Hari Santri Nasional bagi Pesantren di Sumatera Barat, Pentingkah?

Pentingkah Hari Santri bagi Pesantren di Sumatera Barat?
Ilustrasi/dok.Sumbarsatu.com

Perayaan Hari Santri Nasional (HSN) telah usai diperingati. Tetapi penghayatan terhadap makna dan peranan santri dalam bernegara dan berkebangsaan, harus tetap berlangsung tanpa mengenal usai. Sekalipun di tengah khidmatnya peringatan itu, ada diskursus tentang santri yang masih belum usai dalam pikiran masyarakat. Salah satu diskursus itu, sudah tepatkah istilah santri dan segala afiliasinya mewakili seluruh entitas pelajar agama Islam di setiap wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Barat.

Sebagaimana telah umum diketahui, Sumatera Barat dengan segala kekhasan masyarakatnya, menyebut santri dengan “anak siak” atau “pakiah”. Sebutan itu telah mengakar dalam kultur masyarakat Sumatera Barat sejak daerah ini masih disebut Minangkabau. Sekalipun pasca menasionalnya istilah santri, berbanding lurus dengan terpinggirkannya kedua padanan istilah lokal ini dalam pelafalan masyarakat Sumbar.

Namun, terkait asumsi terakhir ini, menjamur beragam narasi keberatan terhadap segala afiliasi istilah santri, salah satunya Hari Santri Nasional yang diperingati keempat kalinya kemarin (22/10). Memang tidak ayal, peringatan Hari Santri Nasional kemarin kental nuansa simbolik –seperti; sarungan, peci, baju putih dll.- yang diinstruksikan negara melalui jajaran kementrian agama di berbagai daerah. Sehingga oleh sebagian kalangan di Sumbar, instruksi itu dinilai belum merefleksikan entitas santri secara kolektif, di antaranya santri di Sumatera Barat.

Penilaian itulah alasan mempertanyakan pentingnya peringatan hari santri nasional bagi sekolah agama –selanjutnya disebut pesantren- di Sumbar. Adakah peringatan yang menasional itu memberi angin segar bagi penegasan legitimasi peran “anak siak” dalam masyarakat Sumbar. Ataukah Hari Santri Nasional (HSN) itu, secara radikal telah melucuti atribut “anak siak” yang akrab dalam sapaan masyarakat Sumbar. Atau peringatan HSN yang dinilai terjebak pada aspek simbolik itu, berlawanan secara antagonis dengan entitas real “anak siak”. Sehingga patutlah HSN itu dirayakan secara berat hati oleh pesantren di Sumbar.

Baca Juga: Hari Santri Negara dan Hegemoni Identitas Islam Tradisional

Hari Santri Nasional sebagai Penghayatan

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun ini mengusung tema “Santri Indonesia untuk perdamaian dunia”, sebagaimana ditetapkan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Ditpdpontren) Kemenag RI. Selayang pandang, Direktur Pdpontren Ahmad Zayadi memaparkan, bahwa melalui tema ini santri didorong untuk ikut serta dalam mengawal isu perdamaian di Indonesia maupun dunia. Dengan demikian, tentu tidak objektif memandang peringatan hari santri ini sebatas pesta perayaan yang melibatkan unsur santri dan pesantren.

Terkait poin terakhir itu, maka peringatan HSN –usai semua seremonial perayaan itu-, harus dijadikan momentum penghayatan terhadap peranan santri dalam berbangsa dan bernegara. Pada titik inilah, mengetengahnya keberatan tadi dalam aspek sosio-kultural. Disebabkan kurang akrabnya istilah santri dalam kultur masyarakat Sumbar. Kurang akrab itu menjadi polemik batin yang menghambat penghayatan terhadap peranan santri di Sumbar.

Ramuan penetralisir polemik batin itu, sebenarnya dapat ditemui dalam kilas balik sejarah penuntut ilmu agama di Sumbar. Sebagaimana disebutkan di awal, sapaan santri bagi masyarakat Sumbar adalah “anak siak” atau “pakiah”. Sekalipun antara santri dan dua istilah lokal itu, tidak bisa dikatakan hanya berbeda sebutan. Sebab dari aspek sejarah tentu tumbuh dengan keunikan masing-masing.

Namun, substansi kedua istilah itu merujuk kepada orang terpelajar yang religius sekaligus islamis. Dalam konteks ini, tidaklah patut kedua istilah itu dipertentangkan secara antagonis, maupun dimenangkan salah satunya. Sebab keduanya tumbuh dalam rumpun masyarakat yang berbeda secara sosio-kultural.

Dalam kondisi netralnya batin terhadap istilah santri itu, baru dapat dihayati pentingnya peringatan HSN bagi pesantren di Sumbar. Sehingga jernih penglihatan terhadap peran HSN dalam menegaskan legitimasi “anak siak” dalam masyarakat Sumbar. Sebab dalam peringatannya, HSN dipopulerkan dengan simbol yang sama-sama akrab dalam kultur anak siak ataupun santri, seperti; sarung, peci dan baju putih. Keakraban simbolik itu akan mengantarkan kepada kesimpulan “hari santri nasional adalah momentum penghayatan peran anak siak/pakiah di Sumbar”. Sehingga mudah mencari padanan sejarahnya dalam ingatan masyarakat Sumbar, untuk dihayati dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Simbol Keberpihakan terhadap Mustadh’afin

Dalam rutinitas formal pesantren dewasa ini, memang sudah jarang dijumpai pesantren Sumbar mewajibkan santrinya memakai sarung. Sebab memang sudah jarang, sarung masuk dalam deretan seragam belajar di pesantren Sumbar dewasa ini. Kendati demikian, dalam opini masyarakat, sarung; baju putih; dan peci, tetap dinisbikan  sebagai simbol santri (pakaian urang siak/anak siak).

Opini masyarakat itu, tentu terbentuk setelah teruji dalam dimensi waktu yang panjang. Bukan semata-mata beranjak dari instruksi jajaran kementrian agama yang diterbitkan kemarin. Sehingga terlalu naif jika dikatakan sebagai simbol yang tidak mengakomodir seluruh entitas santri.

Kemudian dalam sejarahnya, ulama dan pelajar agama Islam di Sumbar masa lampau, memakai sarung bahkan pada acara formal di luar belajar. Fakta empiris itu, menjadi rahasia umum di surau-surau Sumbar, sebelum menjelma menjadi pesantren sebagaimana kita dapati dewasa ini. Kondisi sosial itulah kiranya, yang membentuk opini masyarakat sampai hari ini menisbikan sarung dan peci sebagai simbol santri. Sehingga tidak asing kita dengar, santri bersarung dan berpeci itu, akrab disapa masyarakat dengan “orang surau”.

Terkait surau itu, salah satu semangat mendirikannya usaha mencerdaskan masyarakat. Kemudian surau itu menjelma menjadi sekolah-sekolah agama atau yang kita sebut dengan pesantren hari ini. Sehingga pada masa lalu itu, tidak dikenal adanya pungutan uang sekolah kepada setiap pelajar yang menuntut ilmu. Karena memang semangat mendirikannya untuk mencerdaskan masyarakat, di tengah sulitnya akses masuk sekolah-sekolah Belanda oleh masyarakat ekonomi menengah ke bawah atau Mustadh’afin (kaum lemah) kala itu.

Berkaca dari sejarah itu, akar pendidikan pesantren di Sumbar menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat ekonomi menengah ke bawah, yang diistilahkaan dengan kaum mustadh’afin. Namun, belakangan pesantren kenamaan di Sumbar hadir sebagai instansi pendidikan yang kurang ramah kepada kaum mustadh’afin. Pasca dikenalnya sistem pungutan uang sekolah, tidak asing kita mendengar pesantren-pesantren di Sumbar menerapkan biaya berjuta-juta sebagai uang masuk untuk santri. Sehingga tidak ayal, opini masyarakat Sumbar tentang santri bergeser menjadi sangkaan hanya akan berpihak kepada “orang berduit”.

Opini masyarakat itulah yang mesti dikembalikan ke tempatnya, melalui peringatan hari santri nasional ini. Simbol-simbol santri yang dipakai pada hari peringatan kemarin, berlaku sebagai pemantik ingatan masyarakat tentang santri di masa lampau. Ingatan itu diharapkan mengantarkan kepada penghayatan tentang peranan santri dalam berbangsa dan bernegara. Santri yang lahir dari pesantren yang dapat dimasuki semua orang tanpa memandang kelas sosial masyarakat, di tengah sulitnya akses ke sekolah-sekolah Belanda waktu itu. Santri yang akrab dan aktif membela kepentingan kaum mustadh’afin.

Baca Juga: Urang Siak Batoko sebuah Pesan

Pentingkah Hari Santri Nasional bagi Sumbar?

Maka, pentingnya peringatan Hari Santri Nasional (HSN) dengan segala simbol-simbol itu, adalah menjadi momentum evaluasi bagi pesantren di Sumbar dari apa yang diopinikan masyarakat. Pesantren sebagai lumbung santri, yang dulunya hadir untuk menaungi kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan, jangan beralih menjadi sulit diakses masyarakat karena keterbatasan ekonomi. Sehingga orientasi ekonomi itu tidak menjadi kebiasaan yang tertanam dalam diri santri yang keluar dari pesantren, sebagaimana di masa lampau.

Terkait simbol-simbol sarungan; baju putih; dan peci, yang diinstruksikan dalam peringatan hari santri, harus dimaknai sebagai sesuatu yang hidup. Berbekal sejarah masa lalu, simbol-simbol itulah salah satu yang masih kekal dalam ingatan masyarakat Sumbar, tentang keberpihakan surau (cikal pesantren di Sumbar) dengan kaum mustadh’afin. Masyarakat akan masih mengingat, bagaimana pakaian Inyiak Canduang, Inyiak Parabek, Inyiak Jaho, Buya Hamka dll. yang dicitrakan sebagai kaum santri (urang siak) oleh masyarakat Sumbar.

Sehingga santri, -sebagaimana diharapkan- dapat berperan aktif dalam mencapai tujuan perdamaian dunia. Peranan itu diharapkan dari santri disebabkan dalam sejarahnya, mereka adalah orang yang dekat dengan masyarakat dari seluruh kalangan. Dan citra itu dibentuk sejak mereka mengenyam pendidikan di pesantren.[]

Adrial Putra
Adrial Putra 5 Articles
Alumni dan pengajar di MTI Canduang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*