Hamka dalam Karyanya “Antara Fakta dan Khayal Tuangku Rao”

Hamka dalam Karyanya "Antara Fakta dan Khayal Tuangku Rao"
Ilustrasi/Dok.Istimewa

Sosok Hamka, seorang tokoh besar yang penuh teka-teki. Beliau selaku seorang ulama, sastrawan, mufasir hingga sejarawan. Ia memang pantas menyandang nama besar karena dedikasi yang tidak ternilai terhadap Islam, dunia sastra hingga kegiatan jurnalistik di Indonesia. Seorang tokoh yang mempunyai segudang kepiawaian dalam bidang-bidang kelas berat. Ia menjadi suatu karakter yang langka untuk manusia zaman sekarang. Kepiawaian beliau itu sebanding dengan karya yang banyak dihasilkannya, banyak dan berbobot. Dalam sastra, kemahirannya merangkai kata memang khas, tiada yang sepertinya. Dalam agama, kedalaman paham terhadap kitab-kitab klasik memang patut diacungi jempol. Seorang modernis yang mengerti kepustakaan agama tradisionalis secara tuntas. Begitu pula dalam hal sejarah, khususnya sejarah Islam, analisis yang mendalam akan sumber-sumber kesejarahan yang autentik sangat dikuasainya.

Khusus untuk bidang sejarah, beliau telah menulis buku sejarah Islam yang berjilid-jilid banyaknya, diberi judul populer “Sejarah Umat Islam”,  sebuah sumbangan bibliografi yang penting halman di negeri yang kaya dengan orang besar ini sejarah masih banyak dipertanyakan.  Salah satu karyanya yang cukup mencolok di era-70 itu ialah “Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao”. Sebuah buku bandingan dan koreksian terhadap fakta-fakta sejarah yang dikemukakan MO Parlindungan dalam buku “Tuanku Rao”. Dengan kepiawaian merangkai kata dan gaya penyampaiannya yang lugas, disertai dengan fakta-fakta autentik dari berbagai sumber populer beliau mencoba meruntuh untaian-untaian cerita yang dibangun dalam “Tuanku Rao”. Tak sekadar bandingan kering yang dikemukakan beliau, namun juga disertai dengan analisis sejarah yang tajam, terasa menggelitik, bagi seorang yang tidak pernah belajar history method di bangku formal ini beliau telah dapat menerapkan kritik sejarah dengan baik, diakui oleh pakar-pakar sejarah sekarang ketika seminar “Tuanku Rao” di Pasaman di tahun 2008. Dari buku setebal 365 halaman ini, kita akan menemui sosok dan karakter seorang Hamka secara lebih utuh, melalui cerminan ungkapan kata-kata yang beliau tulis di tahun 1974 itu.

Baca Juga: Haji Rasul Pembawa Muhammadiyah ke Minangkabau serta Pembela Kunut Subuh dan Jahar Bismillah

Adalah Hamka dalam buku polemiknya itu tersirat karakter beliau selaku orang yang berprinsip, teguh pendirian menguraikan pegangan sejelas-jelasnya, apa adanya dan sesuai pula dengan fakta-fakta lapangan yang akurat. Dalam tulisannya tersebut Hamka secara nyata menolak adanya “Syi’ah di Ulakan”, “Haji Piobang selaku pionir Wahabi yang dikirim ke Minang buat membikin negara Darul Islam”, “Paderi adalah teror belaka”, “Mazhab Hambali di Minang” dan lainnya, hal-hal yang tak termakan kaji dan tak ilmiah, prinsip Hamka. Dalam buku tersebut sangat tercermin keteguhan hati beliau menegakkan kebenaran menurut yakin hati, bahkan tak segan-segan menyebutkan cerita Parlindungan hanya sebingkai bualan hampa, tak bernilai ilmiah, muncul dari imajinasi khayal semata. Begitu keras Hamka menyindir MO Parlindungan, bukan sindiran semata-mata benci, tapi sindiran yang timbul dari lubuk kebenaran yang diteguhkan oleh ilmu pengetahuan yang mendalam adanya.

Selain dari keteguhan prinsip yang tercermin, dalam bukunya juga tak sulit diambil kesimpulan bahwa Hamka memang menguasai medan bahas dengan men-dalam, baik dari segi tertib sejarah, hingga literatur penyelidikan beliau yang sulit untuk dicari titik lemahnya. Di sini tampak betapa tinggi tingkat intelektual beliau, selaku seorang besar yang hanya belajar dari surau ke surau itu. Dalam bantahan pedasnya terhadap fakta-fakta “Tuanku Rao”, nyata sekali penguasaan beliau terhadap literatur-literatur orisinal kesejarahan. Cara penyampaiannya yang begitu lugas sekaligus menggelitik. Tak hanya itu, bantahannya disampul kuat dengan analisis-analisis sejarah yang tajam. Pada akhirnya membuat MO Parlindungan tak mampu berkutik hingga mempertahankan “Tuanku Rao” dari kritikan Hamka sendiri.

Dalam “Antara Fakta…”, Hamka tak hanya piawai memilih rujukan, tapi juga mampu memadukan bibliografi-bibliografi yang kaya. Hal itu tak ayal menjadi hujah yang kuat, bukti intelektul Hamka. Tak hanya buku-buku lokal yang beliau gunakan sebagai bahan, tapi juga buku-buku Belanda. Dia juga diistimewakan dalam sumber-sumber Arab, sebuah kemahiran sejarah yang jarang terwarisi oleh generasi sekarang. Maka keteguhan hati serta intelektual Hamka dalam Buku “Antara Fakta…” menjadi cermin sosok Hamka yang seutuhnya. Beliau selaku tokoh besar nan jarang tandingannya. Ulama masyhur terbilang, hingga sejarawan handal yang kaya dengan dalih dan hujah.[]

Apria Putra
Apria Putra 94 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*