Hakikat Ijazah dan Sanad Bukan tentang Secarik Kertas, Tapi Warisan Ilmu Kenabian

Hakikat Ijazah dan Sanad Bukan tentang Secarik Kertas, Tapi Warisan Ilmu Kenabian
Foto dibawah adalah foto Habib Umar, Syekh Nuruddin Itr dan Syekh Badi Lahm, orang yang disebut Syekh Nuruddin Itr "sebagian murid mempunyai ilmu melebihi gurunya" Foto Dok. Penulis

Hakikat Ijazah

Kamu tidak mungkin selamanya diberi ilmu dan kebenaran oleh gurumu, makanya pada tahap akhir beliau tidak lagi memberimu ilmunya, tetapi beliau melatihmu. Melatih untuk mandiri dalam mendapatkan ilmu dan kebenaran melalui metode yang benar yang telah diwariskan sejak zaman Nabi SAW. Saat kamu sudah terbiasa, terlatih dan kamu telah memiliki kemampuan untuk melihat kebenaran dengan cara yang benar secara mandiri dan peluang kesalahan sangat kecil, maka saat itu gurumu akan berkata padamu:

“Nak mulai hari ini, terbanglah dengan bebas. Kamu sudah bisa mencari ilmu, hikmah dan kebenaran secara mandiri. Maka dapatkanlah itu sebanyak yang kamu bisa. Jika bisa kamu harus mendapatkan melebihi yang aku dapatkan. Doaku menyertaimu, keridaanku bersamamu. Tak ada yang aku inginkan darimu kecuali agar ilmumu bisa bermanfaat bagimu dan orang sekitarmu”.

Mungkin perasaan murid, ketika mendengar pesan itu sama dengan yang dirasakan sahabat RA ketika Nabi SAW menyampaikan beberapa ayat pada saat Haji Wada’ “…al-Yauma Akmaltu Lakum Dinakum” hari ini telah aku sempurnakan kepada kalian agama kalian”.

Baca Juga: Ijazah dan Surat Ijazah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah

Mungkin ini juga yang dimaksud Rasulullah ketika berkata tentang Sayyidina Ustman: “semoga Allah SWT mengampuni bagimu wahai utsman (dosa) yang lewat dan sekarang, dan dosa tak terlihat atau yang tampak, apa yang engkau sembunyikan dan tunjukkan, apa yang telah lalu dan sekarang hingga hari kiamat”. Begitu juga tentang Sayyidina Ali “aku adalah kota ilmu dan Ali pintunya”. Begitu juga kata Nabi tentang Sayyidina Abu Bakar “seandainya ditimbang iman Abu Bakar dengan iman seluruh penduduk bumi, niscaya lebih berat iman Abu Bakar”. Dan Seperti kata Nabi tentang Sayyidina Umar “seandainya ada Nabi setelahku maka dia adalah Umar bin Khattab”.

Begitu juga tentang: sahabat Ibnu Masud “Sungguh, kaki Abdullah itu lebih berat timbangannya di Hari Kiamat daripada Gunung Uhud”. Tentang Zaid “Umatku yang paling menguasai Ilmu Faraid adalah Zaid bin Tsabit”, tentang Muaz “, “Umatku yang paling mengetahui halal dan haram adalah Mu’adz ibn Jabal”. Atau pada Khalid bin Walid “Si Pedang Allah yang senantiasa terhunus”, begitu juga rekomendasi yang lain pelajarilah al-Qur’an dari empat orang ini yaitu Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula Abi Huzaifah, Ubay bin Ka’ab dan Muaz bin Jabal dll. Dimana Rasulullah rida sama mereka di bidangnya masing-masing dan menjadikan mereka sebagai rujukan di bidangnya.

Baca Juga: Filosofi Ijazah

Itulah makna hakiki ijazah dan sanad dalam ilmu, bukan sekadar secarik kertas, tapi keridaan guru pada muridnya, bahwa dia telah melihat muridnya tumbuh dewasa dalam keilmuan, dan mewarisi ilmunya, dan menjadi penerusnya dalam menyampaikan ilmu saat dia telah tiada. Itu adalah hakikat dari sanad dan ijazah gurumu rida pada keilmuanmu, guru dari gurumu rida pada keilmuan gurumu, dan begitu sampai pada Rasulullah. Sehingga dalam silsilah itu semua pantas disebut sebagai pewaris para Nabi SAW, yang diwariskan bukan harta, tapi ilmu kenabian. Jadi sanad dan ijazah itu bukan sekadar secarik kertas yang kemudian dipamerkan di depan orang lain. Ya Sayyidi ya Rasulallah SAW!

Fauzan Inzaghi
Fauzan Inzaghi 8 Articles
Mahasiswa Indonesia di Suriah

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*