Hatiku Mati
Ilustrasi Dok. https://docplayer.info/57298997

Hatiku Mati Hatiku Mati Hatiku Mati Hatiku Mati Hatiku Mati

Oleh: Bayu Prasetya

Malam ini sisa-sisa hujan tadi sore masih terasa, butiran-butiran air hujan jarang-jarang masih turun membasahi jalan. Genangan air yang berada di pinggir jalan kadang-kadang berbunyi saat ditabrak oleh roda-roda sepeda motor. Kilatan-kilatan di cakrawala makin menambah suasana bulan Desember yang identik dengan hujan. Sebatang pohon di pinggir halte berdesis bergoyang ke kanan dan kekiri mengiringi lantunan irama angin yang menerpanya. Di bawah atap halte sepasang mata nanar sedang menghitung-hitung dan merenungi nasibnya. Sudah sejak orang terakhir pergi dari halte itu 15 menit yang lalu, mata itu hanya mematung menatap kosong pada rintik hujan yang terbang dari langit. Mata nanar itu bingung, nasib manakah yang harus ia renungi, hidup mana yang harus ia renungi, apakah ada yang perlu ia renungi.

Sudah puluhan kali sepasang mata polos ditolak keberadaannya oleh dunia. Tidak perduli sekeras apa otot mata itu berusaha, hasilnya selalu kurang dipanggung dunia. Sampai akhirnya sinar mata itu terlalu redup lalu berubah gelap. Mata yang gelap tak mampu menyinari jalan kehidupan.

Malam ini iman baru saja melakukan pekerjaan barunya. Guyuran hujan dari sore membuat dia berhenti di halte ini, lalu mematung memikirkan apa yang baru saja terjadi. Ia terus berpikir apa sudah seharusnya ia menyerah sekarang, dan melakukan semua ini. Terkadang pikiran-pikiran Iman bisa sangat jernih seperti ini. Tapi di lain waktu, pikirannya bisa dipenuhi dengan cacian yang diterimanya sepanjang waktu.

Baca Juga: Pelabuhan Matahari

Saat dunia sudah mulai dikotak-kotakkan antara kaum atas dan kaum bawah, kau mulia dan kaum hina, serta istilah borjuis dan proletar. Sejak saat itulah, manusia seperti iman mulai dipandang sebelah mata oleh orang lain. Apalagi sejak lahir Iman sudah tidak didukung oleh sistem itu. Dia hanyalah bayi yang ditinggalkan orang tuanya pada sebuah bangunan terbengkalai di pinggiran kota, dan membawanya hidup menjadi anak seorang pemulung. Iman tidak menyesali apa yang ia dapatkan dalam hidup, hanya terkadang dia tidak terima dengan apa yang ia dapatkan dalam hidup. Setiap waktu dia selalu diselimuti dua rasa, rasa marah dan rasa prihatin. Dia marah terhadap kehidupannya, dan dia prihatin atas lemahnya hati yang ia miliki.

Dibelai-belai dengan Dinginnya malam, dua tangan legam, jari-jemarinya sedang menggenggam beberapa lembar uang ratusan, yang didapatkannya dari sebuah dompet di salah satu celana penumpang angkot. Uang itu dipegang oleh Iman dan dilihatnya dengan seksama. Tampak sempurna mulus dan belum kumal, tapi uang itu berbau amis dan tidak segar. Sebentar kemudian Iman tersenyum, lalu dia diam.

Sudah 1 bulan terakhir sejak Iman dipecat dari salah satu kantor percetakan, lalu ia terjebak di lembah ini. Ia menyambung hidup dari hari ke hari dengan menggunakan hukum rimba. Sampai rasanya hari-hari tidak ada yang mudah dia lewati di lembah ini. Setiap hari selalu menjadi hari yang berat, penuh tantangan, penuh misteri, dan di dekap kecemasan. Namun, Ini adalah cara satu-satunya agar dia tetap bertahan hidup dalam lembah yang keras. Dan Iman memutuskan bahwa ia akan berdamai dengan kegelapan dan hidup di dalamnya.

Tangannya masih bergetar, dibukanya kembali uang 100 ribuan di genggaman. Di bawah cahaya lampu jalan, samar-samar tergambar sosok wanita saat mata Iman menatap uang tersebut. Wanita itu berkaca-kaca nyaris menitikkan air mata, wanita itu diam tak berkata dengan mata nanar dan perasaan yang gusar. Perlahan mata wanita itu beralih kepada sosok seorang anak laki-laki, kecil mungil kurus seperti busung lapar. Anak itu menangis sepertinya sedang kelaparan. Wanita itu berteriak dalam dalam hatinya “sabar jagoan, besok Ibu berjanji agar tidak kehilangan uang lagi”. Mata wanita itu masih nanar, dia bergumam lagi dalam hati “andai ibumu lebih berhati-hati maka malam ini Kamu bisa minum dan makan enak jagoanku”. Bayangan wanita itu perlahan memudar lalu hilang di tengah kegelapan malam.

Mata Iman berkaca-kaca, nanar diselimuti kesedihan. Ia bingung, bagaimana bisa tetap hidup sampai hari ini sedangkan hatinya telah mati 1 bulan yang lalu. Ia tak menyangka bisa hidup tanpa memiliki hati. Terasa sangat membingungkan, hati yang selama ini di jaga cahayanya, hati yang selalu dijadikan pegangan dalam hidup, telah mati 1 bulan yang lalu. Dan malam ini hatinya beku, mengeras lalu luluh lantah. Dia tak mengira bisa menjadi manusia yang begitu hitam. Kali ini tak hanya kulitnya yang hitam, tapi segala dari dalam dirinya hitam.

Mengenang apa yang telah ia lakukan adalah sebuah luka yang tak terkira malam ini. Tubuhnya bergetar membisu tak berkata apa-apa. Dalam ingatannya semua gerak tubuhnya adalah luka bagi orang lain. Tangannya menganiaya perut yang kelaparan, hembusan napasnya mengeluarkan kegelisahan, dan langkah kakinya adalah sial bagi sesamanya. Hatinya meraung-raung melawan dan berontak “mengapa sehitam ini?” Kalimat itu Terus terucap dari dalam hatinya, mengepul membanjiri sela-sela lekuk-lekuk pada hatinya, menggambarkan betapa penyesalan telah memendam dirinya dari dalam.

Tubuh Iman masih bergetar, bersama dinginnya malam bercampur dengan dosa-dosa yang ia rasakan. Seorang lelaki tua bermantel plastik datang tergopoh-gopoh lalu duduk di sebelahnya, di dalam halte. Mereka berdua tidak saling menyapa dan tak mengeluarkan sepatah katapun. Bapak tua itu tampak mengerti dengan keadaan yang sedang dialami Iman. Dia hanya tersenyum lalu duduk kembali dengan tenang.

Malam semakin larut, rintik hujan tak kunjung reda. Sudah setengah jam semenjak kedatangan bapak tua itu. Iman mengangkat wajahnya lalu perlahan melirik kearah bapak tua. Mulutnya bungkam tak mengatakan apa-apa, tapi matanya menyorotkan berjuta makna. Lirikannya pada wajah bapak tua itu membuat hatinya semakin luluh lantah. Sosok Ayah angkatnya muncul pada raut wajah bapak tua itu. Kali ini Iman benar-benar meneteskan air mata, hatinya benar-benar luluh lantah, tangannya terus bergetar sampai badannya terasa lemas. Saat itulah Iman terus mengenang saat-saat masih bersama ayahnya. Ia mengingat bagaimana ayahnya telah memberikan pelajaran hidup baginya. Percakapan-percakapan Iman dengan ayahnya langsung muncul di dalam pikirannya dan semakin menyerang hatinya.

“Menurut Bapak, siapa orang yang paling lemah?” Pertanyaan Iman pada suatu malam kepada bapak angkatnya di depan rumah kardus.

“Semua orang bisa menjadi orang yang lemah saat ia sudah mulai kehilangan tekad dalam hidupnya.” Jawaban ayah Iman yang mengundang penasaran bagi Iman.

Baca Juga: Matahari tanpa Cahaya

“Mengapa seperti itu pak?” Tanya Iman lagi.

“Begitulah Man, saat orang mulai tidak memiliki tekad dalam hidupnya ia akan mudah menyerah. Saat dalam keadaan menyerah itulah terkadang manusia tidak mampu menahan godaan untuk melakukan hal-hal yang instan. Dia akan mulai melakukan hal-hal di luar perikemanusiaan dan tidak menggunakan hatinya dalam memperlakukan orang lain. Itulah mengapa orang yang tidak memiliki tekad dalam hidupnya akan menjadi orang yang paling lemah di dunia ini. Semiskin-miskinnya hidupmu jangan sampai kamu membuat orang lain menjadi miskin dan kesusahan. Jadilah manusia yang tetap berguna bagi orang lain walaupun keadaanmu sedang miskin.” Bapaknya menjelaskan.

Percakapan itu benar-benar menusuk ke dalam hati Iman dan mencabik-cabik semua harga diri yang selama ini ia jaga. Tiba-tiba Iman menangis dan memeluk sosok bapak tua di sebelahnya itu. Di dalam hati Iman terus meminta maaf kepada ayahnya tentang apa yang ia telah lakukan. Setelah satu bulan lamanya hati Iman mati suri, akhirnya malam ini hatinya sadar kembali dan perlahan-lahan menemukan kesehatannya. Hati yang telah diselimuti kabut di Lembah Hitam. Malam ini disinari kembali oleh cahaya mentari. Iman masih memeluk erat bapak tua dalam hujan yang semakin deras.

“Tenanglah, tuhan telah bersamamu malam ini besok kau akan kembali” ucap bapak tua. []

Bayu Prasetya
Bayu Prasetya biasa dipanggilan: Bayu/Mas Bay, lahir Banjarbaru, 2 Juni 1999. Ia hobi menulis dan bermain basket Sosial Media: @bayuprassetyaa Saat ini a sedang menempuh pendidikan di Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat.