Saat ini situs judi slot online deposit dana adalah salah satu permainan yang sangat di minati di Indonesia.

Pertama sekali bila anda ingin merasakan mudahkan memperoleh uang dari nwmedicaltraininggroup tentus aja anda sangat di sarankan untuk bermain pada permainan kakek ya gengs.

Genealogi Makam Keramat Pantai Barat

Geneologi Makam Keramat Pantai Barat
Foto Dok. Penulis

Meski dikenal sebatas gelar, namun sosok-sosok di makam keramat tersebut jelas peran dan keberadaannya. Misalnya Syekh Kiramat atau Ayek Kiramat dapat dirunut sanad keguruannya, yakni kepada Syekh Ibadat di Pasar Talang Muarolabuh dan Syekh Buyung Mudo di Puluik-Puluik, Bayang (Zera Permana, Marewai, 2 Maret 2021).


Oleh: Raudal Tanjung Banua

Sebelumnya baca menulis dari kampung (9): Eksistensi Historis dan Spritual Kampung-Kampung “Masuk ke Dalam”

Sebagai pintu masuk dan pusat penyebaran agama Islam di Nusantara, kawasan pantai barat Sumatera memiliki banyak makam tua yang diidentifikasi sebagai makam para ulama, tokoh tarekat atau bahkan makam aulia. Makam itu, baik yang ditemukan secara berkelompok dalam satu kompleks seperti di Barus, maupun berpencar di satu titik semisal di Natal atau Bayang, sebagian besar masih terlantar. Namun sebagian lain, yang mendapat kunjungan teratur dari peziarah dan para murid, keberadaannya cukup terawat. Misalnya makam guru dan ulama terkenal yang lazim dimakamkan di kompleks masjid, surau atau lembaga pendidikan yang pernah didirikannya.

Sebagian di antaranya menjadi tujuan ziarah domestik, dan yang terbesar tentulah makam Abdurauf di Aceh dan makam Syekh Burhanuddin di Ulakan. Tapi sebagian besar makam tua itu hanya menjadi tujuan ziarah masyarakat setempat, seolah terlepas hubungannya dengan masyarakat yang hidup di tempat lain.

Berbeda dengan di Jawa, dunia ziarah tampak lebih hidup. Dalam amatan Claude Guillot dan H. Chambert-Loir, praktek ziarah di Jawa, selain berupa inisiatif pribadi-individual, juga telah menjadi tradisi kolektif, seperti nyadran dan ritual bersih desa. Ziarah memainkan peranan penting pada dua tataran, yakni kunjungan makam di satu pihak, dan peran ziarah dalam kehidupan spiritual di pihak lain. Karena itu, biarpun belum mencakup seluruhnya—maklum, jumlah makam keramat di Jawa mencapai puluhan ribu—geneologi makam tua di pulau “loh jinawi” ini relatif terpetakan dengan baik. Ada yang disebut kuburan keramat desa, makam wali, makam tokoh-tokoh historis, hingga makam tokoh rekaan dan petilasan. Ini juga diikuti oleh perkembangan pandangan tipologi masyarakat Jawa dalam memandang ziarah, dengan segala peluang dan paradoksnya: ortodoks, reformis dan santri (lihat Ziarah dan Wali di Dunia Islam, 2007:333).  

Di pantai barat Sumatera, belum terlalu jelas geneologi sejenis. Salah satu tempat yang menjadi tanda tanya saya sekarang, namun cukup teratur saya kunjungi sewaktu di kampung, adalah keberadaan makam-makam keramat yang disebut tampat. Apa makna tampat secara leksikal tidak/belum saya temukan di dalam kamus, termasuk dalam kamus Bahasa Minangkabau. Apakah secara etimologis berasal dari tampatan, yakni tempat yang dapat jadi tujuan? Contohnya, seseorang yang hendak merantau, biasa ditanya,”Lai ado tampatan di sinan?” (Apakah ada tampatan di sana?”) Dalam konteks tempat suci atau keramat, boleh jadi maksudnya alamat yang dituju untuk menziarahi leluhur. 

Entahlah, masih perlu terus ditelisik. Kaburnya makna leksikal ini, paralel dengan status makam yang juga anonim. Atau ada selintas pintas disebut nama yang berkubur, namun sayup-sayup dan masyarakat tampaknya tak terlalu menghiraukan soal nama. Yang pasti, sejak dari dulu, semenjak buyut dan kakek-nenek, mereka sudah punya tradisi berziarah, berdoa dan berkaul ke situ.

Selain itu, tak dapat ditampik bahwa tempat keramat itu dijadikan pula tempat batarak (bertapa) mencari wangsit oleh sebagian pihak. Dan ketika SDSB masih merajelela, ada yang diam-diam atau terang-terangan datang mencari angka buntut! Tak heran, di tampat Bukit Pandakian di mana saya sering bermain masa remaja bersama kawan seusia, saya kerap menemukan bekas bakaran menyan atau uang yang diselipkan di balik batu dan pohonan, dan itu jadi rezeki kami, tentu saja.

            Setidaknya ada empat tampat di Kecamatan Sutera yang sampai akhir 90-an masih ramai diziarahi, yakni tampat Pandakian di Teratak, tampat Bukit Singguliang di Rawang, tampat Gunung Rajo di Alai dan tampat Langgai di Langgai. Semua tampat itu terletak di atas bukit yang mengingatkan kita pada makam keramat di Jawa yang dikategorikan sebagai “makam atas bukit”. Biasanya selain ada satu makam utama, juga ada makam lain, baik sama-sama lama, maupun baru. Lokasi makam lazim dinaungi pohon besar, selalu bersih karena ada penjaganya, biarpun peran dan fungsinya tidak sekompleks kuncen di Jawa.

Tampat Bukit Pendakian misalnya, terletak di atas sebuah bukit karang, persis di tepi laut dengan ombak yang garang. Sebatang cemara laut berusia puluhan jika bukan ratusan tahun seolah tegak menjaga, dan daun-daunnya menjadi semacam karpet tebal bagi pelataran makam. Pucuk pohon itu dapat dipandang dari banyak arah, dari ladang-ladang penduduk atau dari laut, di mana nelayan sering menjadikannya pedoman untuk jarak aman melaut. Perahu tidak akan lagi dikayuh ke tengah jika pucuk pohon itu mulai sayup.

Makam utamanya membujur arah selatan-utara, dengan nisan batu granit besar, yang konon terus memanjang seperti tumbuh, dan akan patah sendiri jika sudah mencapai tinggi sepinggang orang dewasa. Kebetulan di sekitarnya memang banyak patahan batu serupa. Di sisinya, ada makam dengan batu nisan lebih kecil, dulu diberi pagar dan beratap seng. Digantungi kain putih dan kuning semacam langit-langit, mengingatkan suasana makam bangsawan Melayu. Kabarnya bangunan sederhana itu didirikan pihak yang kaulnya terkabul. Uniknya, makam beratap seng itu sering disebut “makam istrinya”—tanpa menyebut nama suaminya. Karena memang makam tersebut tak bernama.

Sampai sejauh ini saya tak dapat melacak dan mencatat siapa gerangan berkubur di situ. Kecuali sebuah cerita asal-mula yang merujuk secara tak langsung bahwa sosok yang punya makam kemungkinan seorang aulia. Konon, dalam suatu masa, dari arah laut beberapa orang mendengar suara ratib bergema tapi tak tampak wujud yang mengucapkannya. Orang-orang bergegas mengikuti ke mana arah suara itu, dan ternyata menuju ke atas bukit karang dan sesampai di sana suaranya menghilang. Namun ajaibnya, di situ kemudian ditemukan batu nisan yang segera mendapat perawatan. Selang berapa waktu, kejadian itu terulang yang menambah jumlah makam menjadi dua dan orang menganggap itu makam “istrinya”.

Tentu saja ini agak berbau semi dongeng. Namun sedikit banyak kita melihat ada kode-kode tertentu yang mungkin dapat dibaca, seperti arah datangnya suara (dari laut) dan membawa kalimat Allah, bisa bermakna sosok dari seberang lautan yang membawa ajaran Islam. Bahwa ada makamnya, bisa jadi sebagai pengingat. Tapi saya tak bisa menganggap seperti fenomena “makam kosong” di Mesir atau makam semu (cenotaph) di Eropa, seperti disitir dalam buku Chambert. Sebab setidaknya, dari suasana sekitar kita dapat merasakan aura mistis yang memungkinkan seseorang untuk khidmat berzikir atau berdoa.

Sebuah tampat lagi juga terletak di atas bukit di tepi laut, yakni tampat Gunung Rajo. Gunung (sebenarnya bukit) ini dulu diruntuh di salah satu bagiannya sebagai material pengembangan pelabuhan Teluk Bayur. Batu-batu terbaiknya diangkut dengan kapal tongkang ke Padang. Kabarnya sebelum bukit itu digempur mesin-mesin pemecah batu, para pemegang proyek telah menghadap (sowan) ke makam keramat, dan berjanji tidak akan “menggempur” bagian bukit di mana tampat berada.

Namun saya mengingat dengan jelas suatu kejadian dimasa saya berusia belasan tahun. Salah seorang anak sambung Mak Gaek saya jatuh sakit dan meninggal dengan cepat. Saat itu santer beredar kabar bahwa si anak, yang usianya lebih tua tiga tahun di atas saya, baru saja pulang bermain dari Gunung Rajo. Kata kawan-kawannya, dia kencing tak jauh dari tampat meski kawannya sudah melarang. Tindakan itu menurut orang-orang mengotori kesucian makam keramat, dan percaya atau tidak, sakit itulah akibatnya. 

Selain dua tampat di tepi laut, dua tampat lagi berada di gunung, yang sekilas mengingatkan saya pada konsep segara-giri di Jawa atau segara-gunung di Bali. Dua tampat di gunung adalah Bukit Singguling dan tampat Langgai. Tampat Bukit Singguling terletak di bukit terdekat, di Lampanjang, Rawang, di tepi jalan ke ladang dan memang berada di tengah ladang penduduk. Sedangkan tampat Langgai terletak di atas bukit di Langgai, sebuah desa terujung di Sutera, jauh di hulu sungai batang Surantih.

Mana tampat paling tua, tidak dapat kita tentukan. Tapi mana tampat paling ramai diziarahi adalah tampat Langgai. Meski jauh, banyak orang berusaha menjelangnya. Dulu sekali, orang harus berjalan kaki seharian sebab hanya ada jalan setapak. Saya memiliki pengalaman tak terlupakan dengan tampat Langgai dalam persentuhan dengan dunia ziarah. Semasa kecil, saya pernah diajak nenek saya berziarah dalam rombongan keluarga besar. Kadang saya dipanggul ayah, dan saya masih mengingat bagaimana sebagian rombongan harus berenang menyeberang sungai, dan sebagian lain naik perahu.

Di kompleks makam yang terletak di atas bukit itu, saya juga masih mengingat terutama piring-piring kanso yang dikeluarkan penjaga makam dari sebuah bangunan kecil di sisi makam. Setelah berdoa, rombongan makan besar di sana, dan entah kenapa ingatan “makan di makam” membuat saya merasa tidak nyaman. Saya sempat sakit perut dan muntah-muntah. Kelak, mungkin terbawa di alam bawah sadar, sampai sekarang saya tak bisa lagi makan-minum habis tahlilan di rumah orang habis meninggal. Percaya atau tidak, saya akan sakit, minimal meriang. Bahkan sekalipun saya tidak tahu bahwa beras yang dimasak istri saya misalnya, atau gula yang diseduh menjadi kopi, berasal dari berkat tujuh hari atau seratus hari tetangga yang meninggal. Anehnya, berkat dengan isi yang sama tapi berasal dari acara mantenan atau salapanan anak, tidak membuat saya apa-apa.

Bertahun-tahun saya coba melawan rasa ganjil ini, terutama untuk menghadapi rasa bersalah saya kepada tuan rumah. Namun sampai saat ini masih belum bisa. Jika saya ikut tahlil, saya terpaksa tidak ikut makan-minum, dan berkat selalu saya berikan kepada yang lain. Syukurlah, di kampung tempat saya tinggal, hampir satu RT tahu “pantangan” saya.

Kembali ke Langgai. Jika tampat lain anonim, tampat Langgai relatif dikenali. Setidaknya, seorang tokoh masyarakat Surantih, Kali Langgai, yang sosok dan kiprahnya cukup saya kenali—salah satunya memperjuangkan pembangunan jalan ke kampung-kampung dalam—memiliki sanad ke mari. Bahwa yang bermakam di tampat Langgai adalah buyut dan leluhurnya. Menurut Angku Katik Khasir, pengurus tampat, di youtube Marewai 2021, di situ dimakamkan Ayek Ibadat, Ayek Kiramat dan Ayek Mato Sirah. Ayek Kali Langgai pun dimakamkan di sini. Meski dikenal sebatas gelar, namun sosok-sosok tersebut jelas peran dan keberadaannya. Misalnya Syekh Kiramat atau Ayek Kiramat dapat dirunut sanad keguruannya, yakni kepada Syekh Ibadat di Pasar Talang Muarolabuh dan Syekh Buyung Mudo di Puluik-Puluik, Bayang (Zera Permana, Marewai, 2 Maret 2021).

Di luar itu, pertanyaan besar tetap menggantung: siapakah gerangan penghuni makam-makam keramat yang lain itu? Apakah hanya sekadar cerita masyarakat yang tak ada latar belakang? Ini sama kompleksnya dengan menanyakan apa hubungan berziarah ke makam keramat dengan kemudahan-kemudahan yang didapat, sebagaimana diceritakan Gus tf Sakai dalam cerpennya,”Meminta kepada Tempat yang Terkabul, Berkaul kepada Tempat yang Keramat”. Cerpen ini pertama kali dimuat di Jurnal Cerpen I/2002 dan kemudian terhimpun dalam buku Laba-Laba (2003).

Dalam cerpen tersebut Gus tf menceritakan bagaimana masyarakat salah kaprah atas konsep ziarah dan kaul. Konsep itu nyaris disamakan dengan “meminta” kepada tempat keramat, padahal semua yang fana hanyalah perantara atau bahkan tak perlu perantara. Mula-mula mereka berdoa di sebuah Batu Bulek yang dianggap memiliki tuah, namun berkat Angku Thalud, seorang ulama kampung, praktek khurafat itu enyah. Sialnya, ketika Angku Thalud meninggal, atas inisiatif kepala desa, beliau justru dimakamkan di kompleks Batu Bulek sehingga masyarakat berbondong-bondong berziarah ke sana.

Kompleks Batu Bulek itu menjadi lebih ramai lagi, mirip pasar. Bagaimana suasana bercampur-baur di lokasi ziarah itu, digambarkan Gus tf berikut: Bukan hanya dalailil-khairat dilantunkan, melainkan banyak sekali suara. Di sebelah sana, orang juga melantunkan lagu-lagu agama; dan di sebelah sini, orang mengalunkan zikir. Di sebelah lain, orang membaca sifat dua puluh dalam nyanyi; dan di sebelahnya…entahlah. Terdengar kacau. Belum lagi yang komat-kamit sendiri. Dan bau kemenyan yang menyengat (2003: 55). Dan lebih dramatic lagi, sampai-sampai sisa “sajen” peziarah berupa nasi kunyit dan singgang ayam, dijadikan pakan ternak anjing oleh seorang juragan anjing yang datang dari kota!

Ironisme dan paradoks tajam dari dunia ziarah ini, memberi kita kaca benggala untuk menata hukum, adab dan norma ziarah yang sesuai dengan ajaran Islam supaya tidak jatuh kepada khurafat bahkan syirik. Karena itu saya kira mesti ada upaya pemetaan dan penelitian dari pihak terkait sehingga masyarakat punya rujukan referensial atas sosok yang ia ziarahi.

Alhamdulillah, ini tersua pada makam-makam ulama yang jelas kiprah dan sosoknya semasa hidup, seperti di Bayang dan Batangkapas. Di antara makam tersebut lazim disebut gobah karena bentuknya berupa kubah. Ada gobah Syekh Muhammad Jamil di Kotobaru, gobah Syekh Abdurahman di Asamkumbang, gobah Syekh Buyung Mudo di Puluik-Puluik. Atau ada ulama yang dikenal dengan gelarnya saja, tapi situs tempatnya mengajar masih terjaga seperti Surau Tanjung Batangkapas, di mana seorang ulama yang berkubur di mihrabnya bahkan dikenal sebagai Syekh di Gobah.

Melihat tahun hidup para ulama tersebut yang berkisar abad ke-16 sampai awal abad ke-19, mungkin kita akan menganggap gobah lebih muda usianya sebab keberadaannya tercatat dalam sejarah. Itu juga era di mana kolonial sudah memperkenalkan kronik dan laporan. Sementara tampat yang tidak bernama bisa jadi dianggap lebih tua atau bahkan kategori kuno. Tapi itu juga belum tentu, sebab bisa jadi tampat baru ada awal abad ke-19 atau bahkan lebih belakangan, namun tradisi literasi masyarakat setempat yang lebih mengandalkan lisan daripada tulisan, kerap tak berlanjut ketika juru kisah terakhir pergi menghadap Sang Khalik. Akibatnya, geneologi tampat sebagai makam keramat pun tamat, kecuali kisah-kisah sempalan tentang orang suci, meski toh tetap menggerakkan suatu tradisi yang setua peradaban manusia ini: ziarah. Tinggal bagaimana kita memadu-padankannya dengan nalar dan iman. Wallahuallam bisawab.

Selanjutnya Baca menulis dari kampung (11); Genealogi Makam Keramat Pantai Barat: dari Makam Sultan Indrapura, Bundo Kanduang, hingga Makam Barus dan Makam Hamzah Fansuri

Raudal Tanjung Banua
Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Haluan, Padang, kemudian merantau ke Denpasar, dan kini menetap di Yogyakarta. Buku puisinya Gugusan Mata Ibu dan Api Bawah Tanah. Sejumlah puisi di atas dipilih dari manuskrip buku puisinya yang sedang dalam persiapan terbit.