Saat ini situs judi slot online deposit dana adalah salah satu permainan yang sangat di minati di Indonesia.

Pertama sekali bila anda ingin merasakan mudahkan memperoleh uang dari nwmedicaltraininggroup tentus aja anda sangat di sarankan untuk bermain pada permainan kakek ya gengs.

Foto Momen ketika Mendirikan Kubah Makam Syekh Sa’ad al-Khalidi Mungka

Foto Momen ketika Mendirikan Kubah Makam Syekh Sa'ad al-Khalidi Mungka
Foto Momen ketika Mendirikan Kubah Makam Syekh Sa'ad al-Khalidi Mungka di dalamnya tampak Syekh Djamil Sa'adi dan Syekh Ahmad Tobiang Pulai

Inilah foto yang memperlihatkan momen ketika mendirikan kubah makam Syekh Sa’ad Al-Khalidi Mungka. Di dalam foto ini tampak Syekh Djamil Sa’adi yang mengenakan sorban dan memakai jas hitam seorang ulama besar di Mingkabau. Di sebelah Syekh Djamil Sa’adi, terlihat yang mengenakan jubah putih, serta mengenakan sorban beliau adalah Syekh Ahmad Tobiang Pulai. Dua ulama ternama di pedalaman Minangkabau yang tampak di dalam sebuah foto.

Syekh Ahmad Tobiang Pulai yang akrab disapa “Baliau Tobiang Pulai”. Itulah sebuah panggilan ta’zhim yang disematkan masyarakat kepadanya.

Menurut Buya Apria, “Baliau Tobiang Pulai” salah satu ulama yang menjadikan Limapuluh Kota menjadi salah satu sentral keilmuan Islam terpenting di Minangkabau dengan lembaga pendidikan yang beliau asuh, Surau Tobiang Pulai. kesurau inilah anak-anak siak berdatangan dari berbagai daerah untuk mengaji ilmu agama kehadapannya.

Sekilas tentang Syekh Syekh Sa’ad Al-Khalidi Mungka

Syekh Sa’ad ini merupakan guru besar Tarekat Naqsyabandiah Khalidiyah pada masanya, beliau lahir pada tahun 1857 dan wafat pada tahun 1920. Panggilan ta’zim dari masyarakat kepada beliau ialah “Baliau Surau Baru”. Semasa hidup, beliau pernah lama bermukim dan belajar di Makkah. Di antara guru beliau di kota suci adalah Syekh Muhamad Sulaiman Hasbullah Al-Makki (w1912), Syekh Nawawi Banten (w. 1897), dan Syekh Ahmad Pattani (w. 1908) .

Syekh Sa’ad Mungka merupakan satu thabaqat dengan ulama-ulama Jawa-Madura yang menjadi mahaguru para pendiri Nahdlatul Ulama (NU), seperti Syekh Mahfuzh Termas (w. 1920), Syekh Khalil Bangkalan (w. 1925), Syekh Ahmad Muhtarom Banyumas (w. 1927), Syekh Mukhtar Atharid Bogor (w. 1930) dan lain-lain.

Semasa hidup Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, waktu sepulangnya dari Makkah, sempat berguru pula kepada Syekh Sa’ad Mungka. Bahkan beliau juga mengajak anak beliau yakni Syekh Sirajuddin Abbas untuk belajar kepada Syekh Sa’ad ini.

Untuk dapat diketahui pula, Syekh Siraujuddin Abbas atau Buya Sirajd adalah pendekar Ahlussnah wal Jamaah dengan buku beliau yang terkenal “40 masalah Agama”. Tidak hanya itu juga terkenal pula seorang organisatoris ulung dengan oragnisasinya yang bernama Perti.

Habibur Rahman
Pecinta ulama dari Ranah Minang