Hadiah Mengaji dan Filosofinya ala Alm. Syekh H. Ali Imran Hasan

Hadiah Mengaji dan Filosofinya ala Alm. Syekh H. Ali Imran Hasan
Foto Dok. Nurulyaqinelimrany

Hadiah Mengaji

Sebuah keunikan di lembaga pendidikan tradisional seperti Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan adalah tentang segala sesuatunya yang sarat makna dan filosofis.

Hadiah bagi juara kelas misalnya, Alm. Syekh H. Ali Imran Hasan di masa hidupnya sudah mewiridkan untuk selalu memberi hadiah kepada Santri-Santriwati yang berhasil jadi terbaik dalam belajar (mengaji).

Baca Juga: Saya dan Buya Kita, Syekh H. Ali Imran bin Hasan

Namun hadiah yang diberikan tidak semata-mata reward atas keberhasilan saja, tapi juga mengandung makna yang jauh lebih besar daripada hadiah itu sendiri.

Hampir dalam setiap kesempatan yang meniscayakan hadiah, Alm. Buya selalu menyediakan hadiah berupa kain sarung untuk  terbaik pertama, handuk untuk terbaik kedua, dan baju kaos untuk terbaik ketiga. Berikut makna filosofis masing-masingnya.

Menurut Buya, kain sarung itu multifungsi, jadi diharapkan dengan dipatikan melalui kain sarung, kaji yang didapat itu bisa multifungsi. Di samping itu, kain sarung itu melingkar dan tidak berujung, pun diharapkan nantinya kaji yang didapat itu juga tak berujung, selalu berkesinambungan dari awal-akhir-awal lagi.

Sedangkan handuk berfungsi sebagai pengering badan yang basah dan mampu mendatangkan kenyamanan, untuk itu diharapkan kaji yang didapat juga mampu mengeringkan segala yang basah di fikiran, serta mampu memberi kenyamanan bagi pemakainya.

Baju Kaos bisa dan biasa digunakan oleh siapa saja; Laki-laki, perempuan, tua, muda, miskin, kaya, dlsb. Artinya, melalui baju kaos diharapkan kaji yang didapat juga bisa bermanfaat bagi siapa saja sehingga jadi lebih bermanfaat bagi khalayak.

Baca Juga: Nurul Yaqin Ringan-ringan: Antara Inyiak Canduang, Syekh Zakariya Labai Sati dan Syekh H. Ali Imran Hasan

Jika dilihat secara seksama, maka dapat disimpulkan bahwa melalui filosofi hadiah tersebut, Buya ingin menekankan nilai kebermanfaatan ilmu buat diri sendiri si Santri-Santriwati, dan buat masyarakat luas. Karena ilmu yang paling utama adalah ilmu yang bermanfaat.

Atas bimbingan para Buya dan Guru-guru senior, wirid-wirid Alm. Buya Pendiri ini masih selalu dieksiskan sembari berharap keberkahannya. Semoga tak lekang, seperti mantan yang selalu terkenang.

About Shafwatul Bary 10 Articles
Alumni PP Nurul Yaqin Ringan-ringan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*