Gerakan Politik Islam Sumatera Barat (Partai PERTI Tahun 1928-1969)

Gerakan Politik Islam Sumatera Barat (Partai PERTI Tahun 1928-1969)

Partai PERTI

Dalam perjalanan sejarah, Gerakan Politik Islam memainkan peran yang signifikan dalam dinamika hubungan agama dan Politik di Indonesia. Dinamika Islam dan perubahan sosial di dalam politik di dalam suatu negara akan dipengaruhi oleh gerakan dan aktivitas sosial politik dan kemasyarakatan pada suatu daerah khususnya dan negara pada umumnya. Oleh karena itu, cikal bakal sebelum lahirnya sebuah partai tidak bisa lepas dari adanya sebuah gerakan.

Secara etimologi politik berasal dari bahasa Yunani yakni polits yang berarti negara kota. Sedangkan dalam Islam mengenal siyasah yang diartikan politik dengan asal kata sa’asa, yas’usu, siyāsah yang artinya mengendalikan, dan nilai keagamaan mempunyai peran penting dalam mengendalikan negara yang hadir sebagai tujuan melindungi umat dengan terwujudnya politik Islam, dengan itu peran penting dalam bidang politik wajib pula diwujudkan oleh para umat. Sebuah rangkaian yang akrab kita dengar dari umat oleh umat dan untuk umat.

Selanjutnya gerakan adalah suatu kelompok atau golongan yang ingin mengadakan perubahan-perubahan pada lembaga politik atau menciptakan kehidupan masyarakat yang baru melalui jalan politik. Gerakan lebih terbatas ketimbang partai politik dan cenderung bersifat fundamental dan ideologis. Mengaitkannya dengan Islam maka gerakan politik Islam merupakan gerakan sosial religi yang memiliki suatu perhatian utama pada pembinaan dan pemberdayaan umat, suatu perhatian umum yang diberikan oleh gerakan Islam yang memiliki kesadaran akan terciptanya suatu tatanan sosial yang baru yang lebih baik dan ber-keadaban.

Baca Juga: Sejarah Ringkas Berdirinya PERTI: Penghimpun Ulama

Seiring dengan bentuk tatanan sistem pemerintahan negara Indonesia yang berasaskan demokrasi, maka berjalanlah sebuah jalur yang bertujuan untuk menghantarkan para wakil rakyat ke posisi kepemimpinan negara melalui sistem keterwakilan dan kepartaian lewat ajang pemilu (Pemilihan Umum), terkadang orang sering menyamakan antara gerakan dengan partai Politik. Kerancuan ini mempunyai implikasi yang besar dalam memahami peta perpolitikan di Indonesia.

Uraian di atas ditunjukkan oleh tokoh-tokoh nasional dengan memunculkan gerakan dan partai, terutama gerakan politik keagamaan karena gerakan yang dikobarkan oleh kelompok intelektual agama, khususnya guru-guru agama yang sangat kuat berpegang kepada nilai agama sebagai landasan memerangi kebodohan dan kedzaliman. Lewat agama ini politik mulai berkembang di Indonesia dengan dicontohkan beberapa politisi besar juga sebagai the founding fathers dan yang mempunyai latar belakang Islam yang sangat kuat dan sejati seperti Soekarno, Hatta, Sahrir, Agus Salim, Natsir, Yamin, Hamka, Ahmad Dahlan, Hasim Asy’ari, Sulaiman Arrasuli dan lain sebagainya.

Salah satu daerah yang cepat dalam melancarkan perubahan dalam rangka pembaharuan di tanah air adalah Sumatera Barat. Di antara cara pembaharuan tersebut dilakukan melalui aspek pendidikan masyarakat. Hal ini terlihat setelah datangnya tiga tokoh utama dalam pergerakan Islam itu, yaitu Syekh Sulaiman Arrasuli (1871-1970), Syekh Abbas al-Qadi (1905-), dan Syekh Muhammad Jamil Jaho (1878-1945). Yang pertama menetap di Canduang Kab. Agam, yang kedua di Bengkawas Bukittinggi, dan yang ketiga di Jaho Kab. Tanah Datar. Ketiga tokoh ini mempunyai pengaruh yang besar sekali dalam melakukan pembaharuan pemikiran di Minangkabau yang juga berpengaruh terhadap hadirnya gerakan PERTI.

PERTI lahir di pusat Ranah Minang, yang lebih dikenal dengan sebutan tiga Luhak (Luhak Agam, Tanah Datar, 50 Kota). Ia mengawali dirinya sebagai perkumpulan yang mengajarkan seluruh kaum muslimin pelajaran agama (Fiqh, Tauhid, Tafsir, Toriqoh dan lainnya) di Sumatera Barat. Melakukan kegiatan-kegiatan mengurus santri-santri mengaji dengan sistem halaqah dan seterusnya menjadi lembaga pendidikan yang berupaya menjadikan pendidikan Islam dalam bentuk baru, memakai didaktik dan metodik dalam mengajarkan dan mengembangkan pemikiran-pemikiran Islam yang baru baik di dalam ruangan kelas, maupun di tengah-tengah masyarakat baik melalui lisan maupun tulisan. Di lain ruang ia menampakkan diri sebagai gerakan sosial religi yang mendukung perjuangan rakyat Indonesia yang berjuang untuk merebut kemerdekaannya dikarenakan pada saat itu bangsa Indonesia berada di bawah jajahan kolonial Hindia Belanda dan Jepang.

Sejarah bertutur dalam historis terulangnya kembali kebangkitan gerakan-gerakan Islam di Indonesia pasca kemerdekaan yang diawali pada pemilu pertama dengan ikut sertanya organisasi berbasis Islam yang bergerak dalam gerakan dan menjadi sebuah partai politik dalam kancah perpolitikan Indonesia yang dicontohkan salah satunya PERTI partai politik berbasis Islam yang disuarakan dengan landasan agama sebagai dasar politik, diterjemahkan Deliar Noer bahwa ajaran Islam mengandung ideologi dan idelogi adalah sebuat cita bersama, pendapat bahwa politik itu berdiri sendiri, itu hanyalah pendapat intelektual. Sedangkan bagi ulama, politik tidak berdiri sendiri, seorang ulama bisa menyampaikan pandangannya tentang politik atas nama etika yang diambil dan disimpulkan dari nash ataupun sabda Rasul.

Baca Juga: Perti

Ungkapan tersebut mengindikasikan adanya kerinduan yang dalam agar para politisi memahami arti politik dalam gerakan dan partai, karena dalam pesan agama, politik Islam yang sempurna adalah yang membahas urusan-urusan rohani dan materi. Artinya ideologi yang dimaksud dalam ajaran Islam adalah bentuk yang mengandung unsur materi dan rohani yang harus diselaraskan dengan bentuk pemaknaan politik Islam yang berideologi dalam urusan ruhaniah dan dunawiyah dimana Politik harus diusung demi kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan sistem religio yang telah ditunjukkan Rasul dengan masyarakat madaninya ketika masa hidup beliau di Yastrib (Madinah).

Partai politik Islam PERTI yang lahir berdampingan dengan partai Islam yang lain (Masyumi, NU, PSSI) pada awal pasca kemerdekaan, berasal dari organisasi tradisional Islam, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, yang berpusat di Bukittinggi, Sumatera Barat. Organisasi ini dilahirkan di sebuah basis keagamaan Islam yang kuat dan terkenal di Canduang dekat Bukittinggi, pada tanggal 5 Mei 1928 dengan nama asal MTI (Madrasah Tarbiyah Islamiyah) lalu Gerakan ini bermetamorfose tiga kali dengan merubah namanya PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) tanggal 28 Mei 1930 lalu menjadi partai PERTI (Partai Persatuan Tarbiyah Islamiyah ) pada tahun 1946 dan kembali pada PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) pada tanggal 1 Mei 1969. Gerakan ini merupakan salah satu benteng pertahanan golongan tradisionalis Islam terhadap penyebaran paham dan gerakan modern dari kolonial asing. Gerakan ini berhasil melebarkan sayapnya sampai ke pusat-pusat pendidikan Islam tradisional di Jambi, Tapanuli, Bengkulu, Aceh, Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan.[]

Beni Kharisma Arrasuli
Beni Kharisma Arrasuli 1 Article
Warga Surau Tuo Institute, saat ini jadi Pengajar di Fakultas Hukum UNAND Padang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*