Hadirnya Pelangi untuk Mars

Hadirnya Pelangi untuk Mars
Ilustrasi.Dok. digambar sendiri oleh penulis. Riyan Rifani. Amuntai, 13 Januari 2021. Dan difoto menggunakan ponsel penulis sendiri. pada 15, Januari 2021

Hadirnya Pelangi untuk Mars Hadirnya Pelangi untuk Mars Hadirnya Pelangi untuk Mars Hadirnya Pelangi untuk Mars

Karya: Riyan Rifani

            Duduk  memisah dalam keramaian, Andas  Mars Satya  merupakan siswa kelas 11 yang yang mempunyai prestasi dalam bidang akademik, namun di balik itu semua Andas Mars Satya dengan sapaan akrabnya Mars dianugerahi kardiomiopati dilatasi atau lemahnya otot jantung. Aktivitas mars hanya duduk duduk membatu tanpa harus melibatkan aktivitas fisik, hal itu ia lakukan untuk menghindari kumatnya penyakit yang ia derita. Tidak mengikuti upacara bendera dan mata pelajaran olah raga sudah terbiasa ia lakukan karena ia mengetahui kalau hidupnya lebih rapuh daripada daun kering.

            Mengasingkan diri dari suasana yang riang hingga ia sulit mempunyai seorang teman bankan tanpa pandang teman-teman di kelasnya menjauhinya. Detik demi demi  ia ditemani buku pelajaran yang membuatnya berkomunikasi dengan pikiran. Di saat jam istirahat Mars membawa bekal sendiri itu semua ia lakukan demi menjaga kesehatannya.

            2 bulan berlalu Mars berteman dengan sepi, bertepatan itu juga  di kelas Mars kedatangan siswi pindahan dan siswi memperkenalkan dirinya.

“Hai semua, salam kenal. Namaku Pelangi Ayu Reswari sapaan akrabnya pelangi, semoga kita lekas akrab ya”

“Baik, Pelangi kamu duduk di pojok kanan paling belakang bersama Mars ya”  sahut bu Yusdiana

            Pelangi duduk sebangku dengan Mars, mereka saling berkenalan satu sama lain.   Bell istirahat telah tiba, berhubung Pelangi tidak membawa bekal maka mengajak Mars untuk membeli makanan dan karena ia tidak mengetahui letak kantin, namun mars menolak karena ia membawa bekal dari rumah, sehingga Candy dan Ranty mengajak pelangi serta mengejek Mars.

            “Pelangi, ke kantin yuk, ngapain ngajak si aneh itu”  ucap Candy

            “ayuk, aku lapar nih…..husst kalian gak boleh gitu”

            Pelangi meninggalkan ruangan kelas semantara Mars tetap diam dan makan di kelas. Di perjalanan menuju kantin dengan gaya detektifnya pelangi mencari tahu alasan teman-teman di kelas tidak menyukai Mars..

            “Eh eh eeeh, kenapa yah kalian di kelas itu pada menjauhi Mars ciiih”

            “Bukan kami menjauh tapi dia sendiri yang menghindari kami” balas Ranti.

Baca Juga: Baamar Galung Pancar Matahari

            Jam istirahat telah berakhir, bertepatan itu juga waktunya mata pelajaran olah raga. Pelangi dan teman-teman berkumpul di lapangan sementara Mars hanya membatu di kelas. Pelangi yang tidak menyukai kehadiran panas matahari dengan sengajanya ia bersandiwara bahwa ia sakit agar ia terhindar dari  yang namanya panas-panasan. Sesampai di kelas Pelangi mendapati Mars yang sedang belajar.

            “Mars kamu gak ikut olah raga di lapangan”

            “Tadi aku sudah izin tidak mengikuti mata pelajaran olah raga”

            Pada hari senin merupakan hari pelaksanaan upacara bendera namun Mars hanya berdiam diri di kelas. Setelah upacara selesai Pelangi dengan terburu-burunya ke kelas dan pada saat itu juga ia mendapati Mars yang sendirian di kelas,

 “Mars cepat amat kamu masuk ke kelas”

“Sebenarnya aku tidak mengikuti upacara bendera Pelangi”

“Wah kamu curang Mars eh tapi kamu gak kena hukuman gituh?”

“Hmm, gimana jelakannya ya, sebenarnya aku mempunyai kelainan jantung,hingga aku gak bisa lelah, pada mata pelajaran olahraga kemarin juga aku tidak mengikutinya dengan ujian praktek namun sebagai gantinya aku harus menjawab soal, itu semua sudah menjadi kesepakatan antara pihak sekolah, bisa hidup pun aku sudah bersyukur.

Mendengar penjelasan dari Mars hati pelangi tersentuh dan iba pada Mars yang selama ini bertahan untuk kehidupannya yang sangat rapuh, dibandingkan dengan kehidupannya yang manja dan malas.  Di saat itu juga pelangi menyadari betapa bersyukurnya dia dianugerahi kehidupan yang sehat dan dan bebasnya dapat melakukan apa yang inginkan, sedangkan Mars untuk berolahraga dengan tujuan kebugaran saja tidak dapat dilakukan, sedangkan ia dalam sehat namun malas berolahraga karena takut kena takut sengatan matahari itu menjadi menjadi sebuah masalah.

Semenjak Mars mengucapkan pengakuan lisannya tentang penyakitnya membuat ia dan pelangi semakin akrab, bahkan pelangi yang seperti koala yang bermalas-malasan  menjadi seperti citah semangat dalam belajar semejak hal itu. Satu demi satu Mars mengajarkan ke Pelangi sampai terucap oleh Pelangi kata paham. Sebelum pulang sekolah Pelangi  melemparkan pertanyaan kepada mars.

“Mars keinginan apa yang ingin kamu lakukan?”

“ Aku ingin pergi ke aquarium yang ada ikannya, mencicipi kream”

“Hah, kamu beneran Mars, bercanda kan?”

“ Gak Pelangi, karena dengan kondisi seperti ini orang tuaku di setiap harinya bahkan hari bahagiaku hanya direnggut dengan menetap di rumah”

“Oh ya, ngomong-ngomong kamu ultah kapan siiiih Mars?”

“1 minggu tepatnya hari minggu merupakan umur yang ke-17 ku”

Mendengar hal itu Pelangi mulai melukis rancangannya dalam pikiran untuk membuat Mars merasakan lembut dan hangatnya dunia luar. Sebelum pulang sekolah Pelangi mengajak Mars ke sekolah pada hari minggu, katanya ada kejutan untuk Mars.Hari demi hari ia sisihkan uang saku untuk pergi bersama Mars ke Aquarium Park.

Hari spesial Mars telah tiba tepatnya hari minggu. Sesuai janjinya dengan Pelangi Mars pergi ke sekolah, sesampainya di sana ia mendapati Pelangi yang sedang menunggunya.

“Mars, kamu itu lama amat siih”

“Sabar, karena aku gak bisa buru-buru karena aku kan …..”

“Husst ooh iya baru ingat aku, sebelumnya kamu tutup mata dulu ya Mars”

Pelangi menutupi mata Mars dengan selembar kain dan menggenggam hangat tangan Mars sebagai pemandu jalan menuju Aquarium Park.

“1,2,3, tadaaaaa…kita sekarang di depan Aquarium Park, Mars kamu tunggu di sini dulu ya”

            Mars tidak menyangka kalau Pelangi mengajaknya ke tempat yang ia inginkan, Mars memandang keadaan di sekitar canda tawa kebahagian ia rasakan dari lingkungan sekitarnya, sementara itu Pelangi membelikan permen kapas dan es krim.

            “Ini Mars…silahkan dicicipi”

            “Houah enak pelangi, dingin,lembut, manis dan harum menjadi satu”

            “Itu namanya es krim Mars”

Setelah Mars mencicipi es krim, mereka memasuki Aquarium Park. Marsa sangat bahagia karena seumur hidupnya hanya dalam sangkar penjagaan orang tuanya, baru kali ini ia merasa seperti orang normal lainnya. Pada kesempatan itu juga Pelangai mengabadikan momen tersebut dengan sebuah kamera di tangannya. Mars sangat bahagia hingga tak bisa berkata apa-apa serta pipinya dihiasi air mata bahagia, karena impiannya yang ingin melihat ikan di akuarium dan makan es krim sdh terkabulkan.

“Pelangi, aku gak bisa bilang apa-apa lagi, buatku hari ini adalah hari paling indah dan hari yang sangat bahagia, terima kasih Pelangi”

Keesokan harinya Mars tidak masuk ke sekolah, Pelangi mencoba mencari tahu alasan Mars tidak masuk sekolah. Pelangi mengirim pesan ke Mars namun tidak ada balasan dari Mars, sehingga mengharuskan Pelangi untuk bertanya ke ibu Yunita selaku wali kelasnya berhubungan pada saat itu juga berlangsung  mata pelajaran ibu Yunita. Sebelum ibu Yunita keluar Pelangi dengan sigapnya bertanya.

“Bu, apakah terjadi sesuatu dengan Mars”

“Oooh Mars, baru saja td orang tuanya telpon ibu katanya Mars di rawat di rumah sakit”

“Untuk alamatnya ibu tau di mana?”

“Sebentar, ibu kirim ke kamu lewat pesan ya”

Mendengar hal itu pelangi merasa sedih dan bersalah karena ia berpikiran kalau Mars dirawat di rumah sakit gara-gara ide bodohnya itu, yang mengajak Mars ke Aquarium Park. Tidak pikir panjang Pelangi membolos dan bergegas ke rumah sakit untuk bertemu Mars. Pelangi memandangi Mars dari pintu, ia melihat tubuh Mars terbaring lemah, seketika ibu Mars tiba di depan ruangan.

“Kamu pelangi ya?”

“Iya,tante”

“Mars banyak ceritanya kamu, katanya Pelangi adalah penyemangat hidupnya”

            Tanpa sengaja butiran air mata Pelangi berjatuhan dan menghiasi pipinya. Pelangi tetap menunggu Mars di luar ruangan. 2 jam berlalu Mars sadar. Pelangi yang melihatnya langsung bergegas masuk.

“Mars, maafkan aku, mungkin karena aku kemarin mengajakmu jalan-jalan hingga kamu terbaring di sini”

“Gak kok Pelangi, penyakitku ini memang sudah parah, malahan aku berterima kasih padamu yang sebelumnya mengajak aku ke dunia luar yang indah sekali serasa hal itu sudah cukup bagiku untuk pergi dari dunia ini”

“Jangan Mars, kumohon tetaplah tegak walaupun dalam keadaan rapuh”

“Oh ya Pelangi, orang tuaku sudah menemukan rumah sakit untuk menyembuhkan penyakitku ini, tapi…tapi kita gak bisa bertemu sementara waktu karena tempat di Jepang”

“Gak..gak papa kesembuhanmu adalah harapan pertamaku”

Hari demi hari Pelangi lalui   tanpa kehadiran Mars. Ia belajar dengan giat agar nilai yang ia dapatkan sempurna dan dapat ia pamerkan ke Mars ketika pulang. 1 setengah bulan berlalu Mars telah selesai dari pengobatannya di negara matahari terbenam. pada hari senin Mars membuat kejutan kepada Pelangi dengan mengikuti upacara bendera, ia baris paling belakang.

“Pelangi….pelangi! ooh… secepat itu kau melupakanku”

“Kayak ada yang manggil….astaga Maaaaaaars!!!!, aku kangen kamu Mars”

            Dimulai hari itu Pelangi yang dulunya malas dan takut kena sengatan matahari menjadi seorang yang gemar berolahraga dan  Mars yang dulunya rapuh dan tidak bisa mengikuti pelajaran olah raga, namun sekarang ia dapat menikmati hal tersebut. Sepatah kata “Putus asa membuat sedih harimu kedepannya sedangkan semangat adalah kunci menuju jalan hari yang bahagia.[]

Baca Juga: Air Mata Kirana yang Tak Terbendung

Riyan Rifani
Riyan Rifani dengan sapaan akrabnya Fani, lahir di Amuntai , Kalimantan Selatan pada 04 Agustus 1999. Seorang mahasiswa aktif, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Lambung Mangkurat. Mempunyai hobi menulis, membaca, dan mendengarkan musik. Baginya menulis merupakan pengabadian sebuah cerita yang dituangkan dalam bentuk tulisan sehingga terhindar dari kata lupa. Untuk Info ;rbih lanjut bisa ditanyakan melalui Email: riyan.rifani9948@gmail.com atau Telepon : 082231775221