Hadis-hadis Dianggap Palsu Seputar Ramadhan (Bagian 1)

Hadis-Hadis Dianggap Palsu Seputar Ramadhan (Bagian 1)
Ilustrasi Dok.Istimewa

Hadis Palsu Seputar Ramadhan

Ramadhan telah masuk. Biasanya banyak ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi yang akan disampaikan berkaitan Ramadhan dengan seluk beluknya. Mulai dari hadis-hadis yang berkualitas sahih, hasan hingga dha’if bahkan palsu (maudhu’) sekalipun tersebar begitu cepat tanpa ada kontrol di tengah-tengah masyarakat.

Terkhusus terkait hadis-hadis bermasalah bahkan palsu yang berbicara tentang Ramadhan, maka seyogyanya bagi para dai, muballigh, hingga akademisi, khususnya bagi diri saya sendiri untuk tidak lagi menyebarkan hadis-hadis tersebut yang secara kualitas dinilai sangat bermasalah bahkan palsu (maudhu’).  Namun sayangnya, selama ini hadis-hadis bermasalah tersebut telah begitu populer dan tersebar di berbagai kelas dan mimbar masyarakat dari tahun ke tahun, zaman ke zaman.

Memang tak bisa dipungkiri bahwa terdapat pesan atau nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya. Pun biasanya tidak ada masalah bila hal tersebut ditinjau dari disiplin Ilmu Tasawuf serta disiplin ilmu lainnya (khususnya menggunakan hadis yang tidak terlalu parah kedhaifannya dalam hal motivasi beribadah).

Baca Juga: Bagaimana Adab Bertetangga selama Ramadan?

Namun bila berbicara dalam konteks disiplin Ilmu Hadis, tentu ada standarisasi tertentu yang harus diperhatikan. Ya, tidak bisa sesederhana itu. Bukankah Rasulullah Saw. pernah bersabda dalam hadisnya yang berbunyi:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari  dan Muslim)

Tentu saja masih banyak hadis-hadis lain yang berkualitas bagus yang berbicara seputar tema Ramadhan dan itu perlu disampaikan. Hal ini sebenarnya juga sudah dijelaskan secara panjang lebar oleh guru kami, Allah yarham Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub (Guru Besar/Ahli Hadis Indonesia) dalam majelis-majelis halaqahnya, kelas perguruan tinggi dan buku-buku karangannya yaitu Hadis-Hadis Bermasalah, dan Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan.

Berikut ini saya tampilkan kembali secara umum dan sederhana beberapa hadis-hadis bermasalah tersebut yang kualitasnya cukup parah, sebagaimana yang telah diajarkan oleh guru kami Allah Yarham Kiai Ali dahulunya. Hadis-hadis itu berbunyi:

1. Hadis tentang Bergembira Datangnya Bulan Ramadhan:

من فرح بدخول رمضان حرم الله جسده على النيران

“Siapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka”.

Teks hadis ini terdapat dalam kitab Durratun Nasihin karya Utsman al-Khubbani.

Dari segi sanad, hadis ini tidak jelas dari mana sumber riwayatnya. Pun demikian dari sisi matannya sudah bermasalah.

Logika sederhananya, masa hanya dengan modal perasaan gembira akan datangnya Ramadhan lalu jasad kita secara otomatis diharamkan tersentuh api neraka? Bukankah kita juga disuruh ikhtiar dan usaha yang sungguh-sungguh dalam memaksimalkan ibadah di bulan puasa? Nah, dalam bahasan ilmu hadis, ini termasuk bagian dari ciri-ciri hadis diangggap bermasalah.

Kalau hanya bermodalkan perasaan gembira menyambut datangnya Ramadhan (tanpa ada usaha memaksimalkan ibadah selama satu bulan penuh) tentunya para pedagang menu buka puasa yang “ikut bahagia” lantaran jualannya akan laku terjual juga berhak terbebas dari api neraka. Kalau begitu para karyawan kantor yang “ikut bahagia dengan datangnya Ramadhan” lantaran durasi waktu kerjanya dapat dikurangi oleh bos direktur disaat bulan Ramadhan pun hakikatnya bisa terhindar dari neraka. Hehe.

Nah disitulah kerancuan kalimatnya. Bahasa hadis tidak seperti itu. Bahasa hadis itu logis, kalimatnya terstruktur dan indah.

2. Ramadhan Diawali Rahmat:

أول شهر رمضان رحمة وأوسطه مغفرة وأخره عتق من النار.

“Awal Ramadhan itu rahmat, pertengahannya maghfirah, dan penghabisannya merupakan pembebasan dari neraka”.

Hadis ini diriwayatkan oleh al-‘Uqaili dalam kitab al-Dhu’afa. Ibn ‘Adiy, al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh al-Baghdadi serta Ibn Asakir dan al-Dailami.  Dalam hadis ini terdapat perrawi bernama Sallam bin Sawwar dan Maslamah bin al-Shalt yang keduanya dinilai sangat bermasalah oleh para kritikus hadis.

Baca Juga: Benarkah 17 Ramadan, Hari Diturunkannya al-Qur’an?

Sebenarnya tidak ada masalah dengan makna atau pesan positif yang terkandung dalam kalimat tersebut. Kita semua juga meyakini bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang suci, bulan agung, penuh rahmat, ampunan dan keberkahan. Namun yang menjadi masalah adalah ketika kalimat itu disebut sebagai hadis Nabi, disandarkan kepada nama Nabi, seolah-olah Nabi yang berkata padahal bukan (berdusta atas nama Nabi).

Bersambung: Hadis-hadis Dianggap Palsu Seputar Ramadhan (Bagian 1)

Muhammad Hidayatullah
About Muhammad Hidayatullah 6 Articles
Anak Siak Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*