Fenomena Hijrah, Pengharaman Musik, dan Dampaknya bagi Ekonomi Kelas Menengah ke Bawah

Fenomena Hijrah, Pengharaman Musik, dan Dampaknya bagi Ekonomi Kelas Menengah ke Bawah
Ilustasi Dok. https://banjarmasin.tribunnews.com/

Pengharaman Musik

Munculnya gerakan salafi (wahabi) terinspirasi dari ghirah mengembalikan Islam ke zaman dahulu kala, atau generasi unggul yang disebut salafus saleh. Penyebutan salaf menurut tokoh Ulama Salafi Arab Saudi, Syekh Abdullah bin Hamid Al-Athari merujuk kepada generasi sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in yang diklaim sebagai pengikut/pengamal sunnah terbaik lantaran menjauhi perkara bid’ah.

Semangat mengembalikan kemurnian ajaran Islam sesuai teks ‘asli’ al-Qur’an dan Hadis ini tampak cukup jelas jika menyaksikan fenomena hijrah yang melanda sejumlah kalangan artis dan seniman. Seperti contoh Uki eks Noah, ramai menjadi perbincangan publik.

Dalam sebuah video podcast, Uki tampil necis beraksesoriskan janggut dan jambang mengitari dagu, plus pakaian cingkrang khas sekte salafi (wahabi). Menarik menyimak tuturan seniman yang ‘kembali beriman’ itu menceritakan perjalanannya selama menjadi musisi; larut dengan dunia gelap, hitam, penuh kekelaman. Cukup inspiratif.

Baca Juga: Hijrah dari Musik?

Namun sayang, diluar kapasitas layaknya ‘orang baru lahir’, Uki sudah berani mengeluarkan fatwa-fatwa aneh bin tak masuk akal, misalnya pengharaman musik secara general dan menyarankan agar seluruh industri musik di tanah air ditutup!

Pelarangan ini seakan bersifat mutlak, tak digambarkan sebagai perkara furu’ (cabang) dalam agama, mengacu pandangan boss besar kelompok Salafi-Wahabi, yakni tak lain adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab (abad 17-18), Syekh bin Baz (1990), dilanjutkan Syekh Al-Albani (1991).

Tak tanggung-tanggung, Kang Uki mengatakan dengan lugas bahwa bermusik merupakan ajang bemaksiat. Sarat puritanisme dan tekstualis, meski pada akhirnya standar ganda juga, sebab di negara tempat ajaran ini berasal (Saudi Arabia), lagu nasional mereka telantun indah diiramai genderang ragam alat musik.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dampak Fatwa Sepihak Uki terhadap masyarakat awam, terutama ekonomi kelas menengah ke bawah?

Pengamen jalanan, pekerja musik kondangan, pemain orkes, pengiring pengantin, dll? Jangankan bermimpi jadi musisi berkelas nasional seperti Uki, untuk dapat makan sehari-hari saja melalui petikan gitar dan gesekan biola, mereka sudah amat bersyukur. Apa iya mereka harus ikutan hijrah juga ke sekte Salafi-Wahabi lalu bermetamorfosis menjadi agen pengharaman-pembid’ahan-pensyirikan yang sama seperti Uki?

Puritanisme alias sikap kaku dalam beragama agaknya menambah derita negara ke depan. Selain menghambat kemajuan ekonomi, model mabuk agama sejurus mempermudah agenda penjajahan ke tanah air. Untuk itu kita perlu mengetahui secara mendalam, apa sebetulnya Nation Interest Negara Arab Saudi terhadap Indonesia?

Baca Juga: Salafi-Wahabi Tidak Memiliki Obat Penyakit Hati (Kajian K.H. Ma’ruf Khozin di Tanjuang Pati, 50 Kota)

Sekiranya perlu ditinjau ulang masuknya salafi-wahabi ke negeri tercinta ini, serta bantuan-bantuan yang mereka berikan untuk anak bangsa.

Jika penjajahan dalam bentuk kapitalisme global, maka akan mudah menunjuk Amerika Serikat sebagai dalangnya. Jika kita dengan mudah menyebut Indonesia dijajah komunis, tak menemui kesulitan menunjuk Tiongkok. Akan tetapi bagaimana dengan narasi, “Indonesia Dijajah Arab Saudi?” tentu memerlukan pendekatan dan pemahaman yang luas, serta amat penting dilakukan semua pihak agar tak ada lagi Uki-Uki lain yang terpapar paham puritan-intoleran seperti ini. #peace

About Rony Ramadhan Putra 3 Articles
Staf Pengajar di Institut Agama Islam Sultan Safiuddin Sambas, Kalimatan Barat

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*