Dua Ulama Jambi Menyarahi Kitab at Tuhfah al Saniyyah Karya Syekh Hasan al-Masyath (w. 1399 H)

Dua Ulama Jambi Menyarahi Kitab At Tuhfah al Saniyyah Karya Syekh Hasan al-Masyath (w. 1399 H)
Foto Kitab At-Tuhfah al-Saniyyah Karya Syekh Hasan al-Masyath (w. 1399 H) /Dok. Penulis

Kitab at Tuhfah al Saniyyah ditulis oleh Syekh Hasan al-Masyath pengajar di Masjidil Haram dan Madrasah Saulatiyah, Makkah pada tahun 1346 H. Kitab ini berisi tentang ilmu Faraidh.

Adapun ulama Jambi yang menyarahi kitab ini adalah Syekh Abu Bakar Syarifuddin mudir ke-3 Pondok Pesantren Sa’adatuddarein, Tahtul Yaman, Pelayangan, Jambi.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab “Natsr al-Jawahir wa al-Durar fi Ulama al-Qarn ar-Rabi’ ‘Asyar” karya Yusuf bin Abdurrahman al-Mar’asyli dan kitab “al-Jawahir al-Tsaminah” karya Syekh Hasan al-Masyath, bahwa muridnya ini telah menyarahi kitabnya at-Tuhfah al-Saniyyah dalam bentuk nadzam dan kitab tersebut diberi judul “At-Tuhfah al-Mardiyah”. Kitab ini diberi taqrizh (endorsement) oleh ulama Makkah, yaitu Syekh Muhammad Jamal al-Maliki, Syekh Muhammad Ali al-Maliki, Sayyid Hasan bin Abdurrahman al-Musawa dan Syekh Ahmad Badruddin an-Nuri.

Baca Juga: KH. Ishak Tanjung Tanah Kerinci dan kitab al-Qamus al-Muhith

Berikutnya Kitab at Tuhfah al Saniyyah karya Syekh Hasan al-Masyath disyarahi oleh Kiai Muhammad Yahya Teluk Nilau, Jambi dan kitab tersebut diberi judul “Buku Qoidah Faraidh”. Ditulis menggunakan aksara Arab-Melayu. Beliau merupakan alumni Madrasah Nurul Iman, Seberang Kota Jambi.

Kitab ini saya dapatkan langsung dari penulisnya saat sowan dikediamannya. Selain itu beliau telah menulis beberapa kitab lainnya. Seperti Cabang Iman, Bayar Fidyah Shalat wa Syiam, Buku Badan Amil, Ghoslatul Mayit wa Kafan, Luqtoh al-Masail Mayit. Semuanya ditulis menggunakan aksara Arab-Melayu.

Sementara itu kitab kitab at-Tuhfatus al-Saniyyah, juga disyarahi oleh murid Syekh Hasan al-Masyath lainnya. Seperti Syekh Zainuddin bin Abdul Madjid (w. 1418 H) dan diberi judul “al-Nahdhah al-Zainiyyah”, kemudian beliau syarahkan lagi dan diberi judul “at-Tuhfah al-Ampananiyah”, Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa (w. 1354 H) dengan judul “an-Nafhatu al-Tsaniyah”, Syekh Zakariya Bila (w. 1413 H) “al-Azhar al-Wardiyah”, Syekh Abdul Fattah Rawa (w. 1424 H) “ad-Durar al-Lu’lu’ah”.

Baca Juga: KH. Ahmad Idris bin Usman, Sungai Ulak Bangko (w. 1991 M)

****

Saat mempelajari ilmu faraidh kita sering mendengar hadis Nabi yang semacam ini:

تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوهَا، فَإِنَّهُ نِصْفُ الْعِلْمِ وَهُوَ يُنْسَى، وَهُوَ أَوَّلُ شَيْءٍ يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتِي

“Pelajarilah ilmu faraid serta ajarkanlah kepada orang lain, karena sesungguhnya, ilmu faraid setengahnya ilmu; ia akan dilupakan, dan ia adalah ilmu pertama yang akan diangkat dari umatku”.

Waallahu ‘Alam

Jambi, 13 Juni 2021
Al-Haqir Muhammad Azro’i

Muhammad Al-Adzro'iy
About Muhammad Al-Adzro'iy 14 Articles
Seorang santri yang ernah belajar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang Jatim

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan