Dua Saksi Perjalanan Hidup Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim

Dua Saksi Perjalanan Hidup Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim
Foto Dokumen Penulis

Syekh Mudo Abdul Qadim

Mengunjungi ulama ataupun zuriat daripada ulama tersebut merupakan hobi saya sejak dari dulunya. Mungkin hari-hari ini, saya dipenuhi hal itu. Entah kenapa saya merasa sangat senang melihat zuriat dari pada ulama-ulama terdahulu apalagi bisa melihat ulama tersebut. Jikapun saya tak berjumpa tapi dengan mengoleksi foto dan barang-barang peninggalan merekapun ada semacam himmah yang luar biasa yang saya rasakan.

Alhamdulillah bebera hari yang lalu bersama beberapa pemuda surau, saya bisa bersilaturahmi ke kediaman Ibu Hajjah Khadijah, yang merupakan anak kandung dari Maulana Syekh Mudo, dan alhamdulillah beliau dalam keadaan sehat. Beliau banyak bercerita. Beliau menyampaikan, bagaimana kasih sayang ayahanda kepada beliau: “Syekh Mudo itu adil. Jikapun beliau memiliki anak yang banyak tapi tak ada perlakuan khusus, semuanya sama”.

Di tengah-tengah perbincangan dengan Ibu Khadijah, beliu berkata dalam bahasa Minang “Ciek ambo anak Baliau Balubuih nan tingga sambil mengarahkan tangan beliau ke dadanya”. Artinya beliau berkata bahwasannya hanya seorang beliaulah anak Baliau Balubuih (Syekh Mudo Abdul Qadim ) yang masih hidup. Seketika sesudah beliau menyamapaikan hal itu saya agak tersedih. Kenapa tidak? Karena saya masih bisa berkesempatan berjumpa dengan seorang darah keturunan Syekh Mudo Abdul Qadim yang satu-satunya tertinggal.

Dan selang beberapa hari setelah itu saya berkunjung dan menjalin silaturahmi ke kediaman Ibu Asma yang merupakan sanak sepesukuan Syekh Mudo Abdul Qadim. Ibu Asma sendiri semenjak dari kecil sudah berdiam di surau ini dikarenakan Ibu Asma merupakan anak yatim. Beliau sangat patuh terhadap Syekh Mudo Abdul Qadim.

Banyak hal yang menarik yang sebelumnya saya tidak tahu  pada akhirnya tahu. Menurut keterangan Ibu Asma, Syekh Mudo Abdul Qadim itu memiliki yang sebenarnya banyak orang yang tak tahu yaitu beliau bermana โ€œNabiyullahโ€, sedangkan Ibu Syekh Mudo bernama Tuo Godang Lamin (Mak Kuek ), dan ayah beliau bernama Abdul Qadim dan dipanggil sehari hari dengan nama Abdullah. Saya rasa ini masih agak asing untuk beberapa orang karena orang mengenal beliau dengan nama asli Beliau yakni Syekh Mudo Abdul Qadim.

Banyak cerita yang beliau sampaikan, diantaranya; permasalahan adab. Menurut beliau sangat jauh perbedaannya dari zaman dahulu hingga zaman sekarang. Beliau mengutarakan dulu orang bercerebut (berebut) untuk bersalaman dengan Syekh Mudo. Ketika Syekh Mudo makan dan makanan itu tak habis oleh beliau, orang-orang akan bercerebut (berebut) untuk mengambilnya. Pernah suatu waktu muntah Syekh Mudo pun bercerebut (diperebutkan) orang hendak membersihkan dan tak jarang ada yang memakannya juga ini mungkin agak keliru di pemikiran orang dangkal, namun begitulah yang sebenar adab.

Syekh Abdul Qodir al-Jaelani pernah berkata: “Aku lebih menghargai orang yang beradab daripada orang yang berilmu, jika hanya berilmu Iblis pun lebih tunggi ilmunya daripada manusia”.

Ada juga pernyataan seorang al-faqir yang sangat-sangat mengingatkan kita semua, bagaimana bunyinya? “Jangan hanya sibuk menumpuk ijazah sampai lupa belajar adab”.

Baca Juga: Kebesaran dan Tuah โ€œBaliau Balubuihโ€

Dan lanjut kembali kepada kisah-kisah ke khasyafan dan ke aliman Syekh Mudo. Ibu Asma juga mengatakan pernah disuatu ketika ada sekitaran 4 atau 6 orang pemuda yang merupakan murid Syekh Mudo dalam hal Silek Kumango ketika itu hampir memasuki waktu latihan silek. Syekh Mudo yang ketika itu berada di dalam surau sedang duduk namun dengan kekhasyafannya beliau tahu anak-anak yang hendak belajar silek tersebut sedang memanjat mengambil jambu yang posisi pohon jambu tersebut di dekat kolam yang berada di samping makam Syekh Mudo saat ini, (orang yang pernah beziarah ke Belubus pasti tahu pohon jambu yang saya maksud tersebut). Beliau menyuruh Ibu Asma memanggilkan anak-anak tersebut untuk segera ke masuk ke surau.

Ibu Asma pun melaksanakan perintah dari Syekh Mudo dan anak-anak tersebut, berlarian ke surau karena tahu dipanggil guru dan ketika memasuki surau anak-anak tersebut mencium kaki dan menyentuh kaki Syekh Mudo Abdul Qadim namun beliau menepukkan tangannya ke arah tangan anak-anak tersebut, dan seketika anak-anak itu sadar bahwa mereka melakukan kesalahan. Tak lama sesudah itu, latiahanpun dimulai di dalam surau. Syekh Mudo menyuruh murid-muridnya untuk mengajari anak-anak tersebut dan beliau duduk memerhatikan dengan seksama diantara murid Syekh Mudo yang dimaksud ialah Syekh Habib Ongku Rancak, Syekh Mukhtar Angku Tanjuang, Syekh Abdul Aziz ( Angku Mudo Asy).

Dan adalah satu info yang saya dapatkan mengenai kitab-kitab, buku-buku peninggalan Syekh Mudo Abdul Qadim bahwasannya banyak berada di Sungai Janiah Kec.Baso.

๐’๐ž๐ฆ๐จ๐ ๐š ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ง ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐›๐ž๐ซ๐œ๐ž๐ซ๐ข๐ญ๐š ๐ค๐ข๐ฌ๐š๐ก ๐ญ๐ž๐ง๐ญ๐š๐ง๐  ๐†๐ฎ๐ซ๐ฎ ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ญ๐ž๐ซ๐๐š๐ก๐ฎ๐ฅ๐ฎ ๐š๐ญ๐š๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ง ๐ญ๐ž๐ง๐ญ๐š๐ง๐  ๐ค๐ž๐ค๐š๐ซ๐จ๐ฆ๐š๐ก๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š! ๐’๐ž๐ฆ๐š๐ค๐ข๐ง ๐ฆ๐ž๐ง๐ข๐ง๐ ๐ค๐š๐ญ ๐ฉ๐ฎ๐ฅ๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ญ๐š๐ญ๐š ๐ค๐ซ๐š๐ฆ๐š ๐๐š๐ง ๐š๐๐š๐› ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฆ๐ž๐ง๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ฅ ๐ข๐ฅ๐ฆ๐ฎ!
๐€๐ฆ๐ข๐ข๐ง ๐€๐ฅ๐ฅ๐š๐ก๐ฎ๐ฆ๐ฆ๐š ๐€๐ฆ๐ข๐ข๐ง

Ditulis oleh : Habibur Rahman

Habibur Rahman
About Habibur Rahman 7 Articles
Pecinta ulama dari Ranah Minang

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*