Saat ini situs judi slot online deposit dana adalah salah satu permainan yang sangat di minati di Indonesia.

Pertama sekali bila anda ingin merasakan mudahkan memperoleh uang dari nwmedicaltraininggroup tentus aja anda sangat di sarankan untuk bermain pada permainan kakek ya gengs.

Genealogi Makam Keramat Pantai Barat: dari Makam Sultan Indrapura, Bundo Kanduang, hingga Makam Barus dan Makam Hamzah Fansuri

Genealogi Makam Keramat Pantai Barat: dari Makam Sultan Indrapura, Bundo Kanduang, hingga Makam Barus dan Makam Hamzah Fansuri
Foto Dok. Penulis

Sebelumnya Baca: Menulis dari Kampung (10) Genealogi Makam Keramat Pantai Barat

Oleh: Raudal Tanjung Banua

Saya ingin melanjutkan tulisan tentang Genealogi Makam Keramat Pantai Barat . Minggu lalu saya membicarakan fenomena ziarah masyarakat Bandar Sepuluh ke makam-makam keramat yang disebut tampat, yang keberadaannya kadang anonim tapi tetap setia didatangi dan dirawat. Di sisi lain, sedikit ke utara, tepatnya di Bayang, terdapat makam tua para ulama yang disebut gobah, semacam makam bercungkup menyerupai kubah. Tradisi ziarah yang tak “segayeng” di Jawa, membuat kunjungan ke gobah lebih banyak untuk kepentingan lain di luar ziarah, seperti penelitian dan pendokumentasian. Di luar itu, kesan terlantar tak terhindarkan.

Makam keramat memang memiliki daya tarik spiritual, meski dengan itu tidak lantas mudah mengenali sejarahnya. Keramat sendiri berasal dari Bahasa Arab, karamah dan jamaknya karamat, artinya “keajaiban”. Di Indonesia kata ini menunjuk bukan hanya wali-wali atau makam, juga benda dan tempat. Dengan kata lain, terdapat kesinambungan antara makam-makam wali di satu pihak dan tempat-tempat keramat lainnya yang tidak berkaitan dengan sosok manusia (C. Guillot dan H. Chambert-Loir, 2007: 338).

Kesinambungan inilah agaknya yang memancarkan aura spiritual jika bukan mistis. Malahan karena dominannya daya tarik spiritual, kadang membuat orang tidak mempersoalkan silsilah atau sanad sosok yang makamnya diziarahi. Aura spiritual tidak jarang diperoleh dari situasi yang terkondisikan melalui cerita lisan, jika tak boleh disebut sugesti. Kondisi ini bagaimana pun berguna membentuk sikap hormat dan takzim dalam tata cara ziarah yang benar, terlebih jika itu memang berada di makam dan tempat yang tepat.

Tentu saja yang dimaksud tempat yang tepat adalah makam jelas genealoginya seperti sejarah, silsilah dan asal-usulnya. Tapi jangankan di tempat yang tidak terlalu kental tradisi ziarahnya, di tempat yang ziarah sudah kuat pun, identifikasi makam kadang belum sempurna dilakukan. Di Jembrana, Bali, misalnya, terdapat sejumlah makam keramat peninggalan leluhur masyarakat diaspora Loloan. Mulai makam Buyut Lebai, Makam Syarif Tua, Encik Yakub, KH Ahmad Al Hadi dan lebih “kontemporer” adalah Makam Habib Ali Bafaqih yang termasuk salah satu makam “Wali Pitu” yang belakangan ramai diziarahi.

Tapi ada sebuah makam keramat di kompleks mihrab Masjid Baitul Qodim—masjid tertua di Loloan—yang namanya masih sebatas gelar, yakni Moyang Khotib. Beda dengan Buyut Lebai yang nama aslinya adalah Syekh Sirajudin asal Serawak dan Syarif Tua nama asli Habib Abdullah bin Yahya Al Qadri asal Pontianak. Asal-usul Moyang Khatib juga terkesan belum tetap. Ada yang menyebut ia berasal dari Minangkabau, tapi ada yang menyebut ia ulama asal Palembang.

Di Pulau Poeteran, Talango, Madura ada makam Syekh Yusuf yang notabene di Makassar juga ada makam bernama sama. Masih di Madura ada pula makam tersembunyi yang diketahui melalui mimpi, yakni Asta Buju’ Pananongan di Pasongsongan, Sumenep. Dalam ilmu akademik kepurbakalaan boleh jadi ini irasional. Tapi memang begitulah yang terjadi. Diawali mimpi seorang nelayan bernama M. Syafi’i di mana ia didatangi seorang lelaki tua mengabarkan bahwa di gumuk pasir belakang rumahnya (di Madura disebut “pasir hamil”) terdapat barisan nisan. Maka menggalilah Imam Syafe’i, bersama saudara anak menantu, sengaja mereka lakukan setiap malam untuk menghindari bisik-bisik orang dusun. Tepat tanggal cantik 09-09-1999, benarlah ditemukan deretan nisan yang diidentifikasi oleh pihak terkait kemudian sebagai makam Nyai Ummu Nanti , Nyai Sarmi, Syekh Al’Arif Abu Said dan Kyai Al-Hajj Abdul Karim.

Ada sejumlah fenomena lain yang menempatkan makam keramat dalam pusaran kekuatan tradisi tutur atau lisan, lebih bersifat tersirat daripada tersurat. Namun di atas semua itu, kelisanan yang melingkupi sejarah sebuah makam keramat bukan alasan untuk menganggapnya ahistoris. Sebab masyarakat yang merawat dan menziarahinya tidak berangkat dari semacam “ruang kosong”. Minimal ada petunjuk turun-temurun yang menandai sebuah makam itu milik seseorang yang istimewa pada masanya.   

***

Begitulah, bila kita menggeser pusat pembicaraan sedikit ke selatan Bandar Sepuluh, maka kita akan bertemu kompleks makam Kesultanan Indrapura, yang dalam konteks kajian C. Guillot dan H. Chambert-Loir bisa dikategorikan sebagai makam tokoh-tokoh historis (2007: 342). Artinya, ini jenis makam yang sudah tercatat dan tidak bermasalah lagi dengan kelebut asal-usul, silsilah dan semacamnya. Makam Kesultanan Indrapura terletak di sebidang lahan di Muarasakai, tidak jauh dari kompleks bekas istana sultan  yang sudah lebih dulu roboh, hanya menyisakan fondasi dan tangga batu yang besar. Tak jauh dari kompleks makam, sedang dirintis pembangunan istana baru, yang lebih menyerupai replika, baik karena lokasi maupun ukurannya yang kecil.

Sesuai namanya, di kompleks makam tersebut dimakamkan para sultan yang pernah memerintah Indrapura. Seorang di antaranya Sultan Usmansyah gelar Gagar Alamsyah atau yang lebih terkenal dengan sebutan Tuanku Berdarah Putih. Ia tercatat sebagai sultan Indrapura kedelapan, 1560-1640. Di kompleks makam ini terdapat 12 makam lainnya yang disebut sebagai makam para pengawal sultan (Bandasapuluah.com, 10 Maret 2020). Tidak banyak yang dapat saya ketahui dari kompleks makam ini, kecuali tempatnya yang bersemak, menunjukkan bahwa tak banyak mendapat kunjungan-kunjungan rutin dari peziarah.

Lebih ke selatan lagi, kita akan berjumpa makam tua fenomenal namun sebenarnya berada dalam tarik-ulur historis dan mitologis. Itulah makam Bundo Kanduang beserta keluarga besarnya (Dang Tuanku, Puti Bungsu dan juga Cindur Mato), di kompleks rumah gadang Mandeh Rubiah, Lunang. Keberadaan makam ini, sekalian dengan keberadaan rumah gadang itu sendiri, pernah menjadi perdebatan panjang tentang asal-usul dan sejarahnya di kalangan budayawan dan sejarawan Sumatera Barat.

Sebagian percaya situs itu berasal dari Bundo Kanduang yang melarikan diri dari pusat kekuasaannya di Pagaruyung, konon menghindari serangan balasan Tiang Bungkuk. Sebagian masih mempertanyakannya. Perdebatan itu tidak dapat kita sebut tuntas, karena memang tak ada kesimpulan sampai kini. Namun, selain badan purbakala menancapkan plang nama sebagai legitimasi yang resmi, masyarakat pun tak terbendung berbondong-bondong berziarah, baik perorangan maupun rombongan seperti dalam bulan Zulhijah—itu cukup kuat sebagai legitimasi kolektif.

Bergeser ke utara, melewati Bayang, kita akan sampai di makam paling ramai diziarahi, yakni makam mursyid tarekat Syattariyah, Syekh Burhanudin di Ulakan. Menurut C. Guillot dan Chambert-Loir, di Jawa, tarekat-tarekat hampir tidak berperan dalam hal pendirian dan pengelolaan dan praktik ziarah. Memang ada makam syekh dari tarekat tertentu menjadi pusat ziarah, namun itu tidak dikhususkan untuk para pengikut suatu tarekat tertentu. Makam Sunan Gunung Jati misalnya, yang dibaiat dalam tarekat Naqsabandiyah, Syattariyah dan Syadziliyah, namun yang berziarah ke makamnya bukan hanya pengikut tarekat-tarekat tersebut (2007: 343).

 Untuk peziarah yang tidak dibatasi aliran-aliran tarekat, juga berlaku di makam Syekh Burhanuddin, mursyid tarekat Syattariyah itu. Akan tetapi, jika di Jawa disebutkan tarekat-tarekat hampir tak berperan dalam tradisi ziarah, maka di Ulakan saya lihat sebaliknya. Tarekat Syattariyahlah yang mentradisikan ziarah ke makam sang guru, yang terkenal dengan tradisi basafa, dan lama-lama diikuti masyarakat dari golongan mana pun.

Sementara bagi pengikut tarekat Syattariayah berziarah dianggap bagian dari mata rantai keguruan, yang dikenal dengan niat dan sebutan “manjalang guru”, sebagian besar masyarakat non-tarekat atau pengikut tarekat lain, punya motivasi untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada sosok yang telah memperkenalkan Islam ke Minangkabau. Bagaimana pun, tradisi, aturan, jadwal bahkan protokol ziarah tetap diatur oleh penganut tarekat Syattariyah. Jadi, besarnya jumlah peziarah ke makam Syekh Burhanuddin (yang disebut Chambert sebagai yang terbesar di pantai barat bersama makam Syekh Abdurauf), adalah efek membaurnya dua jurusan, sebut saja jurusan keguruan dan jurusan syukur-nikmat.

Namun bukan berarti makam keramat yang tidak terikat oleh aliran tarekat tertentu terjamin lebih ramai. Contohnya makam ulama besar di Natal, Syekh Abdul Fatah. Makam ini justru sepi peziarah. Sebaliknya, makam guru tarekat juga tidak selalu ramai didatangi jamaahnya, sebagaimana gobah Syekh Buyung Mudo di Bayang. Mungkin karena unsur keguruan tarekat itu tak terkelola dengan baik sehingga kurang membuat para murid memasang niat “menjalang guru”. Di sisi lain, tradisi tutur yang menjadi kiblat referensial masyarakat setempat tidak berkembang sehingga kurang memikat minat pengunjung umum.

***

Sekarang saya ingin mengenang kembali pengalaman berziarah ke makam-makam tua di wilayah Barus, sebuah tempat bersejarah di pantai barat Sumatera bagian utara. Cukup banyak penelitian tentang Barus, meski untuk ukuran nama Barus yang begitu penting, penelitian yang ada masih jauh dari cukup. Tahun 2017 pemerintah menetapkan Barus sebagai Titik Nol Peradaban Islam Nusantara yang diresmikan Presiden Joko Widodo. Tapi toh, keberadaan makam masih belum sepenuhnya dapat diidentifikasi.

Artinya, bagi tempat dan nama yang sudah sangat familier dalam sejarah pun, sebagaimana kompleks makam tua Barus, masih terkesan setengah misterius. Setidaknya, itu saya rasakan dari pengalaman berziarah ke sana, termasuk dalam upaya mencari makam Syekh Hamzah Fansuri yang keberadaannya lebih misterius lagi.

Leksikon kerajaan dan kota-kota tua di Nusantara niscaya tidak meluputkan Barus atau Fansur. Menurut Claude Guillot dalam bukunya Lobu Tua, Sejarah Awal Barus (2002) Barus sudah lama dikenal dalam kronik-kronik tua Mesir, Syria, Arab, Yunani, Armenia, Cina, Tamil, Jawa, Melayu dan pelbagai bahasa Eropa dalam periode yang lebih kemudian.

Abdul Hadi WM dalam disertasinya, Tasawuf yang Tertindas Kajian Hermeunetik terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri (2001) mencuplik setidaknya tiga penulis asing yang menerakan Barus dalam karyanya. Sulayman ibn Ahmad al-Mahri dari Arab, pada tahun 1511 menyebut bahwa sampai kurun awal abad ke-16, Barus merupakan tujuan utama pelaut-pelaut Arab, Parsi dan India. Sejarawan Turki, Sidi Ali Syalabi pada tahun 1554 dalam perlawatannya ke Barus mencatat bahwa kota itu merupakan bandar perniagaan yang penting dan ramai. Begitu pula musafir Portugis, Tome Pires, pada awal abad ke-16 melaporkan bahwa di Barus, barang-barang niaga amat banyak melebihi di tempat lain dan semua pedagang berkumpul di sini (2001: 136).

Ya, sejarah dan eksistensi Barus merentang sejak abad ke-6 M, hingga pada masa munculnya kerajaan-kerajaan Nusantara sekitar abad 11-17 M, mencakup pula periode kolonial sejak bangsa Portugis dan Belanda mencapai Sumatera.

Barus dikenal luas berkat kapurnya yang disebut kamper.  Kapur ini berasal dari getah pohon kamper yang berguna untuk pengawet dan bumbu selayaknya rempah. Sebuah catatan kuno di Mesir menyebut bahwa selain untuk pengawet mumi, ternyata makanan para pembesar Mesir juga dibumbui kamper. Karena mutu kamper dari Barus sangat bagus, maka lama-kelamaan kamper lebih dikenal sebagai kapur barus!

Kini, sebagaimana Indrapura, Bandar Sepuluh, Ulakan, Tiku, Air Bangis dan Natal, Barus hanyalah satu titik kampung di Kecamatan Andam Dewi, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Dulu, kawasannya dikenal sebagai Barus Raya yang sangat luas di pantai barat Sumatera. Mulai Manduamas di utara, bahkan Singkil dan Subulussalam yang sekarang masuk Aceh; Sorkam dan Kolang di selatan; Pakkat, Parlilitan, Tara Bintang dan Onan Ganjang di timur yang sekarang masuk Kabupaten Humbang Husundutan. Daerah-daerah tersebut sudah menjadi kecamatan bahkan kota sendiri. Di bagian barat, Barus berbatasan dengan Samudera Indonesia yang berabad silam merupakan jalur pelayaran ramai.

Ziarah pertama saya adalah Makam Papan Tinggi di Pananggahan. Sebagaimana namanya, makam ini berada di atas bukit yang tinggi. Untuk mencapainya, kita harus menempuh seribu anak tangga. Panorama dari tangga luar biasa indahnya. Sawah berpetak-petak, rumah-rumah kelabu, dan tentu saja Samudera Indonesia yang biru. Sementara di latar belakang, deretan Bukit Barisan bagai dinding alam yang kokoh. Dari bukit dan hutan raya inilah dulu kapur barus diturunkan, bersama damar, rotan dan gaharu.

Di kompleks makam Papan Tinggi terdapat 6 makam, namun yang menarik perhatian adalah makam utama, konon milik Syekh Mahmud yang berasal dari Hardramaut, Yaman, ulama yang berkiprah tahun 34-44 hijriyah atau masa umat Islam dipimpin khalifah Umar bin Khattab. Panjang makamnya 6 meter dan lebarnya 2 meter. Nisannya setinggi 1,5 meter terdiri dari batu granit putih berukir aksara Arab. Butuh keahlian khusus membacanya, karena beraksara Arab pegon yang tanpa harakat. Para ahli juga belum sepakat pada hasil pembacaan mereka sehingga sampai saat ini masih mengganjal sejumlah pertanyaan, misal, kenapa ukuran makamnya panjang sekali?

Menurut cerita, dahulu kala puncak bukit inilah daratan tanah Barus, selebihnya lautan. Saya membayangkan Sangiran di Sragen tempat manusia purba homo erectus dan Gunung Kidul yang dulu juga disinyalir lautan. Ini terlihat dari bukit-bukitnya yang menyerupai karang dasar laut. Di dalam cerita rakyat Barus, dikenal adanya serangan gergasi, semacam raksasa yang menyapu habis kehidupan Barus kuno. Ada yang menafsirkan gergasi itu serangan bangsa asing, namun ada pula yang menganggap naiknya air laut yang kita kenal sekarang sebagai tsunami.

Saya melanjutkan perjalanan ke Kompleks Makam Mahligai di Aek Daka. Kompleks Makam Mahligai, di mana pemerintah membangun tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara. Tempat ini tercatat sebagai situs cagar budaya sejarah tertua di Indonesia, yang menjadi bukti masuknya Islam dalam abad ke-6 masehi.

Kompleks makam sangat luas, menghampar di atas bukit kecil yang berkontur agak landai. Tercatat 45 makam berada di dalam kompleks ini, baik berkelompok maupun yang tersebar. Jarak antar kelompok sekitar 2-3 meter. Setiap kelompok rata-rata terdiri dari 7-10 makam dengan pasangan nisan yang berdiri sejajar. Tapi ada pula kelompok yang terdiri dari dua makam, bahkan satu makam, sehingga terlihat seperti terpencil. Salah satu makam bertarikh 48 hijriyah atau 661 masehi.

Bentuk nisan bervariasi. Ada batu padas pipih berukir huruf Arab dan Persia, ada berbentuk bulat menyerupai gada yang dihiasi ukiran bunga teratai. Ada pula aksesoris yang lebih ramai dari unsur gambar bintang dan bunga. Belum semua makam teridentifikasi. Yang sudah itu adalah makam Syekh Rukunuddin, Syekh Zainal Abidin Ilyas, Syekh Ilyas, Syekh Imam Khotib Ma’azzamsyah Biktiba’I, Syekh Syamsuddin, Syekh Tuanku Ambar, Tuan Kepala Ujung, Tuan Sirampak, Tuan Tembang, Tuanku Kayu Manang dan Tuanku Makdum.  

Namun kita tetap tidak mudah tahu makam mana sesungguhnya milik nama-nama tersebut. Tidak ada plang nama atau petunjuk nama orang yang dimakamkan. Peziarah dibiarkan mencebur ke lautan aksara Arab pegon dan Persia di batu nisan, yang bagi kebanyakan orang kini terasa asing. Mestinya ada papan petunjuk lain di samping makam-makam utama atau makam yang sudah teridentifikasi, jika perlu dilengkapi jabatan, gelar dan tarikh hidupnya, baik sebagai alamat ziarah maupun untuk fungsi edukasi.

Makam lain yang sudah teridentifikasi, namun di kompleks yang berbeda, adalah makam Tuanku Ibrahim Syah. Makam ini tidak terlalu luas, bahkan terkesan berdesakkan dengan makam lainnya. Ada sekitar 8 makam berada di bawah keteduhan pohon enau. Salah satunya adalah makam Tuanku Ibrahim Syah, Raja Barus asal Minangkabau. Di dalam buku Silsilah Raja-raja Barus (Jane Drakard, 2003), Ibrahim disebut sebagai Raja Hilir. Konon ia difitnah lawan politiknya dari Raja Hulu. Dikatakan, Ibrahim menantang Raja Aceh berperang, sehingga Aceh mengirim pasukan menangkap Ibrahim. Kepala Ibrahim dipenggal dan dibawa ke istana Aceh, tapi Raja Aceh justru dibuat tak tenang. Akhirnya kepala itu dikembalikan dengan upacara kebesaran, disatukan dengan tubuhnya di makam sekarang.

Selain makam Ibrahim, makam lain yang bernama adalah makam Tuan Machdum di Bukit Patupangan. Tuan Machdum merupakan pembesar Kerajaan Barus. Makamnya terletak di atas bukit berpagar semen dan bertangga.

***

Bagaimana kompleksitas dan problematisnya makam seorang tokoh, apakah ulama, mursyid atau raja, mari kita ambil makam Hamzah Fansuri sebagai contoh. Makam Hamzah, dan makam tokoh lainnya yang senasib, tidak saja kurang dikenal oleh masyarakat daerah asalnya, namun juga kurang hidupnya nama Hamzah di dunia ziarah Nusantara. Akibatnya, situasi ini tidak dapat “menghidupkan” aspek lain dari sosok penting Hamzah Fansuri, seperti kiprah, pemikiran dan karya-karyanya.

Tradisi ziarah pada hakikatnya bukan hanya bertumpu pada makna harfiah ziarah itu sendiri—mengunjungi makam, menyapa ahlul-kubur, berdoa dan mengingatkan kita pada mati—namun juga terkait dengan aspek apa dan bagaimana sosok yang dimakamkan. Sementara kita tahu, Hamzah Fansuri, penyair sufi dan mistikus besar yang hidup sekitar abad ke-16 adalah kelahiran Barus atau Fansur. Ia pernah berkhidmat di Kasultanan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dan ada juga menyebut Hamzah hidup dalam masa Sultan Alaidin Riayat Syah IV sampai ke permulaan Sultan Iskandar Muda.

Sebagaimana dicermati Abdul Hadi WM (2001: 138), syair Hamzah Fansuri banyak menggunakan teknik takhallus—menyertakan nama dalam syair yang ditulis, suatu tradisi  yang berasal dari penyair Parsi saat menulis ghazal. Selain itu, ia juga banyak menuliskan nama-nama tempat di dalam syairnya. Berkat syair semacam itu, sejumlah pengamat berpendapat bahwa Hamzah berkisar bukan hanya di istana Aceh, tapi sempat mengunjungi tempat-tempat yang ia sebutkan seperti Kudus, Pahang, Bagdad hingga Mekkah—sebagian pihak menganggap Hamzah hanya sekedar menyebut saja.

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah
Mencari Tuhan di Bait Al-Ka’bah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah.

Terlepas dari itu, penganut paham Wujudiyah tersebut tak melepaskan negeri kelahirannya sebagai nama belakang, Barus atau Fansur yang dirujuk Abdul Hadi dari Brakel (1963, 1979). Sementara Syed M. Naquib al-Attas (1970) menyebut ia lahir  di Syahrun Nawi atau Ayuthia, Siam, dan hijrah ke Barus. Sementara Ali Hasymi (1984) menyebut leluhur Hamzah berasal dari Barus, namun ia sendiri lahir di Singkel. Namun secara umum Barus dianggap sebagai tanah kelahiran Hamzah Fansuri.

Yang jadi masalah, di manakah makam Hamzah Fansuri berada? Seolah konsekwensi dari nama-nama tempat yang banyak ia sebut dalam sajak, makamnya pun seakan berada di banyak tempat. Ketika saya bertanya kepada warga Barus di mana makam Hamzah Fansuri, ternyata tak seorang pun mengetahui. Mereka bilang Hamzah memang orang Barus namun makamnya kemungkinan besar di Aceh atau Mekkah.

Ada yang bilang di Ujong Pancu, Lampegeu, Peukan Banda, Aceh Besar. Ada yang bilang di Desa Oboh, Runding, Subulussalam. Bahkan ada yang mengklaim di Langkawi, Malaysia. Jadi, jangankan mendapat lebih banyak informasi soal Hamzah Fansuri, bahkan untuk berziarah ke makamnya pun tak ada jawaban pasti. Padahal saya membayangkan ada yang lebih dari ziarah. Semacam pustaka atau pusat kajian Hamzah di kampung halamannya ini. Sayang, segala sesuatu tentang Hamzah seolah tenggelam, seperti tenggelamnya Fansur dalam kajian sastra dan sejarah yang kian uzur. Atau pudarnya pengaruh Wujudiyah yang dituding sesat oleh ulama-ulama Aceh selanjutnya, sehingga Abdul Hadi menyebutnya sebagai “tasawuf yang tertindas”.

Apakah penamaan makam-makam purbakala di Barus dan di tempat-tempat lain, lantaran sulit mengidentifikasi tulisan pada makam atau lemahnya rekonstruksi sejarah? Apakah lenyapnya nama Hamzah Fansuri dalam khazanah Barus ada hubungan dengan waham Wujudiyah yang diusungnya, sementara para ulama di Barus dikenal sangat ketat dalam urusan tauhid? Atau karena kelalaian kita semata mensyukuri capaian masa silam?

Sederet pertanyaan masih bisa diajukan. Tapi yang paling penting tentu saja menyiapkan jawaban nyata. Satu hal yang mendesak dikerjakan sekarang adalah menggali dan mengkaji catatan sejarah di balik makam-makam purbakala itu serta mengaktualkan nama-nama masyhur yang pernah ada. Nama seperti Hamzah Fansuri berikut capaian-capaiannya yang mengakar dari kampung-halaman mesti dikaji, terutama di universitas-universitas kita yang memiliki jurusan sejarah, sastra, filologi dan arkeologi.

Peninggalan Hamzah Fansuri merupakan harta tak ternilai. Sebut saja Syair Perahu, Syair Sidang Fakir, Syair Burung Pingai, Syair Dagang, Minuman Segala Orang yang Berahi dan lain-lain, seyogianya dihadirkan kembali ke hadapan sidang pembaca sastra dan pemikiran Nusantara. Hal ini juga berlaku atas ulama dan guru-guru tarekat yang meninggalkan manuskrip dan kitab-kitab.

Sosok seperti Abdul Hadi WM yang bertungkus-lumus dengan karya-karya Hamzah Fansuri bisa dilibatkan dalam proses pemberadaban kembali ini. Hanya dengan begitu peradaban Barus—dan di titik lain pantai barat Sumatera—yang ditandai makam-makam tua dan pernah mewarnai khazanah dunia, tidak bisu dalam capaian masa lalu. Kita ingin, keeping kejayaan silam itu kembali berkisar di antara kita, terutama generasi muda.

Hai muda arif budiman
Hasilkan kemudi dengan pedoman
Alat perahumu jua kerjakan
Itulah jalan membetuli insan

Demikian tulis Hamzah Fansuri lebih lanjut dalam Syair Perahu. Dengan sedikit “berhomo ludens”, baris terakhir bisa kita ubah menjadi “membetuli nisan”. Maknanya adalah merawat, menziarahi, menggali referensi dan mengkaji karya-karya siempunya makam. Hal ini sekaligus berlaku untuk keseluruhan makam-makam tua yang bertebaran di sepanjang pantai barat Sumatera supaya tidak menjadi lokasi liyan bagi masyarakat kampung-halaman.

Raudal Tanjung Banua
Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Haluan, Padang, kemudian merantau ke Denpasar, dan kini menetap di Yogyakarta. Buku puisinya Gugusan Mata Ibu dan Api Bawah Tanah. Sejumlah puisi di atas dipilih dari manuskrip buku puisinya yang sedang dalam persiapan terbit.