1 Muharam Di Masjid Agung Kasepuhan

Aku tak sedang ziarah di sini
Karena bagiku engkau tak mati
Walau sejuta tanda kabung
terus digantung di pintu makam
dan masjid para wali

Bersama mereka yang membaca salawat
Aku datang untuk mengobati hati
Agar dadaku tidak pecah
Dan sayap-sayap tidak jatuh
hanya karena patah

Lirih sukmaku menghiba
Di antara orang-orang yang melepas lelah
aku masuki gerbang ampunan
dan rahmatMu yang tak ada tara

Subhanaka
Semoga lidah kayuku tak kaku
menghitung tiang-tiang jati yang tua
melupakan sejenak
wangi teh poci dan hangat nasi jamblang
di luar sana
di emperan yang sesak
di keramaian mana aku selalu merindu
sebentang lapang
jalan setapak

Sebegitu saja aku
Berlutut bagai debu
di hamparan mana airmata adalah sajadah
dan keringat hanyalah sisa ikhtiar
yang harus kalah

Aku orang kesejuta
dari setiap kafilah yang pernah datang
ingin telanjang
di bilikMu

Cirebon, Februari 2006

Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua I

Sajak-Sajak Zelfeni Wimra 2

Kanji Asyura

/1/
Nasi telah menjadi bubur
Itulah sebabnya kita menangis
Maka tabuhlah si gendang tasa
Buanglah pedang
Kirimkan salam
kepada mawar yang terkubur
bersama lumpur
di lalaga

Mawar yang sentosa
Darah Husain yang semerbak di dalam wangi
seluruh bunga

Hari ini Asyura
Hari ini kita bergembira mengarak tabut
ke jalan raya
Menghoyaknya di pasir
Mengembalikannya pada kesucian air

Kalau badanmu luka karena terlecut
duri pandan
Kalau nafasmu sesak terbungkus sengak
bau kemenyan
Itulah saat yang baik memejam mata
Lirih pinta biar terdengar
Pucat wajah biar bersinar
karena menahan
haus dan lapar

Jangan takut
Janganlah gentar
Rasa perih bagaikan nikmat yang tersamar

Maka tabuhlah si gendang tasa
Buanglah pedang
Senduklah bubur yang mengepul hangat
di ujung petang

/2/
Bubur yang gurih
Pulut merah dan pulut putih
Gula kelapa telah dituang
Sebatang pisang
mengulur tunas di tanah lapang
Aku bertanya tentang warna bendera
Darimanakah kapas
Darimanakah benangnya?

Ketika itu Perlak dan Pasai
masih sesunyi kuil – kuil
Sekawanan burung enggang datang
Orang – orang di gerbang Samudera
menyongsongnya
dengan sebuah tarian kandil

Dulang pun ditatah
Sedah sirih berlapis gambir
Mengikat lidah dengan lidah

“Kepada sayap yang letih
dan tubuh garam yang lusuh
Gerangan apakah yang membawa tuan – tuan
datang dari negeri yang sangat jauh?

Kami tiada mempunyai emas di sini
Tidak pula sesuatu yang berharga
Terumbu telah punah
Minyak damar dan kapur barus
sudah lama tidak ada”
berkata Ninik yang bijak sambil
mengetuk gagang tongkatnya

Bubunnya mendadak ringan
Tempat duduknya yang tinggi mendadak lenyap
dari pandangan

Tapi kawanan burung enggang itu
Lebih mengerti jalan cahaya
mereka memasuki tiang
dan mendapatkan Ninik bersembunyi
di dalamnya

“Salamum alaikum
Mengapa sejauh itu, wahai tuan
Kembalilah ke tempat semula
Di sini ruh dan tubuh begitu indah
bermadah
Di dalam sujud tidak terjatuh
Di dalam hati harus merendah

Mengapa membuang madah
Mengapa menghapus rupa
Antara hamba dengan Khalik
ada batas yang nyata
Di situlah Muhammad
menyimpan Nur Ilahinya
Di situ pula rahmat
Tercurah buat seluruh
alam semesta

Maaflah jika kami tersasar kemari
Kami tak membawa pedang
dan sebilah pun senjata tajam
Tidak pula kami bermaksud mengambil emas
memeras damar
di tambang tuan

Namun jika dibuka palang pintu
Inginlah kami berehat barang sejenak
di tikar pandan
tubuh yang payah biar berbaring
haus yang panjang sudah rindu bertemu air”

Itulah mula cerita
Sekawanan enggang datang dari seberang
Bilik yang sempit mendadak lapang

Lapang selapang-lapangnya hati
Luas selajang kuda berlari

Maka duduklah bersama – sama
Kenangkan Ninik
Kenangkan kandil dan kupu – kupu
yang mengurung diri di senyap bilik

Selembar tingkap telah dibuka
Esa hilang
Dua dibilang sesudahnya

/3/
Selat Melaka yang megah
Bandar – bandar dipenuhi kapal yang singgah
untuk mencari rempah – rempah
Meriam dipapah
Dayung – dayung dikayuh
dengan tangan lemah
orang – orang terjajah

Sebagian armada mungkin ke timur
untuk mengambil pala
Sebagiannya ke barat
untuk mengambil emas dan kapur barus

Sebagiannya tertinggal
di lembah dan ngalau ngalau
Menjarit sedih dari sobekan – sobekan kitab
yang tercecer di pinggiran
pulau pulau

Orang – orang itu
Entah bagaimana mereka bisa
menemukan ibu kita
di antara kuil – kuil runtuh
di pulau perca
Entah bagaimana mereka bisa
berhelat dan menikah
Selagi penghulu dan ninik mamak
dipenjara di loji – loji bangsa Eropa

Entah bagaimana pula kelak keturunanmu, penyairku
Di pelamin kita tak ada pohon sawo yang rindang
tak ada kandis dan gelugur
tak ada asam si riang – riang

Bila aku memelukmu dalam tidurku
Bila aku membelaimu dari helai rambutku
Yang kubelai selalu hanyalah kesunyianku sendiri
Ketika antara aku dan bantal menyatu
bagaikan mayat di peti mati

/4/
Mungkin poyangku rata semua semata
di dalam sukma yang tak mengenal darah
Mungkin di dalam ruh sajak – sajakku
ada pohon pinang yang tumbuh
tanpa mengenal
warna tanah

Tetapi angin mana yang tega menyemainya
hingga ia tumbuh begitu sengsara
Tangan siapa yang tega mengupas kulitnya
di panas terik

di lereng – lereng tandus Bukit Barisan
sajakku mengelunsang merindukan riak air tasik

/5/
Nasi telah menjadi bubur
Itulah sebabnya aku menangis

Maret 2008

Kosa kata :

*gendang tasa adalah gendang yang dipergunakan saat ritual menghoyak Tabut. Jumlahnya dua belas.

*Lalaga, peti kayu dalam tabut yang melambangkan kubur Imam Husain

*Pulut merah dan pulut putih, beras ketan yang warnanya merah dan putih.

*Perlak, Pasai, dan Samudera kerajaan Islam pertama di Aceh

*Enggang, burung enggang. Tapi dalam hikayat dan tambo alam Aceh dan Minangkabau merupakan perlambang dari ninik yang datang ke pulau Perca dari seberang.

*poyangku rata semua semata, diambil dari baris sajak Amir Hamzah berjudul Doa Poyangku.

Puisi-puisi ini diambil dari kumpulan puisi Mencari Kubur Baridin (Akar Indonesia, 2014)  atas izin penyair dan penerbit untuk merayakan  Bulan Muharam/Tahun Baru Hijriyah 1442.

Riki Dhamparan Putra
Riki Dhamparan Putra 6 Articles
Riki Dhamparan Putra, lahir di Kajai, Talamau, Pasaman, 1 Juli 1975. Proses kreatifnya bermula di kampung keluarga besarnya, Lumpo, IV Jurai, Pesisir Selatan, dengan mendirikan Sanggar Seni Welidtra, antara lain bersama Raudal Tanjung Banua. Kelak, Riki dan Raudal merantau ke Bali, bergabung dengan Sanggar Minum Kopi dan berguru pada penyair Umbu Landu Paranggi. Buku Riki adalah Percakapan Lilin (puisi, 2004), Mencari Kubur Baridin (puisi, 2014) dan Suaka-Suaka Kearifan (esei, 2019). Sekarang ia tinggal di Jakarta.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*